Tampilkan postingan dengan label Butek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Butek. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 September 2022

Hilang Kemampuan Menulis Akibat Reels (dan Tiktok).

 Astaga dah lama banget ga nulis apa2 di blog. Rasanya buat mulai susah banget. Otak rasanya sakit-sakit disuruh mikir dan nulis.

Di obrolan di ruang makan RMI, gw nyumbang komen kalo kita nih ga bisa nulis panjang-panjang lagi diakibatkan sekarang dijajah medsos dan portal berita online yang beritanya pendek-pendek, sering gada rasanya. Begitu juga akibat sering2 lihat reel di Instagram yang pengaruh ke otak kita. Jadi males.

Sempet ngebaca lho  analisis thd Tiktok, kalo video yang muncul di hadapan kita (begitu juga di Instagram) tidak terjadi secara kebetulan tapi membaca apa yg kita sering lihat, like dan komen. Dan aplikasi2 itu juga sebenarnya mencuri data apa2 yang elo lakukan di aplikasi tersebut direkam lho.

Kalo Tiktok, kayanya lebih parah lagi. Perusahaannya kan dari Cina ya. Data yang dicuri lalu dipakai untuk menampilkan iklan2 yang bisa mempengaruhi kita (termasuk yang disajikan terselubung, dan kita tidak sadar bahwa kita sedang dipengaruhi). Misalnya aja (misal ya) untuk menyelubungi kekerasan yang dilakukan pemerintah Cina di Hongkong, maka akan banyak video2 yang menampilkan keindahan/pariwisata/kemajuan budaya Cina, sehingga saat video kekerasan kita tonton di platform lain maka alam bawah sadar kita mempertanyakan/menyangkal kejadian itu karena ga sesuai dengan image yang sudah kita tanam sebelumnya.

Dan karena hebatnya metode hitung algoritma aplikasi, kita tersihir mengikuti video dan reel dengan model2 seperti itu. Hilang waktu, males baca, hilang kemampuan mikir untuk nulis. Jadi males kaya gw sekarang. 

Belom lagi kena juga serangan WhatsApp yang ngebuat kita tegang tiap detiknya, mantengin pesan terus.

Jadi hilangnya kemampuan menulis secara mendalam saat ini karena akibat sistem ga sih?


Senin, 25 Desember 2017

India 2: Barang Murah dan Kemiskinan


Saat saya membeli barang dengan harga murah, saya selalu merasa senang, apalagi jika mendapatkan barang bagus, unik. Selain itu perasaan menang juga muncul, karena saat di - iyakan - artinya seperti memperoleh kontrol atas seseorang/sesuatu (let's talk about it next time).


Namun perasaan ini jadi dilema-lalala bagi saya sekarang terutama setelah sering menyaksikan kondisi para pembuatnya, atau masyarakat di sekitarnya.

Diawali misalnya saat jalan-jalan senang di Malioboro. Siapa yang tidak senang saat bisa menawar baju barong bali seharga 14 ribu rupiah, atau makan gudeg krecek telur nasi seharga 10 ribu rupiah? Di dalam hati saya berpikir merenung, keuntungan si pembuatnya pasti kecil ya (selama 5 detik), tapi lalu hepi selama 2-3 mingguan. Betapa kecilnya porsi berpikir tentang orang lain, dibandingkan kesenangan terhadap kemenangan diri sendiri ya?

Kebetulan saya punya kemampuan menawar, dan tahu tekniknya dengan tepat sehingga tak jarang saya jadi garda depan kegiatan tawar menawar kalau sedang membeli sesuatu. Tapi semakin lama saya merasa ada permasalahan antara kemampuan menawar saya dan hati nurani saya.

Perasaan ini semakin campur aduk saat saya ke India kemarin. Barang2 yang didapatkan saya di sana harganya lebih murah dibanding di Indonesia. Dimulai dari buku Rabindranath Tagore hard cover yang saya beli seharga 30 ribuan (kalau di Indonesia harganya sekitar 60 ribuan minimal), lalu kain (astaga, ada kain sepanjang 3 meter seharga 20ribu rupiah), baju kurti (60 ribuan, dan kayanya minimal harganya sejajar ma Tanabang), gelang warna-warni hiasan untuk oleh-oleh (50 ribuan utk 1 kotak isi 4 buah), buah delima  (12ribu sekilo), dan lain-lain.

