Tampilkan postingan dengan label Nature Phenomenom. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nature Phenomenom. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 November 2015

Tingkat Stres Tiap Orang Berbeda-beda walau Kasusnya Sama

Tingkat stres orang bisa beda2, walau kejadian penyebabnya (kasusnya) adalah sama. Reaksi yang ditimbulkan juga berbeda.

Saya termasuk orang yang sedang-sedang saja tingkat stresnya jika menghadapai suatu masalah. Dibilang reaktif engga, dibilang pasif juga engga... Pada dasarnya dibanding ketiga anak orang tua, sayalah yang paling reaktif. Tapi jika dibanding dengan orang lain, rupanya termasuk yang biasa-biasa saja.

Contohnya begini, kejadiannya baru saja: kamu ngetik tugas, lalu tiba2 saat akan di print, menggunakan komputer lain lalu susunan paragraf, kata dan gambar jadi teracak-acak. Padahal sudah deadline. Nah reaksi tiap orang bisa berbeda:
·        Si A langsung kucel-kucel kertas, nangis lalu ga masuk kuliah/kerja.
·        Si B marah, kalau ada orang di dekatnya pasti jadi kena semprot
·        Si C sedih, tapi tetap bawa tugasnya, diperlihatkan ke yang memerintah siap disemprot
·        Si D pasrah saja, mungkin pas sampai tempat kerja sudah biasa lagi lalu lapor butuh tambahan waktu mengerjakan sambil memperlihatkan hasil kerjanya

Kalo tentang bereaksi, dengan kadar stres yang sama saya pikir cara bereaksinya (yang stres tersebut) adalah dengan mempelajari apa yang biasa dilakukan lingkungan sekitarnya. Kalau dia biasa melihat orang stres ngamuk dia akan ikut ngamuk. Kalau biasanya menangis atau diam saja itulah kecenderungan yang akan ia tiru.

Selain itu cara bertingkah laku juga dipengaruhi faktor genetik.

Tentang genetik, saya kasih tau juga ya kalo tentang produksi hormon yang menyebabkan stres juga diturunkan lho dari generasi ke generasi. Jadi kalau secara garis keluarga tingkah laku stresnya adalah Z maka ada kemungkinan sesorang anak akan memiliki kecenderungan Z yang sama.

Rabu, 17 Juni 2015

Oleh-oleh dari Gampong



Dari perjalanan 2 minggu ini saya pulang bawa oleh-oleh istimewa. Masing-masing dari kami membawa tamu tak diundang bersama kami, sembunyi di bawah kulit kaki,paha dan tangan: bekas gigitan tumbila; dan mungkin masih ada seekor dua ekor di lipatan baju, bahkan jika yang menggigit tadi adalah kutu jenis lain; mungkin dia ada di dalam kulit kami.

Ceritanya berawal dari camp kami di sebuah gampong indah di tengah pegunungan, Gampong Turue Cut yang panas kalau siang dan dingin di waktu malam. Hampir setiap sore turun hujan di sana jadi memang asyik untuk nongkrong di dipan setelah selesai bekerja siangnya.

Di camp ini suka duka kami rasakan :D
Dipan nampak bersih, kayu-kayunya masih terang dan walaupun rumah itu adalah rumah tsunami (bekas proyek tsunami) –rumah itu termasuk bersih, tidak tampak terlalu banyak misalnya sarang laba-laba, tanah bekas sarang tawon, dan lain-lain. Nongkrong sambil mengerjakan report, mencari sinyal internet, ataupun sambil diskusi dan makan mie kami lakukan di dipan rumah panggung itu.

Entah dimulai dari mana, namun badan saya pada hari kedua sedikit gatal. Pertama saya rasa lumrah saja sebab jika digigit semut atau nyamuk saya pikir biasa... namanya juga dekat dengan kebun dan alam terbuka. Namun kemudian di hari ke empat kok mulai agak menggila ya gatalnya? Saya gosok pakai obat gosok cap Agnes Monika, lumayan panas dan gatal-gatal agak hilang.

