Di sudut sebuah gang di Jalan Asemka dekat Stasiun Kota Jakarta, di sebuah Kedai Mie terpasang sebuah pigura bertuliskan aksara Cina:
"Berbuat baik, rejeki belum datang tapi musibah sudah menjauh. Berbuat kejahatan, musibah belum datang tapi rejeki sudah menjauh."
Aduhhh aduuuhh merasuk sekali ungkapannya... :) buat orang-orang yang sering digolongkan "malang" dari sudut pandang pencari mamon sejati.
Soalnya saya juga nampaknya masuk dalam golongan ini.
Minggu, 15 April 2012
Senin, 09 April 2012
Renungan di Kolam Pak Haji
Kemarin, di hari Sabtu Suci - sehari sebelum Paskah saya mancing di kolam ikan milik Pak Haji di Parung. Kenapa dipanggil Pak Haji, karena dulu pemiliknya adalah Pak Haji Sesuatu. Walau sudah berganti pemilik tapi tetap bagi kami pemancingan besar itu dinamakan Kolam Pancing Pak Haji.
Kolam pancingnya besar... tidak seperti kolam pembesaran ikan yang ukurannya kecil-kecil agar makanan saat disebar tidak jatuh kemana-mana. Tidak kecil seperti kolam pemancingan yang sistemnya beli ikan per kg lalu dilepas agar bisa dipancing bersama-sama (diperlombakan dengan sumber daya ikan terbatas, ada yang rugi ada yang untung). Ini adalah kolam pemancingan dimana kalau kita dapat ikan lalu ditimbang dan dibeli, jadi sebenarnya seperti membeli ikan di pasar, hanya perlu dipancing terlebih dahulu.
Dengan sistem seperti ini, maka kolam bisa dibuat besar, luas - indah. Ikan tidak perlu banyak diberi makan karena yang memberi makan adalah para pemancing. Ikan cukup diberi makan dengan porsi sedang-sedang saja. Mungkin setahun sekali dua kali akan dipanen.
Memancing ikan menyenangkan, mengasah naluri purba, namun menimbulkan kesedihan, terutama saat melepas kail dari mulut-mulut ikan yang ditangkap.
Menurut teori, ikan mempunyai daya penyembuhan yang cukup baik terutama di bagian mulut. Entah itu dusta atau benar. Yang jelas saya tetap sedih saat membuka kail dari mulut sang ikan.
Jadi berpikir dan merenung, dengan keterbatasan pikiran... bertanya lagi, mengapa manusia perlu membunuh? Bukankah sebaiknya ia diciptakan minimal sebaiknya tidak perlu makan? Sehingga manusia juga tidak perlu membunuh?
Mengapa ia diciptakan membutuhkan protein? Mengapa ia diciptakan membutuhkan lemak? Bahkan ia perlu serat yang diambil dari tetumbuhan (well, maybe someday saat manusia begitu maju maka membunuh tetumbuhan juga akan digolongkan dalam tingkat baru pembunuhan).
Mengapa manusia harus membunuh ? Bahkan Yesus pun sepertinya makan ikan, roti dan minum anggur kalau dilihat di kitab suci. Apakah ini kutukan permanen dari yang mendesain di sana?
Kolam pancingnya besar... tidak seperti kolam pembesaran ikan yang ukurannya kecil-kecil agar makanan saat disebar tidak jatuh kemana-mana. Tidak kecil seperti kolam pemancingan yang sistemnya beli ikan per kg lalu dilepas agar bisa dipancing bersama-sama (diperlombakan dengan sumber daya ikan terbatas, ada yang rugi ada yang untung). Ini adalah kolam pemancingan dimana kalau kita dapat ikan lalu ditimbang dan dibeli, jadi sebenarnya seperti membeli ikan di pasar, hanya perlu dipancing terlebih dahulu.
Dengan sistem seperti ini, maka kolam bisa dibuat besar, luas - indah. Ikan tidak perlu banyak diberi makan karena yang memberi makan adalah para pemancing. Ikan cukup diberi makan dengan porsi sedang-sedang saja. Mungkin setahun sekali dua kali akan dipanen.
Memancing ikan menyenangkan, mengasah naluri purba, namun menimbulkan kesedihan, terutama saat melepas kail dari mulut-mulut ikan yang ditangkap.
Menurut teori, ikan mempunyai daya penyembuhan yang cukup baik terutama di bagian mulut. Entah itu dusta atau benar. Yang jelas saya tetap sedih saat membuka kail dari mulut sang ikan.
Jadi berpikir dan merenung, dengan keterbatasan pikiran... bertanya lagi, mengapa manusia perlu membunuh? Bukankah sebaiknya ia diciptakan minimal sebaiknya tidak perlu makan? Sehingga manusia juga tidak perlu membunuh?
Mengapa ia diciptakan membutuhkan protein? Mengapa ia diciptakan membutuhkan lemak? Bahkan ia perlu serat yang diambil dari tetumbuhan (well, maybe someday saat manusia begitu maju maka membunuh tetumbuhan juga akan digolongkan dalam tingkat baru pembunuhan).
Mengapa manusia harus membunuh ? Bahkan Yesus pun sepertinya makan ikan, roti dan minum anggur kalau dilihat di kitab suci. Apakah ini kutukan permanen dari yang mendesain di sana?
