Tampilkan postingan dengan label Place I Remember. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Place I Remember. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Februari 2018

Catatan Harian Komat Kamit Wonorejo



29 Jan 2018 22.30

Wonorejo, kalo denger namanya yang terbayang-bayang di kepala kita pasti sebuah kota, entah di mana di Jawa.

Untuk Wonorejo yang saya ingin ceritakan, lokasinya di Sumatera, dan sehubung dihuni oleh orang-orang yang rindu Jawa, maka dinamakanlah lokasi ini Wonorejo.

Pemandangan sore dari dekat Hotel Pesona tempat biasa nginep
Wonorejo, adalah sebuah korong (setingkat dusun) di Solok Selatan Sumatera Barat. Para pekerja di kebun teh Belanda dulu dibawa dari Jawa, dan setelah bertahun-tahun terisolasi maka mereka kemudian membuat sebuah pemukiman Jawa di daerah Minang ini. Tak jauh dari Wonorejo, ada lagi sebuah pemukiman Jawa yang jauh lebih luas dipanggil Bangunrejo.

Air Terjun Kupitan
Di Wonorejo inilah saya selama satu setengah tahun bolak-balik Bogor – Padang Aro (lokasi kantor konsorsium berada). Pagi biasanya saya berangkat jam 3 pagi, naik bis Damri, naik pesawat tiba di Padang dan disambung naik travel beberapa jam dan sampai Padang Aro sekitar jam 4 sore. Lalu biasanya ngantuk tapi ga bisa tidur. Syukur kalau tidak langsung memfasilitasi pertemuan masyarakat malam harinya (beberapa kali seperti itu, dan biasanya KO seminggu kemudian).

Balik lagi ke Wonorejo yang beberapa minggu lagi saya akan tinggalkan selamanya (sebab ini adalah daerah pendampingan di luar lokasi utama, yang hanya mungkin didatangi kalau didukung oleh proyek besar), saya merasa ini adalah daerah pendampingan yang paling berkesan yang saya datangi selama ini.  Lah padahal dibanding daerah pendampingan saya yang lebih lama, Wonorejo ini didatengin paling 2 bulan sekali dan hanya 3-7 hari saja.

Kenapa saya tertarik mendampingi Wonorejo ini mungkin karena ini adalah daerah yang menurut saya ramah, dan menyenangkan sekali melihat ibu2 yang hanya saya bekali dengan ilmu sedikit tapi lalu bisa dengan sukses mengembangkan Kelompok Bermain untuk anak-anak. Pemuda-pemudi yang bekerja di perkebunan teh, namun masih punya waktu ngobrol tentang ekowisata sampai malam. Biasanya saya setiap ke sini kerja habis-habisan sebab dengan waktu saya yang cuma 3-7 hari saja dan 2 hari di antaranya saya jalani di dalam mobil travel, betapa saya harus selalu putar otak agar pekerjaan saya efisien dan efektif 110%.

Mbah Mul yang pemalu dan masih jomblo :)
Setiap kali pergi ke sini, saya tidak bisa potret-potret bagus di antara dedaunan teh. Tidak pernah bisa saya berhenti lalu menghirup udara segar. Hampir selalu tidak ada waktu karena selalu terburu-buru: makan, menuju korong, mempersiapkan materi, berdiskusi internal, pindah dari satu kelompok ke kelompok lainnya.

Hanya di minggu terakhr ini saya begitu merasa kehilangan, dan sulit rasanya menyadari kalau dalam beberapa minggu saja saya mungkin tidak akan menginjakkan kaki lagi di sini, atau jika menginjakkan kaki pun rasanya pasti akan berbeda ya. Tidak seperti saat saya mendampingi.

Saya mengambil motor, lalu berhenti di pinggir kebun teh kali ini mengambil beberapa foto. Belum memuaskan tapi ini adalah pertama kalinya saya berhenti. Dulu sekali pernah, sewaktu pertama ke sini tapi tetap tidak sebebas jika kita berjalan-jalan. Ini adalah beda antara bekerja dan berjalan-jalan. 

Di dalam definisi wisata pada kuliah ekowisata yang saya ikuti di semester 3 ini dijelaskan kalau wisata adalah perjalanan non-kerja. Mungkin si penulis tahu bahwa saat kita bekerja, pikiran telah tertuju ke satu obyektif, mengingkari keberadaan obyek-obyek lain yang indah namun tidak dianggap penting oleh pikiran kita.

