Maaf teman2... saya mengakhiri masa lajang saya neh hihihi...
Kamis, 21 Maret 2013
Rabu, 30 Januari 2013
Kebencian Menghancurkan, CInta Kasih Menyembuhkan
Saya mau cerita tentang Bindy, anjing kecil imut yang lincah sekali. Lovely kata orang-orang, itu sewaktu mereka melihat Bindy pertama kali, dan Bindy tinggal bersama kami selama satu tahun.
Bindy datang sewaktu saya tidak ada di rumah, sebab dengan keinginan yang begitu besar orang-orang di rumah tidak bisa menolak kehadiran seekor anjing yang lucu, walau sudah ada seekor anjing besar di rumah, Browny.
Bindy anjing yang ramah, dan tidak bisa diam. Kalau ia lari, maka terlihat seperti melesat -sebab ia kecil, dan dengan bulu berwarna kecoklatan ia tampak seperti kilat berwarna kecoklatan. Kakinya kecil kalau menurut saya. Saya sering berusaha melipat kaki-kakinya saat ia tidur di ubin, di serambi rumah.
Tidak lama setelah kedatangannya, kemanjaannya yang begitu besar yang tadinya menarik perhatian sayang, mulai menarik jenis perhatian lainnya. Tidak seperti Browny atau anjing-anjing lain, Bindy tidak bisa ditinggal sendirian. Ia seringkali mendengking, mencakar-cakar pintu, menggonggong apabila ditinggalkan - terutama apabila si Browny, misalnya melarikan diri (lewat pagar misalnya). Seringkali juga hal ini terjadi malam hari dan pagi hari - gonggongan anjing kepada orang yang lewat malam hari, usahanya untuk melarikan diri lewat celah di pagar - sambil merusak plastik fiber dan seng, serta garukannya di pintu membuat seisi rumah terganggu.
Ruang gerak yang kecil membuat Bindy menderita, dan seperti jenis anjing kecil lainnya - anjing ini lebih cerewet dalam berkomunikasi. Mungkin karena sudah terpaku dalam genetik beberapa jenis anjing kecil.
Dari kata-kata lovely, imut dan lucu perlahan-lahan kata-kata itu berubah menjadi menyebalkan, cari perhatian, tidak bisa diam, dan hal-hal lain yang menegaskan ia mulai dibenci.
Tidak ada kata membuang dari saya, walaupun dari akibat yang ditimbulkan kami mulai berpikir untuk menyerahkan kembali Bindy ke si empunya pertamanya. Pasangan saya sudah melakukan telpon beberapa kali, namun seperti kita tahu - jarang orang mau menerima anjing yang sudah lama diberikan kepada orang lain, karena mereka pasti berpikir tentang kerepotannya, dan tentu saja tidak ada kedekatan emosi dengan ajing tersebut.
Lalu Bindy mulai dirantai. Siang sampai pagi lagi, ia tetap dirantai. Lantai yang sudah disemenpun jadi kotor, akibat ia buang air sembarangan. Tentu saja akan selalu sembarangan karena ia sudah diikat, dibatasi ruang geraknya.
Bindy menjadi semakin "nakal" karena mencari kesempatan untuk keluar pagar. Bahkan dengan rantai terikat di lehernya, dan semua orang menjadi semakin jengah dengan kelincahannya. Akibatnya, tanpa kesalahan ia bisa dihukum... seperti dengan sodokan sapu pel akibat tiduran di ubin yang akan dipel atau akibat bulu-buluan yang rontok dan membuat kotor halaman.
Saya bisa menyimpulkan bahwa apapun yang kita tidak sukai, ikat dengan ketat, akan patah di kemudian hari. Bindy adalah salah satunya.
Kami menemukan ia, suatu hari kaku tergantung di pagar akibat terbelit rantainya sendiri. Saat serambi dibersihkan dan dipel, kami lupa memindahkan rantai ikatnya ke posisi dimana ia tidak dapat meloloskan diri lewat pagar. Saya pikir beberapa orang tetangga mendengar dengkingannya, namun karena "terbiasa" maka tidak ada yang menganggapnya secara serius walau beberapa kali kami mendapatkan Bindy terbelit oleh rantainya sendiri, dan beberapa tetangga menolong Bindy dari belitan rantai.
