Tampilkan postingan dengan label Filosofi Asal-Asalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filosofi Asal-Asalan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Desember 2015

tuhan yang Saya Sembah



Saya menyembah tuhan yang baik, tuhan yang memberikan harapan, tuhan yang lembut dan penuh cinta kasih. Yap,kalo ditanya siapa tuhan yang saya sembah maka itu jawabannya. Entah tuhan itu punya nama a, b, c, d, x sama saja buat saya sebab di dalam imajinasi saya; saya tidak melihat pakaian yang dikenakan orang-orang pada tuhan. Saya lebih melihat pengejawantahan tuhan dalam sifat yang saya pilih ia kenakan, bukan pada simbol yang diberikan manusia yang sok tahu ini.

Tapi tuhan yang saya sembah ini tidak mahakuasa. Sebab ia tidak dapat menghentikan sakit, peperangan, kematian, kehancuran. Ia hanya memberikan penghiburan, pengharapan, kasih selama penderitaan itu berlangsung.

Kenapa sih saya percaya tuhan? Alasannya adalah karena saat ini saya ada. Kamu (walau bisa jadi kamu imajinasi saya) juga ada. Artinya ada sebuah keberadaan dibanding kekosongan, ketidak adaan.

Tapi memilih tuhan yang seperti saya bilang di atas sebenarnya bertolak belakang lho dengan logika ilmiah saya yang mengatakan bahwa tuhan itu mahakuasa dan terdiri dari kejahatan dan kebaikan dalam satu wujud.

Yaaaa... saya sering berandai-andai kalau tuhan yang kedua ini sedang bermain-main dengan para makhluk hidup sebagai percobaannya. Ini adalah tuhan programer yang sedang tertawa senang saat salah satu manusianya tertembak oleh manusia yang lain, dan heran sekaligus kagum saat manusia lainnya berhasil lolos dari sebuah bencana; dikarenanya ia memberikan bonus kepada manusia tersebut: harapan, kebijakasanaan. Tapi semua adalah bagian dari permainan itu sendiri. Ia mencetak grand design dan hasilnya sudah ia ramalkan (100% sesuai kah dengan keinginan dia?)

Jangan-jangan tuhan kedua ini punya tuhan lain juga di atasnya ya? Kepikiran ga? Dan tuhan kedua ini juga lagi pusing tentang konsep ketuhanannya terhadap tuhan lain di atasnya?

Mesti diselidiki neh sang maha tuhan yang paling luhur di sono. Sekeren apa sih dia, atau sebuas apa sih dia?

Well, berbalik dengan logika ilmiah saya... tetap saya memilih tuhan yang pertama, dan guess what: pilihan saya sendiri sudah menjadi bagian dari permainan itu sendiri, sudah termasuk program tuha yang kedua. Sial banget ya?

Rabu, 04 Desember 2013

Merubah Agama Sesorang


Agamaku adalah Agamaku, Agamamu adalah Agamamu.

Kalimat ini sering saya dengar diucapkan oleh banyak jenis orang, dari tokoh agama besar, aktifis LSM, sampai teman sendiri. Kebanyakan dari mereka adalah aliran tengah, bukan aliran kiri yang memang sudah keras kena formalin (kalau aliran kiri jenis ini pepatahnya lebih sangar lagi: masuk neraka, kafir). Nah kalau yang aliran tengah ini sepertinya terlihat netral… silahkan saja urus agama masing-masing, jangan saling meribetkan. Mungkin saya tambahkan lagi… kami akan bantu yang lain, asalkan tidak yang menyangkut masalah agama. Kalau yang itu kami tidak ingin tahu.

Masalah golong-golongan ini makin terlihat kerasnya kalau ke masalah yang paling sensitif... boleh ga sih kita pindah agama (walau kalau menurut UUD 1945 pasal 29 itu dijamin kebebasannya oleh negara)? Nah kalau yang garis kiri jelas-jelaslah kalau pindah agama ini dosa. Kalau garis tengah kayanya cenderung ngomong kalau itu agak dosa (netral ga sih yg ini?). Kalau garis kanan bilang itu kebebasan... malah mungkin mempertanyakan juga dosa itu apa sih?

Kalau di Indonesia seh yang paling santer tentang masalah converting agama seperti ini adalah agama Islam dan Kristen (Protestan dan Katolik). Kalau yang lain maybe karena jumlahnya sedikit maka terjadi secara sporadis saja (misalnya Hindu, Budha, Kepercayaan) – walau sebenarnya secara bukan hanya dua agama ini yang mengeluh saling converting satu sama lain. Antar semua agama juga sebenarnya saling mengeluh, misalnya umat Budha yang misalnya mengeluh umatnya banyak yang dikristenisasi, atau Kepercayaan (Kong Hu Cu misalnya) yang diconvert jadi Katolik.