Saya mulai menyadari ada yang salah beberapa saat sesudahnya. Saya mulai garuk-garuk, terutama sekitar paha. Saya beri minyak dari makasar, kemudian minyak cap Agnes, tapi kok tidak hilang-hilang ya? Saya sempat tanya Nia, teman saya dan lalu Bang Ribut, supir yang ikut mengantar kami.

“Gatal ga Bang?”

“Iya, saya juga gatal” dengan logat Acehnya yang kental

Saya tanya Nia, dia juga sama. Ia menambahkan kalau kakinya suka digaruk kalau gatalnya menjadi panas.

Di hari saya pulang ke Banda Aceh, saat saya memakai celana panjang saya yang baru dicuci tiba-tiba terjadi gatal-gatal parah di sekitar paha, kaki dan sedikit di tangan dan leher saya.
Gigitan kutu... gatallllll

Paraaaahh... bentol-bentol merah besar semua dan melembung. Besarnya sampai sebesar logam seratusan, dengan titik bermata putih gigitan di tengahnya.Saya sampai menggunakan sarung, sebab jika tergesek pakaian gatalnya semakin sengit. Jangan-jangan celana panjang saya ini juga sudah terimigrasi oleh kutu busuk ya?

Tuduhan saya adalah untuk penyebab gatal ini adalah si tumbila atau kutu busuk sebab jenis gigitannya yang berbeda. Memang di kamar saya juga sering banyak semut hitam, tapi gigitan semut hitam tidak selama dan segatal ini.

Akhirnya sambil menahan derita, saya sampai di Bogor, dan saya langsung pergi ke apotik dan beli salep 88 plus chloramfecot buat mengobati gatal ini. Sudah agak berkurang sih, walau masih suka kambuh.

Kenapa saya cepat menangani gatal kulit ini? Sebab pernah menurut kakak saya yang dokter, suatu waktu kami terserang kutu. Jika digaruk, bekasnya berair dan menyebar ke bagian kulit yang lain yang juga tergaruk. Menurutnya, air ini mengandung telur kutu baru... itu sebabnya gatalnya menyebar dan tidak hilang-hilang.

Hiiiiiii... kutu. Cuci bersih semua pakaian di koper.

Senin, 10 Maret 2014

Homoseksualitas Adalah


Temen saya di acara internasional di Bogor, seorang anak muda dari Myanmar mengaku bahwa dirinya adalah seorang gay (artinya menyukai yang lainnya yang berjenis kelamin sama, laki-laki). Kalau dibilang ia seperti perempuan secara fisik sebenarnya tidak terlihat. Hanya saja ia suka benda-benda bernuansa kewanitaan seperti sepatu high heels (sebab ia mencari-cari benda itu di Bogor Trade Mall, sebuah pusat belanja di kota saya tinggal). Favoritnya adalah Lady Gaga dan di malam perpisahan ia bernyanyi dan berdansa seperti Lady Gaga the Monster begitu kata dia, Alex.

Nah biasanya di negara yang kesejahteraannya rendah (seperti Myanmar) orang-orang yang berorientasi homoseksual agak jarang terdengar, tapi teman saya ini lain - dia vokal banget, berani menunjukkan kalau dia gay, bahkan cerita tentang pacarnya yang sama-sama laki-laki – kangen katanya ingin kalau ia dijemput di bandara nanti kalau ia pulang. Ternyata kemudian saya tahu kalau dia adalah putra seorang usahawan yang sangat kaya di kotanya. Selain itu ia juga bersekolah di sekolah internasional, jadi saya rasa pergaulannya di sana cukup liberal dan bebas. Saya rasa artinya ia mendapatkan dukungan yang baik pula untuk akses arus informasi termasuk untuk mendukung ke-gay an nya (bisa searching di internet minimal dengan free).

Indonesia juga agak anti dengan homoseksualitas - berbeda dengan di Thailand atau Belanda yang agak beda memperlakukan kaum homoseksual maupun transgender (kalau kata yang ini berarti kalau misalnya laki-laki kemudian berganti kelamin menjadi perempuan, dan sebaliknya).