Saat kita tidak menyukai seseorang, maka kita tidak berusaha untuk mengamankannya, memperhatikan kebutuhan-kebutuhannya, dan menganggap bahwa yang ia lakukan selalu salah, walau mungkin kesalahan kita sendirilah yang menyebabkan itu terjadi.
Belum saatnya kami menerima Bindy di rumah kami, dan Tuhan sudah mengambilnya kembali karena kami tidak mampu dan tidak bisa menerima tanggung jawab itu.
Bindy sering kabur karena tidak betah di halaman rumah kami yang kecil. Ia mendengking-dengking karena ingin selalu dekat dan disayang oleh kami (sama seperti kerinduan yang selalu ia tunjukkan dengan melonjak-lonjak kegirangan saat kami tiba di rumah) - hal ini tidak bisa kami penuhi.
Bindy buang air sembarangan, karena kami mengikatnya, karena kami tidak mampu menyediakan halaman besar untuk berlari-lari dengan pagar yang aman. Bindy menggigit sandal untuk melatih gigi-giginya, sama seperti yang umum dilakukan seekor anjing di alamnya.
Kembali lagi, bahwa apapun yang kita benci akan membuatnya lebih dekat pada rasa sakit, kematian, kecelakaan dan lain-lain.
Semestinya saya belajar lebih jauh tentang cinta kasih dan betapa kita harus bertanggung jawab serta berlogika dalam melakukan sesuatu. Tetapi dia antara semuanya cinta kasihlah yang terpenting, dan menghindarkan apapun dari kecelakaan dan kesakitan. Cinta kasih menyembuhkan, menyegarkan dan memberi pengharapan.
Selamat jalan Bindy, we love u always. GBU.
Bindy datang sewaktu saya tidak ada di rumah, sebab dengan keinginan yang begitu besar orang-orang di rumah tidak bisa menolak kehadiran seekor anjing yang lucu, walau sudah ada seekor anjing besar di rumah, Browny.
Bindy anjing yang ramah, dan tidak bisa diam. Kalau ia lari, maka terlihat seperti melesat -sebab ia kecil, dan dengan bulu berwarna kecoklatan ia tampak seperti kilat berwarna kecoklatan. Kakinya kecil kalau menurut saya. Saya sering berusaha melipat kaki-kakinya saat ia tidur di ubin, di serambi rumah.
Tidak lama setelah kedatangannya, kemanjaannya yang begitu besar yang tadinya menarik perhatian sayang, mulai menarik jenis perhatian lainnya. Tidak seperti Browny atau anjing-anjing lain, Bindy tidak bisa ditinggal sendirian. Ia seringkali mendengking, mencakar-cakar pintu, menggonggong apabila ditinggalkan - terutama apabila si Browny, misalnya melarikan diri (lewat pagar misalnya). Seringkali juga hal ini terjadi malam hari dan pagi hari - gonggongan anjing kepada orang yang lewat malam hari, usahanya untuk melarikan diri lewat celah di pagar - sambil merusak plastik fiber dan seng, serta garukannya di pintu membuat seisi rumah terganggu.
Ruang gerak yang kecil membuat Bindy menderita, dan seperti jenis anjing kecil lainnya - anjing ini lebih cerewet dalam berkomunikasi. Mungkin karena sudah terpaku dalam genetik beberapa jenis anjing kecil.
Dari kata-kata lovely, imut dan lucu perlahan-lahan kata-kata itu berubah menjadi menyebalkan, cari perhatian, tidak bisa diam, dan hal-hal lain yang menegaskan ia mulai dibenci.
Tidak ada kata membuang dari saya, walaupun dari akibat yang ditimbulkan kami mulai berpikir untuk menyerahkan kembali Bindy ke si empunya pertamanya. Pasangan saya sudah melakukan telpon beberapa kali, namun seperti kita tahu - jarang orang mau menerima anjing yang sudah lama diberikan kepada orang lain, karena mereka pasti berpikir tentang kerepotannya, dan tentu saja tidak ada kedekatan emosi dengan ajing tersebut.
Lalu Bindy mulai dirantai. Siang sampai pagi lagi, ia tetap dirantai. Lantai yang sudah disemenpun jadi kotor, akibat ia buang air sembarangan. Tentu saja akan selalu sembarangan karena ia sudah diikat, dibatasi ruang geraknya.