Pemandangan biasa di jalan: seorang wanita tua, bersarung dan berjalan tanpa alas kaki
 
Dalam percakapan dengan Uda Aldi di RMI sesudah pulang, ia berkata... kalau harga barang murah itu artinya tenaga kerja juga dihargai sangat murah di sana. Saya jadi termenung, mengingat di sana saya melihat kemiskinan, kekumuhan, ketidaktertiban dengan mata kepala saya sendiri dan saya tahu bahwa itu adalah puncak gunung es dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Saat berjalan kaki (karena saya menyukai berjalan kaki di kota yang belum saya kenal), saya menjumpai simptom kemiskinan dimana-mana, dari wanita tua bersarung- penyapu di jalan berdebu tanpa alas kaki, mereka yang belum bangun tidur bergelung di jalan, pedagang kecil dengan lapak sederhananya yang semrawut, bau got yang tersumbat, sampah yang menumpuk di jalanan, orang yang menyikat gigi dan berkumur2 di jalan, dan sebagainya.

Di pagi hari, para pekerja kasar, mungkin gelandangan tidur tanpa alas di pinggir jalan
Ranchi di Jharkhand tempat saya berkunjung mungkin bukanlah kota termiskin di India. Saya mendengar di Colcata dan New Delhi, terutama di daerah slum keadaan jauh lebih buruk. Saya mulai bisa membayangkan bagaimana Mother Theresa pada tahun2 awalnya, turun dari pesawat lalu melihat-lihat sekeliling selama perjalan dan kemudian menetapkan hatinya untuk orang2 miskin. Yang saya lihat tidaklah seperseribu yang ia lihat dan jangan samakan saya dengan Mother Theresa ini. Jauuuhhhh. Dan ini saja sudah membuat saya deg-degan selama berjalan dan makin masuk dalam pikiran saya.

Saat saya semakin jauh melangkah, setelah lebih dari 1,5 jam tiba2 tanpa sengaja tibalah kaki saya menghantarkan saya ke para pengrajin kayu. Ganies, teman seperjalanan saya awalnya tidak terlalu memperhatikan tumpukan kayu di pinggir jalan, sampai kami berjalan lebih dekat.

Oh bukan, yang saya lihat bukanlah ukiran2 indah, melainkan kayu2 lapis yang dijadikan peti mati sederhana, agak mirip dengan kayu bekas peti kayu buah2an. Sungguh sederhana bentuk peti mati tersebut. Wujudnya cukup untuk menampung satu orang dengan tangan yang dilipat di dada. Tebal kayunya tipis, sehingga agak parno juga ya kalo membayangkan saat diisi tubuh seseorang, lalu karena berat jatuhlah papannya karena pakunya tak kuat menahan berat yang mengisi. Gedebuk.


Peti mati seperti ini jelas dikhususkan untuk orang miskin.Seorang teman, setelah melihat foto peti mati tersebut menyatakan kalau harganya sekitar 5 juta kalau di Indonesia (tentu dengan standar yang lebih bagus). Saya tidak bertanya berapa harga peti ini, hanya membayangkan kalau dipotong tiga, lalu dimodif sedikit bisa jadi isinya adalah buah-buahan.

Sepanjang saya berjalan tanda2 ketidaksejahteraan, kemiskinan semakin muncul. Ya, dan tanda2 tersebar di sebuah kota yang sibuk. Bukan di tempat2 terpencil dan kumuh tapi di tengah2 kota kecil ini.

Di sebuah lokasi wisata, Jhona Falls, mata saya tertuju kepada dagangan2 sederhana yang dijual oleh anak2 kecil di pinggir jalan kecil. Tumpukan buah jambu batu diletakkan di depan mereka. Tidak banyak, mungkin jika habis terjual semua pun, untungnya hanya cukup untuk menambah makan pada hari itu saja. Seorang anak perempuan kecil berjualan buah jambu batu ditemani adiknya yang lebih kecil. Tubuh mereka kurus. Tak jauh dari sana sebuah toilet yang agak berbau pesing membuat beberapa wisatawan berdiri menunggu di dekatnya. Sebagian memilih menunggu dekat si anak. Kalau beruntung, mereka akan membeli buah jambu itu. Mungkin.