Lalu apakah memang sebaiknya agama sesorang itu tetap saja seumur hidupnya? Jadi misal kalau orangtua beragama Islam, lalu sebaiknya anak sampai cucu-cucunya tetap beragama Islam? Atau kalau orangtua beragama Kristen Protestan lalu keturunannya tetap Kristen Protestan juga sampai sepuluh abad setelahnya?  

Kalau menurut saya terjadinya proses komunikasi antar dua belah pihak adalah wajar. Begitu pula upaya mempengaruhi pihak lain agar menerima kebenaran, menyetujui pandangan yang lainnya adalah wajar. Bukankah inti komunikasi adalah upaya agar pihak yang lain percaya mengenai informasi / pandangan kita? So upaya saling meng-convert agama sebenarnya adalah contoh upaya tujuan komunikasi, agar pihak lain menerima / percaya akan kebenaran dari pihak lain.
Lalu bagaimana dengan pertengkaran-pertengkaran yang terjadi akibat upaya convert mengconvert itu?

Perlu dipahami bahwa agama adalah suatu entitas. Suatu kelompok bergabung membentuk suatu kelompok agama dimana di dalamnya mereka percaya bahwa dengan bersatu mereka mampu melakukan suatu pekerjaan dengan lebih baik (misalnya, bertahan terhadap serangan kelompok lain). Pada saat suatu kelompok kehilangan anggota-anggotanya, dapat dibilang bahwa kekuatan mereka akan melemah. Hal ini berlaku sebenarnya untuk setiap kelompok.

Kalau dilihat pola ini adalah diturunkan dari intuisi makhluk hidup itu sendiri yang menyukai cara berkelompok selama makanan di sekitarnya tercukupi untuk kelompok sebab dengan bergabung mereka akan lebih aman (jadi inget kalau di laut ikan-ikan sejenis suka bergerombol dalam jumlah yang sangat besar, misal untuk membingungkan predatornya sehingga kemungkinan survivenya lebih tinggi untuk setiap individu di dalamnya).

Pada saat satu kelompok “tercemari”, misalnya saat anggota kelompoknya mendapatkan ide yang berbeda – akibat berkomunikasi dengan kelompok lain dengan paham yang berbeda, maka keberadaannya dapat mengancam kelompok besarnya, karena ide tersebut dapat menular. Maka seringkali kita mendapatkan suatu kelompok sangat “intoleran” terhadap ide atau gagasan baru. Ini merupakan suatu mekanisme pertahanan, terutama apabila kelompok tersebut merupakan kelompok konservatif, dimana di dalamnya tidak ada mekanisme cepat untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungannya.

Kembali lagi terhadap hal perubahan agama. Maka apabila misalnya suatu keluarga khawatir karena anaknya pacaran dengan pria / wanita agama lain, hal itu bisa jadi karena ketakutan keluarga (kelompok kecil) tersebut terhadap tekanan kelompok yang lebih besar (notabene kelompok agamanya). Bisa jadi keluarga (kelompok kecil) tersebut misal berpendapat bahwa hal tersebut dilarang oleh Tuhan, dilarang oleh agama, dan lain-lain. Namun menurut saya, yang lebih mudah dilihat adalah bahwa kelompok kecil tersebut khawatir akan pandangan dan tindakan dari kelompok besarnya terhadap kelompok kecil tersebut.

Lainnya adalah bahwa seringkali perpindahan agama dilihat bukan menguntungkan secara ke individuan (misal, pendapat alangkah bahagianya bahwa sesorang bisa menemukan tujuan hidupnya dengan lebih baik) , namun kemudian dihubungkan dengan sisi politis, bahwa dengan berpindah menunjukkan bahwa agama barunya lebih baik dibandingkan dengan agama lamanya.
 Sisi politis ini bila dilihat dengan baik juga dapat dihubungkan dengan penambahan jumlah kelompok, dimana penambahan kuantitas berarti penambahan kekuatan bagi kelompok baru.

Lalu mana penerapan “Kebebasana memilih agama sesuai keyakinan dan kepercayaannya” yang dijamin oleh UUD 1945 itu ya? Heran saya. Ini kayanya retorika aja deh.

Di Indonesia ini, gara2 pindah agama sesorang bisa diadilin oleh keluarganya. Untung-untung FPI ga datengin rumahnya sambil bawa bambo. Yah tapi masih untunglah ga kaya di Negara-negara timur tengah yang bisa mancung kepala untuk soal beginian.

