Rabu, 25 Juli 2012

My Dream :)

Impian saya:
- Pergi ke Tibet / Nepal, hidup n gembalain yak disana
- Jalan kaki dari Bogor ke Bandung
- Pergi ke Paris n kunjungin museum-museum di sana
- Main ke Dufan sama-sama, dari pagi sampai malam lalu diulang lagi besok
- Pergi ke Papua, hidup bersama masyarakat 3 bulan di sana
- Mengunjungi Kalimantan, hidup bersama masyarakat Dayak - sudah, dengan masyarakat Melayu, n sedikit Dayak
- Ngambil S2 di New Zealand atau Canada
- Tinggal di New Zealand dan Canada, masing-masing 2 tahun
- Berpenghasilan cukup besar, minimal 20 juta menurut kurs hari ini (standard Indonesia)
- Backpacking ke Indocina bersama Lizbeth: Vietnam, Kamboja, Laos, Thailand, Myanmar, lalu Bhutan, Nepal dan India
- Makan Gaya Tunggal 2 piring
- Nginep bersama Lizbeth di rumah kayu yang sepi di hutan - seminggu
- Jalan-jalan sama keluarga ke luar negeri
- Belajar main biola
- Berendam kaki pake air hangat di Kebun Teh di Puncak
- Main ski di pegunungan bersalju
- Menaklukan Gunung Kinabalu
- Menjelajah Afrika dengan mobil jip
- Membuat desa yang mandiri, mengundang orang2 untuk bertani dan hidup sejahtera
- Makan bihun si akong (boleh berkali-kali)
- Pergi ke luar angkasa, melihatr bumi dari kejauhan
- Menikah dengan Lizbeth
- Punya resor di bawah laut
- Pergi dengan Lizbeth ke Bangkok, Chiang Mai

Siapakah tuhan-Tuhanmu?


Mau agama apa: Katolik, Kristen, Islam, Budha, Hindu, Kong Hu Cu, terserah. Kita bisa jadi sama, namun juga tidak sama dalam ber-Tuhan.

Agama dan Tuhan tidak sama dan tidak berhubungan secara linear.

Menurut saya, pertama kita harus mengenal dua buah kata, yaitu divergen dan konvergen. Saya ingin menjelaskan dari kata-kata sendiri: yang satu, divergen menjelaskan bahwa sesuatu bisa jadi sama pada awalnya, dan kemudian memencar menjadi tidak sama. Seperti lensa cekung yang menghamburkan cahaya. Sedangkan konvergen menjelaskan bahwa sesuatu bisa jadi tidak sama pada awalnya, dan kemudian berkumpul menjadi sama. Seperti lensa cembung yang mengumpulkan cahaya.

Agama dan Tuhan saya anggap seperti itu.Tidak serta merta sesama agama adalah memuja Tuhan yang sama, dan tidak serta merta yang berbeda agama memuja Tuhan yang berlainan.

Saya punya teman, agama Kristen yang percaya kalau keselematan adalah hanya untuk penganut agamanya sendiri. Saya juga punya teman Islam yang berpendapat bahwa selain agama Islam adalah kafir dan sudah haknya mendapatkan tempat di Neraka yang terdalam.

Kedua-duanya memuja tuhan yang berkualitas sama bukan?

Saya juga punya teman, beragama Budha yang lembut dan penuh kasih. Menyakiti semut saja tidak mau, memindahkan sang semut ke tempat yang lebih aman saat akan menaruh piring makannya. Saya punya teman beragama Islam yang tidak mau pergi naik Haji katanya, sebelum di sekelilingnya yang kelaparan kenyang dan semua yang miskin bisa berbahagia. Saya pikir bisa tidak Naik Haji sampai tua dia.

Bukankah mereka berdua punya Tuhan yang sama, yang penuh belas kasih dab rela berkorban?

Mungkin kamu tahu dengan baik pepatah “buah tak jatuh jauh dari pohonnya.” Ya, saya mengibaratkan hal yang sama tentang Tuhan... Tuhan adalah buah pemikiran, dan siapa Tuhan kita dinyatakan lewat tindakan-tindakan kita.

Jadi saya menyatakan bahwa setiap orang yang menyatakan kasihnya dengan perbuatan dan amal-amal baik adalah orang-orang yang mempunyai Tuhan yang sama, apapun agama yang dianutnya. Orang yang menyatakan kasihnya dengan mengancam orang lain, berbuat jahat, mempunyai tuhan yang sama, apapun agama yang dianutnya.