Anak penjual buah jambu batu di sekitar lokasi wisata
Satu yang saya sering pakai sebagai pembanding kesejahteraan suatu daerah/negara adalah harga lokal dari produk Kentucky Fried Chicken atau McD-nya. Semakin murah harganya, maka tingkat kesejahteraannya semakin rendah. Saya bandingkan dengan harganya di Indonesia secara kasar, lalu saya bandingkan juga dengan harga di Filipina (pernah juga ke situ dan membandingkan harga ayam gorengnya) dan saya mendapatkan harga ayam goreng KFC nya terpaut beberapa ribu rupiah dengan yang di Indonesia dan Filipina. Artinya di India lebih miskin secara tingkat kesejahteraan menurut saya.

Mengapapa KFC atau McD bisa dijadikan patokan? Karena menurut saya, model toko, teknologi, jenis masakannya sama dan dengan menggunakan bahan yang sama. Yang mungkin menjadi faktor pembeda adalah harga bahan dasar, upah tenaga kerja, transportasi dan beberapa faktor lain.
Tenaga kerja lagi. Jadi bisa kita simpulkan sedikit jika barang yang sama, dengan menghilangkan faktor2 lain (biaya transportasi, harga bahan dasar yang beda, lokasi penjualan yang berbeda, pajak, kemudahan2), dijual dengan harga yang berbeda maka dapat dipastikan bahwa di tempat dimana benda tersebut kita peroleh lebih murah, maka tenaga kerjanyalah yang dihargai murah.

Jadi saya sekarang semakin enggan menggunakan kemampuan saya untuk menawar. Sekedarnya saja.

Tapi masalah kemiskinan ini ga pecah telor kok karena satu orang ga mau menawar barang. Perlu lebih dari itu. Bila kita bukan pembuat kebijakan, saya rasa bisa kita mulai dari memperlakukan dan membayar orang lain (terutama yang miskin) dengan lebih adil.

Membuat kerajinan kayu dengan kampak
Buat saya, praktiknya adalah bersikap lebih perhitungan kepada orang yang sudah cukup berada, dan bersikap lebih murah hati kepada yang lebih miskin. Melawan hukum alam memang ya, sebab membayar, memberi, menjilat orang yang lebih kuat itu akan membuat posisi kita lebih aman, n kalo dipikir2 apa untungnya sih menolong orang yang lebih miskin, yang mungkin tidak berposisi dapat menolong kita seperti yang kaya? Ga tau saya jawabannya, maybe soal keberpihakan saja (atau alasan lain yang saya kurang sadar).

Saya cukupkan tulisan ini karena makin lama makin agak ngawur dan saya melihat persoalan ini ga ada habis2nya, ga ketemu jalan keluar dan nempel di kepala saya. Pusing.
Merry X Mas 2017. May happiness and blessfulness with you. Damai dan sejakhtera bagi semua makhluk di dunia. Om Shanti Shanti Shanti.

Selasa, 15 Desember 2015

Jadi Miskin itu...