Di perjalanan sewaktu kegiatan REPLING
Pada bulan Januari 2017, saya pergi ke Wonorejo dengan tangan terbebat kain karena baru saja beberapa hari patah cuil di siku kanan (yang sampai sekarang setelah sembuh tidak pernah kembali normal). Saya pergi ke air terjun Baskom dengan berpegangan pada akar atau dengan tongkat, bersama para pemuda/i. Kadang nyeri menyengat, membuat lemas badan. Untung tidak terjatuh ke sungai dan membuat gara-gara tambahan.

Anak-anak, pemuda/i di Wonorejo di sini juga menyenangkan sekali. Mungkin karena saya datang sekali-kali ya, jadi mereka juga tidak sebal bosan melihat saya. Daya tangkap mereka cepat, dan beberapa orang cara berpikirnya cukup moderat. Mereka peduli pendidikan nampaknya, dicirikan dengan banyaknya anak-anak yang sekolah sampai SMA, bahkan kuliah.

Mereka saya sebut masuk kategori golongan progresif. Mungkin karena ini adalah komunitas pendatang ya, yang berniat menetap dan harus berjuang hidup tanpa bantuan dari tempat asalnya. Mungkin karena ada perasaan perlunya bersatu mempertahankan adat dan budaya asal, mungkin karena etos bekerja.

Dah malam,  teman saya Kang Azis dan Mbah Wiro sedang berdiskusi masalah turbin PLTMH yang katanya banyak perubahan dari rencana awal, yang jadi kasus aneh baru buat saya. PLTMH adalah main projectnya konsorsium kami. Kalau saya, urusannya adalah kelompok pemuda/i, ekowisata, kelompok perempuan. Mereka lagi bicara mengenai wan-pretasi proyek. Saya banyak belajar dari orang-orang ini. Mereka bagian dari anggota konsorsium, yang tugasnya berbeda-beda. Kadang kalau lagi pas, saya bisa bertemu dengan sebagian dari mereka. Engga tau kalo ditempatkan seruang dalam waktu yang lama akur atau engga ya, sebab selama ini jika bekerja, kami hanya berdekatan dalam waktu yang tidak lama.

Anak muda fasilitasi program REPLING
Proyek yang saya kerjakan di Wonorejo ini adalah proyek MCAI yang sudah dikenal akan keasal-asalannya  - merubah format laporan keuangan setiap bulan, hanya mencairkan dana bila persayaratannya yang super ruwet terpenuhi, sampai apapun yang dibangun perlu ada feasibility study (kebayang nga kalo mo buat kandang sapi juga diriset kelayakannya dari sisi sosial-lingkungan?). Saya melihat proyek MCAI ini adalah penjajahan buat para LSM di Indonesia. Persis, bahwa pelaksana harus benar-benar menurut sama si penjajah, kalau ga mau dananya ga diturunin. Nego masalah prinsip, cara kerja jaman old nya LSM, kebiasaan di masyarakat rada ga ngaruh ma funding ndableg ini, cuma dia ngasih gaji tinggi yang bisa di saving ma teman-teman LSM supaya lembaganya bisa idup lebih lama.

Tapi ada keuntungan lainnya juga kerja sama MCAI ini. Doi kayanya ga peduli masalah gede duit. Jadi saya bisa terbang ke Padang ini dengan mengorder Garuda 1 hari sebelumnya (kebayang nga kalo pake duit sendiri apa kelakuan ini kamu lakukan?). Doi juga buat saya bisa terima uang per diem gede (disumbang ke kantor, saya dapat per diem standard kantor), dan ketemu ma masyarakat yang tinggalnya jauh dari kantor kaya di Wonorejo ini.

Bang Warik, yg hobi terlarang miara burung
Di Wonorejo yang udaranya sejuk ini, ada Mbah Lasem yang sudah tua dan pernah mijit saya waktu saya masuk angin (dan patah lengan). Hadoh, si Mbah megang bagian bawah siku saya n langsung ngerenyed begitu kepegang. Mbah Lasem ini salah satu pendiri Korong (bukan Ngorong) Wonorejo dan bekerja dari sejak mudanya di perkebunan. Saya taksir umur Mbah Lasem antara 80 dan 90 tahun dan dikenal oleh masyarakat di Korong sebagai pemijat. Di masa mudanya tenaga Mbah Lasem untuk pijat sangat kuat. Kalau sekarang, low power consumption ibarat lampu led – lembut dan mantap.

