Wabah ulet bulu lagi menyerang daerah-daerah di Jawa, Bali dan Sumatera...Well at least Jawalah, kalo Bali dan Sumatera jangan-jangan keangkat gara-gara di Jawa TV-TV pada ribut ngangkat si ulet bulu, lalu sehubung ada beberapa pohon di Bali yang kena ulet bulu maka langsung si kontributor TV buru-buru ambil kamera lalu shoot ulet bulu. "Mumpung-mumpung (dapet duit deh 500rb gw)," ujar si kontributor happy.
Yah bisa juga saya salah, namanya juga cuma nebak dan berasumsi sesuai logika kan - sesuai sifat oportunis en numpang manusia? Bisa aja daerah itu diselimuti ma ulet bulu kaya daerah tertentu di Jawa... hiiii... amit-amit, soalnya saya pernah beberapa kali kena ulet bulu parah. Salah satunya saat saya sedang penelitian di Pangumbahan, sebuah desa terpencil. Sampe-sampe saya diperiksa di Puskesmas, pake tangan panjang selalu dan akhirnya ga tahan en pulang ke rumah yang nun jauh dari Pangumbahan.
Anyway bussway, ada yang perhatiin ga seh, kalo momen ini sebenarnya momen-momen bahagia buat si kupu-kupu? Kalo jenis manusia dah bahagia mendominasi dunia selama minimal 150 ribu tahun (or at least 30 ribu - 100 ribu tahun, perkiraan keberadaan si Homo Sapiens yang kabarnya sempet merit ma Cro Magnon) lalu kenapa sih ga boleh ulet bulu or kupu-kupu yang mendominasi sepetak kebun yang itupun paling-paling cuma 1-3 bulan aja mereka nongkrong di pohon mangga (abis itu pasti tewas dengan sukses disemprot para penyuluh pertanian, atau terbang bebas sebagai kupu-kupu)?
Well, sebagai manusia saya tetep takut ma ulet bulu. Gatelnya boo... ga ketulungan. Mendingan saya digigit anjing deh, tinggal dikasih betadine daripada kena ulet bulu. Sebagai pemilik kulit sensitif kena ulet bulu adalah pantangan buat saya.
Tapi di lain pihak saya menyatakan peristiwa ulet bulu ini biasa bangetlah, cuma alam yang lagi coba ngasih kesempatan buat kawanan ulet bulu buat happy sejenak. Ini cuma keseimbangan alam ajalah. Maybe ada lain kali tiba-tiba aja ada outbreak komodo, dimana kawanan komodo berkembang biak dan menguasai pulau Jawa dan NTT. Siapa tau aja...
Kalo komodo menguasai NTT, saya mau jadi pengusaha ayam tiren supaya dapet untung dari atraksi si komodo makan bangke ayam pas dijadiin tontonan wisata.
Selasa, 19 April 2011
Rabu, 23 Maret 2011
Kenapa sih Gila?
Saya lagi berpikir tentang mekanisme menjadi gila. Saya mau ngobrol kasus kegilaan dari sudat pandang lain ah...
Pertama begini pendapat saya. Kegilaan adalah mekanisme alam, yang bertujuan untuk mengeliminasi individu yang mengalaminya.
Pada saat tekanan lingkungan bertambah maka payahlah orang-orang yang memiliki kompisisi gen tertentu ini, yang cepat stres - mudah marah - agresif - sedih - depresi berlebihan. Demi melestarikan spesiesnya, kumpulan orang-orang ini terpaksa didesain oleh alam untuk melakukan bunuh diri secara perlahan, caranya dengan menjadi gila -agar kesempatan bagi sesama satu spesies lebih terbuka.
Kasus bunuh diri bukan hanya dialami manusia aja loh. Semut pada musim kemarau dimana makanan tidak mencukupi akan melakukan bunuh diri masal juga. Tanpa alasan yang jelas, sekumpulan semut membentuk spiral dan berjalan terus menerus sampai mereka mati karena kelelahan. Semut yang mati dalam 'Lingkaran Kematian' akan semakin bertambah karena terus menerus berputar, sampai beberapa koloni semut beristirahat dan memisahkan diri dari lingkaran.