Oh ya lupa, homoseksulitas itu ada yang gay (laki suka laki) dan lesbian (cewe suka cewe) juga. Bisa terjadi karena genetik dan juga dipengaruhi oleh lingkungan.

Terus kenapa ya orang pada umumnya pada ga suka sama kaum gay atau lesbian? Ini dengan asumsi pembicaraan kita bukan di negara-negara yang memiliki pandangan khusus yang cukup positif pada kaum ini.

Kalau teori saya, ini berasal dari jaman purba, boleh ya saya cerita?
Dulu (dan masih juga seh sekarang) ada pembagian pekerjaan adalah berdasarkan jenis kelamin - berikut teori fisik yang melekat padanya. Maaf ya yang ga suka teori, gw kasih teori neh berdasarkan juga buku Man from Mars and Women from Venus. Gw kasih dikit deh.

Pada intinya, ada perbedaan kekuatan dan fungsi tubuh di dua jenis kelamin ini. Kalau cowo karena jaman dulu kerjaannya adalah berburu maka fisik berkembang kuat untuk pekerjaan berat.

Otot-ototnya berevolusi / beradaptasi berkembang lebih kuat, bagian dari otaknya yang berhubung dengan indera penglihatan mampu mengkalkulasi jarak, lebar, tinggi (3D) agar mampu menusuk buruannya dengan tepat. Kalau perempuan, bagian otaknya yang berhubungan dengan indera penglihatan - karena fungsinya yang berkembang untuk menjaga sekitar (sebab ia stay di gua) maka ia memiliki lebar penglihatan yang lebih luas. Ia bisa mengawasi sekitar jauh lebih baik daripada laki-laki, hanya ia agak "gagal" dalam mengkalkulasi 3D.

Mangkanya kalau nyetir perempuan lebih banyak nabraknya sebab persepsi kedalamannya agak kurang. Mangkanya kalau cowok ngelirik perempuan matanya keliatan banget ngelirik, sedang perempuan tidak.

Secara fisik, laki-laki didesain menjadi pemburu yang baik. Sedangkan perempuan didesain untuk fungsi perawatan. Untuk yang ini saya yakin, sama seperti saya meyakini teori evolusi dan kalau kaum ultra feminis mencoba membantah teori ini silahkan saja. Secara ilmu pengetahuan saya meyakini bahwa ini terjadi.

Balik lagi, pembagian tugas tersebut saklek dan dikala laki-laki atau perempuan tidak bisa melaksanakan tugasnya tersebut ia akan dikucilkan (kalau jaman dulu biasanya dicuekin, ga dikasih makan, ga boleh masuk shelter bahkan bisa dibunuh) sebab jaman itu memang keras. Semua angota kumpulan harus (HARUS) bisa melakukan tugas primernya dengan baik. No time lah buat ngerjain hal-hal sekunder.

Nah lalau gitu apeslah buat yang berorientasi homoseksual sebab misal ditemukan cowok yang keperempuanan (lemah) atau perempuan yang ga bisa masak dan mengawasi anak-anak, agresif maka dikeluarkanlah ia dari kelompoknya. Pada waktu itu masyarakat tidak mampu menyediakan jenis pekerjaan yang cocok bagi kaum yang berbeda karena memang belum dibutuhkan pada struktur masyarakat yang sederhana. Kerjaan masyarakat sederhana ini cuman beginila kira-kira: cowok keluar gua nyari makan, cewek tunggu gua sambil rawat anak dan jaga-jaga supaya gak ada harimau gigi pedang yang menyantap anak-anak mereka.

Bukan hanya kaum dengan orientasi seksual berbeda yang akan dikucilkan agar hilang dari komunitas tapi termasuk diantaranya adalah kaum cacat (difabel), kaum yang sakit, kaum tua (kecuali maybe yang pernah berjasa karena dianggap pengetahuannya berharga buat dideger kalo lagi kongkow deket api unggun). Mengapa? Sekali lagi pada masa itu, kaum tersebut tidak dirasakan punya manfaat selain menjadi beban kelompok.