Jadi miskin itu

  • Ban motor gundul depan belakang tapi ga bisa ganti2, sama kaya remnya yg juga blong
  • Makan ngirit2, mikir 2x kalo aja bisa diganti ma telor rebus n nasi aja di rumah
  • Motong rambut jadi pendek aja, supaya irit shampo n lama panjangnya
  • Tau rumah jauh n pulang ujan2 badai lanjut pake doa aja
  • Dompet tipis gada duitnya selaen bon2 reimburse an aja
  • Ga bisa bales SMS lantaran pulsa abis, dan baru 3 hari kemudian bales minta maap
  • Nunggu uang bensin dari kantor, supaya ngehemat sedikit kalo naek motor
  • Bahagia kalo dapet jatah makan malem dari kantor
  • Rajin matiin lampu, supaya bisa ngehemat biaya listrik dikit
  • Ngopi di kantor aja ga di rumah
  • Ngerasa kaya kalo dapet tambahan duit 50 rebu
  • Dimarahin tiap hari setelah tanggal 20 an
  • Maunya menyendiri dan bengong, sebab ga ngabisin duit
  • Sedih ngeliat rinso abis pas lagi nyuci
  • Sedih ngeliat anak yang disekolahin mahal2 ulangannya jelek
  • Minum coca-cola dicampur aer biar jadi lebih banyak
  • Beli soto aernya banyak, lalu beli lagi ayam goreng di warteg buat nambah suiran dagingnya
  • Naek angkot, bawa recehan 500 supaya ga keki kalo ga dipulangin ma sopir
  • Berdebat ma tukang parkir kalo ngasih duit parkir motor 5rb dipulangin cuman 3rb 
  • Rajin ngambilin pulpen waktu seminar supaya ga perlu beli
  • Baju kerja makin lama makin belel, ngarep dapet baju turunan dari orang laen
  • Minum kopi pagi supaya ga lapar ga perlu sarapan

Rabu, 02 Desember 2015

Lagi Demotivasi dalam Bekerja



Gaji bagi saya adalah ukuran seberapa tidak suka saya mengerjakan suatu pekerjaan. Ketidaksukaan itu bisa jadi karena

  • Lokasi berbahaya, panas, atau terlalu dingin
  • Gaya manajemen yang harus dihadapi
  • Ketidakcukupan biaya hidup sehari-hari
  • Bertemu dengan orang yang tidak disukai dalam bekerja
  • Jauhnya pekerjaan dari cita-cita dan impian


Nah belakangan ini saya sedang memikirkan untuk pindah pekerjaan. Beberapa kriteria di atas sudah terpenuhi dan semakin hari saya semakin de-motivasi untuk bekerja.

Dulu waktu saya awal kerja di tahun 2004, kerja itu amat menyebalkan (saya bekerja sebagai sales trainee di Index Furnishing, sekarang Informa). Saking menyebalkannya, saya sampai ingat waktu itu di kosan saya di Kodamar (Kompleks TNI di Kelapa Gading), di loteng yang terbuat dari triplek (kebayang ya panasnya kalo siang) saya merenung: kok bisa kaya begini hidup saya...

Saya lulusan ilmu kelautan, bekerja menjual sofa, ga boleh duduk kalo sedang bekerja... dan jam 11 malem masih sibuk cuci baju di WC buat dijemur besokan? (sambil nyeseuh kucek-kucek kemeja ijo buat kerja).

Tapi itu dulu. Saya sudah mendapatkan pekerjaan yang cukup sesuai sekarang: berhubungan dengan alam, dengan keorganisasian, dengan pemuda, anak... tinggal satu yang belum; meneliti. Ya sebab saya menyukai hal-hal yang berbau ilmiah terutama terkait dengan alam.

Balik lagi ah... bete dan demotivasi ini mungkin karena di tempat saya bekerja selain kebutuhan uang yang semakin nampak, juga karena atmosfer di lembaga yang lembam. Kalau kata teman saya semua berjalan autopilot, tanpa koordinasi dan penghargaan.

Lagi-lagi jatohnya ke komunikasi ya... seperti asal muasal dosa pertama yang terjadi akibat miskomunikasi antara adam, hawa, ular, tuhan (kalo belo tau baca tulisan saya yang lain).

Kayanya saya tahun depan sudah tidak di lembaga saya yang sekarang deh :(

Ini sumber semangat saya dalam bekerja:





Rabu, 19 Agustus 2015

Pembunuhan Atas Nama tuhan (Lapar)


Pernah nga kepikiran kalau kamu jadi kodok, sudah diikat dan sudah tahu akan mati. Di depanmu diletakkan teman-temanmu yang sudah mati tanpa kepala dan dikuliti?


There are no escape beside death


Setiap makhluk hidup sudah diprogramkan untuk membunuh, termasuk tanaman sekalipun dengan cara berdaun lebat, menutupi tanaman lain di bawahnya juga sampai mengeluarkan racun langsung dari akar-akarnya.


Menunggu pembantaian dalam hitungan hari T.T

Semua diharuskan bersedia untuk ikut dalam permainan ini. Permainan bunuh membunuh, karena kamu sudah diciptakan bernyawa.