Kamis, 29 Maret 2012
Itung-itungan BBM Nenek Moyang
Ini Maret 2012, gonjang-ganjing, demo, debat mengenai haruskah harga BBM naik. Analisis Kwik Kian Gie, harga BBM tidak harus naik. Analisis ekonom pemerintah kekeuh bilang harus naik.
Saya pengikut Pak Kwik, bukan karena sama-sama Cina, melainkan karena logika. Walau saya tahu kemarukan kelompok yang menguasai pemerintahan melakukan logikanya sendiri. Ngebodo-bodoin orang sampe kirim-kirim pesan melalui BBM, mencoba meyakinkan orang agar mendukung kenaikan harga BBM.
Mengapa saya menentang harga minyak naik? Saya mencoba menyarikannya dari persepsi saya yang sederhana.
Data yang ingin DIBANTAH:
1). Harga BBM harus naik, karena harga minyak dunia tinggi. Sehingga subsidi dari APBN naik, membuat APBN jebol
2). Harga BBM harus naik, karena harga BBM di negeri tetangga lebih mahal dibanding Indonesia.
Premis:
1). Negara Indonesia adalah negara besar penghasil minyak mentah.
2). Untuk mengolah minyak mentah, ada pabrik pengolahannya. Indonesia punya, tapi tidak mampu mengolah seluruh minyak mentah yang dihasilkan. Indonesia mengirimkannya ke negara lain agar diolah.
3). Konsumsi BBM (minyak yang sudah diolah) Indonesia saat ini lebih tinggi dibandingkan produksinya. So Indonesia mengimpor minyak mentah/bentuk olahannya (tergantung strategi yang mau dipilih).
Pengembangannya (kudu baca urutan):
1). Produsen yang menghasilkan barang dapat menentukan harga barang jualannya sendiri. Ia mengetahui ongkos produksi dasar yang dikeluarkan.
Semisal kamu menjual kopi, kamu tahu berapa harga pupuk yang dipakai, tenaga kerja, transport mengangkut dari kebun ke rumah, harga karung pengangkut, insektisida dan lain-lain. Dihitung. Lalu kamu pasti tahu berapa ongkos produksi dan harga jual dasar kopi mentah yang sesuai.
2). Kalau mau diolah. produsen juga tahu harga pengolahannya. Dan harga pengolahan cenderung tetap, atau berfluktuasi kecil saja.
Kopi itu akan dibawa ke pabrik diolah jadi bubuk kopi. Produsen akan diberi tahu dulu oleh pemilik pabrik kopi, berapa biaya pengeringan, pembuangan kulit, roasting (dipanggang) sampai dikemas (kalau mau sampai dikemas oleh si pemilik pabrik dengan plastik berlogo).
3). Maka produsen mengetahui harga akhir barang olahannya. Harga ini jelas-jelas-real-nyata. Kalau produsen mau untung menjual maka ia bisa menaikkan harga jual diatas harga produksi.
3). Kalau misal pengkonsumsi sangat banyak, sehingga barang olahan habis dan perlu tambahan maka produsen bisa membeli dari produsen lainnya (baik produk mentah lalu diolah di pabrik, atau dalam bentuk jadi).
Untuk kasus minyak, minyak mentah bisa dibeli oleh BUMN lalu diolah, atau memberi produk olahan yang sudah jadi.
Nah cuy, kalau kita ngebor minyak sendiri, lalu ngolah semuanya di Singapura (case kita males ngolahnya), kita (Indonesia) masih menentukan harga jual minyak olahan dengan semua variabel ongkos produksi yang diketahui. So harganya benar-benar kita ketahui sendiri, kita tentukan sendiri, kita pegang sendiri. Yang kita harus nego adalah harga minyak yang tidak kita produksi sendiri.
Ilustrasi Gampang Lain (cuma sekedar ilustrasi ya):
Harga produksi minyak Rp 2000 / lt
Harga mengolahnya jadi bensin, biaya transport dll Rp 500 / lt
Maka harga basic bensin Rp 2500 / lt. Kalau jual diatas itu untung, misal Rp 4000 / lt maka untung Rp 1500/ lt
Nah ada lagi kebegoan luar biasa dari ekonom rakus. Katanya kita ngikutin harga minyak di dunia, dari New York – NYMEX.
Saya tanya: siapa yang suruh ngikutin HARGA SONOOO !
Nah elo produksi sendiri, ngolah bolehlah ma orang laen (tapi lu tau ongkosnya) so lu juga lah yang nentuin harga jualnya sendiri? Masa ditentuin ma orang laen – emang dia siapa elo?
Yang perlu ngikutin harga minyak dunia barangkali adalah minyak yang tidak berasal dari bumi Indonesia. Itupun elo masih bisa nego ma negara tetangga toh cari yang murah (baik minyak mentah atau olahan)? Soalnya yg dijadikan patokan adalah harga minyak mentah kan? Ga semua harga BBM (olahan) di Dunia sama toh per liternya?
Logika ya, ilustrasi ke-2 sekarang soal subsidi:
Pisang lu ambil di kebon. Lu hargain Rp 2000 (lu dah itung pupuk, ongkos bawa, dll). Terus digorengin ma emak elo, nambah ongkos minyak ma ongkos emak lo goreng Rp 500.
