Senin, 05 Maret 2012

Kematian Tragis Arwana

Sial lagi sial lagi. Saya lagi sial karena ikan arwana kecil yang saya beli dimakan oleh tokek besar, penghuni celah atap di rumah saya.

Lah kok bisa? Kalau kamu tanya seperti itu akan saya jelaskan bahwa tokek adalah karnivora. Saya sering melihat tokek ini melahap kecoa-kecoa sebagai kudapan... dan berdasarkan cerita-cerita dan film dokumenter, saya juga menyaksikan bahwa ia juga bisa memakan tikus dan burung kecil. Jadi saya percaya ikan kecil juga santapan lezat, bukan masalah buatnya.

Beberapa menit setelah ikan itu hilang, saya teringat bahwa beberapa kali saya juga kehilangan ikan jenis cupang di kolam tersebut dengan misteriusnya. Sifat ikan cupang dan arwana adalah sama – sebagai perenang yang suka di permukaan sehingga terbuka kemungkinan diserang oleh makhluk permukaan.

Entahlah, mungkin juga ikan tersebut loncat ataupun ditangkap di air dengan rahang kuat sang tokek tidak jadi perdebatan karena intinya adalah si arwana dead and banished. Dan mengenai masalah rahang, saya sudah membuktikan bahwa sang tokek sanggup menggigit gagang sapu dengan kerasnya, so saya pikir satu gigitan sudah cukup untuk mencengkram ikan, kalau tidak langsung mematikannya...

Btw sebenarnya saya sedih dan cukup tegang saat menulis ini – jadi mohon dimaklumi ya kalo ngelantur? Bagaimana tidak, pertama anakan arwana Irian itu saya beli dengan uang yang cukup besar, Rp 125.000. Bagi saya uang sebesar itu tidaklah murah. Dan kedua, sedihnya - bisa dibilang arwana itu hanya sempat sejam bersama saya saat saya sudah pulang dari kantor. Di sore hari saat saya akan menengoknya kembali di kolam kecil, saya jumpai seekor tokek besar sedang dalam posisi agak bergelung di sudut kolam, agak dekat di arah air.

Sempat terpikir oleh saya untuk menangkap tokek itu, lalu dijual ke petshop. Lalu uangnya saya pakai untuk membeli anakan arwana lagi (oh my... kejamnya saya). Cuma pikir-pikir tidak tega selain saya berpikir juga kalau menangkapnya tidak mudah. Nah inilah yang menyebabkan tidak timbulnya kejahatan kelas teri ini: ada niat tapi tidak bertemu dengan kesempatan (sebab si tokek bisa manjat dinding, cepat larinya dan sembunyi di lubang kayu – sedang saya terlalu malas untuk berusaha dan ngorek-ngorek lubang atap).

Refleksi saya: hukum alam memang pasti. Tokek butuh makan, dan semuanya kalau direnungi hanyalah pelaksanaan hukum alam. Saya dapat digolongkan sebagai korban pada peristiwa ini, dan secara lebih spesifik saya dapat digolongkan sebagai korban tidak langsung. Korban langsungnya adalah sang arwana yang mungkin kalau tidak saya beli siang harinya masih berenang santai saat ini bersama sepupu dan saudara-saudaranya.

Usaha saya memanipulasi alam digagalkan. Alam berkata senang, karena hari ini bisa menyeimbangkan keadaan secara alami lagi. Tokek memang penguasa daratan (terutama dinding rumah saya).  Membuat bak dan memelihara ikan arwana yang berasal dari Irian adalah manipulasi (catatan penulis, kalau memanipulasi artinya membuat lingkungan buatan sehingga kemudian masukan-masukan baru dapat dengan mudah diterima oleh keadaan lingkungan yang sudah ada sebelumnya). 

Dan alam kali ini meminta agar saya bersabar, bekerja lebih keras dan mencari pekerjaan tambahan agar bisa menghasilkan uang, lalu kembali lagi membeli si arowana (ngarep.com).

Siapa tahu di lain kesempatan alam berkata agak serius kepada saya,”Dear Indra, baiklah karena kamu semangat sekali, saya perbolehkan kamu memanipulasi saya lagi. Sebagai tambahan, saya berkati kamu juga dengan keberuntungan sehingga ikan-ikanmu tumbuh pesat dan kuat.”