Semestinya, ini menurut saya ya… agama itu dipilih sesorang sebab dengan memilih agama tersebut ia bisa lebih baik dan mudah menemukan tujuan hidupnya ya? Berkelakuan lebih baik, positif, dan lain-lain. Dan kalau kita dimita mengesampikan agama, tentu kita akan mendukung misalnya ada sesorang di keluarga kita yang bertujuan seperti itu. Tapi sehubung agama bukanlah milik pribadi maka jadi komplekslah masalahnya.

Kalau saya tetap berprinsip agama itu seperti baju saja… kepribadian saya tetap sama walau baju saya berbeda. Ganti baju kalau memang harus ya lakukan saja. Saya masih percaya pasal di UUD 1945 tentang kebebasan beragama (untung saya tidak hidup di komunitas agama fanatik. Kalau ya bisa habis saya).

Senin, 17 Juni 2013

Perbandingan Kesialan saat Backpackeran



Kesialan yang perbandingannya 1 berbanding 11.315 (itungan saya) bisa saja terjadi saat kita sedang travelling. Entah mengapa, tapi kok hal ini bisa terjadi ya?

Contohnya adalah saat saya naik bis di tahun 2010, mencoba merasakan perjalanan darat dari Phuket ke Kuala Lumpur (untuk perjalanan ini rasanya males ngulang lagi karena selain lama, juga bosan melihat kebun sawit disepanjang perjalanan). Nah yang terjadi adalah kira-kira selepas Kuching, tiba-tiba bis saya ditabrak dari arah samping oleh sebuah mobil kotak kecil.

Akibat kejadian itu mobil si penanbrak ringsek. Dari mobil ukuran kecil, ukurannya semakin kecil lagi sebab menciut ringsek (dasar mobil kaleng). Saya yang duduk di bagian belakang bersyukur sebab selamat baik-baik saja walau kaget. Begitu juga seluruh penumpang lain selamat, seperti layaknya si penabrak yang malang sebab ban mobilnya meletus tiba-tiba.

Mobil yang nabrak di perjalanan Phuket - KL
Nambah deh waktu perjalanan sebab jadi nunggu bis lain lewat buat numpang. Saya ingat, dari Phuket saya jalan 10 an pagi. Sampai KL kira-kira jam 6 sore hari berikutnya. Pantat dan badan sakit semua.

Heran saya. Saya sudah 31 tahun hidup waktu itu. Ini seumur-umur liat mobil nabrak dan mobil saya ditabrak. Kok malah kejadian di negeri orang yang kalau saya hitung paling waktu perjalanan totalnya ngabisin waktu cuma semingguan aja? Tabrakan ini perbandingannya adalah 1 hari sial berbanding total hari hidup saya yang sudah terlampaui 365 x 31 = 11.315 hari. Artinya 1 berbanding 11.315. Kenapa ga terjadi di Indonesia saja (Bogor) dibanding di negeri orang lain?

Kesialan dengan perbandingan lebih rendah, misal kira-kira 1: 500 orang atau perjalanan (kira-kira saja) tentu saja lebih mudah terjadi. Misalnya hilangnya / tertinggal paspor saat bepergian. Teman saya, Fahmi mengalaminya saat jalan-jalan di Chiang Mai.  Untung ketemu lagi ketinggalannya di restoran walau pasti sudah pasrah ga ketemu.

Tapi ini ada penjelasannya. Kalau menurut saya, semakin penting sebuah benda (seperti paspor, tiket pesawat) maka semakin hati-hati kita mengingat-ingatnya. Parahnya adalah sepertinya semakin besar juga usaha otak kita untuk membuang beban berat ini dengan cara melupakannya.

Buktinya yang lain adalah, walau kita sudah siapkan tiket pesawat di saku baju tetap saja kita bisa mengobrak-abrik koper untuk mendapatkannya.

Sial yang lain juga bisa berakibat rentetan sial berikutnya. Hukum tarik menarik bagaikan magnet kali ya? Buktinya sebelum bis saya ditabrak mobil saya sempat ditelantarkan di Hat Yai, kota perhentian sementara. Di drop di terminal bis jam 3 pagi, tidur-tiduran di bangku tunggu berbahan besi, atau yang berbentuk seperti bangku kuburan cina (dari semen atau granit) dan walhasil badan mererentek sebab dinginnya menembus jaket.

Saya rasa lalu ada tiga dari antara kami bertiga (berangkat 3an) lalu mengumpat-umpat dalam hati sehingga kemudian “memanggil” kekuatan negatif. Walhasil bis kami ditabrak mobil. 