Kalo lu jual Rp 4500 boleh ga? Boleh lah... wong pisang elo? Lu untung Rp 2000 kan luamayan banget?
Kalo lu jual Rp 6000 boleh ga? Boleh juga cuman kok jadi kemahalan ya? Untunglu gede pisan cuy!
Yang lebih parah tentang subsidi, adalah kalo mentang-mentang si Ujang di kampung sebelah jual Rp 6000 lu tetep kepengen jual segitu juga (walau rakyatlu dah tereak-tereak kemahalan, ga mampu beli) dan tau ga apa: elo minta duit ke emaklu supaya emaklu nalangin Rp 6000 (harga jual si Ujang di negeri tetangga) – Rp 4500 = Rp 1500 buat elo...
Jadi intinya, lu dah untung Rp 2000 (lu jual Rp 4500) terus dapet lagi Rp 1500 (dari emaklu) supaya lu bisa jual Rp 7000 (sebab lu sirik ma si Ujang yang jual seharga segitu di negeri seberang). Nah kebangetan ga?
Lu untung Rp 2000 aja dah OK. Sekarang lu mau untung Rp 3500,-
Lu pikir emang emaklu kaga keabisan duit apa buat beli beras kalo lu minta dia nalangin daganganlu? KEBANGETAN !
“...pengeluaran uang tunai untuk pemompaan minyak sampai ke atas muka bumi (lifting) ditambah dengan pengilangan sampai menjadi BBM (refining) ditambah dengan pengangkutan sampai ke pompa-pompa bensin (transporting), seluruhnya sebesar USD 10 per barrel. Dengan kurs yang 1 USD = Rp. 9.000, uang tunai yang dikeluarkan untuk menghasilkan 1 liter premium sebesar Rp. 566“ (Kwinkwiangie.com, 30 Maret 2012)
Balik ke pemerintah.
Kalo bilang di negeri tetangga jual Rp 7000, itu urusan mereka, ga usah ikut-ikutan SIRIK pengen naek-naekin. Lah kalo mereka kan punya sumur sendiri, itungan produksi sendiri, pendapatan per kapita yang berbeda. Mau naek jadi Rp 20.000, ya ga perlu lah ikut-ikutan.
Kalau lalu khawatir ada penyelundupan ya tugas elooooo dong sebagai aparat negara yang mencegah penyelundupan di perbatasan? Lagian yang nyelundupin kongkalikong juga kan ma aparat negara? (jangan pura-pura ga tau).
Yang kita kudu lakuin:
- Bikin pabrik pengolahan minyak di Indonesia, so bener-bener elo mandiri. Harga ga dipermainin pasar.
- Mikir dong invest buat mendukung penggunaan teknologi terbaharukan (matahari, angin, ombak, panas bumi, biofuel, dll) kalo ngerasa minyak akan habis. Males banget seh?
- Berantas mafia minyak. Ni skema penaikan harga BBM jelas-jelas ada yang diuntungkan. Apa itu yang buat keputusan (dapat persekot), pengolah minyak, perusahaan minyak lokal dan asing, komisaris-komisaris minyak, atau negara asing neh? Gw jadi inget karya John Perkins, The Economic Hit Man neh...
Yang namanya bensin bukan pisang goreng. Masyarakat ga makan pisang goreng gapapa. Kalo ga pake bensin bisa ga jalan motornya, mobilnya. Bensin juga vital sebab kenaikannya memicu kenaikan harga lain. Memang sangkamu harga pisang goreng kaga naek apa kalo bensinnya naek?
Jangan kaya Bibit Waluyo Gubernur Jateng yang kaya cakil kalo ngomong, “Kan naeknya cuman seharga 1 batang rokok (Rp 1500)! Ga perlu dipikiran.” – lah bensin masa disamain ma rokok. Mau juga elo, Bibit disamain ma cakil.
Untuk liat negara-negara mana yang melakukan penetapan harga sendiri untuk minyak olahannya, dan buat itungan lebih detail (numerasi) silahkan cek ke blog Mr Kwik Kian Gie: http://kwikkiangie.com/v1/2012/03/kontroversi-kenaikan-harga-bbm
Teori Membahas Alien
Halo guyyzzz.. wake up!
Ini saya punya pemikiran baru, saat maybe karena minum susu sapi yang lezat dan murni otak saya yang kadang suka malas jadi terbangun dan mau berpikir.
Guyz, teori ini tentang alien. Nah teori saya tidak berusaha menghilangkan kemungkinan teori alien lainnya. Just want to share karena minimal teori ini mudah dimengerti.
Bagaimana kalau di masa depan, yang namanya alien adalah ras manusia yang sudah berevolusi di alam semesta? Jadi ceritanya di masa depan, manusia sudah berhasil melakukan perjalanan jarak jauh di alam semesta dan punya teknologi yang maju yang bisa dipakai untuk mengkolonisasi planet-planet.
Homo sapiens aja adanya 150 ribu tahun yang lalu, so apa susahnya seh membayangkan bahwa misal 150 ribu tahun lagi dari sekarang (dengan asumsi udah ada yang melakukan kolonisasi di hari ini di planet X) bahwa manusia yang naik roket antariksa dan mendarat di planet X lalu berevolusi jadi spesies lain? Masuk akal banget dong?