Bindy menjadi semakin "nakal" karena mencari kesempatan untuk keluar pagar. Bahkan dengan rantai terikat di lehernya, dan semua orang menjadi semakin jengah dengan kelincahannya. Akibatnya, tanpa kesalahan ia bisa dihukum... seperti dengan sodokan sapu pel akibat tiduran di ubin yang akan dipel atau akibat bulu-buluan yang rontok dan membuat kotor halaman.
Saya bisa menyimpulkan bahwa apapun yang kita tidak sukai, ikat dengan ketat, akan patah di kemudian hari. Bindy adalah salah satunya.
Kami menemukan ia, suatu hari kaku tergantung di pagar akibat terbelit rantainya sendiri. Saat serambi dibersihkan dan dipel, kami lupa memindahkan rantai ikatnya ke posisi dimana ia tidak dapat meloloskan diri lewat pagar. Saya pikir beberapa orang tetangga mendengar dengkingannya, namun karena "terbiasa" maka tidak ada yang menganggapnya secara serius walau beberapa kali kami mendapatkan Bindy terbelit oleh rantainya sendiri, dan beberapa tetangga menolong Bindy dari belitan rantai.
Saat kita tidak menyukai seseorang, maka kita tidak berusaha untuk mengamankannya, memperhatikan kebutuhan-kebutuhannya, dan menganggap bahwa yang ia lakukan selalu salah, walau mungkin kesalahan kita sendirilah yang menyebabkan itu terjadi.
Belum saatnya kami menerima Bindy di rumah kami, dan Tuhan sudah mengambilnya kembali karena kami tidak mampu dan tidak bisa menerima tanggung jawab itu.
Bindy sering kabur karena tidak betah di halaman rumah kami yang kecil. Ia mendengking-dengking karena ingin selalu dekat dan disayang oleh kami (sama seperti kerinduan yang selalu ia tunjukkan dengan melonjak-lonjak kegirangan saat kami tiba di rumah) - hal ini tidak bisa kami penuhi.
Bindy buang air sembarangan, karena kami mengikatnya, karena kami tidak mampu menyediakan halaman besar untuk berlari-lari dengan pagar yang aman. Bindy menggigit sandal untuk melatih gigi-giginya, sama seperti yang umum dilakukan seekor anjing di alamnya.
Kembali lagi, bahwa apapun yang kita benci akan membuatnya lebih dekat pada rasa sakit, kematian, kecelakaan dan lain-lain.
Semestinya saya belajar lebih jauh tentang cinta kasih dan betapa kita harus bertanggung jawab serta berlogika dalam melakukan sesuatu. Tetapi dia antara semuanya cinta kasihlah yang terpenting, dan menghindarkan apapun dari kecelakaan dan kesakitan. Cinta kasih menyembuhkan, menyegarkan dan memberi pengharapan.
Selamat jalan Bindy, we love u always. GBU.
Selasa, 30 Oktober 2012
Tiang Keramat Penangkap Sinyal
Selama saya
melakukan tugas kerja, di antaranya mengunjungi desa-desa yang terletak di
pedalaman, seperti di Kalimantan Barat, Jambi sampai Lombok, sering saya
menemukan hal-hal unik yang belum bisa dijelaskan secara tepat mengenai gejala
ini, sehubungan dengan sinyal HP.
Contohnya di Desa
Durian Rambun ini. Terletak di dalam hutan di Jambi, desa kecil imut (karena
cuma 80 KK) ini sinyal HP sangat sulit didapat. Sehubung sinyal sulit dicari
maka apabila ada spot dimana HP dapat sinyal maka berbondong-bondonglah HP
dijejerkan di spot tersebut (seperti pada pertemuan yang kami ikuti), atau biasanya orang rela untuk jalan keluar rumah minimal untuk sampai ke spot tersebut.
Nah bicara
mengenai spot istimewa tersebut, salah satunya adalah tiang di balai adat.
Tiang kayu setinggi kira-kira 3 meter tersebut kami percaya ampuh dalam menarik
sinyal HP. Kalau kita letakkan HP tersebut selama kira-kira 30 detik maka
kemudian munculah garis sinyal. Walau cuma 1 strip tapi cukup untuk kirim dan
terima pesan.