Fenomena yang disebut "dancing ants", "ants circle of death" atau "death mill" ini telah diidentifikasi secara ilmiah pertama kali pada 1944 oleh Theodore Schneirla, seorang psikolog hewan berkebangsaan Amerika. Salah satu referensi umum menyangkut fenomena ini dihubungkan dengan seorang naturalis Amerika, William Beebe, yang melihat dan kemudian mendeskripsikan fenomena ini di Guyana pada tahun 1921 (http://jalanan-kehidupan.blogspot.com/2010/12/ants-spiral-of-death-fenomena-semut.html). Apakah semut itu sebelumnya mengalami kegilaan, semoga sebelum saya mati saya dapat mengetahui jawabannya, agar puas.
Btw saya pikir harusnya ada alasan ya dari sisi positif, mengapa ada mekanisme gila pada tubuh manusia. Apakah misal ternyata ada keterkaitan gen - orang yang cenderung mudah gila memiliki kelebihan, seperti konsentrasi yang tinggi, atau kepandaian tertentu yang lebih baik? Kenapa and buat apa ya?
Saya menulis ini karena teringat sama mantan CEO saya di kantor yang saya duga stres dan secara jiwa kayanya jadi rada kosong. Doi pinter juga seh soalnya...
Pertama begini pendapat saya. Kegilaan adalah mekanisme alam, yang bertujuan untuk mengeliminasi individu yang mengalaminya.
Pada saat tekanan lingkungan bertambah maka payahlah orang-orang yang memiliki kompisisi gen tertentu ini, yang cepat stres - mudah marah - agresif - sedih - depresi berlebihan. Demi melestarikan spesiesnya, kumpulan orang-orang ini terpaksa didesain oleh alam untuk melakukan bunuh diri secara perlahan, caranya dengan menjadi gila -agar kesempatan bagi sesama satu spesies lebih terbuka.
Kasus bunuh diri bukan hanya dialami manusia aja loh. Semut pada musim kemarau dimana makanan tidak mencukupi akan melakukan bunuh diri masal juga. Tanpa alasan yang jelas, sekumpulan semut membentuk spiral dan berjalan terus menerus sampai mereka mati karena kelelahan. Semut yang mati dalam 'Lingkaran Kematian' akan semakin bertambah karena terus menerus berputar, sampai beberapa koloni semut beristirahat dan memisahkan diri dari lingkaran.
Fenomena yang disebut "dancing ants", "ants circle of death" atau "death mill" ini telah diidentifikasi secara ilmiah pertama kali pada 1944 oleh Theodore Schneirla, seorang psikolog hewan berkebangsaan Amerika. Salah satu referensi umum menyangkut fenomena ini dihubungkan dengan seorang naturalis Amerika, William Beebe, yang melihat dan kemudian mendeskripsikan fenomena ini di Guyana pada tahun 1921 (http://jalanan-kehidupan.blogspot.com/2010/12/ants-spiral-of-death-fenomena-semut.html). Apakah semut itu sebelumnya mengalami kegilaan, semoga sebelum saya mati saya dapat mengetahui jawabannya, agar puas.
Btw saya pikir harusnya ada alasan ya dari sisi positif, mengapa ada mekanisme gila pada tubuh manusia. Apakah misal ternyata ada keterkaitan gen - orang yang cenderung mudah gila memiliki kelebihan, seperti konsentrasi yang tinggi, atau kepandaian tertentu yang lebih baik? Kenapa and buat apa ya?
Saya menulis ini karena teringat sama mantan CEO saya di kantor yang saya duga stres dan secara jiwa kayanya jadi rada kosong. Doi pinter juga seh soalnya...
Senin, 21 Maret 2011
Dia
Antara tuhan itu ada dan dia berkuasa penuh atas segalanya, atau Tuhan itu ada dan Pengasih, namun Dia tak berkuasa penuh untuk semuanya...