Belom lagi sodara kita yang migrasi tadi ngebawa kacang mede, kelinci anggora, ular phyton, dan semangka? Nah apa si spesies kacang mede dan ular phyton ga berevolusi juga sesuai habitatnya yang baru nun jauh disana?
Jadi nanti yang akan kita kenal sebagai spesies alien ya benernya temen-temen kita juga toh?
Bolehlah kamu menyanggah kalau kedua koloni itu misalnya masih berhubungan dan kawin mawin, cuma bagaimana kalau dari koloni kedua ini melakukan ekspedisi lagi menjadi koloni ketiga dan seterusnya makin menjauh? Apakah koloni ke sepuluh masih bisa kawin mawin dengan koloni pertama? Menurut Darwin seh kalau sudah tidak bisa kawin (anaknya mandul) berarti udah beda spesies tuh?
Belom lagi si kacang mede? Gimana tuh ceritaannya?
Jadi agak percaya ma teori saya kalau kehidupan di bumi pun asalnya adalah dari kehidupan lain di planet lain yang berevolusi...!
Ini saya punya pemikiran baru, saat maybe karena minum susu sapi yang lezat dan murni otak saya yang kadang suka malas jadi terbangun dan mau berpikir.
Guyz, teori ini tentang alien. Nah teori saya tidak berusaha menghilangkan kemungkinan teori alien lainnya. Just want to share karena minimal teori ini mudah dimengerti.
Bagaimana kalau di masa depan, yang namanya alien adalah ras manusia yang sudah berevolusi di alam semesta? Jadi ceritanya di masa depan, manusia sudah berhasil melakukan perjalanan jarak jauh di alam semesta dan punya teknologi yang maju yang bisa dipakai untuk mengkolonisasi planet-planet.
Homo sapiens aja adanya 150 ribu tahun yang lalu, so apa susahnya seh membayangkan bahwa misal 150 ribu tahun lagi dari sekarang (dengan asumsi udah ada yang melakukan kolonisasi di hari ini di planet X) bahwa manusia yang naik roket antariksa dan mendarat di planet X lalu berevolusi jadi spesies lain? Masuk akal banget dong?
Belom lagi sodara kita yang migrasi tadi ngebawa kacang mede, kelinci anggora, ular phyton, dan semangka? Nah apa si spesies kacang mede dan ular phyton ga berevolusi juga sesuai habitatnya yang baru nun jauh disana?
Jadi nanti yang akan kita kenal sebagai spesies alien ya benernya temen-temen kita juga toh?
Bolehlah kamu menyanggah kalau kedua koloni itu misalnya masih berhubungan dan kawin mawin, cuma bagaimana kalau dari koloni kedua ini melakukan ekspedisi lagi menjadi koloni ketiga dan seterusnya makin menjauh? Apakah koloni ke sepuluh masih bisa kawin mawin dengan koloni pertama? Menurut Darwin seh kalau sudah tidak bisa kawin (anaknya mandul) berarti udah beda spesies tuh?
Belom lagi si kacang mede? Gimana tuh ceritaannya?
Jadi agak percaya ma teori saya kalau kehidupan di bumi pun asalnya adalah dari kehidupan lain di planet lain yang berevolusi...!
Senin, 05 Maret 2012
Kematian Tragis Arwana
Sial lagi sial lagi. Saya lagi sial karena ikan arwana kecil yang saya beli dimakan oleh tokek besar, penghuni celah atap di rumah saya.
Lah kok bisa? Kalau kamu tanya seperti itu akan saya jelaskan bahwa tokek adalah karnivora. Saya sering melihat tokek ini melahap kecoa-kecoa sebagai kudapan... dan berdasarkan cerita-cerita dan film dokumenter, saya juga menyaksikan bahwa ia juga bisa memakan tikus dan burung kecil. Jadi saya percaya ikan kecil juga santapan lezat, bukan masalah buatnya.
Beberapa menit setelah ikan itu hilang, saya teringat bahwa beberapa kali saya juga kehilangan ikan jenis cupang di kolam tersebut dengan misteriusnya. Sifat ikan cupang dan arwana adalah sama – sebagai perenang yang suka di permukaan sehingga terbuka kemungkinan diserang oleh makhluk permukaan.
Entahlah, mungkin juga ikan tersebut loncat ataupun ditangkap di air dengan rahang kuat sang tokek tidak jadi perdebatan karena intinya adalah si arwana dead and banished. Dan mengenai masalah rahang, saya sudah membuktikan bahwa sang tokek sanggup menggigit gagang sapu dengan kerasnya, so saya pikir satu gigitan sudah cukup untuk mencengkram ikan, kalau tidak langsung mematikannya...
Btw sebenarnya saya sedih dan cukup tegang saat menulis ini – jadi mohon dimaklumi ya kalo ngelantur? Bagaimana tidak, pertama anakan arwana Irian itu saya beli dengan uang yang cukup besar, Rp 125.000. Bagi saya uang sebesar itu tidaklah murah. Dan kedua, sedihnya - bisa dibilang arwana itu hanya sempat sejam bersama saya saat saya sudah pulang dari kantor. Di sore hari saat saya akan menengoknya kembali di kolam kecil, saya jumpai seekor tokek besar sedang dalam posisi agak bergelung di sudut kolam, agak dekat di arah air.