Kadang memang
penunggu batang kayu tersebut pergi jadi pesan harus menunggu sampai si
penunggu kembali ke batang, dan masuklah pesan sms ke HP kami.
Kalau di Desa
Laman Satong, di Kalimantan Barat lain lagi ceritanya. Sinyal HP bisa kami
dapatkan di rumah Bang Dogol, di bawah pohon cemara satu-satunya di halamannya.
Di lain tempat sulit sekali.
Jadi bagaimana kalau
diulas dari teori gelombang elektromagnetik?
- Apakah
kebetulan posisi-posisi tersebut adalah saat seperti point yang tersentuh oleh
turun naiknya gelombang elektromagnetik pada frekuensi tertentu?
- Atau karena
beberapa benda memang memiliki energi tertentu yang menguatkan sinyal
elektromagnetik lain?
Nah, PR deh buat
yang mau ambil S1 elektronik, karena bisa jadi nantinya daripada bangun tower,
maka saya usulkan agar perusahaan telekomunikasi tinggal menanam pohon-pohon
jenis tertentu di kampung saja sebagai penguat sinyal. Sementara ini, biarlah
kami berbekal selotip saja , untuk menempelkan HP kami di tiang keramat.
Hari Minggu di Desa Tanjung Dalam
Hari Minggu ini
diawali dengan bunyi mesin generator listrik, maklum saya di Desa Tanjung Dalam, Jambi
dan di sini kalau siang sengaja listrik dimatikan untuk berhemat karena desa
ini menggunakan tenaga listrik dari aliran sungai – mesin mikro hidro, untuk
menerangi rumah (agak penting), mengisi batere handphone (penting) sampai
menonton televisi (ini penting juga).
Anak-anak sedang
berlibur, seperti saya bilang karena ini hari Minggu. Sayalah yang mesti
mengulang-ulang kalau ini hari Minggu sebab sehubung sedang bekerja dan sudah
hampir sebulan mondar-mandir ke daerah maka orientasi waktu saya menjadi kacau, tidak terbatas oleh kerja Senin- Jumat, dan saya rasa nikmat juga bekerja
seperti ini sebab keteraturan kadang mengkhawatirkan juga.
![]() |
| Kalau ini sehabis pulang sekolah, sayang foto yg hari Minggu saya ga punya |
Yang unik dari
anak-anak ini adalah di hari Minggu seperti ini semua berpakaian bagus. Ada yg
model gulung-gulung roknya, model baju putri, celana jeans berikut topi,
lengkap dengan bedak tebal. Kalau hari biasa, biasanya cukup memakai singlet,
serta celana pendek yang sudah cemong dengan tanah. Saya agak senang juga
menemukan fakta ini sebab berarti ada sesuatu yang bisa dianalisis (hehehe)...
Ini cukup unik
bagi saya sebab disini jauh dari mall dan pasar. Untuk menuju kota Bangko, kota
kabupaten dibutuhkan waktu sekitar 3 jam.
menembus hutan serta bukit (dengan jalanan berbatu yang terjalnya minta
ampun, kalau tidak biasa bisa nangis darah (beneran) sebab mata kecolok kayu
setelah ngegeleser jatuh dari tanjakan).
Artinya anak-anak
ini (atau orang tuanya) bergembira dan menikmati hari libur di desanya dengan
cara berpakaian bagus dan berdandan, santai gembira dan show sepanjang jalan
desa, Yang remaja-remaji rambutnya wangi setelah shampoan di sungai, cantik dan
rupawan. Ngumpul bareng sesamanya sambil ngobrol ngalor ngidul. Cukup di ruang
tamu, bukan di pinggir jalan atau cafe.
Yah begitulah,
semua orang punya cara untuk menghibur dirinya masing-masing... mengkompensasi
dirinya setelah hari-hari lelah belajar atau bekerja. Sifat alami manusia yang
dipadu dengan tanggalan Romawi. Sunday, hari yang bersinar-sinar, memanjakan
diri di bawah sinar matahari (lah kok jadi keinget sama bule yang ngejemur di
pantai yah saya sekarang?)