Pembagian tugas yang lebih rumit terjadi pada masyarakat yang sudah lebih maju dan kompleks. Misalnya kalo diilustrasiin jadi begini neh: si masyarakat gua kaum prianya jago banget berburu dan produksi berkelimpahan terus, kaum wanitanya bereproduksi terus, mengumpulkan jamu-jamuan, tidak ada masalah dengan lingkungan maka lalu punya waktu untuk santai.

Di situ lalu timbulah pekerjaan-pekerjaan sekunder, misalnya lalu si wanita dominan yang biasanya punya waktu lebih (ya iyalah masa si ratu disuruh nyuci baju terus dalam keadaan baik-baik saja?) lalu mencari pesuruh yang dipakai buat menyisir rambutnya (agar si cowok dominan, si pemimpin saat datang dari berburu atau memimpin kelompoknya mengusir musuh tertarik lalu mengajak reproduksi). Kalo cowok dominan, misalnya mereka juga perlu dihibur maka lalu munculah misalnya peran bagi manusia bertubuh kerdil (cacat sebenarnya, bisa secara genetik) untuk berperan sebagai badut.

Saya hanya ingin mengatakan bahwa pada masyarakat yang lebih kompleks strukturnya maka peran-peran bagi kaum minoritas ini akan semakin terbuka. Semakin kompleks strukturnya maka semakin terbuka peran-perannya.

Kalau ga percaya, coba deh pikirin mana ada misal wedding singer, pembuatan website,  jasa pembuatan skiripsi, jasa perawatan akuarium air laut di masa perang kemerdekaan RI. Saya cuma bermaksud mengatakan kalau jasa-jasa tersebut ada di jaman sekarang, tahun 2000an yang secara struktur masyarakatnya cukup kompleks (didukung ma perkembangan teknologi) yang mebutuhkan tenaga ahli secara khusus.

Mau lebih aneh lagi? Pernah ga memikirikan kalau misalnya ada lagi jasa misalnya untuk mengusulkan pemberian nama buat bayi yang baru lahir? Atau misalnya jasa mengambilkan barang yang ketinggalan di rumah untuk diantar ke kantor?

Nah pada saat tersebutlah maka peran kaum minoritas termasuk lesbian dan gay bisa diterima sebab disitulah fungsi-fungsi mereka di masyarakat bisa diterima. Mereka misalnya bisa berperan sebagai hair stylist, koki, memasukkan data di komputer, membuat website, atau bahkan diperbolehkan bekerja lebih formal seperti bekerja sebagai tentara, di perusahaan atau lain-lain.
Sebab di masyarakat yang maju, semua bisa berperan di bidangnya masing-masing.

Menurut saya, munculnya homoseksualitas (yang benernya udah ada dari dulu) adalah bagian dari perkembangan struktur masyarakat dari yang sederhana menuju yang lebih kompleks, thats all... bagian dari ilmu biologi, ekologi manusia dan dicampur ma sosiologi.

Selasa, 31 Juli 2012

Nulis in English about This Morning


Nulis in English ah...

Today is just a cold-cold day like it used to be. It is in the middle of a dry season in Indonesia and it almost 1 month without rain. Do you know that the lowest temperature in one year usually come in the dry season when there is no clouds in the sky? No clouds mean that only little heat being trap in the sky so when the night is come, there are only small amount of heat being release slowly from the cloud.

It’s different when we are in wet season, because usually there are many clouds that keep and release the heat slowly in the night.

After send some books to the school in the morning (Charma forgot to bring some of her stuffs yesterday) I went to Juanda street and took a look the wet market that almost close in the street of Suryakencana. The Pasar Bogor (or Bogor wet market) open from 10 pm to 7 am. You can find many things here – from vegetables, meats, coconut sugars, rices, fruits to traditional cookies.

I think to buy something in the market but I canceled it soon because I hardly find space for my motorcycle.

Well, that is all... just want to practice my English and hope someday I can use it to have my Master abroad. Wish me luck friends...

Jumat, 27 Juli 2012

Bola, Bentuk yang Sempurna


Saya selalu menyukai bentuk bola, lebih dari menyukai bentuk kotak, segitiga, kubus, prisma dan lain-lain.

