Tampilkan postingan dengan label Perasaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perasaan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Desember 2015

Jadi Miskin itu...



Jadi miskin itu

  • Ban motor gundul depan belakang tapi ga bisa ganti2, sama kaya remnya yg juga blong
  • Makan ngirit2, mikir 2x kalo aja bisa diganti ma telor rebus n nasi aja di rumah
  • Motong rambut jadi pendek aja, supaya irit shampo n lama panjangnya
  • Tau rumah jauh n pulang ujan2 badai lanjut pake doa aja
  • Dompet tipis gada duitnya selaen bon2 reimburse an aja
  • Ga bisa bales SMS lantaran pulsa abis, dan baru 3 hari kemudian bales minta maap
  • Nunggu uang bensin dari kantor, supaya ngehemat sedikit kalo naek motor
  • Bahagia kalo dapet jatah makan malem dari kantor
  • Rajin matiin lampu, supaya bisa ngehemat biaya listrik dikit
  • Ngopi di kantor aja ga di rumah
  • Ngerasa kaya kalo dapet tambahan duit 50 rebu
  • Dimarahin tiap hari setelah tanggal 20 an
  • Maunya menyendiri dan bengong, sebab ga ngabisin duit
  • Sedih ngeliat rinso abis pas lagi nyuci
  • Sedih ngeliat anak yang disekolahin mahal2 ulangannya jelek
  • Minum coca-cola dicampur aer biar jadi lebih banyak
  • Beli soto aernya banyak, lalu beli lagi ayam goreng di warteg buat nambah suiran dagingnya
  • Naek angkot, bawa recehan 500 supaya ga keki kalo ga dipulangin ma sopir
  • Berdebat ma tukang parkir kalo ngasih duit parkir motor 5rb dipulangin cuman 3rb 
  • Rajin ngambilin pulpen waktu seminar supaya ga perlu beli
  • Baju kerja makin lama makin belel, ngarep dapet baju turunan dari orang laen
  • Minum kopi pagi supaya ga lapar ga perlu sarapan

Rabu, 02 Desember 2015

Lagi Demotivasi dalam Bekerja



Gaji bagi saya adalah ukuran seberapa tidak suka saya mengerjakan suatu pekerjaan. Ketidaksukaan itu bisa jadi karena

  • Lokasi berbahaya, panas, atau terlalu dingin
  • Gaya manajemen yang harus dihadapi
  • Ketidakcukupan biaya hidup sehari-hari
  • Bertemu dengan orang yang tidak disukai dalam bekerja
  • Jauhnya pekerjaan dari cita-cita dan impian


Nah belakangan ini saya sedang memikirkan untuk pindah pekerjaan. Beberapa kriteria di atas sudah terpenuhi dan semakin hari saya semakin de-motivasi untuk bekerja.

Dulu waktu saya awal kerja di tahun 2004, kerja itu amat menyebalkan (saya bekerja sebagai sales trainee di Index Furnishing, sekarang Informa). Saking menyebalkannya, saya sampai ingat waktu itu di kosan saya di Kodamar (Kompleks TNI di Kelapa Gading), di loteng yang terbuat dari triplek (kebayang ya panasnya kalo siang) saya merenung: kok bisa kaya begini hidup saya...

Saya lulusan ilmu kelautan, bekerja menjual sofa, ga boleh duduk kalo sedang bekerja... dan jam 11 malem masih sibuk cuci baju di WC buat dijemur besokan? (sambil nyeseuh kucek-kucek kemeja ijo buat kerja).

Tapi itu dulu. Saya sudah mendapatkan pekerjaan yang cukup sesuai sekarang: berhubungan dengan alam, dengan keorganisasian, dengan pemuda, anak... tinggal satu yang belum; meneliti. Ya sebab saya menyukai hal-hal yang berbau ilmiah terutama terkait dengan alam.