Rabu, 17 Juni 2015

Kisah Kombatan dan Pemuda Harapan Bangsa



3 Juni 2015. Dari jam 7 malam sampai besok pagi barangkali tidak ada sinyal di daerah Mukim Mane dan Tangse. Setidaknya di Gampong saya berada sekarang.

Kata Bang Ribut, teman saya... ini adalah bagian dari operasi militer TNI. Sebab biasanya kalau ada pengejaran kombatan selalu malam sinyal Telkomsel yang satu-satunya masih aktif di daerah ini terputus. Dalam seminggu terakhir ini kelompok Din Minimi, sebutan bagi kelompok eks GAM (Gerakan Aceh Merdeka) yang tidak puas terhadap situasi politik yang berkembang saat ini serta lupanya para pejabat GAM dan RI yang duduk di dewan dan eksekutif akan janji-janji mereka dulu, membuat mereka melancarkan serangan kepada anggota TNI, dewan dan organ pemerintah dan mereka yang dituduh ingkar janji.

Ada 22 orang jelas Bang Hamdani yang asli dari Gampong Mane, menyebutkan perkiraan jumlah kombatan yang terlibat kontak bersenjata pagi ini. Memang ada kontak senjata beberapa jam sebelumnya di arah bawah gampong, mungkin sekitar 2 jam dari sini di daerah Tangsi tempat kami tadi siang mampir minum kopi di sebuah warung. Yah, saya kira-kira saja sebab selain sulit menghapal nama daerah disini, saya juga tidak mendapatkan update berita dari televisi dan koran.

Kalau teman-teman membaca tulisan saya yang sebelumnya, teman-teman tahu kekesalan saya melihat perilaku para pembela RI, TNI dan unsur-unsurnya di sini.

Hari ini saya menjumpai 1 prajurit TNI dan 1 polisi yang duduk di acara sosialisasi perubahan iklim dan hutan desa yang kami bawakan. Jika melihat yang ini ngenes juga ngeliat mukannya, sebab mereka ini tampak wajahnya agak anak mamie, en masih muda. Yang satu sempat mengikuti sesi perkenalan. Namanya Farno, peyanyi kesukaannya Ariel Noah.

Lalu apa itu bisa mengobati rasa sebal saya terhadap kelakuan para oknum TNI? Lumayan sih, tapi tetap menganggap bahwa mereka ini orang berbahaya sebab tipenya selalu turut perintah atasan, para robot sejati. Kalau terima perintah dari komandan buat jadi jahat, akan berubahlah tampang anak mamie mereka jadi keparat goblok.

Di sosialisasi di Gampong Mane ini, ada seorang “tokoh pemuda” namanya Saiful. Doi lumayan keren, pemuda idaman masa depanlah dengan jam tangan warna emasnya. Doi ini duduk di sebelah Pak Geuchik Mane dan cukup kritis pertanyaan-pertanyaannya terutama terkait hutan desa. Tapi kok makin lama ngerasa pertanyaannya banyak muatan negatif dan prasangka ya? Kritis memang, tapi kok terasa mencoba mencungkil dan mengada-adakan sesuatu ya?

Racun 1, racun 2
Oh ternyata – ternyata.  Di luar pertemuan, didapatkanlah informasi oleh kami: setelah dia menyatakan lembaga pendamping kami arogan, menolak hutan desa jika, harus merombak struktur lembaga pengelola hutan desa, dan memperlihatkan 46 orang menandatangani pernyataan menolak hutan desa (boleh difotokopi jika tidak percaya katanya). Informasinya adalah bahwa doi adalah pengusaha tambang, dimana usaha tambangnya akan terganggu jika hutan desa dijadikan. Itu prasangka negatif saya.

Untuk orang yang diprasangka jahat memang perlu prasangka negatif.

Menyebalkannya adalah setelah minta waktu untuk menjelaskan bla-bla-bla (pertanyaannya sebenarnya kritis dan bagus) lalu ia minta ijin “mendampingi yang main voli” saat pihak lainnya (Pak Mukim dan jajaran LPHD)  diberi kesempatan menjelaskan proses yang terjadi. Tidak menghormati Pak Mukim yang akan berbicara.