Mari kalau begitu kalau kita sedang mau jalan-jalan, perbanyak berdoa sebelum dan saat berangkat hehehe. Mungkin itu obat mujarab untuk menjauhkan hal-hal kesialan selama perjalanan. Atau bisa juga dengan memberi persembahan kepada dewa-dewi setempat selama disana.


Rabu, 25 Juli 2012

Teori Alam Semesta (1)

Teori alam semesta menurut saya...

Pertama, alam semesta milik kita saat ini merupakan bagian dari alam semesta lain yang lebih besar (seperti sebuah atom pada sebuah materi), dan demikian juga alam semesta kita merupakan induk dari tak terhitung jumlahnya alam semesta lain yang lebih kecil. Saya sih bayanginnya gini aja... kalo atom yang disangka paling kecil dapat dipecahkan lagi, en dibuat mikroskop dengan pembesaran tak terhingga maka maybe kita bisa melihat makhluk-makhluk aneh di dalamnya (dgn berasumsi bahwa waktupun bisa diperlambat sehingga semuanya dapat dilihat dengan lambat sekali).

Kedua, awal kehidupan adalah tidak ada. Saya mikir neh, kalo-kalo aja di semesta kita ini banyak lubang-lubang lain menuju semesta lain, sehingga pararel. Benih kehidupan bolak-balik berjalan-jalan antara dunia pararel itu sehingga kepunahan dan kehancuran pada suatu semesta tanpa kehidupan adalah sementara. Artinya pada saat satu semesta hancur dan tanpa kehidupan, tinggal menunggu waktu saja sampai suatu lubang tercipta dan benih kehidupan dapat kembali kesana lagi. Walau saya rasa waktu yang dibutuhkan saangggaaattt lama, tapi ini tetap akan terjadi.

Bayangkanlah seperti  sebuah gedung dengan banyak kamar di dalamnya dimana kadang-kadang kamar itu kosong, lalu diisi lagi oleh sesorang / dua orang / 3 orang yang selalu berpindah-pindah kamar di dalam gedung itu.

Ketiga, kalau sebuah benda, melewati kecepatan cahaya, maka benda itu akan menuju ketidakterhinggan dalam alam semesta, kemudian menembus dunia-dunia pararel atau menembus dunia yang lebih besar di atas kita (karena semesta kita adalah bagian kecil dari semesta lain). Nah masalahnya gimana memperlambat laju sehingga kurang dari kecepatan cahaya lalu berhenti pada satu alam semesta tertentu?

Udah dulu ah, nanti disambung lagi...

Siapakah tuhan-Tuhanmu?


Mau agama apa: Katolik, Kristen, Islam, Budha, Hindu, Kong Hu Cu, terserah. Kita bisa jadi sama, namun juga tidak sama dalam ber-Tuhan.

Agama dan Tuhan tidak sama dan tidak berhubungan secara linear.

Menurut saya, pertama kita harus mengenal dua buah kata, yaitu divergen dan konvergen. Saya ingin menjelaskan dari kata-kata sendiri: yang satu, divergen menjelaskan bahwa sesuatu bisa jadi sama pada awalnya, dan kemudian memencar menjadi tidak sama. Seperti lensa cekung yang menghamburkan cahaya. Sedangkan konvergen menjelaskan bahwa sesuatu bisa jadi tidak sama pada awalnya, dan kemudian berkumpul menjadi sama. Seperti lensa cembung yang mengumpulkan cahaya.

Agama dan Tuhan saya anggap seperti itu.Tidak serta merta sesama agama adalah memuja Tuhan yang sama, dan tidak serta merta yang berbeda agama memuja Tuhan yang berlainan.

Saya punya teman, agama Kristen yang percaya kalau keselematan adalah hanya untuk penganut agamanya sendiri. Saya juga punya teman Islam yang berpendapat bahwa selain agama Islam adalah kafir dan sudah haknya mendapatkan tempat di Neraka yang terdalam.

Kedua-duanya memuja tuhan yang berkualitas sama bukan?

Saya juga punya teman, beragama Budha yang lembut dan penuh kasih. Menyakiti semut saja tidak mau, memindahkan sang semut ke tempat yang lebih aman saat akan menaruh piring makannya. Saya punya teman beragama Islam yang tidak mau pergi naik Haji katanya, sebelum di sekelilingnya yang kelaparan kenyang dan semua yang miskin bisa berbahagia. Saya pikir bisa tidak Naik Haji sampai tua dia.

Bukankah mereka berdua punya Tuhan yang sama, yang penuh belas kasih dab rela berkorban?