Di sela-sela, di atas dan di bawahnya juga terdapat orang yang memiliki level tuhan-Tuhannya masing-masing.

Saya percaya bahwa Tuhan adalah evolusi pikiran yang terus berkembang tingkatannya, dari bawah berupa tingkat dasar (atau setan) sampai ke-Tuhanan itu sendiri, dan tidak berhubungan dengan agama atau kepercayaan apapun.

Seberapa mulia dan agung Tuhan di dalam pikiranmu, ditunjukkan dengan tindakanmu padaku.

Rabu, 11 Juli 2012

Jaman SMA


Lagi ngeliatin foto anak-anak SMA Recis di laptop, pas mereka kemaren acara di hutan, hati ini bercampur antara haru, agak sedih dan pasrah. Lebai banget ya – kenal juga engga padahal?

Tapi melihat mereka saya teringat kalau saya pernah menginjakkan kaki dan belajar juga di SMA Recis selama 3 tahun, dan melihat mereka kenang-kenangan masa itu muncul kembali, yang tidak akan terulang walau saya melihat foto-foto itu berulang kali. Masa SMA - masa yang indah walau tidak enak.

Dilihat dari gaya, setidaknya gaya mereka sama. Nampang, berangkulan, tertawa senang, pakai pakaian yang trendi, dan sudah pasti tidak cocok dengan keadaan di hutan Bodogol. Yang perempuan manis dan cantik. Yang laki-laki keren dan gagah. Inilah masa-masa berpacaran, saat hormon memuncak dan bodi belum rusak karena kurang olahraga. Yap, betul – ini adalah masa-masa dimana serangan jantung, stroke belum muncul dan tidak perlu berpikir stres memikirkan kehidupan. Di masa ini stres adalah jika kamu naksir cewek tapi ga pernah berani nyatain cinta, lalu dia direbut orang.

Yah mikirin yang terakhir itu saya jadi ga mau kalau disuruh kembali ke masa SMA. Yang terakhir itu membuat saya sengasara sekali karena saya adalah tokoh loser di dunia cinta SMA. Menyedihkan pokoknya. Menyedihkannya saya cuma bisa dikalahkan oleh tokoh2 nerds karena saya golongannya adalah setengah nerds setengah petualang, lebih high level dikit.

Jaman itu tatapan cewek taksiran serupa laser yang membutakan mata. Saya selalu membuang muka kalau ditatap oleh cewek taksiran saya. Menunduk, semoga tidak ketahuan kalau sebelumnya menatap. Hati deg-degan kaya mau copot kalau cewek taksiran mendekat, padahal boro-boro dia kenal saya.

Yah, tapi tau nga - masa-masa kekalahan ini akhirnya lewat juga, and what u know? Cewek yang saya taksir 17 tahun yang lalu, yang bahkan saya tidak berani tatap matanya 2 tahun yang lalu menjadi pacar saya, dan tahun depan kami akan menikah. 

Ga tau apa yang terjadi seandainya dulu saya sempat punya keberanian dan nembak dia? Apakah ceritanya akan sama?

Jadi, menjadi makhluk malang juga ada untungnya.


Senin, 09 Juli 2012

Jangan Jadi Miskin


Jangan jadi miskin, miskin dekat dengan kejahatan – begitulah.

Ya, bayangkan betapa rumit pergumulan hati saya sampai hari ini- apabila dalam keadaan kemiskinan sekarang, lalu ditawari pekerjaan lain dengan ongkang-ongkang kaki lalu dapat gaji kira-kira 7x lipat gaji sekarang.

Sudah sebulan pekerjaan tersebut saya coba tampik dan pending keputusan untuk menerimanya, semata-mata karena pekerjaan tersebut cukup berat dari sisi nurani saya- karena saya tahu akibat pekerjaan saya tersebut berdampak bagi hidup orang lain nantinya.

Sekitar sebulan yang lalu, saya sudah bertemu pemilik perusahaan- Komisaris Direktur dan Marketing Managernya sekaligus di sebuah cafe Starbucks, di sebuah jalan yang saya sudah lupa- namun di daerah Kuningan, sebab saya memang tidak familiar dengan Kota Jakarta.