Jadi jutawan deh saya (soalnya kali ini melihara arowana super red).

Senin, 27 Februari 2012

Siapa yang Miskin Sekarang?

Sederhana dan kaya... bisa ga seh?

Sebelumnya saya meragukan hal itu. Walau tidak tepat-tepat dengan definisi saya tapi tipe hidup seperti ini ada. Dan guess what: kalau melihatnya tipe hidup seperti ini 1-2 orang mungkin saya anggap biasa-biasa saja tapi yang saya temui ukurannya adalah desa. Bukan 1 desa juga tapi beberapa desa. Ini ukurannya komunitas bung, penduduk, rakyat...

Kasian deh kalau kita belum pernah pergi ke desa-desa seperti ini sebab konsep hidup kita mungkin hanya terpaku pada kerja keras di kantor di Jakarta, pergi jam 6 pagi pulang jam 8 malam, dan sial kalo jadi si miskin di Jakarta sebab seperti saya dulu: pergi naik kereta pulang naik kereta didempet kaya ikan sarden di kaleng.

Nah desa yang saya jumpai masuk hitungan berkecukupan atau menengah ke atas kalau dilihat dari penghasilan, tabungan dan investasi. Penghasilan lumayan, gada kebutuhan yang mahal (atau kalaupun mahal dapat dicukupi), mau makan tinggal ambil, dan tabungan serta investasi ada.

Penghasilan sekiat 3-10 juta di desa per bulan lumayan ga sih menurut kamu? Kalau saya nanya ma Pa Tony Chen eks Direktur Microsoft pasti dibilang gada papanya. Cuma buat saya, pendapatan segini masuk kategori sejahteralah. Ini adalah beberapa desa yang saya kunjungi pakai speedboat di pinggir Sungai Kapuas Hulu: Desa Jongkong Kiri Hilir, Piasak, Ujung Said, dan Nanga Betung (yang terakhir agak jauh dari Sungai tapi saya masukkan juga sebagai desa sejahtera dari hasil karet).

Rumah panggung, supaya ga tenggelam kalo musim banjir
Penduduk desa sejahtera: ini hitungannya - dari karet mereka dapat 5-10 kg perhari, harga jual Rp 12.000 /kg. Lalu mau makan tinggal mancing, pasang pukat, atau ambil di tambak. Saya hitung tanpa panenan di tambak maka sehari misal dapat 1-3 kg (ini sial atau rata-rata saja) maka hitunglah dapat ikan patin/bawal/gabus maka dapatlah tambahan 30 ribu. Lalu dari buat kerupuk ikan, dapat lagi (saya tidak tahu dapat berapa tapi saya rasa upah cukup tinggi karena ini adalah desa dengan penghasilan lumayan).

Ini tambahannya: investasi arwana super red atau silok- setiap KK biasanya pelihara 1-2 ekor (walau ada juga sampai 25 ekor). Ukuran 7 cm Rp 2,5 juta. Kalau besar sekitar 30 cm (sekitar 6-12 bulan) dijual 6-10 juta. Kalau 50 cm maybe disini (lokal) dijual 10-15 juta. Kalau bisa memijahkan indukan menghasilkan 20-40 anakan setahun sekali.  Lalu panen tambak, setahun 1x maybe bisa dapat 10-30 juta.
Ikan Siluk (arwana super red) di akuarium yang kaga mampu saya beli

Kalau sodara-sodara malas menghitungnya, saya cuma bilang pendapatan mereka dalam kondisi tidak panen apapun adalah minimal sekitar Rp 100.000 / hari. Ingat - tanpa PANEN ikan silok/arowana, buka tambak satu tahun sekali untuk tiap tambak yang dimiliki, atau menikmati kenaikan harga karet...

Itu untuk kategori kelas menengah saja perkiraan saya. Dan kelas menengah disini adalah cukup rata - kisaran normalnya dengan kurva menggelembung di tengah. Jarang yang bisa dibilang miskin disini karena mereka saling berbagi pekerjaan - terutama untuk kerja menyadap karet ( lebih bagus lagi kan: berbagi kerja dibanding berbagi duit?). 