Untuk kelompok pemuda/i, di sini ada Ketuanya Yasiman yang saya jelaskan di atas – pemuda harapan bangsa (Korong). Doi katanya dari remaja sudah ikut kumpul dengan orang-orang tua kalau pertemuan, dan menjadi bijak secara lebih cepat di usianya.  Ia dihormati kaum muda dan juga oleh orang tua yang mungkin beda umur 20-30 tahun di atasnya. Keren Yasiman ini. Sudah dipastikan akan jadi Kepala Jorong (Desa) beberapa tahun ke depan.

Belajar belajar dan belajar
Untuk geng cewek, ada anak-anak SMA yang menjuluki diri mereka cewek ganteng: mungkin karena suka naik motor trail, punya ortu mereka yang kerja di perkebunan teh. Suka panjat dinding, dan mereka menyenangkan sekali. Saya pernah main kartu Alkisah dengan mereka, dan menyenangkan soalnya kayanya jarang yang bawa mainan aneh2 ke sini ya?

Lainnya, dengan bapak-bapak selain tokoh PLTMH Pak Eliono yang ramah, Pak Kirman yang tokoh masyarakat banget, Pak Pomo yang doyan ngebibit, Lek Sago tokoh pemuda yang ga muda, Pak Tri (naik pangkat dari Kepala Korong, ke Kepala Jorong), lainnya saya ga begitu hapal. Maklum agak lebih jarang fasilitasin bapak2 ini.

Ada juga CV Prowater pimpinan Pak John yang kecil orangnya gede rumahnya. Pak Sentanu yang ahli hidrologi en lulusan ITB tahun jadul (kebayang harga kalo konsultansi ke dia). Lalu ada Bang Warik dulu, CO kami yang ndableg selalu bangun siang kena insomnia akut yang kerjaannya beli barang Deuter tapi suka ngutang lama/ga bayar.

Pusing belajar melulu
Saya berusaha menulis nama-nama mereka agar tidak hilang saat pikiran saya sudah melayang-layang ke lain tempat. Yang jelas saya sekarang ini walau nanti sore akan ke Wonorejo, sudah rindu Wonorejo dan kebayang kalau dah ga kesini lagi.

Ok baiklah. Saya nikmati saja semuanya.

30 Jan 2018 21.43

Nongkrong di COK (semacam rumah tempat kumpul) sambil tidur2an di tiker, di samping Kang Azis yang lagi ngorok. Sambil dengerin lagunya Exists – Mencari Alasan. Bapak-bapak petani kopinya pada ga datang satu pun. You know what... penyebabnya adalah karena listriknya baru dinyalain ma PLTMH setelah sekitar 3-4 bulanan gelap gulita di kampung. So maybe saking hepi nya, bapak-bapak ini langsung kelupaan kalo kita akan ada pertemuan malem ini.

Geng Ibu2 yang suka heboh
Saya pasrah aja. Lah kalo saya maksain datengin pintu satu2 apa ga pada pundung itu bapak (dan ibunya) yang sedang bergembira ma anak mereka, bisa nonton TV lagi? Lagian saya mo fasiitasin para petani kopi ini tentu saja perlu juga cari cara lain... perlu bisa silat menyerang dan berkelit, ga melakukan pemaksaan yang hasilnya cepat tapi hambar.

31 Jan 2018  18.00

Mo kumpul koperasi, eh tiba2 dibatalkan dan dipindah ke Jumat malam. Kalo kali ini karena masyarakat Wonorejo mau mengadakan sholat gerhana (si bulan lagi gede banget, kata Mbah Wiro gerhana bulan kaya begini terjadi 150 tahun sekali). Apalah saya yang usianya ga selama si Gerhana Bulan Great White ini... so harus dipahami dengan tulus. Silat jurus mundur dulu. Mungkin ga sih btw kalo si bulan super ini membuat beberapa orang jadi Werewolf (like in the movie?).