Bola bagi saya adalah lambang bangun 3 dimensi yang mendekati kesempurnaan bentuk, kemisteriusan, sederhana sekaligus sangat rumit. Indah luar biasa.

22/7, atau phi atau 3,14 sekian sekian yang tidak pernah bisa diurai komputer manapun sampai hari ini – bentuk kesempurnaan sejati dari tiada batas. Cobalah membagi 22 dengan 7, dan saya yakin sampai hari kita dipanggil kembali oleh yang di atas dengan menggunakan kertas, dengan superkomputer atau apapun hasil pasti pembagian itu tidak akan pernah kita temukan (well, at least until now gada komputer yang berhasil ngitung phi ini).

Kalau temanku pembaca adalah orang yang baik, bolehlah menjelaskan kepada saya bagaimana mendapatkan pecahan 22/7 untuk konstanta lingkaran, bentuk 2 dimensi dari bola – karena saya sampai saat ini belum mendapatkan informasi yang mudah saya pahami mengenai 22/7 ini. Please kalau pembaca menemukan informasinya, send me an email ! I will be very grateful  !

Bola adalah bentuk kesempurnaan. Planet-planet berbentuk mendekati bola, tetesan air embun saat jatuh berusaha membentuk bola.
 
Kemudian saya menemukan pula untuk diri saya sendiri bahwa grafik terbaik adalah berbentuk bola pula.

Pola saat ini, grafik dengan koordinat x, y, z tidak mampu untuk memuaskan dahaga saya akan pengklasifikasian berdasarkan 3 faktor penentu. Saya selalu merasakan 3 faktor penentu adalah terlalu sedikit, sehingga grafik yang baik adalah sebagai berikut:

 
 
Kalau saya teruskan faktor-faktornya secara tak terhingga maka kemudian akan mengisi, sampai berbentuk seperti bola...

 Well, gambarnya kurang memuaskan seh... cuma maksud saya adalah dengan ketakterhinggaan faktor penentu, maka bolalah bentuk yang paling memuaskan. Bola memang sempurna.



Rabu, 25 Juli 2012

Teori Alam Semesta (1)

Teori alam semesta menurut saya...

Pertama, alam semesta milik kita saat ini merupakan bagian dari alam semesta lain yang lebih besar (seperti sebuah atom pada sebuah materi), dan demikian juga alam semesta kita merupakan induk dari tak terhitung jumlahnya alam semesta lain yang lebih kecil. Saya sih bayanginnya gini aja... kalo atom yang disangka paling kecil dapat dipecahkan lagi, en dibuat mikroskop dengan pembesaran tak terhingga maka maybe kita bisa melihat makhluk-makhluk aneh di dalamnya (dgn berasumsi bahwa waktupun bisa diperlambat sehingga semuanya dapat dilihat dengan lambat sekali).

Kedua, awal kehidupan adalah tidak ada. Saya mikir neh, kalo-kalo aja di semesta kita ini banyak lubang-lubang lain menuju semesta lain, sehingga pararel. Benih kehidupan bolak-balik berjalan-jalan antara dunia pararel itu sehingga kepunahan dan kehancuran pada suatu semesta tanpa kehidupan adalah sementara. Artinya pada saat satu semesta hancur dan tanpa kehidupan, tinggal menunggu waktu saja sampai suatu lubang tercipta dan benih kehidupan dapat kembali kesana lagi. Walau saya rasa waktu yang dibutuhkan saangggaaattt lama, tapi ini tetap akan terjadi.

Bayangkanlah seperti  sebuah gedung dengan banyak kamar di dalamnya dimana kadang-kadang kamar itu kosong, lalu diisi lagi oleh sesorang / dua orang / 3 orang yang selalu berpindah-pindah kamar di dalam gedung itu.

Ketiga, kalau sebuah benda, melewati kecepatan cahaya, maka benda itu akan menuju ketidakterhinggan dalam alam semesta, kemudian menembus dunia-dunia pararel atau menembus dunia yang lebih besar di atas kita (karena semesta kita adalah bagian kecil dari semesta lain). Nah masalahnya gimana memperlambat laju sehingga kurang dari kecepatan cahaya lalu berhenti pada satu alam semesta tertentu?