Tidak punya etika, dan seketika saya merasa pertanyaan-pertanyaan kritisnya bermaksud buruk. Waktu itu saya belum tahu bahwa ia adalah pengusaha tambang (emas) tapi sudah lunturlah sikap penghargaan saya terhadap orang bermulut besar ini.  Kalau bertemu di jalan dan terlibat adu mulut, senang rasanya kalau bisa berhadapan dengan orang semacam ini (ingin mempraktekkan jiujitsu dan mematahkan salah satu tangannya).  

Di tengah malam, dimana saat ini jam 00.06, dimana sinyal telkomsel belum juga muncul saya telah mendapatkan info lagi bahwa Saiful si pengusaha tambang emasi ini ternyata orang Bugis, mengaku sebagai ketua pemuda, yang menyatakan bahwa ia akan bekerja 1500% demi masyarakat dan terlibat dalam kasus penggulingan Pak Geuchik sebelumnya (yang semangat mengusung Hutan Desa). Not SARA ya... saya cuma mau bilang walau orang Bugis tapi rasa kepemilikannya terhadap desa tinggi sekali ya?

Pak Mukim bercanda, katanya berarti saya sudah melihat orang Aceh berdiskusi dan berbicara lewat kejadian hari ini. Tapi saya lalu bilang: kan si Saiful ini orang Bugis, Pak – demi membela kehormatan orang Aceh kali ini.

Atau saya salah tangkap maksud perkataan Pak Mukim ya?

Maklumlah saya sering salah dalam mengartikan kalimat dengan logat dan campuran bahasa Aceh di sini. Bisa jadi perkataanya adalah untuk menunjukkan sikap kawan-kawan (selain Saiful) yang riuh rendah mendukung Hutan Desa saat pertemuan selesai. Tapi saya tetap bingung kalau memikirkan pertanyaan Pak Mukim ini sampai sekarang. Maksudnya apa ya?

Pak Geuchik baru, pada pertemuan selalu terlihat bingung, sebab si Saiful ini mungkin juga berjasa dalam usaha menjadikannya sebagai Geuchik baru. Tapi ia bertanya, setelah mendapatkan penjelasan yang baik dan jelas tentang hutan desa: bahwa yang diusung ini tidak mengambil perkebunan masyarakat (seperti isu yang dihembuskan si Saiful): apakah hutan desa akan diteruskan atau tidak?
Jawab masyarakat: teruskan saja, kami tidak peduli pengurusnya siapa. Yang penting manfaatnya dirasakan masyarakat.

Daripada pusing mendingan ngopiiii
Berbaliklah racun yang ditebar si Saiful, utamanya adalah demi kepentingan bisnis tambang dan kayunya. Masyarakat di pertemuan, yang  tadinya mendukung dia (karena dihembuskan isu bahwa jika ada hutan desa maka perkebunan masyarakat akan diambil dijadikan hutan lindung), jadi mendukung skema hutan desa.  Sialnya dia main voli dulu, sebelum pertemuan selesai.

Doi juga tidak tanda tangan absen. Maybe supaya kelihatan independen, keren en macho karena bisa keluar dari mainstream.

Ada TNI, kombatan, Pak Mukim, Saiful emas, Pak Geuchik yang bengong. Apa jadinya Aceh dalam  5 menit lagi?

Aceh yang Dilematis



Sudah seminggu lebih saya di Aceh. Dimulai di Banda Aceh pada perjalanan pertama, dan kemudian masuk ke Mukim Cubo dan Mane pada perjalanan kedua. Buat saya yang dari Jawa Barat, agak sulit menghapal pada awalnya nama-nama desa (gampong) disini karena kata-katanya yang baru pernah saya dengar. Namun rasanya orang Aceh sekalipun kalau menghapal kata peuyeum, ciherang, jampang kulon sama payahnya seperti saya menghapal kata blang sukon (nama gampong), kreung (sungai) dan inong (perempuan). Sama-sama lah.