Nah loh, siapa yang miskin lalu jadinya. Saya menggolongkan diri saya miskin kalau begitu. Belum lagi kadang harga karet naik sampai 21 ribu / kg seperti beberapa tahun lalu, berapa penghasilan rakyat sini - kaya ga seh?

Jadi gini coy... jangan sok tahu kalau melihat penduduk pakai baju kucel, pake motor 90an bukan mobil Avanza, mandi di sungai, pakai HP Nokia lama atau Cross buatan Cina. Dia bisa jadi jauh lebih kaya dan sejahtera tenang lahir batin dibanding ente. Saya dengar juga dari Bapak Haji pemilik losmen "Merpati" di Putussibau; kalau pernah dia ditawarkan untuk beli emas oleh seseorang. Si Bapak nanya ada berapa gram - sebab tertarik juga buat investasi beberapa gram mungkin. Dijawab oleh si penjual yang katanya dari Suku Dayak, "Saya ada 50 kg Pak.." (sepertinya sih dikatakan sambil muka polos soalnya Pak Haji jadi melongo katanya).

Sekolah, emang penduduk sini sadar pendidikan kok - banyak juga yang kuliah di Pontianak
Beginilah kehidupan penduduk di Desa yang saya kunjungi: hidup tenang dekat sungai, ngeliat banjir sambil nongkrong di rumah panggung, lalu anak sekolah di Univ Tanjung Pura.Pagi kasih makan ikan siluk, nyadap karet sampai sebelum tengah hari.

Lanjut... : mancing ikan kalau perlu makan ikan sambil ga peduli waktu kerja. Kerja ga kena macet, minum Milo jualan/selundupan dari Malaysia (Milonya rasanya lebih enak dari buatan Indonesia soalnya yang kualitas untuk dijual pack minuman dingin). Siapa yang miskin sekarang saya tanya coba?

Mangkanya saya sih dukung ni hutan, sungai dijaga. Saya lebih ridho melihat penduduk, para sahabat saya ini jadi kaya dibanding Ibu Dede (pemilik perusahaan sawit PT Dian Agro Lestari). Hidup penduduk! Ternak ikan siluk, tanam karet, jaga hutan, tendang perusahaan kelapa sawit!

Catatan, update Maret 2012:
Ga semua KK di desa memelihara ikan siluk, tapi perhitungan hasil karet saya juga akan saya perbaiki. Hasil 5 kg per hari adalah ukuran penduduk yang malas nyadap karet. Buat penduduk yang menengah rajin bisa dapat 10 kg per hari, sementara penduduk super rajin bisa dapat 20 kg sehari. Artinya penduduk menengah rajin minimal bisa dapat Rp 120.000 / hari hanya dari karet (harga karet saat ini @ Rp 12.000 / kg).
.

Si Biru yang Jatuh ke Sungai

Huhuhu... saya sedih neh...

Tadinya saya ingin menulis dengan membanggakan diri mengenai sesuatu - petualangan saya di Kapuas Hulu, naik jukung dan speedboat bermotor di Sungai Kapuas dan hutan-hutannya.

Tapi ada yang lebih penting dan sedih, dan menghilangkan keinginan saya menulis yang kelihatan besar-besar dan keren, sebab kamera saya si biru yang sering menemani saya jalan-jalan jatuh ke sungai saat saya renang di Sungai Kapuas.

Catatan bagi pemirsa, kamera si Biru saya adalah kamera poket "Fujifilm" dengan model yang saya lupa karena ga penting (saya ga peduli merk dan model), cuma jepretannya lumayan bisa diandalkan walau hasilnya sering agak kurang cahaya - cuma  memberikan efek teduh, dan karena sering saya pakai maka kelemahan dan kelebihannya saya sudah kenali dengan baik.

Si biru jatuh karena kesalahan saya, menaruhnya di tepi bagan. Saat saya akan naik karena selesai renang, dan sudah memperoleh foto dengan pengatur self timer saya mencoba naik bagan, dan siapa sangka papan rangka ternyata tidak dipaku kokoh dan bergoyang terbalik saat saya naik. Alhasil jatuhlah si biru teman saya, dan saya tidak berani menyelam mengambil karena menurut perkataan si ibu pencuci baju bahwa dalamnya sungai di bagian itu 6 meter (sebab bisa jadi saya beraniin nyelem, lalu terbawa arus sungai dan kolaps kecapean - jadilah saya makanan ikan).