Yang pertama:
Bahwa tuhan itu ada, dia berkuasa penuh atas segalanya, dan dia adalah percampuran antara kebaikan dan kejahatan sekaligus...
bahwa tuhan bertanggung jawab atas adanya kejahatan di dunia, penghancuran, penyakit, kesedihan, pembunuhan, luka, dan fitnah adalah bagian dari permainan dia, sekaligus juga bahwa ia di sisi lain memberi berkat, mencintai, menyembuhkan dan menciptakan segala sesuatu. Dia berkuasa atas segala sesuatu, dan membiarkan semuanya terjadi secara sekaligus, karena itu adalah bagian dari dirinya. Ia memang berkuasa dan terdiri dari kebaikan dan kejahatan sekaligus. Bunga yang tumbuh juga sekaligus akan dilayukan. Ia mencipta bayi yang lahir bahagia, namun sekaligus menciptakan penderitaan luar biasa. Berkat dan malapetaka sekaligus dan dunia adalah ladang permainannya.
Atau yang Kedua.
Tuhan itu ada dan Pengasih, namun Dia tak berkuasa penuh untuk semuanya...
Ia sangat mencintaimu sepenuh hati, namun Ia juga tidak berkuasa atas semuanya. Ia sedih saat ada penderitaan dan berusaha menyelamatkanmu. Ia memberikan penghiburan tapi sekaligus tidak dapat mencegah adanya kejahatan. Ia adalah cinta kasih dan menyelamatkan namun kuasa-Nya seringkali tidak mampu menjangkau hati seluruh umat manusia. Tuhan dalam hal ini nampak sebagai bagian yang lemah dan ada sisi lain yang gelap yang besarnya sama besar sebagai sisi penyeimbang.
Dengan penuh kesedihan saya menyadari, yang logis adalah yang pertama, namun memilih untuk percaya kepada yang kedua...
Yang pertama:
Bahwa tuhan itu ada, dia berkuasa penuh atas segalanya, dan dia adalah percampuran antara kebaikan dan kejahatan sekaligus...
bahwa tuhan bertanggung jawab atas adanya kejahatan di dunia, penghancuran, penyakit, kesedihan, pembunuhan, luka, dan fitnah adalah bagian dari permainan dia, sekaligus juga bahwa ia di sisi lain memberi berkat, mencintai, menyembuhkan dan menciptakan segala sesuatu. Dia berkuasa atas segala sesuatu, dan membiarkan semuanya terjadi secara sekaligus, karena itu adalah bagian dari dirinya. Ia memang berkuasa dan terdiri dari kebaikan dan kejahatan sekaligus. Bunga yang tumbuh juga sekaligus akan dilayukan. Ia mencipta bayi yang lahir bahagia, namun sekaligus menciptakan penderitaan luar biasa. Berkat dan malapetaka sekaligus dan dunia adalah ladang permainannya.
Atau yang Kedua.
Tuhan itu ada dan Pengasih, namun Dia tak berkuasa penuh untuk semuanya...
Ia sangat mencintaimu sepenuh hati, namun Ia juga tidak berkuasa atas semuanya. Ia sedih saat ada penderitaan dan berusaha menyelamatkanmu. Ia memberikan penghiburan tapi sekaligus tidak dapat mencegah adanya kejahatan. Ia adalah cinta kasih dan menyelamatkan namun kuasa-Nya seringkali tidak mampu menjangkau hati seluruh umat manusia. Tuhan dalam hal ini nampak sebagai bagian yang lemah dan ada sisi lain yang gelap yang besarnya sama besar sebagai sisi penyeimbang.
Dengan penuh kesedihan saya menyadari, yang logis adalah yang pertama, namun memilih untuk percaya kepada yang kedua...
Pembantuku yang Malang
Pembantu saya yang malang. Begitu menurut saya.