Seperti biasa saya selalu kikuk dengan minum kopi di gerai Starbucks sebab harga 1 cup nya cukup mahal menurut ukuran saya, Rp 50.000,- seharga umumnya 5x makan pagi saya, nasi bungkus campur ayam goreng, tumis kangkung, kentang pedas dan mie goreng. Kepikiran juga saya, itu artinya saya bisa beli makan pagi buat si mami, si Bonum, si Charma, Lizbeth dan saya sendiri. Kalau salah satunya tidak ada bisa saya belikan buat si Awah-pembantu saya yang jarang saya traktir. Pasti semuanya hepi.

Pekerjaan yang ditawarkan hanyalah sebagai perantara pembelian tanah, sebagai komunikator dan pemegang kas Perusahaan, di Sintang - Kalimantan Barat. Sebuah pekerjaan tidak tertulis yang tidak pernah ada diiklankan di koran karena pemilihannya adalah berdasarkan kepercayaan semata, dan tidak akan pada struktru perusahaan. Jenis perusahaannya adalah perkebunan, walau saya tidak tahu bisnis besarnya karena biasanya perusahaan besar seperti ini mempunyai beberapa bisnis sekaligus.

Menyesal atau tidak-sampai saat ini saya belum tahu. Terbuka saja, kalau saya saat ini sedang mengalami pemotongan gaji dari Yayasan saya bernaung. Kira-kira terpotong 1 jura sebab Yayasan dalam keadaan tidak punya uang, agak bangkrut dan beginilah komitmen kami untuk tetap menjaga agar Yayasan tetap berjalan.

Jangan pikir bisa seenaknya pergi ke mall, nonton bioskop, makan mewah atau apapun lah. Bulan lalu saya sudah menggadaikan Logam Mulia yang saya tabung untuk keadaan darurat di Pegadaian- untuk kebutuhan sehari-hari, dari uang tahunan masuk sekolah, memberangkatkan mami n papi ke Bali (sudah dipesan tiketnya 1 tahun lalu so sekarang perlu dibekelin sangu), sampai hal-hal kecil seperti bayar ini bayar itu.

Sedih juga, sebenarnya pekerjaan yang sudah di depan mata tersebut tidak mengharuskan saya hidup susah. Berkecukupan banget malah.

Fasilitas yang disebut membuat saya ngiler: tiket pesawat PP yang bisa diatur, kontrakan rumah dengan AC dan Indovision, mobil 4 WD,  asuransi, bonus tahunan, dan lain-lain. Boro-boro masang Indovision di rumah, betulin pipa ledeng yang bocor saja susahnya bukan main karena keterbatasan dana.
.
Tapi nurani bicara, pembelian tanah berarti memindahkan kekuatan hidup seseorang, masyarakat kepada kita- menyedot energi hidupnya perlahan-lahan dan walaupun adalah sebuah kebebasan bagi sesorang untuk menjual tanahnya masing-masing, namun pengalaman saya beberapa bulan di bumi khatulistiwa memperlihatkan bahwa kehancuran sudah pasti pada sebuah desa yang menjual dirinya kepada perusahaan.

Banjir, hilangnya pekerjaan, terusir dari desa tidak memandang apakah tanah dijual kepada Perusahaan atau Taman Nasional. Sama saja- dua-duanya menyebabkan hilangnya nyawa sesorang secara perlahan.

Balik lagi, kemiskinan memang sucks!

Sementara yang coba berbuat benar terseok-seok dan saling menyenggol kakinya keplitek, yang kaya menjentikan jarinya dan berhektar-hektar tanah berpindah jadi kebun sawit. Beginilah dunia.


Rabu, 13 Juni 2012

Berbagi Cerita dari Dunia Legoland (Shanghai)

(Sayang ah dibuang tulisannya hehe... sori ngulang cerita-cerita sebelumnya, ini tulisan singkat buat publikasi terbatas - sori bahasanya agak formal)

Saya pikir sebagian dari kita pernah tahu sebuah permainan balok-balok plastik kecil berbagai ukuran dan bentuk yang bisa dipasang-pasangkan, dilepas kembali dan dinamakan Lego. Atau barangkali bagi yang belum pernah memainkan Lego mendapati ada permainan sejenis – yang memainkannya seperti Lego – baik dengan menggunakan balok kayu ataupun plastik, karena saya menemukannya juga (buatan Cina), dijual oleh si mamang di depan SD Sempur di Bogor.