Mungkin kamu tahu dengan baik pepatah “buah tak jatuh jauh dari pohonnya.” Ya, saya mengibaratkan hal yang sama tentang Tuhan... Tuhan adalah buah pemikiran, dan siapa Tuhan kita dinyatakan lewat tindakan-tindakan kita.

Jadi saya menyatakan bahwa setiap orang yang menyatakan kasihnya dengan perbuatan dan amal-amal baik adalah orang-orang yang mempunyai Tuhan yang sama, apapun agama yang dianutnya. Orang yang menyatakan kasihnya dengan mengancam orang lain, berbuat jahat, mempunyai tuhan yang sama, apapun agama yang dianutnya.

Di sela-sela, di atas dan di bawahnya juga terdapat orang yang memiliki level tuhan-Tuhannya masing-masing.

Saya percaya bahwa Tuhan adalah evolusi pikiran yang terus berkembang tingkatannya, dari bawah berupa tingkat dasar (atau setan) sampai ke-Tuhanan itu sendiri, dan tidak berhubungan dengan agama atau kepercayaan apapun.

Seberapa mulia dan agung Tuhan di dalam pikiranmu, ditunjukkan dengan tindakanmu padaku.

Kamis, 28 Juli 2011

Kawat Tipis

Kalo kata saya, hidup itu ibarat kawat tipis...

Pernah ga kamu ngebengkokin kawat tipis, dengan memuntirnya, atau menekuknya - dan lihat hasil bengkokannya? Jadi tidak lurus, berbentuk agak patah-patah, dan walau coba diluruskan lagi kawatnya tetap saja sudah tidak berbentuk lurus sempurna, selalu saja ada bekas lekukan-lekukan, ga kaya kalau kita beli di toko buku.

Di kehidupan selalu ada persimpangan-persimpangan penting dimana kita harus memilih, A, B, atau C... dan lain-lain. Misal saja, memutuskan menikah dengan siapa, mengambil universitas apa, memilih marah atau diam saat berkonflik dengan teman, berhenti bekerja atau tetap stay dengan kondisi yang buruk di kantor. Itulah bengkokan-bengkokan, simpangan-simpangan dalam hidup kita.

Hidup memang seperti kawat. Jalan kita tidak lurus, dan memilih alternatif itu seperti membengkokkan kawat. Kadang kita tidak puas (atau puas) melihat kemana arah kita menuju, tapi yang jelas tidak ada hidup yang lurus karena selalu ada belokan dimana-mana - dibuat oleh kita sendiri dengan "hak bebas" kita untuk memilih, atau karena keadaan memaksa kita - dimana "hak bebas" kita tidak terlalu penting lagi.

Meluruskan dengan paksa sebuah kawat yang berbengkok-bengkok bisa mengakibatkan kawat tersebut patah. Mungkin yang bisa kita lakukan hanyalah membentuknya menjadi bunga-bungaan, menjadi bentuk-bentuk lain yang menarik, kincir angin, mobil, ikan...

Yah begitulah... lebih baik menjadi ikan daripada berusaha jadi lurus tapi ga karuan.

Kamis, 14 Juli 2011

Bohlam Phillip

Apa iya sebagian manusia sudah dikondisikan suram secara otomatis?

Ini pertanyaan benar, dan sesadar-sadarnya, sebelum saya pergi ke India minggu depan, dengan menggunakan uang saku yang kalau bisa tidak keluar lebih dari 3 juta untuk 2 minggu.

Kalau saya melihat sekeliling saya, banyak sekali manusia yang sudah merasa mentok hidupnya. Mau berprestasi tidak bisa, mau jadi orangtua yang baik tidak bisa, mau menjadi anak yang baik tidak bisa, mau kaya tidak bisa, mau jadi teman yang baik tidak bisa, mau makan enak tidak bisa. Dan bukan karena orangnya tidak mau, namun kalau dilihat halangannya rada banyak coy, kalau tidak bisa dibilang sejublek, sehingga probabilitas dia OK kecil atau sangat kecil.

Nah kita ngomong lagi deh soal "kehendak bebas" yang dulu, yang tidak begitu saya akui prinsipnya (karena kebetulan biasanya selalu dicetuskan oleh yang sudah tercerahkan, yang mapan, bonafid, positif).

Kebetulan saya dilahirkan dengan gen yang berhubungan dengan sifat keingintahuan, penasaran, rela berkorban, agak heroik, agak kejam, agak pinter, cina, suka menolong yang besar. Lah iya, kalo engga saya tidak akan berangkat ke India untuk jadi fakir . Mungkin kalo gen nya lain saya dari awal aja sudah ogah mikir jalan-jalan sengsara ke India, kaga ada rencana, kena diare, nginjek tai sapi. Paling saya karena dilahirkan tenang, berwibawa, pinter, ga ngambil resiko, saya saat ini sedang duduk di kantor menyelesaikan laporan akuntansi.