Namanya Awah, begitu dia biasa dipanggil. Walau saya tidak kenal-kenal sekali namun sekali ini ceritanya ke si mami menarik hati saya. Saya mendengarnya saat pagi-pagi si Awah sedang mencuci baju, dan si mami sedang motong-motong sayur (kayanya). Biasa... si Mami mungkin dah denger dari orang lain mengenai berita si Awah ini dan pembicaraannya berkisar langsung ke tujuan... soalnya suami si Awah ini tidak pulang-pulang.
Suami si Awah ini umurnya 27 tahun (saya ringkas aja ya), sedang menurut saya si Awah ini (cewek loh ya, walau namanya Awah) saya taksir umurnya sekitar 35 sampai 40 tahunan (bisa juga saya salah taksir, karena memang kalau kita menanggung beban hidup yang berat kita akan cepat tua dan lelah secara penampilan).
Nah suami si Awah ini katanya sejak bertengkar dengan si Awah tidak pulang-pulang. Sebabnya karena Awah marah karena si suami yang bekerja sebagai sopir berhenti, baru kerja dua bulanan karena majikannya cerewet. Katanya seh sekarang bekerja sebagai supir angkot, dan kemarin kirim uang 30 ribu lewat temannya.
Awah bilang, sengaja cari cowok yang mukanya biasa aja. Jelek malah. Si Awah sendiri mukanya juga biasa aja (saya tidak bilang jelek karena yaah relatiflah, dan lagian ga boleh bilang orang jelek walau mukanya jelek). Ga tau kenapa dia pilih suami yang masih muda begitu, umur 27 tahun, sedang si Awah dah jelas ibu-ibu bangetlah (masa keemasan dah lewat). Pusiiiinnnnggg.... gaulnya ma anak-anak muda kata si Awah.
Si Awah sendiri dah punya anak dari suaminya yang dulu (ga tau ceritanya kenapa cerai).
Kata dia, mau yang cakep takut diambil ma perempuan lain. Yang jelek kaya begini kelakuannya.
Nah kalo dah kaya gini mau ngomong apa kita coba?Si Awah walaupun sekarang jadi pendiam saat nyuci, tapi katanya dengan kerja begini saya jadi ga mikirin soal-soal kaya gitu. Pusssiiinnnnggg !
Pertama: kalau kamu jadi si Awah apa mau cari suami cowok yang mukanya jelek dan masih muda? Eitssss.... jangan nambah-nambahin kalo kamu itu lebih pinter, lebih bijak daripada si Awah. Asumsinya kamu bener-bener si Awah yang miskin, rajin nyuci, anak 2 orang dah rada gede, ga pinter, agak bawel (kalo moodnya bae), jujur.
Kedua: kamu mau ga nambahin gajinya si Awah? Pertanyaan yang terakhir ini beneran loh...
Namanya Awah, begitu dia biasa dipanggil. Walau saya tidak kenal-kenal sekali namun sekali ini ceritanya ke si mami menarik hati saya. Saya mendengarnya saat pagi-pagi si Awah sedang mencuci baju, dan si mami sedang motong-motong sayur (kayanya). Biasa... si Mami mungkin dah denger dari orang lain mengenai berita si Awah ini dan pembicaraannya berkisar langsung ke tujuan... soalnya suami si Awah ini tidak pulang-pulang.
Suami si Awah ini umurnya 27 tahun (saya ringkas aja ya), sedang menurut saya si Awah ini (cewek loh ya, walau namanya Awah) saya taksir umurnya sekitar 35 sampai 40 tahunan (bisa juga saya salah taksir, karena memang kalau kita menanggung beban hidup yang berat kita akan cepat tua dan lelah secara penampilan).
Nah suami si Awah ini katanya sejak bertengkar dengan si Awah tidak pulang-pulang. Sebabnya karena Awah marah karena si suami yang bekerja sebagai sopir berhenti, baru kerja dua bulanan karena majikannya cerewet. Katanya seh sekarang bekerja sebagai supir angkot, dan kemarin kirim uang 30 ribu lewat temannya.