Saya adalah orang yang cukup pasrah menerima kejadian, biasanya saya menganggap setiap kejadian buruk adalah seperti membuang sial. Saya beranggapan apabila peristiwa itu tidak terjadi maka sesuatu yang lebih buruk akan menimpa saya. Kehilangan kamera saya anggap membuang sebagian kesialan saya sehingga, misalnya saya tidak hanyut di sungai. Intinya setiap kejadian buruk saya anggap mengurangi "kantung sial" saya sehingga tidak meledak karena kepenuhan.

Secara logika seh, orang yang dah hilang kamera tentunya lebih awas, jadi bolehlah teori saya ini dibenarkan.

Tapi lalu kenapa untuk yang satu ini saya tetap merasa agak tidak senang ya? Mungkin karena saya bokek, tidak bersama Lizbeth (pacar saya yang lucu dan menggemaskan), dalam keadaan mencari pekerjaan baru, dah lama ga jalan-jalan senang dan menghabiskan tabungan, atau perasaan asing saya di lingkungan baru ini ya?

Mungkin saya perlu waktu untuk memahami diri saya sendiri ya? Cuma terus terang saya agak kesal karena saya sendiri orangnya kadang suka mengulangi kesalahan yang agak mirip. Jadi saya agak benci sebenarnya dengan kode genetik saya yang pada masalah ini kok kode asam basanya sering nyuruh "cepat tenang dan cepat lupa" ya - walau di sisi lain mungkin orang seperti saya ini (yang cepat tenang, cuek dan lupa) agak cocok karena selalu tenang, bahagia, cuek dan enjoy kalau dikirim ke hutan belantara sekalipun.

Nah loh, ga jelas... tadinya cuma mau curhat ketidakenakan perasaan saya gara-gara si biru hilang. Malah jadi pake teori-teori segala. Out dulu ah saya - ga jelas neh!

Remembering The Blues:
Salah satu hasil jepretan si Biru almarhum, di Grand Palace - Bangkok
Momen kebahagiaan bersama si Biru, di kebun
Si Biru, yang merekam perjalanan kami dimana-mana
Atkinson Clock Tower, Kinabalu by si Biru
Saat-saat terakhir bersama si Biru. Goodbye friend! Thank you for all...

Manusia kok Dimana-Mana?

Kok banyak amat sih manusia? Kok manusia bisa ada dimana-mana ya? Saya tidak habis pikir mikirin manusia ini yang ada dimana-mana... kadang ngeri juga walau saya sebagai spesies manusia lagi berada di atas angin menjajah spesies ayam, sapi dan sayur-sayuran yang saya makan setiap hari.

Back to topik, kenapa saya bisa bilang begitu, sebab saya menemukan manusia dimana-mana. Kebetulan saya agak suka jalan-jalan walau terbatas karena saya belum mencapai financial freedom (begitu kata Tung Desem Waringin buat orang yang pemasukan pasifnya dah gede dan ga perlu kahawatir masalah keuangan lagi) dan saya menemukan manusia dimana-mana. Doku saya ga banyak mangkanya ga bisa jalan-jalan jauh - kecuali kebetulan ditugasin kantor, beda ma Lara Croft (si Tomb Raider) yang hidupnya hedonis karena dapet warisan ortu dan jalan-jalan terus keliling dunia sambil ngerusak situs-situs purbakala.

Di desa kecil di Mindanao, Filipina juga ada manusianya
Nah loh, abis iya... di desa Buluh Kapur, kampung yang jauh di Lampung - ada manusia dari Jawa yang bertransmigran kesana. Di pedalaman kawasan Halimun - Jawa Barat juga ada kampung yang dihuni manusia walau untuk kesana jalannya jauh. Lalu di dalam hutan di kabupaten Merangin, Jambi yang jauhnya lumayan gawat dari kota kabupatennya, juga ada kampung yang dihuni manusia - yang hidupnya masih berdampingan ma harimau segala. Lalu di Putussibau, Kapuas Hulu - Kalimantan Barat juga ada kota kecil, dan kalau naik speedboat menuju desanya, Jongkong Kiri Hilir juga ada perkampungan.