Kumpul sama Ibu2 Petani buat memperkaya jenis tanaman yang ditanam
Ok, kita manfaatkan waktu dengan buat TOR kegiatan yang kemarin sebelum pergi belom sempet diperbaiki.

Jumat, 19 April 2013

Kagok - Kagokan Jalan Kaki dan Naik Motor di Vietnam



Kagok, begitulah yang dirasakan oleh saya saat berjalan kaki meyeberangi jalan di sekitar Ho Chi Minh City (dulu: Saigon). Bagaimana tidak, sepeda motor berlalu lalang selang-seling, terlebih di jam-jam sibuk dan jumlahnya yang sangat banyak bagaikan kumbang-kumbang yang berseliweran. Jadi heran, karena dengan lalu lintasnya yang jarang berpolisi dan dengan arah yang suka-suka saya belum menemukan para pengendara saling bertabrakan. Muka mereka pun lurus-lurus saja, tidak terlihat marah saat disalib atau misal karena dipapas motor lain dari arah yang berlawanan. Sudah biasa kali ya?

Lalu lintas di Kota Ho Chi Minh (Saigon), didominasi oleh sepeda motor

Biasanya jalan kaki menjadi kebiasaan saya kalau melakukan backpacking. Umumnya saya jalan dari pagi dan baru berhenti malam hari karena biaya menggerakkan kaki yang murah, cukup disogok dengan sedikit makanan, dan bisa dipakai satu hari penuh.

Cuma di Vietnam ini, kebiasaan jalan kaki cukup terganggu terutama saat bertemu persimpangan dimana saya harus menyeberang. Nyebrang jalan, tengok kiri kanan menjadi menu rutin sepanjang penyebrangan. Hati ini tidak tenang kalau belum menginjak trotoar lagi. Tidak seperti di Indonesia, disini tidak ada standar kalau arah motor atau mobil haruslah selalu dari arah yang disepakati undang-undang.

Kekagokan saya bertambah double ataupun triple saat mengendarai sepeda motor, kali ini di Da Lat, sebuah kota di ketinggian 1.500 meter yang indah, dimana bebungaan liar tumbuh sepanjang jalan, dan mawar merah kuning dan orange menghias garis batas di jalan. Kalau di Saigon saya nyerah deh ga ada nyali buat pakai motor (takut emosi dan nabrak), tapi saya pikir Da Lat ini kan kota yang kecil, so mungkin saya bisa adaptasi lebih baik di tempat yang lebih sepi ini. Jadi saya sewa motor bebek buat jalan-jalan.

Jalan utama di Da Lat: ingat berkendaraan di sebelah kanan yaaa...

Sehubung bekas jajahan Perancis, mengemudi di Vietnam adalah di sebelah kanan, dan untuk menyusul dari sebelah kiri. Sebagai orang Indonesia keadaan ini menyulitkan karena berkebalikan dengan keadaan di sini (Polisi sini berpendapat baiknya adalah naik motor di kiri, kalo mau nyusul dari kanan).

Beberapa kali (biasanya sehabis keluar dari suatu tempat) saya langsung ambil ruas kiri ngikutin kebiasaan di Indonesia. Walhasil, baru sadar waktu akan marah liat orang Vietnam nyetir motornya di kanan. Padahal yang salah adalah saya.

Lah kok kita yang salah lalu mau marah sih ? Itulah kelemahan saya: memang saya gampang marah kalau naik motor sebab beradaptasi dengan kerasnya lalu lintas kalau di Bogor tempat saya dilahirkan (walau ternyata keadaannya tak sekeras disini).

Di negeri yang ramah ini, akibat perbuatan saya, saya cuma dilihat oleh Vietnamese ini – dia tidak marah, dan melihatnya pun cuma sekilas. Perkiraan saya dua: mereka bangsa ramah yang toleran kepada saya, atau karena nyetir salah arah adalah biasa, karena juga dilakukan oleh mereka sendiri dengan caranya masing-masing.

Emosi marah ini sempat juga muncul (sebenarnya bukan marah tapi kesal sedikit) karena masalah bensin. Lah iya, saya menyewa motor satu hari seharga 5 USD dari jam 7 pagi sampai 9 malam, lalu pas ngisi bensin (di Da Lat) oleh si ibu ditagih 60.000 VND (dong) alias 3 USD. Padahal ngisinya bentar banget, kurang dari 2 liter rasanya; satu setengah liter paling banyak.