Sempat terpikir oleh saya untuk menangkap tokek itu, lalu dijual ke petshop. Lalu uangnya saya pakai untuk membeli anakan arwana lagi (oh my... kejamnya saya). Cuma pikir-pikir tidak tega selain saya berpikir juga kalau menangkapnya tidak mudah. Nah inilah yang menyebabkan tidak timbulnya kejahatan kelas teri ini: ada niat tapi tidak bertemu dengan kesempatan (sebab si tokek bisa manjat dinding, cepat larinya dan sembunyi di lubang kayu – sedang saya terlalu malas untuk berusaha dan ngorek-ngorek lubang atap).
Refleksi saya: hukum alam memang pasti. Tokek butuh makan, dan semuanya kalau direnungi hanyalah pelaksanaan hukum alam. Saya dapat digolongkan sebagai korban pada peristiwa ini, dan secara lebih spesifik saya dapat digolongkan sebagai korban tidak langsung. Korban langsungnya adalah sang arwana yang mungkin kalau tidak saya beli siang harinya masih berenang santai saat ini bersama sepupu dan saudara-saudaranya.
Usaha saya memanipulasi alam digagalkan. Alam berkata senang, karena hari ini bisa menyeimbangkan keadaan secara alami lagi. Tokek memang penguasa daratan (terutama dinding rumah saya). Membuat bak dan memelihara ikan arwana yang berasal dari Irian adalah manipulasi (catatan penulis, kalau memanipulasi artinya membuat lingkungan buatan sehingga kemudian masukan-masukan baru dapat dengan mudah diterima oleh keadaan lingkungan yang sudah ada sebelumnya).
Dan alam kali ini meminta agar saya bersabar, bekerja lebih keras dan mencari pekerjaan tambahan agar bisa menghasilkan uang, lalu kembali lagi membeli si arowana (ngarep.com).
Siapa tahu di lain kesempatan alam berkata agak serius kepada saya,”Dear Indra, baiklah karena kamu semangat sekali, saya perbolehkan kamu memanipulasi saya lagi. Sebagai tambahan, saya berkati kamu juga dengan keberuntungan sehingga ikan-ikanmu tumbuh pesat dan kuat.”
Jadi jutawan deh saya (soalnya kali ini melihara arowana super red).
Senin, 27 Februari 2012
Siapa yang Miskin Sekarang?
Sederhana dan kaya... bisa ga seh?
Sebelumnya saya meragukan hal itu. Walau tidak tepat-tepat dengan definisi saya tapi tipe hidup seperti ini ada. Dan guess what: kalau melihatnya tipe hidup seperti ini 1-2 orang mungkin saya anggap biasa-biasa saja tapi yang saya temui ukurannya adalah desa. Bukan 1 desa juga tapi beberapa desa. Ini ukurannya komunitas bung, penduduk, rakyat...
Kasian deh kalau kita belum pernah pergi ke desa-desa seperti ini sebab konsep hidup kita mungkin hanya terpaku pada kerja keras di kantor di Jakarta, pergi jam 6 pagi pulang jam 8 malam, dan sial kalo jadi si miskin di Jakarta sebab seperti saya dulu: pergi naik kereta pulang naik kereta didempet kaya ikan sarden di kaleng.
Nah desa yang saya jumpai masuk hitungan berkecukupan atau menengah ke atas kalau dilihat dari penghasilan, tabungan dan investasi. Penghasilan lumayan, gada kebutuhan yang mahal (atau kalaupun mahal dapat dicukupi), mau makan tinggal ambil, dan tabungan serta investasi ada.
Penghasilan sekiat 3-10 juta di desa per bulan lumayan ga sih menurut kamu? Kalau saya nanya ma Pa Tony Chen eks Direktur Microsoft pasti dibilang gada papanya. Cuma buat saya, pendapatan segini masuk kategori sejahteralah. Ini adalah beberapa desa yang saya kunjungi pakai speedboat di pinggir Sungai Kapuas Hulu: Desa Jongkong Kiri Hilir, Piasak, Ujung Said, dan Nanga Betung (yang terakhir agak jauh dari Sungai tapi saya masukkan juga sebagai desa sejahtera dari hasil karet).
Penduduk desa sejahtera: ini hitungannya - dari karet mereka dapat 5-10 kg perhari, harga jual Rp 12.000 /kg. Lalu mau makan tinggal mancing, pasang pukat, atau ambil di tambak. Saya hitung tanpa panenan di tambak maka sehari misal dapat 1-3 kg (ini sial atau rata-rata saja) maka hitunglah dapat ikan patin/bawal/gabus maka dapatlah tambahan 30 ribu. Lalu dari buat kerupuk ikan, dapat lagi (saya tidak tahu dapat berapa tapi saya rasa upah cukup tinggi karena ini adalah desa dengan penghasilan lumayan).
Ini tambahannya: investasi arwana super red atau silok- setiap KK biasanya pelihara 1-2 ekor (walau ada juga sampai 25 ekor). Ukuran 7 cm Rp 2,5 juta. Kalau besar sekitar 30 cm (sekitar 6-12 bulan) dijual 6-10 juta. Kalau 50 cm maybe disini (lokal) dijual 10-15 juta. Kalau bisa memijahkan indukan menghasilkan 20-40 anakan setahun sekali. Lalu panen tambak, setahun 1x maybe bisa dapat 10-30 juta.