Pagi sekitar jam 8 pagi... kabut belum naik
Saat ini saya sedang santai di pos FFI (lembaga yang ajak saya datang). Jam 18.40an, cuaca masih terang seperti baru jam 5 sore (suasana masih terang keemasan di sini). Saya memang sedang berada di suatu daratan tinggi, Gampong True Cut di Mukim Lutueng Kecamatan Mane, Kabupaten Pidie. Jam 8 pagi kabut masih belum naik di depan rumah, menghalangi pandangan samar-samar walau matahari sudah tinggi. Jam 9 pagi, saat mulai berjalan menjumpai masyarakat terlihat puncak-puncuk gunung, bagian dari pegunungan Bukit Barisan tertutup awan rendah kalau tidak bisa dibilang kabut. 

Sungguh suasana indah yang jika saja saya diberi kesempatan, saya bersedia tinggal mengeksplorasi gampong ini.

Sayang niat saya untuk berjalan-jalan terhalang himbauan kawan-kawan. Kelompok Din Minimi, sempalan dari bekas GAM sedang dicari, karena diperkirakan sedang berada di daerah Pidie. Menurut informasi, diperkirakan jumlah personel berkisar 40 orang.

Kami sempat melewati dimana 3 anggota kelompok tertembak, di sekitar Sigli, Kabupaten Pidie Jaya sekitar 3 jam perjalanan dari tempat kami.

Ehm... isi absen dulu ah
Anggota TNI, dengan balok satu dua setrip beserta komandannya keluar masuk ke acara kami, saat kami (saya dan Nia) memberikan informasi, menjelaskan mengenai tema perubahan iklim di Gampong sebelah, Lutueng. Ia memperlihatkan pesan SMS: katanya setiap pertemuan perlu dikawal- 2 orang tidak bawa senjata, 2 orang bawa senjata laras panjang. Tak urung kelakuan mereka menjadi perhatian peserta dan masyarakat Lutueng.

Tapi kok kalau mengamankan, mengisi absen juga dan menerima uang transportasi ya (sesuai dengan masyarakat, Rp 30rb untuk setengah hari)? Lalu mengapa pasang tampang sok serius sambil bawa senjata laras panjang di acara kami, sambil nanya anggarannya berapa?

Nia dan saya juga diminta mengisi nama lembaga, jabatan dan dipotret beberapa kali untuk lapor komandan nanti.

Anyaway butt way, saya sore harinya jadi menonton kembali film-film yang sudah saya download via youtube tentang Aceh (sebagai profesional, saya melakukan riset dulu sebelum bepergian agar mengerti kemudian dalam perjalanan apa yang saya alami). Filmnya: The Black Road (Perjuangan Aceh), The Aceh War (1873-1914), Pelanggaran HAM di Aceh (Pasca Operasi Jaring Merah).

Kenapa saya menonton film tersebut? Ini alasannya:

  • Lagi mati listrik (laptop tapi belum mati dan lagu2 saya sudah bosan dengar)
  • Sebel dengan kelakuan orang TNI yang saya rasa mencoba mengintimidasi kami sesuai kebiasaan purbakala bodoh mereka
  • Saya merasa menjadi semakin dekat dengan teman-teman Aceh
  • Mencoba memahami perjuangan mantan GAM yang ditinggalkan teman-teman mereka, yang sekarang malah berkoalisi dengan parpol Jawa. Apalagi saya eneg benar bahwa ada wakil gubernur yang sekarang jadi jurkam Prabowo komandan Kopasus yang memporak porandakan Aceh

Setelah nonton, saya makin kesel melihat keadaan di Aceh yang bahkan menurut pendapat teman saya, Mahrizal pada saat saya menanyakan apa yang dibayangkannya tentang Aceh 10 tahun mendatang.

Aceh memiliki alam yang mempesona. Bukit-bukit, sungai berbatu dan air yang biru di Tangse
Jawabnya: mungkin tambah kacau, atau bisa perang saudara.

Daerah subur, berhutan indah, sungai berkelok-kelok dan berpenduduk yang sebenarnya biasa-biasa ini kok dicabik-cabik politik jahat ya? Sementara petani kecil di sawah ketakutan, saat orang bersenjata bertanya nama, pernah melihat si ini si itu, tinggal di mana?

Bah. Saya tdak tahu jawabannya.