Mahal banget sih bensinnya, Man? Secara disini itu cuma Rp 4.500 / lt. Dengan Rp 30.000 / 3 USD / 60.000 VND saya bisa isi bensin sekitar 7 liter disini.

Danau Xuan Huong, di tengah kota Da Lat
Merasa ditipu, selama nginep di motel (harga 14 USD / malam, dengan 2 tempat tidur: saya dan istri tercinta) saya selalu browsing internet via BB istri. Cuma dapat kabar di halaman pertama google: Masyarakat Vietnam Shock atas Kenaikan Harga BBM – tidak dapat diteruskan browsingnya karena cuma dapat percikan Wifi dari motel, dan menyebabkan loading BB nya lama banget dan bikin putus asa.

Saya teruskan pencarian itu saat mencapai Indonesia kembali. Penasaran karena cuilan berita yang kurang lengkap tersebut. Dengan bantuan Profesor Google, saya dapati bahwa harga bensin di Vietnam adalah berkisar antara Rp 11.000 sampai Rp 12.000. Amin ucap saya, agak puas.  Jadi kalau saya mengorbankan Rp 30.000 untuk bensin saya pikir semoga waktu itu diisi 2 liter lebihlah ma si ibu bensin.

Pikiran ini ditentang lagi oleh logika saya. Hati mau memaafkan, tapi kepala menentang, sebab kalau dilihat tangki bensin motor yang saya tumpangi kecil. Masa iya tangki motor sekecil itu memuat bensin kira-kira 2,3 liter?

Pikiran saya lalu berusaha agak baik lagi sama sang hati yang berusaha memahami. Pikiran lalu berkata pelan-pelan, katanya: mungkin jenis BBM di Vietnam agak banyak, motor kamu diisi ma bensin kualitas pertamax jadi harganya agak mahal.

Iya ajalah, demi keindahan dataran tinggi Da Lat.

Saya sudah diberikan jasa oleh motor yang saya tumpangi ini selama ngalor ngidul cari-cari titik wisata di Da Lat, sudah sepantasnya ia diberi minuman yang setimpal (sekualitas minuman yoghurt dari Da Lat). Kalau ada lebih, anggaplah sumbangsih saya untuk rakyat Vietnam, setelah peperangan bertahun-tahun yang menyengsarakan serta atas kerajinan dan keuletan mereka (Vietnames ini rajin-rajin banget dan akan saya ceritakan di story yang lain ya).  

Salam dari atas motor gaul peminum yoghurt.

Rabu, 01 Agustus 2012

Kemping Pertama (Minimalis Mode: On)


Yah – yah – yah... setelah saya mengudek-udek isi laci saya yang banyak isi fotonya, untuk mencari foto-foto di Shamadi Shalom Cipanas yang saya dapati malah beberapa buah foto dalam 1 album kecil, yang berisi tamasya kami ke Perkebunan Ciliwung bulan Februari tahun 1996.

Boleh saya katakan ini kemping perdana kami, waktu itu saya masih kelas 1 SMA di Regina Pacis Bogor. Dan sehubung ini kemping perdana kami boleh dong kalo kami melaksanakannya dengan sederhana dan sedikit ga berkualitas?

Yah, ini bisa disebut kemping pemberontakan (saya merasanya begitu) untuk keluar dari pakem kalau yang bisa kemping waktu itu adalah kalau hanya di bawah naungan kelompok pecinta alam saja (waktu itu saya hanya junior saja, jadi berstatus tunggu ajakan senior-senior yang incapable untuk melakukan kemping; dan jadinya ga pernah kemana-mana). Dengan modal survei yang sama sekali engga memadai kami saya dan Crisa memutuskan kalau tempat ini bisa dipakai untuk kemping.

Resa, Henry, Citra dan Crisa
Jadi kemudian bersiap-siaplah kami, dengan ransel berangkat menuju Perkebunan Ciliwung di Puncak yang letaknya di sebelah kiri jalan dari perkebunan teh Gunung Mas. Waktu sudah sore waktu kami tiba di tempat itu. Ijin kami dapatkan dari penjaga kebun, dan setelah jalan-jalan sedikit kami menemukan bahwa tempat yang kami tuju tidak tepat untuk diinapi. Kami lalu meneruskan perjalanan kami, agak menanjak di perkebunan teh, melewati sungai kecil dan  hutan kecil yang tidak terlalu rapat sambil foto-foto sekedarnya mengabadikan penjelajahan kami sambil membayangkan film Indiana Jones.