Balik lagi ah... bete dan demotivasi ini mungkin karena di tempat saya bekerja selain kebutuhan uang yang semakin nampak, juga karena atmosfer di lembaga yang lembam. Kalau kata teman saya semua berjalan autopilot, tanpa koordinasi dan penghargaan.

Lagi-lagi jatohnya ke komunikasi ya... seperti asal muasal dosa pertama yang terjadi akibat miskomunikasi antara adam, hawa, ular, tuhan (kalo belo tau baca tulisan saya yang lain).

Kayanya saya tahun depan sudah tidak di lembaga saya yang sekarang deh :(

Ini sumber semangat saya dalam bekerja:





Rabu, 30 Januari 2013

Kebencian Menghancurkan, CInta Kasih Menyembuhkan

Saya mau cerita tentang Bindy, anjing kecil imut yang lincah sekali. Lovely kata orang-orang, itu sewaktu mereka melihat Bindy pertama kali, dan Bindy tinggal bersama kami selama satu tahun.

Bindy datang sewaktu saya tidak ada di rumah, sebab dengan keinginan yang begitu besar orang-orang di rumah tidak bisa menolak kehadiran seekor anjing yang lucu, walau sudah ada seekor anjing besar di rumah, Browny.

Bindy anjing yang ramah, dan tidak bisa diam. Kalau ia lari, maka terlihat seperti melesat -sebab ia kecil, dan dengan bulu berwarna kecoklatan ia tampak seperti kilat berwarna kecoklatan. Kakinya kecil kalau menurut saya. Saya sering berusaha melipat kaki-kakinya saat ia tidur di ubin, di serambi rumah.

Tidak lama setelah kedatangannya, kemanjaannya yang begitu besar yang tadinya menarik perhatian sayang, mulai menarik jenis perhatian lainnya. Tidak seperti Browny atau anjing-anjing lain, Bindy tidak bisa ditinggal sendirian. Ia seringkali mendengking, mencakar-cakar pintu, menggonggong apabila ditinggalkan - terutama apabila si Browny, misalnya melarikan diri (lewat pagar misalnya). Seringkali juga hal ini terjadi malam hari dan pagi hari - gonggongan anjing kepada orang yang lewat malam hari, usahanya untuk melarikan diri lewat celah di pagar - sambil merusak plastik fiber dan seng, serta garukannya di pintu membuat seisi rumah terganggu.

Ruang gerak yang kecil membuat Bindy menderita, dan seperti jenis anjing kecil lainnya - anjing ini lebih  cerewet dalam berkomunikasi. Mungkin karena sudah terpaku dalam genetik beberapa jenis anjing kecil.

Dari kata-kata lovely, imut dan lucu perlahan-lahan kata-kata itu berubah menjadi menyebalkan, cari perhatian, tidak bisa diam, dan hal-hal lain yang menegaskan ia mulai dibenci.

Tidak ada kata membuang dari saya, walaupun dari akibat yang ditimbulkan kami mulai berpikir untuk menyerahkan kembali Bindy ke si empunya pertamanya. Pasangan saya sudah melakukan telpon beberapa kali, namun seperti kita tahu - jarang orang mau menerima anjing yang sudah lama diberikan kepada orang lain, karena mereka pasti berpikir tentang kerepotannya, dan tentu saja tidak ada kedekatan emosi dengan ajing tersebut.

Lalu Bindy mulai dirantai. Siang sampai pagi lagi, ia tetap dirantai. Lantai yang sudah disemenpun jadi kotor, akibat ia buang air sembarangan. Tentu saja akan selalu sembarangan karena ia sudah diikat, dibatasi ruang geraknya.

Bindy menjadi semakin "nakal" karena mencari kesempatan untuk keluar pagar. Bahkan dengan rantai terikat di lehernya, dan semua orang menjadi semakin jengah dengan kelincahannya. Akibatnya, tanpa kesalahan ia bisa dihukum... seperti dengan sodokan sapu pel akibat tiduran di ubin yang akan dipel atau akibat bulu-buluan yang rontok dan membuat kotor halaman.