Udah dulu ah, nanti disambung lagi...

Kamis, 29 Maret 2012

Teori Membahas Alien

Halo guyyzzz.. wake up!

Ini saya punya pemikiran baru, saat maybe karena minum susu sapi yang lezat dan murni otak saya yang kadang suka malas jadi terbangun dan mau berpikir.

Guyz, teori ini tentang alien. Nah teori saya tidak berusaha menghilangkan kemungkinan teori alien lainnya. Just want to share karena minimal teori ini mudah dimengerti.

Bagaimana kalau di masa depan, yang namanya alien adalah ras manusia yang sudah berevolusi di alam semesta? Jadi ceritanya di masa depan, manusia sudah berhasil melakukan perjalanan jarak jauh di alam semesta dan punya teknologi yang maju yang bisa dipakai untuk mengkolonisasi planet-planet.

Homo sapiens aja adanya 150 ribu  tahun yang lalu, so apa susahnya seh membayangkan bahwa misal 150 ribu tahun lagi dari sekarang (dengan asumsi udah ada yang melakukan kolonisasi di hari ini di planet X) bahwa manusia yang naik roket antariksa dan mendarat di planet X lalu berevolusi jadi spesies lain? Masuk akal banget dong?

Belom lagi sodara kita yang migrasi tadi ngebawa kacang mede, kelinci anggora, ular phyton, dan semangka? Nah apa si spesies kacang mede dan ular phyton ga berevolusi juga sesuai habitatnya yang baru nun jauh disana?

Jadi nanti yang akan kita kenal sebagai spesies alien ya benernya temen-temen kita juga toh?

Bolehlah kamu menyanggah kalau kedua koloni itu misalnya masih berhubungan dan kawin mawin, cuma bagaimana kalau dari koloni kedua ini melakukan ekspedisi lagi menjadi koloni ketiga dan seterusnya makin menjauh? Apakah koloni ke sepuluh masih bisa kawin mawin dengan koloni pertama? Menurut Darwin seh kalau sudah tidak bisa kawin (anaknya mandul) berarti udah beda spesies tuh?

Belom lagi si kacang mede? Gimana tuh ceritaannya?

Jadi agak percaya ma teori saya kalau kehidupan di bumi pun asalnya adalah dari kehidupan lain di planet lain yang berevolusi...!

Senin, 05 Maret 2012

Kematian Tragis Arwana

Sial lagi sial lagi. Saya lagi sial karena ikan arwana kecil yang saya beli dimakan oleh tokek besar, penghuni celah atap di rumah saya.

Lah kok bisa? Kalau kamu tanya seperti itu akan saya jelaskan bahwa tokek adalah karnivora. Saya sering melihat tokek ini melahap kecoa-kecoa sebagai kudapan... dan berdasarkan cerita-cerita dan film dokumenter, saya juga menyaksikan bahwa ia juga bisa memakan tikus dan burung kecil. Jadi saya percaya ikan kecil juga santapan lezat, bukan masalah buatnya.

Beberapa menit setelah ikan itu hilang, saya teringat bahwa beberapa kali saya juga kehilangan ikan jenis cupang di kolam tersebut dengan misteriusnya. Sifat ikan cupang dan arwana adalah sama – sebagai perenang yang suka di permukaan sehingga terbuka kemungkinan diserang oleh makhluk permukaan.

Entahlah, mungkin juga ikan tersebut loncat ataupun ditangkap di air dengan rahang kuat sang tokek tidak jadi perdebatan karena intinya adalah si arwana dead and banished. Dan mengenai masalah rahang, saya sudah membuktikan bahwa sang tokek sanggup menggigit gagang sapu dengan kerasnya, so saya pikir satu gigitan sudah cukup untuk mencengkram ikan, kalau tidak langsung mematikannya...