Tengah asyik-asyiknya mencoba menerobos rimba, tiba-tiba mentoklah kami berhadapan dengan pagar kawat ayam bolong.

“Terobos ga neh?" Tanya saya kepada Crisa, Resa dan Henry – semuanya teman saya di SMA.

Resa dan Citra yang saya ingat tidak suka pikir panjang tentu saja mengiyakan. Kalau Crisa dan Henry saya lupa jawabannya, tapi sepertinya tidak jauh dari persetujuan yang menggebu-gebu juga.

Dan lewatlah kami, menerobos masuk pagar kawat ayam itu. Tak sampai beberapa detik kemudian terperangalah kami, sebab yang kami lewati tiba-tiba berubah jadi sebuah resort, vila yang indah permai di dalam hutan tersebut. Jalan diaspal, rumah-rumah kayu putih, beberapa mobil serta water heater di atas atap. Walah salah jalan ini mah saya pikir... cuma karena sudah kepalang kami lanjutkan saja lenggang kangkung di perumahan mewah tersebut.

Sialnya, perjalanan kami tidak bisa diteruskan. Tergopoh-gopoh seorang satpam berbaju biru berjalan dan langsung menemui kami. Singkat kata, kami harus balik arah sebab katanya resort itu milik jendral. Halah emang ini jaman orde baru so kalo ingat-ingat masa itu kalau sebuah lokasi di claim milik jendral enyahlah cepat-cepat atau benjutlah kami digaplokin tanpa bisa lapor polisi. Ini jaman representatif Bung.

Dah mirip ma yg di cover kaset belom ya?
Dengan murung kami turun kembali ke bawah, kembali melewati sungai kecil sementara hari sudah semakin sore.

Sebagai kepala rombongan dan inisiator penjelajahan ini, saya mengarahkan agar kali ini perjalanan diarahkan tetap pada wilayah Perkebunan Ciliwung, namun ke arah yang lain. Saya tidak memilih Perkebunan Gunung Mas - tinggal nyebrang jalan raya saja sebenarnya - karena saya tahu persis di dalamnya adalah sudah menjadi kawasan wisata yang perlu membayar tiket masuk, termasuk lokasi kemahnya yang walaupun jelek tetap saja berbayar. Ga worthedlah waktu itu fasilitasnya, lagian dimana seni menjelajahnya saya pikir?

Langit mulai kuning memerah saat kami mulai menanjak di kebun teh. Matahari mulai tenggelam perlahan-lahan dan rona merah yang menjadi penanda saat sang surya tenggelam menghibur kami, anak-anak SMA yang berjiwa luhur.

Sehubung waktu itu malamnya adalah malam takbiran, dan puasa sudah selesai – cepat-cepatlah kami sebelum hari benar-benar gelap memilih lokasi untuk menginap. Setelah pusing mencari sana-sani tempat terlindung sesuai buku pedoman Survival Navy Seal berbahasa Inggris, kami memutuskan kalau tempat terbaik hanyalah sebidang tanah kosong, mungkin bekas tempat menimbun teh bagi para pemetik teh. Tidak apropriate namun diputuskan bahwa tempat itu adalah yang paling OK sehubung hari sudah mulai gelap dan rasanya di kebun teh agak susah mencari pepohonan besar sebagai naungan terkecuali kami berjalan sampai batas hutan di luar perkebunan.

Tidak ada yang kami persiapkan selain menggelar ponco, itupun hanya 2 ponco saja: saya dan Crisa. Citra yang pengendara motor tidak bawa (rasanya sih sengaja karena malas – dicirikan dengan bawaannya di ransel yang minim seminim-minimnya). Kalo Resa dan Henry memang tidak punya, walau Resa anggota pencinta alam juga.

Yah lalu bisa dibilang kami menghabiskan bekal, mondar-mandir di sekitar lokasi dan agak malam saya menyalakan senter rechargeable saya (keren banget waktu itu saya pikir karena jarang-jarang yang punya senter rechargeable ukuran kecil yang bisa jadi lampu penerangan juga :) .