Lego adalah permainan menarik, terutama bila biji-biji baloknya banyak (kalau sedikit mainnya tidak asyik). Kita dapat menyusun balok-balok tersebut jadi rumah, mobil, pesawat, gedung, jembatan dan berbagai hal lainnya, dan bila sudah selesai kita dapat memilih apakah meletakkan ciptaan kita di dalam etalase; atau kemudian membongkarnya kembali untuk dijadikan ciptaan kita yang lain lagi nantinya. Itulah kekhasan permainan Lego, dengan balok yang sama kita dapat menciptakan banyak hal berbeda. Dapat dicabut dan dipasang kembali. Jadi buat anak-anak yang pembosan, Lego adalah sebuah permainan yang menantang.

Yang dibutuhkan hanyalah imajinasi.

Maket downtown di Shangai Urban Planning Exhibition Center, maket seluas 1 lantai
Dan Shanghai adalah kota dengan imajinasi. Shanghai adalah sebuah Legoland besar yang disusun dengan perencanaan sangat matang, konsistensi luar biasa dan kerja keras dari pemerintah Cina bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan swasta dengan memperhatikan prinsip kebersinambungan (sustainable development).
Di saat kota lain seperti Jakarta susah payah membereskan persoalan angkutan metromini (yang mengepulkan asap kehitaman di belakangnya), banjir yang merendam Perumahan Kelapa Gading dan Kawasan Bisnis Sudirman, lahan hijau yang dijadikan SPBU dan tiang-tiang pancang Monorel yang menganggur sudah hampir 2 periode gubernuran maka Shanghai adalah sebuah dream come true.

Bagaimana tidak, setelah berjibaku selama 20 tahun – menurut sang Profesor, melalui training APLP (Asia Pasific Leadership Programme) di Shanghai, 4-8 Juni 2012 kemarin – maka sampailah Shanghai pada tahapan seperti saat ini.

Sepeda, efisiensi biaya dan energi di pinggir jalan
Dengan jumlah penduduk 16 juta jiwa (terbesar di Cina) bisa dibayangkan apa dayanya kota ini bila tidak dilakukan penataan yang serius. Sebagai perbandingan, Jakarta hanya dihuni oleh 10 juta jiwa saja.

Tidak saya temukan kemacetan yang serius, kecuali sedikit terhambat saat berkendaraan di sekitar kawasan pertokoan. Manusia berlalu lalang dengan menggunakan sepeda atau motor listrik, selebihnya menggunakan kereta subway yang selalu tepat waktu dan berbiaya murah, setiap 3-5 menit dan dengan jaringan yang amat kompleks menjangkau hampir seluruh kawasan Shanghai. Mau turun dari pesawat, lalu melanjutkan naik subway sampai ke hotel pun sudah tersedia jalurnya. Tinggal jalan 5 menit sampailah saya ke hotel, ga perlu diserempet metromini dan dipalak ma pengamen jalanan.

Pembicaraan mengenai green economy sebenarnya tidak terlalu menarik minat saya. Isu sustainable development seringkali dilihat oleh saya dari kacamata lingkungan, advokasi serta pendidikan lingkungan. Isu renewable energy sebelumnya saya lihat dari kemampuan masyarakat untuk memproduksi briket dari gabah atau serbuk kayu, dan saya sering menghindari pembicaraan mengenai penggunaan listrik, energi angin atau penggunaan lampu LED. Sorry, saya bukan orang teknik sebab dulu kapok diberi nilai 6 saja oleh guru elektronik dan fisika saya di SMA, yang ngajarnya semena-mena dan tidak peduli perasaan murid saat mengajar.

Mau tidak mau saya jadi tertarik persoalan green economy dan renewable energy ini, setelah mengikuti pelatihan. Saya mulai tertarik berpikir ke arah desain dan arsitektur juga, sebab saya melihat rumah-rumah dengan dinding vertikal yang diisi oleh tanaman bukan rambat di sisi-sisinya, gedung dengan lorong yang diterangi oleh lampu LED yang hemat energi, sampai penghematan lahan perkotaan dengan kebijakan pembangunan gedung vertikal.

Sedangkan pada sisi transportasi, Shanghai berada pada perkembangan yang baik dilihat dari penggunaan sepeda dan motor listrik dimana-mana, transportasi masal yang ramah lingkungan dan mengurangi kemacetan sampai titik maksimal.

Really sophisticated banget pokoknya jika dilihat dari sisi keinginan untuk mewujudkan kota yang berkelanjutan.