Jalan-jalan ke Sungai Mekong, juga ada orangnya - orang Vietnam. Ke daerah sawit di semenanjung Malaysia juga ada orangnya.

Ini orang-orang, darimana sih datangnya? Gelo sugan? Katanya manusia homo sapiens kira-kira baru muncul 150.000 tahun lalu. Anggaplah kalo manusia umurnya pukul rata 50 tahun (walau orang jaman dulu matinya lebih cepat) maka saya hitung kira-kira ada 3000 generasi ampe sekarang. Anggaplah lebih pendek umurnya, 25 tahun lalu mati, maka berarti ada 6000 generasi ampe sekarang.

Wuaduh, beranak pinak 6000 turunan, lalu penuhlah isi dunia ini sekarang. Dipikir-pikir cepat sekali ya - dan sepertinya akan tetap bertambah beberapa saat lagi.

Ibu-ibu beli sayur di Kampung Parigi, Halimun - Jawa Barat
Saya sebenarnya agak ngeri melihat perkembangan ini. Sebab manusia butuh makan, dan akan membuka lahan, berburu untuk itu. Jadi rasanya alam akan semakin cepat habis - tidak bisa dicegah.

Manusia mungkin kalau dilihat dari kacamata alien seperti rayap ya? Melahap habis sumberdaya, walau ada moto saat ini: pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan - sesuai kerjaan saya di LSM lingkungan - namun sampai tahap apa bisa berkesinambungan kalau manusia terus bertambah dan bertambah ya?

Sedikit harapan: Belanda angka kelahirannya terus menurun, dan saat ini populasinya menyusut. Cina juga, akibat kebijakan 1 anak (orang Cina di dunia banyak banget - termasuk saya keturunan Cina). Lalu negara Eropa yang maju juga biasanya angka kelahirannya kecil, jadi dunia sepertinya sudah agak sadar untuk mulai menurunkan populasi karena kalau tidak sumber daya tidak akan mampu menopang penghidupan.

Lalu skenario berikutnya apa ya? Mencapai balance, lalu kurva akan menurun dan stabil? Atau kemudian Belanda dipenuhi orang India (asumsi negara yang penduduknya banyak banget en semua masih pengen punya banyak anak) lalu Belanda diambil alih orang India? Atau kemudian Belanda penduduknya (yang smart dan bijaksana karena berpandangan ke depan) akan banyak yang menikah dengan orang India (yang kurang tanggung jawab krn mbrojol terus, oportunis dan smart juga karena terus menerus beranak) dan menghasilkan turunan subspesies baru penguasa yang smart, bijaksana tapi nehi-nehi suka dansa-dansi?

Well, sementara itu biarlah saya menikmati menit-menit saya di kota kecil Putussibau ini, yang ada di tengah-tengah Pulau Kalimantan, 1 hari perjalanan lagi (kalau diteruskan) akan menembus perbatasan Malaysia. Disini, di kamar saya ada TV - sayang channelnya cuma 1 dan dikuasai oleh yang pegang remote dari resepsionis. Sistemnya terpusat - jadi kalau si pak haji pengen nonton wrestling Jepang (ga tau ni channel apa) maka si Bu Lukmi yang di kamar sebelah pun terpaksa nonton banting-bantingan (yang menurut saya sih seru). Yah begitulah... namanya juga manusia. Nikmatin aja sebelum kiamat kena penyakit atau kena meteor dari angkasa.

Selasa, 24 Januari 2012

Gara-gara Ngopi

Secangkir kopi... apa ya artinya?

Dulu saya bukanlah termasuk penggemar kopi. Saya masukkan kategori itu karena yang saya lakukan adalah hanya mencuri minum kopi dari gelas kecil kakak saya di rumah. Seteguk saja cukup, dan biasanya karena hanya seteguk, rasanya yang enak itu biasanya membekas selama 1 menit lebih lama dibanding kalau saya bikin sendiri. Saya minum seteguk, juga karena biasanya saya lakukan itu di hadapan kakak saya- yang lalu biasanya marah dan nakol kepala saya, atau meludahi gelas kopinya kalau saya bersiap-siap untuk minum untuk tegukan kedua.