Saya bisa menyimpulkan bahwa apapun yang kita tidak sukai, ikat dengan ketat, akan patah di kemudian hari. Bindy adalah salah satunya.

Kami menemukan ia, suatu hari kaku tergantung di pagar akibat terbelit rantainya sendiri. Saat serambi dibersihkan dan dipel, kami lupa memindahkan rantai ikatnya ke posisi dimana ia tidak dapat meloloskan diri lewat pagar. Saya pikir beberapa orang tetangga mendengar dengkingannya, namun karena "terbiasa" maka tidak ada yang menganggapnya secara serius walau beberapa kali kami mendapatkan Bindy terbelit oleh rantainya sendiri, dan beberapa tetangga menolong Bindy dari belitan rantai.

Saat kita tidak menyukai seseorang, maka kita tidak berusaha untuk mengamankannya, memperhatikan kebutuhan-kebutuhannya, dan menganggap bahwa yang ia lakukan selalu salah, walau mungkin kesalahan kita sendirilah yang menyebabkan itu terjadi.

Belum saatnya kami menerima Bindy di rumah kami, dan Tuhan sudah mengambilnya kembali karena kami tidak mampu dan tidak bisa menerima tanggung jawab itu.

Bindy sering kabur karena tidak betah di halaman rumah kami yang kecil. Ia mendengking-dengking karena ingin selalu dekat dan disayang oleh kami (sama seperti kerinduan yang selalu ia tunjukkan dengan melonjak-lonjak kegirangan saat kami tiba di rumah) - hal ini tidak bisa kami penuhi.

Bindy buang air sembarangan, karena kami mengikatnya, karena kami tidak mampu menyediakan halaman besar untuk berlari-lari dengan pagar yang aman. Bindy menggigit sandal untuk melatih gigi-giginya, sama seperti yang umum dilakukan seekor anjing di alamnya.

Kembali lagi, bahwa apapun yang kita benci akan membuatnya lebih dekat pada rasa sakit, kematian, kecelakaan dan lain-lain.

Semestinya saya belajar lebih jauh tentang cinta kasih dan betapa kita harus bertanggung jawab serta berlogika dalam melakukan sesuatu. Tetapi dia antara semuanya cinta kasihlah yang terpenting, dan menghindarkan apapun dari kecelakaan dan kesakitan. Cinta kasih menyembuhkan, menyegarkan dan memberi pengharapan.

Selamat jalan Bindy, we love u always. GBU.



Rabu, 08 Agustus 2012

In the Morning

In The Morning
Songwriters: GIBB, STEVE


In the morning when the moon is at it's rest,
You will find me at the time I love the best
Watching rainbows play on sunlight;
Pools of water iced from cold night, in the morning.
Tis the morning of my life.

In the daytime I will meet you as before.
You will find me waiting by the ocean floor,
Building castles in the shifting sands
In a world that no one understands,
In the morning.
Tis the morning of my life,

In the morning of my life the
Minutes take so long to drift away
Please be patient with your life
It's only morning and you're still to live your day

In the evning I will fly you to the moon
To the top right hand corner of
The ceiling in my room
Where wll stay until the sun shines
Another day to swing on clothes lines
May I be yawning
It is the morning of my life
It is the morning of my life
In the morning
In the morning
In the morning


Well, begitu indahnya lagu ini buat saya. Didengarkan oleh saya dari dulu lewat speaker besar Om Oweh, dengan tape jaman dulu yang tebal dan penuh kenop-kenop yang tidak saya mengerti fungsinya, lagu ini selalu terngiang-ngiang di kepala saya.

Katanya... In the morning of my life the minutes take so long to drift away. Please be patient with your life. It's only morning and you're still to live your day.

I need that.