Saya kemudian mencoba mencari penduduk dengan tingkat kemiskinan tinggi, sebab saya pikir pasti pembangunan seperti ini memakan korban masyarakat miskin, tergusur atau terlantarkan. Namun alhasil saya agak kecewa sebab hanya menumkan 1-3 pengemis yang sedang duduk dan tidur di dekat gedung dan pertokoan yang mewah. Sampai kepulangan saya, saya belum berhasil menemukan kawasan slum area dan membuat saya menarik kesimpulan bahwa ada kemungkinan para penduduk miskin sudah ditempatkan secara baik pada gedung-gedung apartemen, atau bertempat tinggal di desa di luar kota Shanghai. Ga sempat tahu....

Keseriusan pemerintah Cina, juga ditunjukkan bukan hanya dengan pembangunan saja – khas Legoland, maka pemerintah juga berani membongkar pasang bangunan. Percaya atau tidak, jalan layang dengan panjang kilometer juga dibongkar untuk dijadikan kawasan yang lebih tertata dan hijau. Kalau sempat jalan di Jakarta, di Jalan Gatot Subroto – bayangkan saja kalau pemerintah DKI berani membongkar jalan layang di atasnya dan membuat pemukiman hijau. Ngimpi kali ye, apalagi ma Bang Foke, anaknya Bang Yos yang jadi Gubernur... Mikirin manjangin kumis terus seh dia...

Yah beruntunglah saya, sudah dipilih mewakili Indonesia di pelatihan ini dan dibiayai oleh Hanns Seidel Foundation... Secara presentasi materi, memang profesor-profesor di Univeristas Tongji ini mendapatkan keluhan mengenai isi dan metode mengajarnya. Too much data, should be presented more efficient, low interaction dll – tapi di lain sisi, apa yang dijelaskan bila diperhatikan lebih lanjut dapat dihubungkan dengan jaring-jaring kecil, seperti yang seharusnya sudah didapat lewat pelatihan ini – with Compas perspective begitu kata Robert Steele, mentor ESD (Education for Sustainable Development) saya disini.

Kudu ada NSEW (Nature, Social, Economy, Well Being) ceunah, kata Robert. Nah, maybe kalau dijelaskan metodenya  semua mengerti, namun pahamkah juga kalau di kehidupan sehari-hari bahkan kita harus jeli melihat bahwa jaring-jaring tipis ini juga sebenarnya ada di hal-hal yang bahkan kita tidak sukai? Dari pelatihan di Dunia Legoland, Indra melaporkan.

Senin, 11 Juni 2012

Jendral Mao (Shanghai 5)


Rasanya Mr Mao Zedong masih hidup dan memimpin Cina.

Itu kesimpulan saya selama di Shanghai, sebab memang pengaruhnya masih sangat kuat dan seakan-akan beliau masih hidup karena pengkultusan yang dilakukan orang Cina terhadap tokoh yang satu ini. Sebenarnya pengkultusan inilah penyebab rohnya tetap mendiami tanah Cina. Kaga terbang-terbang ke langit.

Mr. Mao
Mao Zedong atau Mao Ce Tung kata si papi adalah peletak dasar negara Cina komunis. Ciang Kai Sek, Jenderal lainnya adalah peletak dasar negara Cina republik (kalah, lalu menyeberang ke Pulau Formosa atau Taiwan dan selalu diklaim sebagai propinsi pemberontak sampai sekarang).

Kalau sempat jalan-jalan ke pasar, bisa kita temukan buku merah Mao dijual kepada turis-turis, baik yang berbahasa Cina maupun Inggris atau Perancis. Poster-poster lama meghiasi toko dan rumah makan di pinggir jalan, dan dalam training nampak bahwa paham-paham yang ditanamkan oleh sang pemimpin masih mendominasi kehidupan sehari-hari.

Saya berbicara dengan Robert Steele, mentor training saya... apakah ia satisfied dengan seminar yang ia adakan di Shanghai ini (mengenai sustainable development)?

Dan ia menjawab “I am not satisfied with this training.” Ia menjawab bahwa ketidakpuasannya juga bisa dilihat dari bagaimana peserta menghargai training ini, dari keterlambatan peserta, para pengajar yang tidak setiap saat ada di tempat sehingga tidak bisa memancing diskusi - tanya jawab, pengaturan waktu serta penggunaan metode satu arah yang “Chinnese typical.”