Kalau sodara-sodara malas menghitungnya, saya cuma bilang pendapatan mereka dalam kondisi tidak panen apapun adalah minimal sekitar Rp 100.000 / hari. Ingat - tanpa PANEN ikan silok/arowana, buka tambak satu tahun sekali untuk tiap tambak yang dimiliki, atau menikmati kenaikan harga karet...
Itu untuk kategori kelas menengah saja perkiraan saya. Dan kelas menengah disini adalah cukup rata - kisaran normalnya dengan kurva menggelembung di tengah. Jarang yang bisa dibilang miskin disini karena mereka saling berbagi pekerjaan - terutama untuk kerja menyadap karet ( lebih bagus lagi kan: berbagi kerja dibanding berbagi duit?).
Nah loh, siapa yang miskin lalu jadinya. Saya menggolongkan diri saya miskin kalau begitu. Belum lagi kadang harga karet naik sampai 21 ribu / kg seperti beberapa tahun lalu, berapa penghasilan rakyat sini - kaya ga seh?
Jadi gini coy... jangan sok tahu kalau melihat penduduk pakai baju kucel, pake motor 90an bukan mobil Avanza, mandi di sungai, pakai HP Nokia lama atau Cross buatan Cina. Dia bisa jadi jauh lebih kaya dan sejahtera tenang lahir batin dibanding ente. Saya dengar juga dari Bapak Haji pemilik losmen "Merpati" di Putussibau; kalau pernah dia ditawarkan untuk beli emas oleh seseorang. Si Bapak nanya ada berapa gram - sebab tertarik juga buat investasi beberapa gram mungkin. Dijawab oleh si penjual yang katanya dari Suku Dayak, "Saya ada 50 kg Pak.." (sepertinya sih dikatakan sambil muka polos soalnya Pak Haji jadi melongo katanya).
Beginilah kehidupan penduduk di Desa yang saya kunjungi: hidup tenang dekat sungai, ngeliat banjir sambil nongkrong di rumah panggung, lalu anak sekolah di Univ Tanjung Pura.Pagi kasih makan ikan siluk, nyadap karet sampai sebelum tengah hari.
Lanjut... : mancing ikan kalau perlu makan ikan sambil ga peduli waktu kerja. Kerja ga kena macet, minum Milo jualan/selundupan dari Malaysia (Milonya rasanya lebih enak dari buatan Indonesia soalnya yang kualitas untuk dijual pack minuman dingin). Siapa yang miskin sekarang saya tanya coba?
Mangkanya saya sih dukung ni hutan, sungai dijaga. Saya lebih ridho melihat penduduk, para sahabat saya ini jadi kaya dibanding Ibu Dede (pemilik perusahaan sawit PT Dian Agro Lestari). Hidup penduduk! Ternak ikan siluk, tanam karet, jaga hutan, tendang perusahaan kelapa sawit!
.
Sebelumnya saya meragukan hal itu. Walau tidak tepat-tepat dengan definisi saya tapi tipe hidup seperti ini ada. Dan guess what: kalau melihatnya tipe hidup seperti ini 1-2 orang mungkin saya anggap biasa-biasa saja tapi yang saya temui ukurannya adalah desa. Bukan 1 desa juga tapi beberapa desa. Ini ukurannya komunitas bung, penduduk, rakyat...
Kasian deh kalau kita belum pernah pergi ke desa-desa seperti ini sebab konsep hidup kita mungkin hanya terpaku pada kerja keras di kantor di Jakarta, pergi jam 6 pagi pulang jam 8 malam, dan sial kalo jadi si miskin di Jakarta sebab seperti saya dulu: pergi naik kereta pulang naik kereta didempet kaya ikan sarden di kaleng.
Nah desa yang saya jumpai masuk hitungan berkecukupan atau menengah ke atas kalau dilihat dari penghasilan, tabungan dan investasi. Penghasilan lumayan, gada kebutuhan yang mahal (atau kalaupun mahal dapat dicukupi), mau makan tinggal ambil, dan tabungan serta investasi ada.
Penghasilan sekiat 3-10 juta di desa per bulan lumayan ga sih menurut kamu? Kalau saya nanya ma Pa Tony Chen eks Direktur Microsoft pasti dibilang gada papanya. Cuma buat saya, pendapatan segini masuk kategori sejahteralah. Ini adalah beberapa desa yang saya kunjungi pakai speedboat di pinggir Sungai Kapuas Hulu: Desa Jongkong Kiri Hilir, Piasak, Ujung Said, dan Nanga Betung (yang terakhir agak jauh dari Sungai tapi saya masukkan juga sebagai desa sejahtera dari hasil karet).
| Rumah panggung, supaya ga tenggelam kalo musim banjir |
Ini tambahannya: investasi arwana super red atau silok- setiap KK biasanya pelihara 1-2 ekor (walau ada juga sampai 25 ekor). Ukuran 7 cm Rp 2,5 juta. Kalau besar sekitar 30 cm (sekitar 6-12 bulan) dijual 6-10 juta. Kalau 50 cm maybe disini (lokal) dijual 10-15 juta. Kalau bisa memijahkan indukan menghasilkan 20-40 anakan setahun sekali. Lalu panen tambak, setahun 1x maybe bisa dapat 10-30 juta.
| Ikan Siluk (arwana super red) di akuarium yang kaga mampu saya beli |
Kalau sodara-sodara malas menghitungnya, saya cuma bilang pendapatan mereka dalam kondisi tidak panen apapun adalah minimal sekitar Rp 100.000 / hari. Ingat - tanpa PANEN ikan silok/arowana, buka tambak satu tahun sekali untuk tiap tambak yang dimiliki, atau menikmati kenaikan harga karet...