Rabu, 11 Juli 2012

Jaman SMA


Lagi ngeliatin foto anak-anak SMA Recis di laptop, pas mereka kemaren acara di hutan, hati ini bercampur antara haru, agak sedih dan pasrah. Lebai banget ya – kenal juga engga padahal?

Tapi melihat mereka saya teringat kalau saya pernah menginjakkan kaki dan belajar juga di SMA Recis selama 3 tahun, dan melihat mereka kenang-kenangan masa itu muncul kembali, yang tidak akan terulang walau saya melihat foto-foto itu berulang kali. Masa SMA - masa yang indah walau tidak enak.

Dilihat dari gaya, setidaknya gaya mereka sama. Nampang, berangkulan, tertawa senang, pakai pakaian yang trendi, dan sudah pasti tidak cocok dengan keadaan di hutan Bodogol. Yang perempuan manis dan cantik. Yang laki-laki keren dan gagah. Inilah masa-masa berpacaran, saat hormon memuncak dan bodi belum rusak karena kurang olahraga. Yap, betul – ini adalah masa-masa dimana serangan jantung, stroke belum muncul dan tidak perlu berpikir stres memikirkan kehidupan. Di masa ini stres adalah jika kamu naksir cewek tapi ga pernah berani nyatain cinta, lalu dia direbut orang.

Yah mikirin yang terakhir itu saya jadi ga mau kalau disuruh kembali ke masa SMA. Yang terakhir itu membuat saya sengasara sekali karena saya adalah tokoh loser di dunia cinta SMA. Menyedihkan pokoknya. Menyedihkannya saya cuma bisa dikalahkan oleh tokoh2 nerds karena saya golongannya adalah setengah nerds setengah petualang, lebih high level dikit.

Jaman itu tatapan cewek taksiran serupa laser yang membutakan mata. Saya selalu membuang muka kalau ditatap oleh cewek taksiran saya. Menunduk, semoga tidak ketahuan kalau sebelumnya menatap. Hati deg-degan kaya mau copot kalau cewek taksiran mendekat, padahal boro-boro dia kenal saya.

Yah, tapi tau nga - masa-masa kekalahan ini akhirnya lewat juga, and what u know? Cewek yang saya taksir 17 tahun yang lalu, yang bahkan saya tidak berani tatap matanya 2 tahun yang lalu menjadi pacar saya, dan tahun depan kami akan menikah. 

Ga tau apa yang terjadi seandainya dulu saya sempat punya keberanian dan nembak dia? Apakah ceritanya akan sama?

Jadi, menjadi makhluk malang juga ada untungnya.


Senin, 21 Mei 2012

Nasi Campur 5 Watt

Sedihnya... or menyesalnya saya.

Tadi pagi saya beli sarapan nasi campur di warteg dekat "Gerimis" Univeritas Pakuan, isi kentang, mie dan telur bulat cabe plus sambal sedikit. Kalau saya sempat memakannya, pasti akan memuaskan rasa lapar saya karena nasi campur tersebut enak sekali. Bayangkan, makan nasi pagi-pagi dengan mie yang rasanya manis, kentang kecil-kecil yang sedikit pedas dan telur bulat cabe yang pedas gurih, plus sambal si teteh yang pedas agak asam-asam pasti membuat mata 5 watt saya nyala kembali pijaran semangatnya.

Sang nasi campur sepertinya jatuh saat saya menggantungkannya di motor skuter. Gantungannya memang kecil, dan mungkin karena tergoncang saat di jalan jadi terjatuh.

Sepele memang. Tapi rasanya kehilangan nasi campur ini memang memberikan saya perasaan lapar, sedih dan bokek, karena juga uang saya bulan ini tinggal 100 ribu saja secara de-facto de jure (padahal ini baru tanggal 22 Mei). Kalau kemarin saya memakai 100 ribu lainnya untuk pergi ke Kedubes Cina untuk urus visa. Sedangkan uang tabungan saya sudah di convert jadi simpanan yang tetap, dan saya tidak ingin mempergunakan atau menggadaikan simpanan saya (buat tabungan masa depan soalnya).