Saya mengusulkan kepada Robert jika saja bisa bahwa para pengajar “dibriefing” dulu lain kali sebelum memberikan presentasi sehingga lebih baik, namun Robert menjawab bahwa itu sudah ia lakukan dan mereka kembali ke kebiasaan awal, selalu.

Chinnese typical, artinya bisa saya simpulkan adalah keras kepala dan propaganda – menunjukkan yang terbaik dan kurang mengakui kekurangan Lebih bersifat satu arah. Chen Pu peserta Cina selalu menggunakan kata propaganda dibanding kata kampanye saat melakukan sosialisasi kepada masyarakat, begitu lapor Asyira peserta Malaysia kepada saya saat kami membicarakan bahwa saya mendapati bahwa nampak masyarakat / negara yang bangga terhadap dirinya ini sangat bersatu di berbagai hal - membahas penggunaan kata propaganda.

Saya juga terkagum-kagum saat mendengar dari training bahwa kota ini mampu merontokkan berkilometer jalan layang, menghancurkannya demi menata kota sehingga mendapatkan kembali daerah yang tenang dan indah - demi penataan kota yang baik. Jauh berbeda dengan negara saya, Indonesia yang tidak mungkin menata ulang apa yang sudah dikerjakan. Jembatan layang berseliweran, rel kereta yang tidak pernah bertambah, jalur monorel yang batu-batunya menganggur bertahun-tahun terbengkalai, galian kabel yang tidak ditutup sampai dipepet metromini sudah saya anggap makanan sehat bagi orang Jakarta. 

Jangankan menata kota, dengan menghancurkan yang sudah jadi.... membangun tonggak monorel saja tidak jadi-jadi.

Begitu mudahnya pemerintah komunis ini mengorganisasi masyarakat karena disini tanah tidak dimiliki secara pribadi melainkan menyewa kepada pemerintah. Suatu sisi komunisme yang menguntungkan, walau dilain pihak saya tidak tahu bagaimana menemukan win-win solution bagi masyarakat Cina yang tergusur. Apakah didiamkan, dibungkam atau diberi kompensasi yang setimpal?

Sepulang dari Shanghai saya mendengar bahwa puluhan orang yang berdemo damai memperingati tragedi Lapangan Tianamen dipukuli habis-habisan oleh polisi. Rupanya sisi komunisme ini memperlihatkan wajah buruknya juga. Setahu saya, kata-kata “lilin – tragedi – memperingati – Tianamen – dll” sudah diblock oleh pemerintah Cina... sulit ditemukan di mesin pencari, sama seperti saya yang heran tidak bisa mengakses facebook, twitter dan blogger via internet di Shanghai. Saya kira tadinya jaringan internetnya yang lagi down. Ternyata tidak.

Dua sisi warisan Jendral Mao yang melegenda. Kekuatan dan kelemahannya sekaligus.

Minggu, 10 Juni 2012

Jangan Salah Menilai Karakter, Walaupun Boleh (Shanghai 4)


Not at all... Ya, and not all..

Di ketinggian awan ini saya merenungi kembali saudara sedarah saya, yang sangat identik DNA nya dengan saya, ras Mongoloid yang tinggal di daratan Cina, terutama Shanghai.

Diceritakan oleh ayah saya, kalau sebenarnya kakek saya (engkong) masih berasal dari Cina daratan, tepatnya sebuah kota yang kalau sering ia sebutkan dilafalkan Moyang, sebuah kota atau kampung saya tidak tahu- tapi katanya itu berada di Propinsi Yunan. Saya tanyakan kepada si Chen Pu, participant dari Cina Beijing dimanakah lokasi nenek moyang saya tersebut. Sayang ia tak dapat menjelaskan dimana letak kampung itu... mungkin karena masalah pronounce – atau karena beda dialek atau karena sebenarnya ayah saya memang tidak tahu pasti letak kampungnya itu... maklum orang tuanya itu sudah meninggal sejak ia kecil. Tak banyak yang bisa diceritakan diwariskan kepada anaknya.

Dalam kepala saya, karena keseringan nonton film kungfu Jet Lee- orang dari Cina daratan itu saya sering identikkan dengan mata sipit, gigi tonggos, rambut berdiri, atau gendut kaya engko-engko dengan pipi yang tembem. Lalu diberitahu juga dari media kalau mereka suka meludah sembarangan, norak dan kalau tawar-menawar bisa sambil marah-marah. Terlebih karena saya suka mendengar bahasa Cina di tempat saya yang kasar, persis seperti kaleng diketok digesek-gesek bunyinya.