Itu kalau nasib saya baik. Kalau tidak baik saya akan jadi pegawai kantor pos, gaji 1 juta 200 ribu, tinggal di gang sempit, punya istri 1, anak 2 - menunggu anak ketiga, makan malam dengan indomie hari ini, istri tidak kerja dan ada hutang di bank 2 juta buat masukin anak ke sekolah.

Lalu bisa jadi kalau sifat agresifnya nempel ma saya, maka saya lagi frustasi sekarang, sudah 10 tahun ga naik jabatan, tahun lalu gaji naik 50 ribu. Sudah kursus Inggris di LIA (yang notabene ngabisin gaji saya dan sampai ngutang ke saudara) tapi pas buat ngelamar kemana-mana tetep ga laku soalnya saya kalah saingan. Kalo sifat rendah diri yang nempel ma saya (cuma tetap agresif) maka saat ini saya lagi merencanakan pembunuhan terhadap si bos yang suka perlakuin saya kaya sampah, nyuruh-nyuruh en membentak-bentak (tapi rencananya cuma disimpen di hati sampai lupa aja walau mendongkol tiap hari).

Lalu memang sial ya... ada memang keadaan yang buat berubah itu sulitnya minta ampun - walau bisa aja orang bilang "wah elo kan walau keadaan gitu ada kesempatan bro?" nah itu orang kebetulan melihat keadaan kita dengan gen yang nempel di badan dia.

Yah namanya juga dunia yang kata Anthony de Mello (sang tercerahkan) - sempurna apa adanya dengan segala ketidaksempurnaan di dalamnya. Terus terang (terang terus, sambung lampu Phillip) saya sih masih mencari wahai guru yang tercerahkan, kebetulan saya ada modal gen nekat sedikit jadi bisa dipakai untuk mengelana di dunia yang sering suram ini.

Anyway saya janjilah, kalau saya tercerahkan saya akan bantu manusia lain agar tercerahkan (btw kalau semua orang di dunia tercerahkan, so gimana keadaanya nanti ya - punah juga kali ni umat manusia?).

Catatan editan: saya ga jadi ke India neh ternyata... huhuhuhu...

Sabtu, 18 Juni 2011

Tidak Nol

Pertanyaan inti saya hari ini adalah kenapa saya hidup.

Saya hari ini tidak bertanya kenapa air yang tersusun dari molekul hidrogen (mudah terbakar) dan oksigen (diperlukan dalam pembakaran) begitu bergabung jadi air (H2O) kok malah jadi mematikan api?

Saya sering berpikir kenapa sih saya hidup, dan atau mengapa di alam semesta ini tidak kosong melompong saja (tidak ada apapun hanya kosong - tidak ada planet, kucing, pemikiran, masa lalu dan masa depan). Jadi benar-benar kosong, juga tidak ada saya yang sedang berpikir ini.
 
Sehubung saya bukan orang yang agamais sekali, maka saya juga agak ragu dengan dogma bahwa hidup adalah untuk dipersembahkan kepada tuhan. Ini sepertinya bukan jawaban yang benar menurut saya. Agak mengganggu pernyataan ini karena kalau tuhan mahakuasa bukankah berati sudah tidak perlu apa-apa lagi?

Kenapa tidak kosong melompong saja ya... tidak ada dimensi, tidak ada waktu, tidak ada saya, tidak ada kamu, tidak ada monitor komputer di depan saya, tidak ada bunyi kipas angin di sana.

Berdasarkan hukum tidak dan ya (probabilitas jawaban atas segala sesuatu)... atau wait, saya jelaskan dulu ya, ini matematika:
Misal kita ambil sembarang bilangan, lalu ambil sembarang bilangan lagi, maka kemungkinan yang terjadi adalah
- 2 x 3 = 6 (ada), 3 x 4 = 12 (ada)
- 2 x 0 = 0 (tidak ada).
Maka seharusnya kemungkinan kedua dimana semua angka bertemu dengan pengali 0 dan kemudian menjadi 0 adalah pasti (segala sesuatu pada akhirnya adalah tidak ada /berakhir).

So kenapa saya masih ada ya? :) Saya juga jadi mikir tentang bilangan nol ini neh... misterius sekali ya? Ada atau tidak sih bilangan nol ini di alam semesta sebenarnya?

Atau bilangan nol ini sebenarnya sudah disembunyikan oleh Tuhan ya sehingga kita ini ada?