22 Juni 2012
Dear
friend... mungkin suatu saat tulisan ini bisa mengingatkanmu kembali bahwa
pernah ada suatu masa, suatu saat dimana kamu agak desperate... tidak punya
uang, ingin sekolah S2 tapi tidak mampu bayar test IELTS untuk prasyarat, punya
pacar cantik yang tidak mampu kamu traktir makan mewah, serta punya motor yang
tidak mampu kamu servis rutin sebab masalahnya sama – agakj ga punya duiiittt!
(Sori,
pengen nulis benar-benar desperate – cuma akan melemahkan arti kata
“benar-benar” – so mari kita pergunakan kata “agak” saja ya kali ini – walau
bisa juga digolongkan bahwa agak ini cenderung ke arah cukup terasa
desperatenya sampai ke bau keringat).
Kamu
harus ingat, pernah bersama-sama pacarmu yang cantik itu naik bis ke Jakarta,
pergi ke konsultan pendidikan di daerah Slipi untuk bertanya-tanya bagaimana
mengorbankan diri agar bisa menyelundup ke New Zealand dengan dalih kuliah –
agar bisa jadi koki setelah lulus. Itupun tidak mampu karena kamu tidak punya
uang 56 juta, plus biaya hidup satu tahun
untuk jaminan.
(Sebab
walaupun ada tabungan sekitar 50 juta, namun tidak berani bunuh diri di NZ,
karena baca komen kaskuser kelompok Indonesia di NZ yang menyatakan hati-hati
kena deportasi – serta laporan orang Indonesia nekat di Auckland yang duitnya
tinggal buat 1 minggu lagi setelah nekat masuk cari kerja lewat visa turis, dan
terakhir nasehat dari yayang kalau masuk dengan modal segini sama artinya
dengan bodoh dan tidak peduli dia dan keluarganya).
Atau
pernah juga kamu pergi sendirian dengan ragu ke kedutaan-kedutaan asing, demi
mendapatkan secercah harapan akan informasi beasiswa. Sepanjang jalan peluh
bercucuran karena menghemat uang ojek dan taksi di Kuningan, dan berteduh di
counter ATM BCA sekedar memeriksa uang dan mendinginkan muka – mengharapkan
baju agak kering agar tidak malu saat disapa gadis Finlandia yang kau jawab
hanya yes – thank you, saat ia memberikan penjelasan mengenai sekolah di
rumahnya.
(Gadis
Finland nya cukup cantik dan ramah serta masih muda, sayang tidak bisa
memberikan informasi beasiswa – tapi cukup memberikan semangat bahwa masih ada
yang care sama makhluk aneh dan norak ini).
Pameran-pameran
pendidikan kamu hadiri, bertekad kalau saja ada secercah harapan untuk pemuda
miskin seperti kamu yang tidak berprestasi secara IP. Pulpen-pulpen gratis kamu
ambil dari meja panitia, menghibur diri kalau minimal inilah hasil real yang
bisa dibawa pulang – bahwa akhirnya di kantor tidak akan kehabisan pulpen lagi
sementara waktu. (Sedih
kalau IP cuma 2,70 karena tidak mengulang mata kuliah yang dapat D karena idealisme
kerja yang bilang “kalau kerja yang dilihat adalah semangat dan hasilnya, bukan
IP” yang menyebabkan saya banyak gagal melamar pekerjaan di 2 tahun pertama
karena kalah saing dengan pemilik IP besar).
Yah,
suatu saat saat kamu sukses, ingatlah bahwa ini pernah terjadi. Dan kamu
terpaksa membungkus telur rebus sarapan pagi di hotel agar bisa dimakan malam
hari demi penghematan uang tak seberapa. Ya, mungkin nanti suatu waktu kamu
akan tertawa, tapi tidak sekarang.
Tentang Awah (lagi)
Tulisan ini saya buat setelah Lebaran 2012 lalu.
Lalu kenapa dia naek yang AC lagi ya dari Cawang ke Bogor? Yang ini saya ga habis pikir dan dengan upaya mandiri, belum berhasil menemukan jawabannya. Mungkin saya perlu bertanya lagi secara lebih detail kepada si Awah... kenapa sih udah kena denda kok bisa-bisanya mengulang kesalahan lain dan kena denda lagi... sebab secara logika saya tidak menemukan jawabannya.
Intinya kadang hidup bisa meleset dari logika yang kita pikirkan matang-matang.