Btw sebenarnya saya sedih dan cukup tegang saat menulis ini – jadi mohon dimaklumi ya kalo ngelantur? Bagaimana tidak, pertama anakan arwana Irian itu saya beli dengan uang yang cukup besar, Rp 125.000. Bagi saya uang sebesar itu tidaklah murah. Dan kedua, sedihnya - bisa dibilang arwana itu hanya sempat sejam bersama saya saat saya sudah pulang dari kantor. Di sore hari saat saya akan menengoknya kembali di kolam kecil, saya jumpai seekor tokek besar sedang dalam posisi agak bergelung di sudut kolam, agak dekat di arah air.

Sempat terpikir oleh saya untuk menangkap tokek itu, lalu dijual ke petshop. Lalu uangnya saya pakai untuk membeli anakan arwana lagi (oh my... kejamnya saya). Cuma pikir-pikir tidak tega selain saya berpikir juga kalau menangkapnya tidak mudah. Nah inilah yang menyebabkan tidak timbulnya kejahatan kelas teri ini: ada niat tapi tidak bertemu dengan kesempatan (sebab si tokek bisa manjat dinding, cepat larinya dan sembunyi di lubang kayu – sedang saya terlalu malas untuk berusaha dan ngorek-ngorek lubang atap).

Refleksi saya: hukum alam memang pasti. Tokek butuh makan, dan semuanya kalau direnungi hanyalah pelaksanaan hukum alam. Saya dapat digolongkan sebagai korban pada peristiwa ini, dan secara lebih spesifik saya dapat digolongkan sebagai korban tidak langsung. Korban langsungnya adalah sang arwana yang mungkin kalau tidak saya beli siang harinya masih berenang santai saat ini bersama sepupu dan saudara-saudaranya.

Usaha saya memanipulasi alam digagalkan. Alam berkata senang, karena hari ini bisa menyeimbangkan keadaan secara alami lagi. Tokek memang penguasa daratan (terutama dinding rumah saya).  Membuat bak dan memelihara ikan arwana yang berasal dari Irian adalah manipulasi (catatan penulis, kalau memanipulasi artinya membuat lingkungan buatan sehingga kemudian masukan-masukan baru dapat dengan mudah diterima oleh keadaan lingkungan yang sudah ada sebelumnya). 

Dan alam kali ini meminta agar saya bersabar, bekerja lebih keras dan mencari pekerjaan tambahan agar bisa menghasilkan uang, lalu kembali lagi membeli si arowana (ngarep.com).

Siapa tahu di lain kesempatan alam berkata agak serius kepada saya,”Dear Indra, baiklah karena kamu semangat sekali, saya perbolehkan kamu memanipulasi saya lagi. Sebagai tambahan, saya berkati kamu juga dengan keberuntungan sehingga ikan-ikanmu tumbuh pesat dan kuat.”

Jadi jutawan deh saya (soalnya kali ini melihara arowana super red).

Selasa, 19 April 2011

Wabah Ulet Bulu

Wabah ulet bulu lagi menyerang daerah-daerah di Jawa, Bali dan Sumatera...Well at least Jawalah, kalo Bali dan Sumatera jangan-jangan keangkat gara-gara di Jawa TV-TV pada ribut ngangkat si ulet bulu, lalu sehubung ada beberapa pohon di Bali yang kena ulet bulu maka langsung si kontributor TV buru-buru ambil kamera lalu shoot ulet bulu. "Mumpung-mumpung (dapet duit deh 500rb gw)," ujar si kontributor happy.

Yah bisa juga saya salah, namanya juga cuma nebak dan berasumsi sesuai logika kan - sesuai sifat oportunis en numpang manusia? Bisa aja daerah itu diselimuti ma ulet bulu kaya daerah tertentu di Jawa... hiiii... amit-amit, soalnya saya pernah beberapa kali kena ulet bulu parah. Salah satunya saat saya sedang penelitian di Pangumbahan, sebuah desa terpencil. Sampe-sampe saya diperiksa di Puskesmas, pake tangan panjang selalu dan akhirnya ga tahan en pulang ke rumah yang nun jauh dari Pangumbahan.