Lalu ada masa-masa dimana saya kerja. Minum kopi sachetan sebab malas masak air, mencampur gula dan kopi. Kopi sachetan cuma cukup buat cangkir kecil. Jadi agar lebih banyak saya tambah gula dan air panasnya. Supaya kenikmatannya lebih lama.

Lalu tiba juga masa dimana saya pergi ke perkebunan kopi di nun jauh di Lampung. Bersama orang-orang Jawa transmigran, saya memetik buah kopi yang merah dan hijau - dipetik bersamaan karena kalau tidak akan sayang terbuang, karena panen adalah bersamaan bukan satu pohon merah satu persatu. Disini saya melihat kenyataan, harga tinggi di pasar tidak berarti si petani bisa kaya. Disini 1 kg kopi kering dihargai Rp 7500 sampai Rp 12.500 (terakhir, yang dibeli Nestle, dengan kadar air 12%). Bandingkan dengan yang sudah jadi biji dioven, seharga minimal Rp 40.000 di pasar. Sebagian jiwa pengusaha saya ingin dapat keuntungan sebesar-besarnya mengetahui ini dan sebagian jiwa saya juga ingin agar petani ini dikasihani, cuma saya juga melihat bahwa jaringan yang sudah terbentuk tidak mudah diputus. Para petani bahkan sudah berhutang jauh sebelum panen sehingga hasilnya kurang lebih akan dijual ke pemberi hutang. Darimana saya punya uang untuk menghutangi petani itu... kedua adalah saya melihat sendiri betapa sulitnya merubah kebiasaan petani yang untuk beli rokok punya uang, sedang untuk beli susu anak uangnya dipegang rapat di kantung celana. Salah-salah saya ngemodal, atau terjun ke masyarakat bisa-bisa saya yang minta dikasihani (mokal kata anak gaul mah).

Kebon kopi di pagi hariiiii
Namanya juga cuma menulis, lebih mudah berbeda dengan beraksi. Maka saya mencita-citakan bahwa semoga suatu waktu saya bisa memulai dengan modal yang lumayan, untuk sekalian mendapatkan uang dari berdagang kopi, sementara si petani mulai jadi lebih sejahtera serta berubah tabiatnya dari tukang hisap rokok menjadi lebih care ke masa depan keluarganya.

Yah sementara kita bayangkan dulu saja sambil minum air teh... sebab kemarin-kemarin saya kebanyakan minum kopi: kopi liong, kopi sidikalang, kopi ganja aceh, kopi jambi, kopi aroma... jadi saya agak kembung dan suka tidur jam 2 pagi. Cuma maaf, ini pengakuan sejati saya - mencuri minum kopi dari gelas orang kenapa tetap terasa lebih nikmat ya?

Kamis, 28 Juli 2011

Kawat Tipis

Kalo kata saya, hidup itu ibarat kawat tipis...

Pernah ga kamu ngebengkokin kawat tipis, dengan memuntirnya, atau menekuknya - dan lihat hasil bengkokannya? Jadi tidak lurus, berbentuk agak patah-patah, dan walau coba diluruskan lagi kawatnya tetap saja sudah tidak berbentuk lurus sempurna, selalu saja ada bekas lekukan-lekukan, ga kaya kalau kita beli di toko buku.

Di kehidupan selalu ada persimpangan-persimpangan penting dimana kita harus memilih, A, B, atau C... dan lain-lain. Misal saja, memutuskan menikah dengan siapa, mengambil universitas apa, memilih marah atau diam saat berkonflik dengan teman, berhenti bekerja atau tetap stay dengan kondisi yang buruk di kantor. Itulah bengkokan-bengkokan, simpangan-simpangan dalam hidup kita.

Hidup memang seperti kawat. Jalan kita tidak lurus, dan memilih alternatif itu seperti membengkokkan kawat. Kadang kita tidak puas (atau puas) melihat kemana arah kita menuju, tapi yang jelas tidak ada hidup yang lurus karena selalu ada belokan dimana-mana - dibuat oleh kita sendiri dengan "hak bebas" kita untuk memilih, atau karena keadaan memaksa kita - dimana "hak bebas" kita tidak terlalu penting lagi.