A Time To Kill (1996)
Kami main kartu, bolak-balik tiduran, makan snack, bikin indomie, ngobrol ngalur-ngidul ngejelek-jelekin guru, berpikir bebas seperti seakan-akan tidak akan pernah bekerja dan hidup susah di kemudian hari.

Beberapa gelombang orang yang merayakan takbiran melewati kami sambil diiringi tetabuhan. Saya menebak, jangan-jangan ada perkampungan di atau Masjid di depan kami, setelah hamparan kebun teh ini.

Ga lama jam 9 an dah pada mau bobo, en memandang bintang di kejauhan. Ngobrol ngalor ngidulnya tetap jalan en sehubung gak ada HP waktu itu maka masing-masing ga sibuk sendiri melainkan cukup merubah topik. Kalo topik mengenai gigi si Resa udah ga seru maka bisa ngobrolin penindasan yang dilakukan oleh Citra sebagai senior kepada anggota-anggota beladiri THS bawahannya.

Wah ada yang salah rasanya mengenai memandang bintang di kejauhan dan mulai tersadari saat jam menunjukkan kira-kira tengah malam. Badan mulai menggigil karena hembusan angin dingin, dan walaupun badan diposisikan dalam bentuk melengkung seperti kucing, hawa dingin tetap menusuk menembus jaket. Kebetulan tidak ada sleeping bag yang kami bawa karena jaman itu jaman susah – jadi cukup lapis-lapis saja.

Saat jam 3 dingin tidak tertahankan lagi dan semua dari kami terbangun karena kedinginan. Bisa dibuktikan bahwa dalam perbedaan genetik dan budaya, kami tetap terbangun oleh hawa dingin yang sama. Citra dan Crisa penguasa ilmu bela diri, Resa si kuda, Henry yang jago gambar dan saya bertekuk lutut di bawah kekuatan alam: badan menggigil, gigi gemeretak, ujung-ujung jari dan telinga serasa membeku. Kami mengeluarkan segala perlengkapan namun semua hanya sedikit menolong.

Sampai matahari mulai muncul tidak ada yang bisa tidur, dan penderitaan kami sulit dijelaskan selain mengingat bahwa di lain kesempatan tidak mungkin kami akan mengulangi cara-cara bodoh ini lagi, tidur terbuka di pegunungan tanpa bekal apa-apa.

Pagi-pagi, dengan kebas-kebas di kaki dan sakit di punggung kami beres-beres. Sehubung tidak ada yang punya pengalaman jalan-jalan dan juga tidak ada yang kaya dan mampu mentraktir sesamanya (misalnya nerusin jalan-jalan ke Cibodas, makan-makan di resto Riung Gunung) maka kami memutuskan untuk mencuci muka kami di parit kecil yang dialiri air jernih di Perkebunan Teh Gunung Mas saja. Ya, setelah masak indomie, kami main-main sebentar ke perkebunan teh tetanggaan itu, lewat jalan pemetik teh guna menghindari pungutan tiket masuk si penjaga.

Ya, itulah pengalaman (tidak) menakjubkan kami yang menjadi pembuka petualangan-petualangan fantastik kami selanjutnya :)  . Perkebunan Ciliwung cuma stepping stone kan? 

And then go west guyz to a peaceful land !!! - kata geng hombreng "Village People." Ya, mungkin setelahnya kami berpencar, pergi ke tujuan kami masing-masing, tapi pernah ada suatu waktu dimana kami berkumpul di sini, di sebuah tempat bernama Perkebunan Ciliwung.

Kamis, 19 Mei 2011

Samadi Shalom

Samadi Shalom. Tempat yang memberi saya sejuta kenangan saat SMP dan SMA di Regina Pacis Bogor . Ya, 2 kali saya retret di tempat ini, satu kali saat SMP (kenangan bersamar-samar, namun untunglah saya ingat kalau saat itu ada teman sekelas di foto yang menyatakan kalau itu adalah jaman SMP) lalu satu kali lagi saat SMA (yang ini saya inget banget karena saya menerima komuni di misa pagi, dengan mencelup hosti ke anggur sisa wali kelas saya di SMA, Bapak Sunu yang dulu saya benci karena kata-kata kasar kurang intelek yang suka nyeplos dari mulutnya.