Well, jadi inget walau lebay lebay dikit yaaa... kalo kita ga akan merasa kehilangan sesuatu bila milik kita masih ada. Kita baru akan merasa kehilangan apabila milik tersebut sudah tidak ada.

Nasi campur oh nasi campur dimanakah engkau berada?

Senin, 09 April 2012

Renungan di Kolam Pak Haji

Kemarin, di hari Sabtu Suci - sehari sebelum Paskah saya mancing di kolam ikan milik Pak Haji di Parung. Kenapa dipanggil Pak Haji, karena dulu pemiliknya adalah Pak Haji Sesuatu. Walau sudah berganti pemilik tapi tetap bagi kami pemancingan besar itu dinamakan Kolam Pancing Pak Haji.

Kolam pancingnya besar... tidak seperti kolam pembesaran ikan yang ukurannya kecil-kecil agar makanan saat disebar tidak jatuh kemana-mana. Tidak kecil seperti kolam pemancingan yang sistemnya beli ikan per kg lalu dilepas agar bisa dipancing bersama-sama (diperlombakan dengan sumber daya ikan terbatas, ada yang rugi ada yang untung). Ini adalah kolam pemancingan dimana kalau kita dapat ikan lalu ditimbang dan dibeli, jadi sebenarnya seperti membeli ikan di pasar, hanya perlu dipancing terlebih dahulu.

Dengan sistem seperti ini, maka kolam bisa dibuat besar, luas - indah. Ikan tidak perlu banyak diberi makan karena yang memberi makan adalah para pemancing. Ikan cukup diberi makan dengan porsi sedang-sedang saja. Mungkin setahun sekali dua kali akan dipanen.

Memancing ikan menyenangkan, mengasah naluri purba, namun menimbulkan kesedihan, terutama saat melepas kail dari mulut-mulut ikan yang ditangkap.

Menurut teori, ikan mempunyai daya penyembuhan yang cukup baik terutama di bagian mulut. Entah itu dusta atau benar. Yang jelas saya tetap sedih saat membuka kail dari mulut sang ikan.

Jadi berpikir dan merenung, dengan keterbatasan pikiran... bertanya lagi, mengapa manusia perlu membunuh? Bukankah sebaiknya ia diciptakan minimal sebaiknya tidak perlu makan? Sehingga manusia juga tidak perlu membunuh?

Mengapa ia diciptakan membutuhkan protein? Mengapa ia diciptakan membutuhkan lemak? Bahkan ia perlu serat yang diambil dari tetumbuhan (well, maybe someday saat manusia begitu maju maka membunuh tetumbuhan juga akan digolongkan dalam tingkat baru pembunuhan).

Mengapa manusia harus membunuh ? Bahkan Yesus pun sepertinya makan ikan, roti dan minum anggur kalau dilihat di kitab suci. Apakah ini kutukan permanen dari yang mendesain di sana?

Senin, 05 Maret 2012

Kematian Tragis Arwana

Sial lagi sial lagi. Saya lagi sial karena ikan arwana kecil yang saya beli dimakan oleh tokek besar, penghuni celah atap di rumah saya.

Lah kok bisa? Kalau kamu tanya seperti itu akan saya jelaskan bahwa tokek adalah karnivora. Saya sering melihat tokek ini melahap kecoa-kecoa sebagai kudapan... dan berdasarkan cerita-cerita dan film dokumenter, saya juga menyaksikan bahwa ia juga bisa memakan tikus dan burung kecil. Jadi saya percaya ikan kecil juga santapan lezat, bukan masalah buatnya.

Beberapa menit setelah ikan itu hilang, saya teringat bahwa beberapa kali saya juga kehilangan ikan jenis cupang di kolam tersebut dengan misteriusnya. Sifat ikan cupang dan arwana adalah sama – sebagai perenang yang suka di permukaan sehingga terbuka kemungkinan diserang oleh makhluk permukaan.