Ini
tentang kisah tentang si Awah (lagi). Masih ingatkah kamu tentang pembantuku
ini yang agak malang namun baik hati dan tidak sombong ini? Please read my
previous story
Kisah
ini adalah kisah kebahagiaan si Awah yang bercampur dengan duka, di liburan
Lebaran 2012 ini. Rasanya si Awah rada seneng nerima bingkisan dari kami yang
super gede plus THR nya (kurang gede). Di dalam bingkisan itu kami masukkan:
minyak goreng 2 lt, gula 2 kg, biskuit 1 kaleng besar, permen-permen, 1 botol
sirup, teh 1 dus kecil, dll dll. Mungkin saya rasa cukup menghibur ya dan
rasanya sih masih kurang kalau dibanding ma jasanya membantu keluarga kami,
dari membersihkan rumah sampai menyetrika baju-baju kami sampai rapih.
THR
nya saya bilang kurang gede – yah soalnya gimana ya, keluarga kami memang
terbatas dalam memberikan gaji, dan akibat keterbatasan itu maka si Awah
bekerja ½ kali part time saja. Masuk jam 7 pulang jam 10 atau 11 kira-kira.
Berdasarkan asas etika maka saya tidak bisa menyebutkan gaji si Awah di tulisan
ini; tapi saya rasa cukup fair lah.
Nah
kisah ini terjadi, cerita si Awah saat ia bersama keluarganya hendak
bermain-main ke Jakarta. Biasa, mumpung Lebaran so si Awah yang orang Bogor ini
rupanya hendak bertamasya ke Jakarta. Saya tidak tahu kenapa tidak pergi ke
mertua atau saudara-saudaranya ya... mungkin sudah dilakukan pada liburan
beberapa hari sebelumnya karena sama-sama orang Bogor, dan kesempatan ini doi
mengajak keponakan-keponakannya untuk melancong ke Jakarta.
Bagi
sebagian orang mungkin sama sekali tidak istimewa untuk pergi ke Jakarta. Tapi
bagi Awah, pergi ke Jakarta adalah sesuatu yang spesial, ia mengatakan itu
kepada saya. Terakhir beliau pergi ke Jakarta adalah bertahun-tahun lalu (ia
tidak menyebutkan secara pasti tahunnya tapi saya asumsikan antara 5 sampai
belasan tahun lalu).
Memang
rumah si Awah tidak jauh dari rumah saya di Bogor Baru, masih wilayah kota.
Tapi percayalah, banyak orang yang jarang sekali pergi ke ibukota walaupun
sebenarnya cukup membayar Rp 2500 untuk naik kereta listrik, karena begitu
sibuknya mereka bekerja, mengurus keluarga, mengurus hidup masing-masing
sehingga tidak ada waktu untuk bersantai dan berekreasi. Lebaran biasanya
menjadi momen berbahagia bagi mereka karena kesempatan ini adalah waktu
berkumpul, membanggakan dan meninggikan diri dengan memberi angpau kepada
keponakan dan menjamu tamu dengan kue kering, bersilaturahmi dengan sanak
saudara yang datang dari jauh... intinya membahagiakan diri sendiri dan
keluarga. Sebuah kisah yang membahagiakan.
Untuk
membagi kebahagiaan ini, Awah pergi naik kereta bersama keponakan-keponakannya.
Saya rasa keponakan-keponakannya pun sama dengan si Awah yang naik jarang naik
kereta sebab dari cerita selanjutnya saya tahu kalau semuanya bingung kalau
naik kereta.
Dari
Bogor, mereka memilih kereta ekonomi, dengan tiket seharga Rp 2500. Murah
meriah dan full AC (Angin Cepoi-Cepoi). Nah sedihnya, ternyata mereka salah
memilih kereta. Yang dipilih adalah kereta Commuter dengan AC beneran yang
harga tiketnya adalah Rp 8.000 per orang. Mungkin Anda tidak percaya kalau ada
orang yang tidak engeh kalau salah naik kereta – wong jelas berbeda naik AC
dengan yang ekonomi – cuma kejadian ini terjadi dengan si Awah. Mungkin karena
terlena dengan sejuknya pendingin udara dan angin dari kipas angin, maka
kelompok ini tetap lanjut, dan berhenti di terminal Manggarai... lalu ditangkap
oleh petugas kereta api saat pemerikasaan.