Sungguh saya mengasihani diri saya sendiri yang cukup egois dan suka men-judge orang lain dengan pengalaman yang sedikit ini.

Zhingwu Road, dekat Univ Tongji
Berjalan-jalan di Zhingwu Road dekat Universitas Tongji, sambil menghirup udara yang agak kelabu, saya melihat laki-laki perempuan, tua muda serta anjing-anjing kecil diajak berjalan-jalan santai di kota yang indah ini. Sepeda-sepeda dan motor listrik berseliweran, tertib (walau kadang nakal juga), serta elok dipandang – dikendarai mahasiswa-mahasiswi yang berwajah bersih. Dialek bahasa Mandarinnya enak juga kok, agak berlagu.

Jadi bingung benernya saya mendengar dialek mana yang bunyinya kaya kaleng ditakol digesek-gesek? Atau memang saya salah dengarkah di sini?

Sesekali saya melihat orang meludah. Tapi dari hasil berjalan selama 5 hari, saya terus terang – terang terus hanya mendapatkan satu kali orang meludah – saat jalan-jalan malam sendirian di Old China – dekat Yuyuan Garden. Bau minyak babi yang manis, serta diterangi temaram lampu jalan membawa saya untuk membayangkan kehidupan saudara CIna saya di sini.

Old Chinnese Town, deket Yuyuan Garden
Apa salah saudara-saudari saya ini sampai saya mencap jelek orang Cina daratan ini ya? Mungkin karena cerita kanan kiri, atau bawaan turis mancanegara yang bertemu mereka di Singapura – namun tidak cukup sahih untuk mensejajarkan saudara Cina saya ini menjadi level masyarakat rendah yang kurang terdidik dan jadul.

Mereka berpakaian rapih, bersih, tertib – serta menunjukkan pemikiran yang maju. Boleh juga diadu soal tampang dengan sembarang daerah di negara lain – tidak kalah cantik perempuannya, serta tampan laki-lakinya, dengan bentuk tubuh yang proporsional.

Mau melihat dari segi budaya dan kemodernan – bisa bikin Jakarta sempoyongan dan berpeluh ketakutan karena tidak imbang jadinya. Boleh juga diadu dengan Kuala Lumpur dan Bangkok, masih kalah juga dua kota ini. Kalau diadu dengan Bremen atau Den Haag mana saya tau – soalnya mang belom pernah datang kedua kota yang disebut.

Jalanan rapih, dengan penataan yang sedemikian superiornya ditata dengan taman-taman kota berbunga, jalur  pedestrian yang lebar. Semua sudut kota, bahkan sampai daerah yang bolehlah dikatakan agak slum untuk ukuran Shanghai, masih lebih bagus dibanding kelas menengah bawah bahkan menengah di daerah Jakarta.

Entah dimana mereka menyembunyikan daerah-daerah jorok lainnya. Atau mungkinkah daerah tersebut sudah menghilang karena penataan kota yang sedemikian baiknya?

Kembali lagi ke persoalan manusia yang membuat saya menyesal karena sebelumnya mengambil keputusan bahwa “tidak baik berteman dengan saudara Cina ini”, manusia di sini secara kualitas ok lah – kalau tidak bisa dibilang lebih berbudaya dibanding kita di negara Indonesia ini – ambilah contoh kota dengan kulaitas manusia paling bisa diandalkan di Indonesia – Jakarta.

Pendidikan yang baik, sopan santun, kebersihan, serta usaha –usaha memperbaiki lingkungan menunjukkan kalau seorang manusia bisa memiliki tingkat peradaban yang berbeda walau dibariskan dalam suatu ruangan. Sikap sesorang menunjukkan seberapa tinggi peradaban sesorang.

Yah bolehlah kali ini kita yang berasal dari luar Shanghai: Ulan Bator, Jakarta, Bangkok, Sydney,  Calcuta, New Delhi, de el el belajar dari sikap seorang manusia Shanghai walau juga tidak semuanya sebenarnya beperilaku baik (pastinya tak ada gading yang tak retak).

Seperti kata pepatah di budaya Indonesia: ilmu padi, makin berisi makin merunduk... maka terlihatlah kualitas seseorang dari sikap yang ditunjukkannya selama ia diberi wewenang. Semoga bukan karakter bangsa yang mereka tunjukkan saat itu karena semua orang menyaksikan dan boleh membuat kesimpulan sendiri-sendiri.