Entahlah, mungkin juga ikan tersebut loncat ataupun ditangkap di air dengan rahang kuat sang tokek tidak jadi perdebatan karena intinya adalah si arwana dead and banished. Dan mengenai masalah rahang, saya sudah membuktikan bahwa sang tokek sanggup menggigit gagang sapu dengan kerasnya, so saya pikir satu gigitan sudah cukup untuk mencengkram ikan, kalau tidak langsung mematikannya...

Btw sebenarnya saya sedih dan cukup tegang saat menulis ini – jadi mohon dimaklumi ya kalo ngelantur? Bagaimana tidak, pertama anakan arwana Irian itu saya beli dengan uang yang cukup besar, Rp 125.000. Bagi saya uang sebesar itu tidaklah murah. Dan kedua, sedihnya - bisa dibilang arwana itu hanya sempat sejam bersama saya saat saya sudah pulang dari kantor. Di sore hari saat saya akan menengoknya kembali di kolam kecil, saya jumpai seekor tokek besar sedang dalam posisi agak bergelung di sudut kolam, agak dekat di arah air.

Sempat terpikir oleh saya untuk menangkap tokek itu, lalu dijual ke petshop. Lalu uangnya saya pakai untuk membeli anakan arwana lagi (oh my... kejamnya saya). Cuma pikir-pikir tidak tega selain saya berpikir juga kalau menangkapnya tidak mudah. Nah inilah yang menyebabkan tidak timbulnya kejahatan kelas teri ini: ada niat tapi tidak bertemu dengan kesempatan (sebab si tokek bisa manjat dinding, cepat larinya dan sembunyi di lubang kayu – sedang saya terlalu malas untuk berusaha dan ngorek-ngorek lubang atap).

Refleksi saya: hukum alam memang pasti. Tokek butuh makan, dan semuanya kalau direnungi hanyalah pelaksanaan hukum alam. Saya dapat digolongkan sebagai korban pada peristiwa ini, dan secara lebih spesifik saya dapat digolongkan sebagai korban tidak langsung. Korban langsungnya adalah sang arwana yang mungkin kalau tidak saya beli siang harinya masih berenang santai saat ini bersama sepupu dan saudara-saudaranya.

Usaha saya memanipulasi alam digagalkan. Alam berkata senang, karena hari ini bisa menyeimbangkan keadaan secara alami lagi. Tokek memang penguasa daratan (terutama dinding rumah saya).  Membuat bak dan memelihara ikan arwana yang berasal dari Irian adalah manipulasi (catatan penulis, kalau memanipulasi artinya membuat lingkungan buatan sehingga kemudian masukan-masukan baru dapat dengan mudah diterima oleh keadaan lingkungan yang sudah ada sebelumnya). 

Dan alam kali ini meminta agar saya bersabar, bekerja lebih keras dan mencari pekerjaan tambahan agar bisa menghasilkan uang, lalu kembali lagi membeli si arowana (ngarep.com).

Siapa tahu di lain kesempatan alam berkata agak serius kepada saya,”Dear Indra, baiklah karena kamu semangat sekali, saya perbolehkan kamu memanipulasi saya lagi. Sebagai tambahan, saya berkati kamu juga dengan keberuntungan sehingga ikan-ikanmu tumbuh pesat dan kuat.”

Jadi jutawan deh saya (soalnya kali ini melihara arowana super red).

Senin, 27 Februari 2012

Si Biru yang Jatuh ke Sungai

Huhuhu... saya sedih neh...

Tadinya saya ingin menulis dengan membanggakan diri mengenai sesuatu - petualangan saya di Kapuas Hulu, naik jukung dan speedboat bermotor di Sungai Kapuas dan hutan-hutannya.

Tapi ada yang lebih penting dan sedih, dan menghilangkan keinginan saya menulis yang kelihatan besar-besar dan keren, sebab kamera saya si biru yang sering menemani saya jalan-jalan jatuh ke sungai saat saya renang di Sungai Kapuas.