Awah bilang, sengaja cari cowok yang mukanya biasa aja. Jelek malah. Si Awah sendiri mukanya juga biasa aja (saya tidak bilang jelek karena yaah relatiflah, dan lagian ga boleh bilang orang jelek walau mukanya jelek). Ga tau kenapa dia pilih suami yang masih muda begitu, umur 27 tahun, sedang si Awah dah jelas ibu-ibu bangetlah (masa keemasan dah lewat). Pusiiiinnnnggg.... gaulnya ma anak-anak muda kata si Awah.
Si Awah sendiri dah punya anak dari suaminya yang dulu (ga tau ceritanya kenapa cerai).
Kata dia, mau yang cakep takut diambil ma perempuan lain. Yang jelek kaya begini kelakuannya.
Nah kalo dah kaya gini mau ngomong apa kita coba?Si Awah walaupun sekarang jadi pendiam saat nyuci, tapi katanya dengan kerja begini saya jadi ga mikirin soal-soal kaya gitu. Pusssiiinnnnggg !
Pertama: kalau kamu jadi si Awah apa mau cari suami cowok yang mukanya jelek dan masih muda? Eitssss.... jangan nambah-nambahin kalo kamu itu lebih pinter, lebih bijak daripada si Awah. Asumsinya kamu bener-bener si Awah yang miskin, rajin nyuci, anak 2 orang dah rada gede, ga pinter, agak bawel (kalo moodnya bae), jujur.
Kedua: kamu mau ga nambahin gajinya si Awah? Pertanyaan yang terakhir ini beneran loh...
Selasa, 01 Maret 2011
Kemana Mereka Sesudah Mati?
Kemana manusia setelah mati? Naik ke Surga, turun ke Neraka atau jalan samping ke Api Penyucian? Atau energinya bergabung dengan alam sekitar, atau sudah - begitu saja hilang?
Semua orang termasuk saya ingin tahu jawaban pertanyaan ini. Kalo aja ada sumber sahih dan logis yang bisa dipertanggungjawabkan... dan maaf walau sudah tertulis di Kitab Suci, namun kitab suci setiap agama kan berbeda-beda. Kalau di Indonesia ada 5 agama (atau 6?) : Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha dan Kong Hu Cu (benarkah saya?) - maka di dunia juga ada lebih banyak agama dan kepercayaan dengan masing-masing kitab sucinya. Zoroaster, Sikh, Kejawen, Vodoo, Kristen Orthodox, dan lain-lain...
Jadi gimana yah? Mesti berpikir seperti apa ya? Apalagi sekarang ada alternatif pemikiran lain setelah sering-sering baca buku, nonton film: Inception (belum saya tonton karena DVD nya lagi di rumah pacar saya), Matrix, Jurasic Park, Avatar, pe Donal Bebek...
Pusing saya, tapi lumayanlah mikir daripada kerja gada tujuan dan soul. Kadang mikir yang ga penting (tapi penting menurut saya) perlu juga (masih menurut saya juga). Yang ga ada jawabannya gini karena kita mang ga terlalu pintar (sebab katanya kemampuan otak kita ini hanya diutilisasi sekitar 5-10%), memang perlu buat saya sebab jadi ada kerjaan buat mencari jawabannya (kadang-kadang) via wikipedia atau google di sela-sela pekerjaan saya.
Nah pertanyaan saya yang lain lagi: kalau manusia kan ada setannya ya - rohnya maybe, katanya berbentuk manusia juga (atau agak berbentuk manusia) - nah kalau misal kaya ayam, kelinci, kupu-kupu ada ga ya setan, atau rohnya? Berbentuk mirip ayam, atau kupu-kupu ga, dan kalaupun ada, apakah roh atau setannya ini juga suka mengganggu binatang-binatang ini?
Bisa ga itu menjelaskan kalau-kalau ada binatang ini yang stress mati mendadak atau jantungan dan mati - maybe karena digentayangin roh temannya? Lalu adakah Surga khusus kucing atau kura-kura?
.