Anyway bussway, ada yang perhatiin ga seh, kalo momen ini sebenarnya momen-momen bahagia buat si kupu-kupu? Kalo jenis manusia dah bahagia mendominasi dunia selama minimal 150 ribu tahun (or at least 30 ribu - 100 ribu tahun, perkiraan keberadaan si Homo Sapiens yang kabarnya sempet merit ma Cro Magnon) lalu kenapa sih ga boleh ulet bulu or kupu-kupu yang mendominasi sepetak kebun yang itupun paling-paling cuma 1-3 bulan aja mereka nongkrong di pohon mangga (abis itu pasti tewas dengan sukses disemprot para penyuluh pertanian, atau terbang bebas sebagai kupu-kupu)?

Well, sebagai manusia saya tetep takut ma ulet bulu. Gatelnya boo... ga ketulungan. Mendingan saya digigit anjing deh, tinggal dikasih betadine daripada kena ulet bulu. Sebagai pemilik kulit sensitif kena ulet bulu adalah pantangan buat saya.

Tapi di lain pihak saya menyatakan peristiwa ulet bulu ini biasa bangetlah, cuma alam yang lagi coba ngasih kesempatan buat kawanan ulet bulu buat happy sejenak. Ini cuma keseimbangan alam ajalah. Maybe ada lain kali tiba-tiba aja ada outbreak komodo, dimana kawanan komodo berkembang biak dan menguasai pulau Jawa dan NTT. Siapa tau aja...

Kalo komodo menguasai NTT, saya mau jadi pengusaha ayam tiren supaya dapet untung dari atraksi si komodo makan bangke ayam pas dijadiin tontonan wisata.

Rabu, 23 Maret 2011

Kenapa sih Gila?

Saya lagi berpikir tentang mekanisme menjadi gila. Saya mau ngobrol kasus kegilaan dari sudat pandang lain ah...

Pertama begini pendapat saya. Kegilaan adalah mekanisme alam, yang bertujuan untuk mengeliminasi individu yang mengalaminya.

Pada saat tekanan lingkungan bertambah maka payahlah orang-orang yang memiliki kompisisi gen tertentu ini, yang cepat stres - mudah marah - agresif - sedih - depresi berlebihan. Demi melestarikan spesiesnya, kumpulan orang-orang ini terpaksa didesain oleh alam untuk melakukan bunuh diri secara perlahan, caranya dengan menjadi gila -agar kesempatan bagi sesama satu spesies lebih terbuka.

Kasus bunuh diri bukan hanya dialami manusia aja loh. Semut pada musim kemarau dimana makanan tidak mencukupi akan melakukan bunuh diri masal juga. Tanpa alasan yang jelas, sekumpulan semut membentuk spiral dan berjalan terus menerus sampai mereka mati karena kelelahan. Semut yang mati dalam 'Lingkaran Kematian' akan semakin bertambah karena terus menerus berputar, sampai beberapa koloni semut beristirahat dan memisahkan diri dari lingkaran.

Fenomena yang disebut "dancing ants", "ants circle of death" atau "death mill" ini telah diidentifikasi secara ilmiah pertama kali pada 1944 oleh Theodore Schneirla, seorang psikolog hewan berkebangsaan Amerika. Salah satu referensi umum menyangkut fenomena ini dihubungkan dengan seorang naturalis Amerika, William Beebe, yang melihat dan kemudian mendeskripsikan fenomena ini di Guyana pada tahun 1921 (http://jalanan-kehidupan.blogspot.com/2010/12/ants-spiral-of-death-fenomena-semut.html). Apakah semut itu sebelumnya mengalami kegilaan, semoga sebelum saya mati saya dapat mengetahui jawabannya, agar puas.

Btw saya pikir harusnya ada alasan ya dari sisi positif, mengapa ada mekanisme gila pada tubuh manusia. Apakah misal ternyata ada keterkaitan gen - orang yang cenderung mudah gila memiliki kelebihan, seperti konsentrasi yang tinggi, atau kepandaian tertentu yang lebih baik? Kenapa and buat apa ya?

Saya menulis ini karena teringat sama mantan CEO saya di kantor yang saya duga stres dan secara jiwa kayanya jadi rada kosong. Doi pinter juga seh soalnya...