Catatan bagi pemirsa, kamera si Biru saya adalah kamera poket "Fujifilm" dengan model yang saya lupa karena ga penting (saya ga peduli merk dan model), cuma jepretannya lumayan bisa diandalkan walau hasilnya sering agak kurang cahaya - cuma  memberikan efek teduh, dan karena sering saya pakai maka kelemahan dan kelebihannya saya sudah kenali dengan baik.

Si biru jatuh karena kesalahan saya, menaruhnya di tepi bagan. Saat saya akan naik karena selesai renang, dan sudah memperoleh foto dengan pengatur self timer saya mencoba naik bagan, dan siapa sangka papan rangka ternyata tidak dipaku kokoh dan bergoyang terbalik saat saya naik. Alhasil jatuhlah si biru teman saya, dan saya tidak berani menyelam mengambil karena menurut perkataan si ibu pencuci baju bahwa dalamnya sungai di bagian itu 6 meter (sebab bisa jadi saya beraniin nyelem, lalu terbawa arus sungai dan kolaps kecapean - jadilah saya makanan ikan).

Saya adalah orang yang cukup pasrah menerima kejadian, biasanya saya menganggap setiap kejadian buruk adalah seperti membuang sial. Saya beranggapan apabila peristiwa itu tidak terjadi maka sesuatu yang lebih buruk akan menimpa saya. Kehilangan kamera saya anggap membuang sebagian kesialan saya sehingga, misalnya saya tidak hanyut di sungai. Intinya setiap kejadian buruk saya anggap mengurangi "kantung sial" saya sehingga tidak meledak karena kepenuhan.

Secara logika seh, orang yang dah hilang kamera tentunya lebih awas, jadi bolehlah teori saya ini dibenarkan.

Tapi lalu kenapa untuk yang satu ini saya tetap merasa agak tidak senang ya? Mungkin karena saya bokek, tidak bersama Lizbeth (pacar saya yang lucu dan menggemaskan), dalam keadaan mencari pekerjaan baru, dah lama ga jalan-jalan senang dan menghabiskan tabungan, atau perasaan asing saya di lingkungan baru ini ya?

Mungkin saya perlu waktu untuk memahami diri saya sendiri ya? Cuma terus terang saya agak kesal karena saya sendiri orangnya kadang suka mengulangi kesalahan yang agak mirip. Jadi saya agak benci sebenarnya dengan kode genetik saya yang pada masalah ini kok kode asam basanya sering nyuruh "cepat tenang dan cepat lupa" ya - walau di sisi lain mungkin orang seperti saya ini (yang cepat tenang, cuek dan lupa) agak cocok karena selalu tenang, bahagia, cuek dan enjoy kalau dikirim ke hutan belantara sekalipun.

Nah loh, ga jelas... tadinya cuma mau curhat ketidakenakan perasaan saya gara-gara si biru hilang. Malah jadi pake teori-teori segala. Out dulu ah saya - ga jelas neh!

Remembering The Blues:
Salah satu hasil jepretan si Biru almarhum, di Grand Palace - Bangkok
Momen kebahagiaan bersama si Biru, di kebun
Si Biru, yang merekam perjalanan kami dimana-mana
Atkinson Clock Tower, Kinabalu by si Biru
Saat-saat terakhir bersama si Biru. Goodbye friend! Thank you for all...

Selasa, 10 Mei 2011

Bohwat

Bohwat: saya kaga tau arti sebenernya - cuma basa cina pasaran aja, basa anak Lawang Seketeng.

Kalo diterjemahkan secara bebas bisa berarti BT, ilfil (ilang feeling), ga mau urusan, udah terserah aja nasib iduplu, dll.