Itu untuk kategori kelas menengah saja perkiraan saya. Dan kelas menengah disini adalah cukup rata - kisaran normalnya dengan kurva menggelembung di tengah. Jarang yang bisa dibilang miskin disini karena mereka saling berbagi pekerjaan - terutama untuk kerja menyadap karet ( lebih bagus lagi kan: berbagi kerja dibanding berbagi duit?).
Nah loh, siapa yang miskin lalu jadinya. Saya menggolongkan diri saya miskin kalau begitu. Belum lagi kadang harga karet naik sampai 21 ribu / kg seperti beberapa tahun lalu, berapa penghasilan rakyat sini - kaya ga seh?
Jadi gini coy... jangan sok tahu kalau melihat penduduk pakai baju kucel, pake motor 90an bukan mobil Avanza, mandi di sungai, pakai HP Nokia lama atau Cross buatan Cina. Dia bisa jadi jauh lebih kaya dan sejahtera tenang lahir batin dibanding ente. Saya dengar juga dari Bapak Haji pemilik losmen "Merpati" di Putussibau; kalau pernah dia ditawarkan untuk beli emas oleh seseorang. Si Bapak nanya ada berapa gram - sebab tertarik juga buat investasi beberapa gram mungkin. Dijawab oleh si penjual yang katanya dari Suku Dayak, "Saya ada 50 kg Pak.." (sepertinya sih dikatakan sambil muka polos soalnya Pak Haji jadi melongo katanya).
| Sekolah, emang penduduk sini sadar pendidikan kok - banyak juga yang kuliah di Pontianak |
Lanjut... : mancing ikan kalau perlu makan ikan sambil ga peduli waktu kerja. Kerja ga kena macet, minum Milo jualan/selundupan dari Malaysia (Milonya rasanya lebih enak dari buatan Indonesia soalnya yang kualitas untuk dijual pack minuman dingin). Siapa yang miskin sekarang saya tanya coba?
Mangkanya saya sih dukung ni hutan, sungai dijaga. Saya lebih ridho melihat penduduk, para sahabat saya ini jadi kaya dibanding Ibu Dede (pemilik perusahaan sawit PT Dian Agro Lestari). Hidup penduduk! Ternak ikan siluk, tanam karet, jaga hutan, tendang perusahaan kelapa sawit!
Catatan, update Maret 2012:
Ga semua KK di desa memelihara ikan siluk, tapi perhitungan hasil karet saya juga akan saya perbaiki. Hasil 5 kg per hari adalah ukuran penduduk yang malas nyadap karet. Buat penduduk yang menengah rajin bisa dapat 10 kg per hari, sementara penduduk super rajin bisa dapat 20 kg sehari. Artinya penduduk menengah rajin minimal bisa dapat Rp 120.000 / hari hanya dari karet (harga karet saat ini @ Rp 12.000 / kg)..
Si Biru yang Jatuh ke Sungai
Huhuhu... saya sedih neh...
Tadinya saya ingin menulis dengan membanggakan diri mengenai sesuatu - petualangan saya di Kapuas Hulu, naik jukung dan speedboat bermotor di Sungai Kapuas dan hutan-hutannya.
Tapi ada yang lebih penting dan sedih, dan menghilangkan keinginan saya menulis yang kelihatan besar-besar dan keren, sebab kamera saya si biru yang sering menemani saya jalan-jalan jatuh ke sungai saat saya renang di Sungai Kapuas.
Catatan bagi pemirsa, kamera si Biru saya adalah kamera poket "Fujifilm" dengan model yang saya lupa karena ga penting (saya ga peduli merk dan model), cuma jepretannya lumayan bisa diandalkan walau hasilnya sering agak kurang cahaya - cuma memberikan efek teduh, dan karena sering saya pakai maka kelemahan dan kelebihannya saya sudah kenali dengan baik.
Si biru jatuh karena kesalahan saya, menaruhnya di tepi bagan. Saat saya akan naik karena selesai renang, dan sudah memperoleh foto dengan pengatur self timer saya mencoba naik bagan, dan siapa sangka papan rangka ternyata tidak dipaku kokoh dan bergoyang terbalik saat saya naik. Alhasil jatuhlah si biru teman saya, dan saya tidak berani menyelam mengambil karena menurut perkataan si ibu pencuci baju bahwa dalamnya sungai di bagian itu 6 meter (sebab bisa jadi saya beraniin nyelem, lalu terbawa arus sungai dan kolaps kecapean - jadilah saya makanan ikan).
Saya adalah orang yang cukup pasrah menerima kejadian, biasanya saya menganggap setiap kejadian buruk adalah seperti membuang sial. Saya beranggapan apabila peristiwa itu tidak terjadi maka sesuatu yang lebih buruk akan menimpa saya. Kehilangan kamera saya anggap membuang sebagian kesialan saya sehingga, misalnya saya tidak hanyut di sungai. Intinya setiap kejadian buruk saya anggap mengurangi "kantung sial" saya sehingga tidak meledak karena kepenuhan.