Rabu, 18 Mei 2011

Dosa Yee...

Kenapa sih ada dosa?

Kalau sekiranya kita (1 orang) hidup sendiri, maka sekiranya juga dosa itu tidak ada. Kalau sekiranya kita (1 orang) hidup sendiri plus beberapa ekor binatang dan tumbuhan maka mungkin dosa itu ada (mungkin).

Kenapa ada dosa, menurut saya itu adalah berguna untuk menakut-nakuti orang.

Kalau dihubungkan dengan bahwa itu adalah karena larangan tuhan, maka saya tidak percaya sebab untuk apa tuhan melarang ini itu kalau dia maha kuasa. Tinggal kerlingin mata, maka selesailah urusan (dengan berasumsi dan berpedoman pada konsep bahwa tuhan adalah entitas tunggal yang very very powerful). Tidak perlu juga ngasih tau si Fulan buat boleh ini ga boleh itu.. lah iya lah kan kalo dia mau si Fulan ngelakuin ini itu ya tinggal sebut aja dan terjadilah.

Dosa adalah mengenai kemanusiaan. Kemanusiaan lalu dihubungkan dengan konsep ketuhanan- hanya itu saja hubungannya. Dosa adalah produk kesepakatan buatan manusia untuk menjaga stabilitas. Just that aja, ga lebih ga kurang.

Kalau kamu hidup sendiri (misal aja bisa) dari kecil sendirian, di sebuah ruang kosong tanpa harus makan dan minum dan nafas misalnya, dan tanpa sama sekali campur tangan orang luar, maka dosa itu ga terjadi. Contoh paling mendekati adalah perumpamaan kalau ada anak kecil yang menjadi dewasa, tumbuh sendiri di sebuah pulau tak berpenghuni maka kemungkinan besar konsep dosa tidak tumbuh pada dirinya.

Kalau kurang jelas, konsep dosa bagi saya adalah permufakatan apa yang boleh dilakukan, apa yang tidak boleh dilakukan, minimal terjadi antara 2 makhluk– dan lalu dibuat menjadi supranatural. Tujuannya demi kestabilan perkembangan manusia.

Permufakatan tentang dosa ini akan semakin berkembang menurut saya: kalau dulu sekali maybe yang disebut dosa adalah:
-          Membunuh sesama anggota suku (jadi ngebunuh suku lain gapapa – TOP malah!)
-          Jalan-jalan ke situs X (sebab jalan kesana banyak binatang buas – kalo dikau mati maka berkuranglah anggota kelompok kita).
-          Menyembah tuhan lain (iya bos maap ya, tuhan kita ini kalo kamu tidak sering-sering sembah, yang laen akan ikut-ikutan kamu lama-lama en pemersatu kelompok kita akan melemah sebab yang ditakuti bersama dah ga dihormati).
Yang rada boleh :
-          Istri 4 boleh ma selir-selir (jaman perkembangbiakan bro, kita butuh anak-anak buat pertahanin kelompok kita).
-          Memperkosa saat perang boleh (mengintimidasi, menghancurkan mental lawan, pokoknya bejad is OK demi tujuan kemenangan kelompok)

Sedangkan buat jaman sekarang beginilah dosanya menurut masyarakat:
-          Dilarang membunuh manusia sama sekali (hei, sekarang teknologi dah berkembang, yang disable dah ada alat bantu dan kita butuh dia buat duduk depan komputer en kerjain program PASCAL).
-          Proses berkembang biak sebelum menikah (maaf, soalnya sekarang walau lebih sejahtera tetap kalo kamu banyak anak en gada yang tanggung jawab kan akhir-akhirnya saya juga tuh yang tanggung jawab kata sodara, bapak, ibu). Kalo dulu seh dah biasa yang kaya begitu dibunuh – kan kalo sekarang ga bisa?
-          Korupsi dulunya dosa, sekarang lebih dosa (abis kamu ngambilnya banyak banget yak, ga cuma gopek, tapi gopek ditambah nolnya 8 biji – lah jadi pembangunan negara kaga jalan, walhasil rakyat di daerah terpencil yang kelaparan tea gara-gara hasil panennya dihargain murah ya ga sejahtera. Padahal di jaman ini kita harus lebih manusiawi)

Mungkin ke depan yang beginian perlu dipikirkan:
-          Membunuh nyamuk itu dosa (soalnya dah ada pakaian anti nyamuk yang bisa ngusir nyamuk dalam radius 10 meter, en demi menjaga keseimbangan ekologis).
-          Punya anak lebih dari 1 dosa (sebab ni dunia penuh coy gara-gara konsep kamu dulu yang banyak anak banyak rejeki).
-          Berpandangan tradisional, militan, mengenai kepercayaan dosa (awas ya kamu ngebunuh-ngebunuh orang. Ni jaman globalisasi, saya merasa terancam soalnya fraksi error di tempat saya juga jadi makin berani gara-gara ngedenger berita kamu nabrak gedung pake pesawat).
-          Menuduh orang berdosa adalah dosa.