Samadi Shalom itu letaknya di Cipanas, Puncak. Tempatnya agak kuno (rasanya jadi masuk era tahun 70 an kali ya), dingin, ada tamannya dan tentunya memberikan saya kenangan karena acara retret itu (biasanya 3 harian dan diadakan sebelum ulangan umum).

Perpus Samadi Shalom kuno, penuh buku-buku rohani di rak-rak dan dinding kaca yang tidak mau saya sentuh (saya anti dengan sesuatu yang membosankan). Kalau dapurnya, saya agak suka walau pernah si tukang masak menyajikan bihun paling tidak enak yang pernah saya makan karena kebanyakan merica (apa memang biarawan harus makan masakan yang tidak enak?). Lalu Kapelnya kecil dan tidak menarik, kamar-kamarnya sederhana, kalau tidak salah bisa dimuati 2 ranjang saja.

Kalau tamannya memang terawat dan indah. Mungkin dirawat ma suster-suster yang kurang kerjaan selain berdoa selalu. Di taman yang indah ini teman-teman SMP dan SMA sering kerja kelompok saat retret: misalnya menjawab pertanyaan apa saja yang sudah dilakukan orangtua kita kepada kita – atau mencoba mengkalkulasi pengeluaran orang tua kita- sampai umur kita saat ini, agar si anak siap-siap berterima kasih ke ortunya saat pulang nanti.

Dari sekian yang terekam otak, saya selalu teringat saat seorang bruder pendamping retret kita marah saat hari pertama. Sebabnya adalah karena pada saat anak-anak ditanya,” apakah kalian mau tidur dengan tenang?” Dijawab oleh anak-anak: TIDAAAKK!

Spontan si bruder yang pengendalian dirinya lemah lalu marah karena menganggap anak-anak melawan dia. Padahal maksud anak-anak kalau ditilik dan diurut-urut dari pengertian pertanyaan menganalogikan kalu tidur dengan tenang = mati. Si bruder sebelumnya memang sempat membicarakan perihal kematian. Lah anak-anak yang pikirannya linear tidak bisa dipersalahkan juga benernya kalau begitu kan?

Rupanya Samadi Shalom mengalami lack of trainer juga neh. Kalo si bruder dah marah di hari pertama, ya tau sendiri kalo hari selanjutnya kita dah ga enjoy ikutin retret.

Kedua karena ini masa cinta. Selama saya disana saya kepikiran terus ma adik kelas saya di SMP yang saya kecengin, berandai-andai kalau nanti dia akan menempati kamar yang saya tempati, atau minimal makan di dapur yang sama dengan saya. Mimpi-mimpi kaya gitu apalagi di taman yang indah cukuplah membunuh kebosanan kalau pelajaran retretnya membosankan (alhamdulilah kadang juga diselingi ma snack sehingga perut lapar bisa disogok sedikit, dan ada waktu lebih untuk bengong).

Lain-lain adalah kalau mandi. Air dingin mengguyur sekujur badan, dan it’s fun lho mandi barengan (walau ga sekamar mandi). Bisa tereak-tereak dan ngelempar sabun ke kamar sebelah sebab misal si Crisa ga bawa sabun. Atau kalau mau iseng ya dorong aja pakean kamar sebelah biar basah.

Yang saya cintai juga adalah Gereja Santo Yoseph yang letaknya di luar lokasi retret (biara). Gereja kecil ini tidak megah, tidak terlalu indah tapi selalu berkesan di hati saya. Di depannya tertata rapi bunga-bungaan, dan rumput yang pendek-pendek.

Saya selalu merasa dipanggil oleh Gereja kecil ini. Walaupun saya selalu tidak suka pergi mengikuti misa di hari Minggu, namun berlainan kalau berdoa di Gereja ini.

Selalu ada tempat-tempat spesial yang biasa-biasa saja buat orang lain. Samadi Shalom misalnya selalu lebih spesial dibanding perjalanan saya ke Phuket atau Saigon. My feeling always wondering around – kalau mendekati tempat ini, bahkan walau tidak mampir. So special.

Nge-fans ma Shamadi Shalom? Sok mampir...

Samadi Shalom
Kompleks Santo Yusup
P.O. Box 10, Sindanglaya, Cipanas, Cianjur 43253
Telp. (0255) 512592