Secara logika seh, orang yang dah hilang kamera tentunya lebih awas, jadi bolehlah teori saya ini dibenarkan.
Tapi lalu kenapa untuk yang satu ini saya tetap merasa agak tidak senang ya? Mungkin karena saya bokek, tidak bersama Lizbeth (pacar saya yang lucu dan menggemaskan), dalam keadaan mencari pekerjaan baru, dah lama ga jalan-jalan senang dan menghabiskan tabungan, atau perasaan asing saya di lingkungan baru ini ya?
Mungkin saya perlu waktu untuk memahami diri saya sendiri ya? Cuma terus terang saya agak kesal karena saya sendiri orangnya kadang suka mengulangi kesalahan yang agak mirip. Jadi saya agak benci sebenarnya dengan kode genetik saya yang pada masalah ini kok kode asam basanya sering nyuruh "cepat tenang dan cepat lupa" ya - walau di sisi lain mungkin orang seperti saya ini (yang cepat tenang, cuek dan lupa) agak cocok karena selalu tenang, bahagia, cuek dan enjoy kalau dikirim ke hutan belantara sekalipun.
Nah loh, ga jelas... tadinya cuma mau curhat ketidakenakan perasaan saya gara-gara si biru hilang. Malah jadi pake teori-teori segala. Out dulu ah saya - ga jelas neh!
Remembering The Blues:
Tadinya saya ingin menulis dengan membanggakan diri mengenai sesuatu - petualangan saya di Kapuas Hulu, naik jukung dan speedboat bermotor di Sungai Kapuas dan hutan-hutannya.
Tapi ada yang lebih penting dan sedih, dan menghilangkan keinginan saya menulis yang kelihatan besar-besar dan keren, sebab kamera saya si biru yang sering menemani saya jalan-jalan jatuh ke sungai saat saya renang di Sungai Kapuas.
Catatan bagi pemirsa, kamera si Biru saya adalah kamera poket "Fujifilm" dengan model yang saya lupa karena ga penting (saya ga peduli merk dan model), cuma jepretannya lumayan bisa diandalkan walau hasilnya sering agak kurang cahaya - cuma memberikan efek teduh, dan karena sering saya pakai maka kelemahan dan kelebihannya saya sudah kenali dengan baik.
Si biru jatuh karena kesalahan saya, menaruhnya di tepi bagan. Saat saya akan naik karena selesai renang, dan sudah memperoleh foto dengan pengatur self timer saya mencoba naik bagan, dan siapa sangka papan rangka ternyata tidak dipaku kokoh dan bergoyang terbalik saat saya naik. Alhasil jatuhlah si biru teman saya, dan saya tidak berani menyelam mengambil karena menurut perkataan si ibu pencuci baju bahwa dalamnya sungai di bagian itu 6 meter (sebab bisa jadi saya beraniin nyelem, lalu terbawa arus sungai dan kolaps kecapean - jadilah saya makanan ikan).
Saya adalah orang yang cukup pasrah menerima kejadian, biasanya saya menganggap setiap kejadian buruk adalah seperti membuang sial. Saya beranggapan apabila peristiwa itu tidak terjadi maka sesuatu yang lebih buruk akan menimpa saya. Kehilangan kamera saya anggap membuang sebagian kesialan saya sehingga, misalnya saya tidak hanyut di sungai. Intinya setiap kejadian buruk saya anggap mengurangi "kantung sial" saya sehingga tidak meledak karena kepenuhan.
Secara logika seh, orang yang dah hilang kamera tentunya lebih awas, jadi bolehlah teori saya ini dibenarkan.
Tapi lalu kenapa untuk yang satu ini saya tetap merasa agak tidak senang ya? Mungkin karena saya bokek, tidak bersama Lizbeth (pacar saya yang lucu dan menggemaskan), dalam keadaan mencari pekerjaan baru, dah lama ga jalan-jalan senang dan menghabiskan tabungan, atau perasaan asing saya di lingkungan baru ini ya?
Mungkin saya perlu waktu untuk memahami diri saya sendiri ya? Cuma terus terang saya agak kesal karena saya sendiri orangnya kadang suka mengulangi kesalahan yang agak mirip. Jadi saya agak benci sebenarnya dengan kode genetik saya yang pada masalah ini kok kode asam basanya sering nyuruh "cepat tenang dan cepat lupa" ya - walau di sisi lain mungkin orang seperti saya ini (yang cepat tenang, cuek dan lupa) agak cocok karena selalu tenang, bahagia, cuek dan enjoy kalau dikirim ke hutan belantara sekalipun.
Nah loh, ga jelas... tadinya cuma mau curhat ketidakenakan perasaan saya gara-gara si biru hilang. Malah jadi pake teori-teori segala. Out dulu ah saya - ga jelas neh!
Remembering The Blues:
![]() |
| Salah satu hasil jepretan si Biru almarhum, di Grand Palace - Bangkok |
![]() |
| Momen kebahagiaan bersama si Biru, di kebun |
![]() |
| Si Biru, yang merekam perjalanan kami dimana-mana |
| Atkinson Clock Tower, Kinabalu by si Biru |
| Saat-saat terakhir bersama si Biru. Goodbye friend! Thank you for all... |
Langganan:
Postingan (Atom)