So, saya menyadari bahwa yang namanya dosa adalah pengerem supaya kita ga bablas. Itu aja. Yang namanya dosa akan terus berkembang seiring peradaban manusia.

Kalo dulu jaman bacok membacok, lalu jaman dunia perikemanusiaan, lalu akan datang jaman dunia perikebinatangan, dan someday (just maybe) akan datang juga jaman dunia periketumbuhan..

Senin, 16 Mei 2011

Dunia yang (Ga) Bisa Diubah

Ada yang ga bisa diubah, ada yang bisa diubah gitu kalo kata saya.

Contoh kalo kamu lahir dari orangtua kaya, maka kayanya kamu jadi anak orang kaya. Kalo kamu lahir dari orangtua yang miskin, maka kayanya kamu disebut anak orang miskin. Persoalan nentuin kamu lahir dari siapa ga banyak bisa diikut campurin oleh kamu. Katanya itu ditentuin oleh tuhan.

Yah berhubung saya juga bukan ahli pertuhanan saya ga banyak usul. Mungkin bisa aja kalo minta sungguh-sungguh tiap detik orangtua kamu berubah. Mungkin aja kamu lalu hilang ingatan, en tiba-tiba nemu kalo orangtua kamu sekejap mata dah berubah. Persoalannya kalo hilang ingatan berarti lupa juga dong sebelumnya minta-minta ma tuhan (dikasih sample alternatif yang kalo kita lupa ingatan aja ya - ga yang kalo kita ingat) - en sebagai alhasil maka persoalan nasib yang ga bisa diubah ini tetap kan?

Kalo yang bisa diubah mah lebih gampang mikirnya: kalo ga makan siang maka malam agak lapar. Mangkanya bisa milih supaya ga lapar di depan kita makan siang ini. Terus misal kalo mau naik kelas maka erat hubungannya dengan rajin belajar. Ini "agak" bisa diubah menurut saya.

Lalu gimana halnya dengan dunia abu-abu nya? Yaitu dunia yang ga jelas antara bisa diubah atau engga. Kalo di film hantu mah ini dunia Limbo :)

Masalah bisa diubah atau ga bisa diubah benernya masalah probabilitas atau kemungkinan. Semakin besar kemungkinannya sukses maka makin mendekati "bisa diubah". Kalau semakin kecil kemungkinannya, makin mendekati 0 maka "semakin tidak bisa diubah".

Contoh gini Bu, Pak: kalo anak walaupun sudah belajar rajin sekalipun, pinter sakti mandraguna kalo kemudian pas ulangan kertas ulangannya keselip dan ga diperiksa bisa ga naiklah dia. Atau misal kita ga makan siang tapi kebetulan makan pagi kita banyak banget maka bisa aja sampe malam kita ga terlalu lapar.

Cuma kemungkinan-kemungkinan aja Pak, Bu! Ga lain daripada itu. Bahkan mengenai perubahan orang tua yang saya sebut di awal cerita juga ga lain cuma kemungkinan yang probabilitasnya sangat kecil, namun tetap kemungkinan. Cuci otak, penghilangan identitas juga mungkin aja kok... liat aja film "Bourn Identity" tuh, atau Matrix.

Intinya saya cuma mau bilang, apa yang kita prepare - apapun itu, tetap selalu ada kemungkinan-kemungkinan lain bagi hasilnya. Baik atau buruk, atau yang abu-abu. Yang bisa kita lakukan cuma bisa melakukan prepare yang baik dengan kapasitas kita, tapi sekali lagi banyak faktor yang sering tidak kita perhitungkan, atau malas kita perhitungkan dan mengubah hasil akhir...

Jadi selain berusaha kita juga harus rendah hati tuh, dan menolong orang lain yang lagi kena kemungkinan negatif. Namanya juga roda kehidupan, ada jurang derita dimana-mana.

Ga nyambung ya? Saya juga ngerasa ceritanya ga nyambung neh. Liat aja tuh saya kayanya nulis ga konsisten antara paragraf awal dan paragraf agak akhir-akhir... maka saya dapat juga digolongkan menjadi orang yang menulis berubah-ubah dengan probabilitas sedang (menurut saya).