Dasar
orang lugu ya? Kalau saya yang ditangkap jalan keluarnya mudah. Ya tambah aja
duitnya supaya sama dengan tiket AC, atau diturunkan di stasiun berikutnya –
sambil ngotot ga mau bayar denda. Kalau kita ngotot ga punya duit daripada
berantem petugas pasti milih alternatif kedua, kalau yang kesatu engga mempan.
Orang
lugu yang memang bersalah ini tidak terbiasa dengan sikap preman yang kadang
berhasil. Setelah diancam, si Awah dan rombongannya menyerah tanpa perlawanan.
Yah tau sendiri, gampang banget membuat orang lugu menyerah – dengan sedikit
ancaman, dan dengan menginformasikan undang-undang perkeretapian, digiringlah
si Awah dengan rombongannya ke pos petugas KA.
Si
Awah lalu menangis, sebab tentu saja merasa takut dan sedih liburannya yang
disusun terancam gagal. Si Awah juga menangis sebab tambah takut di pos petugas
KA didiamkan selama beberapa saat. Pressure by time dan main karakter kata saya
seh nih petugas...
“Saya
bayar deh Pak, berapa aja... yang penting saya jangan ditangkep.” Begitu kata
si Awah memelas (kayanya) kepada petugas KA di pos.
Saya
rasa petugas di pos senang sebab mangsanya yang lugu ini memang terlihat belum
berpengalaman soal dunia premanisme, dan lenyaplah Rp 50.000 dari saku si Awah
untuk menebus kesalahannya ngambil kereta yang salah.
Saya
ga tau cerita selanjutnya. Mungkin si Awah dan rombongannya main ke mall, ke
pasar, atau ke Monas ngeliat cobek ala Ir Sukarno soalnya ngedenger ia cerita
sambil rada tidur-tiduran pagi.
Yang
saya denger lagi adalah peristiwa saat ia mau pulang. Nah loh kok bisa, kena
denda lagi di Stasiun Bogor dan hilang Rp 50.000 lagi? Denger deh kata dia –
soalnya saya pikir kalau naek yang AC sama aja – AC nya juga ga ada – cuma pake
kipas angin, bener ga Neng? Jadi saya pilih yang ekonomi aja Rp 2500.
Lalu kenapa dia naek yang AC lagi ya dari Cawang ke Bogor? Yang ini saya ga habis pikir dan dengan upaya mandiri, belum berhasil menemukan jawabannya. Mungkin saya perlu bertanya lagi secara lebih detail kepada si Awah... kenapa sih udah kena denda kok bisa-bisanya mengulang kesalahan lain dan kena denda lagi... sebab secara logika saya tidak menemukan jawabannya.
Bisa
jadi saya akan menemukan jawaban yang sederhana dan jauh dari kerumitan
pemikiran saya.
Intinya kadang hidup bisa meleset dari logika yang kita pikirkan matang-matang.
Jadi,
sekarang saya sedang menunggu cerita besok pagi, minta penjelasan dari si Awah
kenapa dia bisa kena denda sampai 2x Rp 50.000. Bisa jadi malam ini saya tidur
kurang nyenyak sebab belum ketemu jawaban sederhana dari kelakuan si Awah ini.
Senin, 13 Agustus 2012
Hard Choice
Pernah nga, merasa di persimpangan jalan... tanpa tahu apakah harus mengambil jalan berikutnya ke kiri atau ke kanan karena so little clue?
Ini yang terjadi dengan hidup saya beberapa hari ini. Would I stay atau would I leave? Dan dua-duanya sama-sama tough question.
Apakah saya harus meninggalkan tempat dimana saya merasakan suka dan duka bersama-sama setelah lebih dari 5 tahun, atau pergi berlayar ke tempat asing untuk menemukan harapan-harapan di tanah baru?
Ini yang terjadi dengan hidup saya beberapa hari ini. Would I stay atau would I leave? Dan dua-duanya sama-sama tough question.
Apakah saya harus meninggalkan tempat dimana saya merasakan suka dan duka bersama-sama setelah lebih dari 5 tahun, atau pergi berlayar ke tempat asing untuk menemukan harapan-harapan di tanah baru?
Langganan:
Postingan (Atom)