Nah saya ini lagi bohwat, ma yang namanya si Wawan, dan si Om SH soalnya rumah saya (benernya rumah pacar saya) yang dikerjain mereka berdua itu amburadul, ga kaya yang dijanjiin dan sebagai akibat dari kejadian-kejadian barusan yang menimpa rumah saya ini di Kayu Manis Residence II, saya bohwat ma mereka berdua. Untuk Mas Wawan bohwatnya saya tambahkan 50% nya lagi.

Gimana saya ga bohwat, wong baru ditempatin sebentar timbulah malapetaka ini:
- dinding belakang retak, fondasi belakang turun. Kalo kata tetangga, maybe tu fondasi cuma diinjek-injek aja pake kaki
- ga lama di suatu malam setelah sebelumnya bocor ngetes2 dan dah dibilangin ke Mas Wawan (dan katanya udah dibenerin, dah digeser gentengnya pak), bocorlah rumah dengan parah. Air mengucur ke tempat tidur, lantai kamar, kamar mandi kaya kerocokan air
- Tembok ngerembes aer, hasil dari ngebobok dinding, pipa air di ledeng yang ditanem ga dilem dengan baik

Bisa ga bayangin malem2 hujan, dan tiba2 air turun dari langit2 kamar dan kita kaya orang bego ngeliatin tu kamar luber? Atau pas liat makin lama dinding kamar makin retak ngegede - makin lama makin khawatir ngebedain ni kamar apa gara2 acian semennya jelek atau mang fondasinya turun? Mau runtuh kali ni rumah !!!

Dan kemudian tindakan dilakukan, setahap demi setahap - dari bikin coran besi tambahan buat tembok belakang, ngasih jaring-jaring di pipa air buangan di atap (karena katanya bocor karena sampah daun menyumbat lubang air), ngecat ulang dll. Tapi kita dah keburu bohwat duluan lah...

Maybe buat mereka itu sepele. Soalnya mereka ga keujanan dan springbednya ga kebahasan waktu ujan bocor. Atau terpaksa mindahin barang pas tembok dibobok ulang, dan lantai jadi kotor keinjek2 lagi (pembaca, rumahnya tipe kecil, penuh barang2 karena baru pindahan). Nah, begitulah sering yang kita rasakan penting tapi ga penting buat mereka-mereka ini.

Kenapa saya bohwat juga ma Om SH? Soalnya dia adalah developer. Walau si mandor yang salah tetep saya mempersalahkan si Om SH karena mandor gila ini kerja untuk dia. Yang merekrut dia.

Makin kesel karena si mandor ini, Wawan tetep dipekerjakan di proyeknya yang lain. Mungkin ga sebagai mandor utama lagi, tapi tetep dipekerjakan (mungkin bagian aduk semen kali ya - tapi intinya dia tetep berkedudukan sebagai mandor juga).

Hidup sering unfair. Saya tau si Om kena masalah penyakit saluran kencing dll, sehingga ga bisa mengawasi mandor gilanya ini - soalnya seringkali dia pengobatan ke Jakarta. Juga si mandor kayanya banyak proyek, banyak kerjaan gagal, atau tukangnya dia salah ambil. Tapi ini info lho... si mandor juga di komplain ma orang lain, penghuni Kayu Manis Residence I dan II. Nah artinya jangan2 ini dah jadi kebiasaan si Wawan.

Plus akhirnya dia menyatakan akan buat pagar rumah bila dibayar 20 juta. Gila ga, kalo ada rumah 85 juta, pagerannya 20 juta itu namanya apa ya? SGM kali (sinting gila miring).

Berpikiran positif dengan bohwat, kalo si Wawan lagi banyak utang, kerjaan banyak gagal di proyek jadi perlu nambel n mata duitan. Anak istrinya butuh duit, anaknya sakit, dimarahin ma Om SH sampe malu dihadapan anak buahnya. Abis kena penyakit gatel2 kulit, listrik dicabut ma PLN.

Ya kalo udah begini kita berpikir dengan bohwat aja deh... Bohwat gw ma elo.