Meluruskan dengan paksa sebuah kawat yang berbengkok-bengkok bisa mengakibatkan kawat tersebut patah. Mungkin yang bisa kita lakukan hanyalah membentuknya menjadi bunga-bungaan, menjadi bentuk-bentuk lain yang menarik, kincir angin, mobil, ikan...

Yah begitulah... lebih baik menjadi ikan daripada berusaha jadi lurus tapi ga karuan.

Kamis, 14 Juli 2011

Bohlam Phillip

Apa iya sebagian manusia sudah dikondisikan suram secara otomatis?

Ini pertanyaan benar, dan sesadar-sadarnya, sebelum saya pergi ke India minggu depan, dengan menggunakan uang saku yang kalau bisa tidak keluar lebih dari 3 juta untuk 2 minggu.

Kalau saya melihat sekeliling saya, banyak sekali manusia yang sudah merasa mentok hidupnya. Mau berprestasi tidak bisa, mau jadi orangtua yang baik tidak bisa, mau menjadi anak yang baik tidak bisa, mau kaya tidak bisa, mau jadi teman yang baik tidak bisa, mau makan enak tidak bisa. Dan bukan karena orangnya tidak mau, namun kalau dilihat halangannya rada banyak coy, kalau tidak bisa dibilang sejublek, sehingga probabilitas dia OK kecil atau sangat kecil.

Nah kita ngomong lagi deh soal "kehendak bebas" yang dulu, yang tidak begitu saya akui prinsipnya (karena kebetulan biasanya selalu dicetuskan oleh yang sudah tercerahkan, yang mapan, bonafid, positif).

Kebetulan saya dilahirkan dengan gen yang berhubungan dengan sifat keingintahuan, penasaran, rela berkorban, agak heroik, agak kejam, agak pinter, cina, suka menolong yang besar. Lah iya, kalo engga saya tidak akan berangkat ke India untuk jadi fakir . Mungkin kalo gen nya lain saya dari awal aja sudah ogah mikir jalan-jalan sengsara ke India, kaga ada rencana, kena diare, nginjek tai sapi. Paling saya karena dilahirkan tenang, berwibawa, pinter, ga ngambil resiko, saya saat ini sedang duduk di kantor menyelesaikan laporan akuntansi.

Itu kalau nasib saya baik. Kalau tidak baik saya akan jadi pegawai kantor pos, gaji 1 juta 200 ribu, tinggal di gang sempit, punya istri 1, anak 2 - menunggu anak ketiga, makan malam dengan indomie hari ini, istri tidak kerja dan ada hutang di bank 2 juta buat masukin anak ke sekolah.

Lalu bisa jadi kalau sifat agresifnya nempel ma saya, maka saya lagi frustasi sekarang, sudah 10 tahun ga naik jabatan, tahun lalu gaji naik 50 ribu. Sudah kursus Inggris di LIA (yang notabene ngabisin gaji saya dan sampai ngutang ke saudara) tapi pas buat ngelamar kemana-mana tetep ga laku soalnya saya kalah saingan. Kalo sifat rendah diri yang nempel ma saya (cuma tetap agresif) maka saat ini saya lagi merencanakan pembunuhan terhadap si bos yang suka perlakuin saya kaya sampah, nyuruh-nyuruh en membentak-bentak (tapi rencananya cuma disimpen di hati sampai lupa aja walau mendongkol tiap hari).

Lalu memang sial ya... ada memang keadaan yang buat berubah itu sulitnya minta ampun - walau bisa aja orang bilang "wah elo kan walau keadaan gitu ada kesempatan bro?" nah itu orang kebetulan melihat keadaan kita dengan gen yang nempel di badan dia.

Yah namanya juga dunia yang kata Anthony de Mello (sang tercerahkan) - sempurna apa adanya dengan segala ketidaksempurnaan di dalamnya. Terus terang (terang terus, sambung lampu Phillip) saya sih masih mencari wahai guru yang tercerahkan, kebetulan saya ada modal gen nekat sedikit jadi bisa dipakai untuk mengelana di dunia yang sering suram ini.

Anyway saya janjilah, kalau saya tercerahkan saya akan bantu manusia lain agar tercerahkan (btw kalau semua orang di dunia tercerahkan, so gimana keadaanya nanti ya - punah juga kali ni umat manusia?).

Catatan editan: saya ga jadi ke India neh ternyata... huhuhuhu...