Semua orang termasuk saya ingin tahu jawaban pertanyaan ini. Kalo aja ada sumber sahih dan logis yang bisa dipertanggungjawabkan... dan maaf walau sudah tertulis di Kitab Suci, namun kitab suci setiap agama kan berbeda-beda. Kalau di Indonesia ada 5 agama (atau 6?) : Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha dan Kong Hu Cu (benarkah saya?) - maka di dunia juga ada lebih banyak agama dan kepercayaan dengan masing-masing kitab sucinya. Zoroaster, Sikh, Kejawen, Vodoo, Kristen Orthodox, dan lain-lain...
Jadi gimana yah? Mesti berpikir seperti apa ya? Apalagi sekarang ada alternatif pemikiran lain setelah sering-sering baca buku, nonton film: Inception (belum saya tonton karena DVD nya lagi di rumah pacar saya), Matrix, Jurasic Park, Avatar, pe Donal Bebek...
Pusing saya, tapi lumayanlah mikir daripada kerja gada tujuan dan soul. Kadang mikir yang ga penting (tapi penting menurut saya) perlu juga (masih menurut saya juga). Yang ga ada jawabannya gini karena kita mang ga terlalu pintar (sebab katanya kemampuan otak kita ini hanya diutilisasi sekitar 5-10%), memang perlu buat saya sebab jadi ada kerjaan buat mencari jawabannya (kadang-kadang) via wikipedia atau google di sela-sela pekerjaan saya.
Nah pertanyaan saya yang lain lagi: kalau manusia kan ada setannya ya - rohnya maybe, katanya berbentuk manusia juga (atau agak berbentuk manusia) - nah kalau misal kaya ayam, kelinci, kupu-kupu ada ga ya setan, atau rohnya? Berbentuk mirip ayam, atau kupu-kupu ga, dan kalaupun ada, apakah roh atau setannya ini juga suka mengganggu binatang-binatang ini?
Bisa ga itu menjelaskan kalau-kalau ada binatang ini yang stress mati mendadak atau jantungan dan mati - maybe karena digentayangin roh temannya? Lalu adakah Surga khusus kucing atau kura-kura?
.
Senin, 28 Februari 2011
Tukang Buburku
Ada tukang bubur 3000 an! Huhu... senangnya hati saya! Bukan karena cuma murah, tapi si tukang bubur mengingatkan saya secara tidak sengaja bahwa saya tetap harus hidup sederhana dan bersahaja.
Si tukang bubur, yang mangkal di dekat SD Sempur jualan pagi-pagi. Sebelumnya saya tidak menengok walau jalan setiap hari lewat situ. Cuma hari ini tanpa tanda saya agak-agak lapar (sebenarnya perut tidak lapar tapi pikiran minta makan dan walaupun antara perut dan pikiran tidak sinkron, heran juga pemenangnya adalah si otak karena ternyata kaki menurut ke intuisi pikiran - mungkin saya memang punya indra ke enam ya).
Setelah makan bubur, yang rasanya biasa-biasa aja sih, saya membayar dengan uang Rp 20.000,00 tanpa berkata apa-apa. Sebab sudah pengalaman, adakalanya pada saat saya bertanya "Berapa, Bang?" dijawab oleh si penjual dengan mata (pupil) menengok ke atas - tanda otak kanan bekerja - mikir lalu nyebut angka semaunya dia..."8000!" sebab si Abang percaya kalo kita adalah orang baru, orang selewatan yang patut ditakol secara harga untuk uang makan anak istrinya.
Itu alasan saya tidak bertanya "Berapa, Bang" kepadanya. Lagipula memang kasihan juga saya, sebagai warga keturunan Tionghoa (Cina) saya mendapatkan bahwa secara persentase saya akan mendapatkan bahwa secara jumlah, 10% orang akan menetapkan harga lebih tinggi dibanding yang lainnya. Apalagi kalau saya naik ojek di daerah-daerah tertentu, saya akan mendapatkan persentase jumlah orang yang menaikkan harga itu bertambah sampai 80%.
Tapi buat si Abang bubur lain ceritanya. Saya mungkin dianggap warga Sempur atau si Abang memang sudah biasa bergaul dan menganggap saya saudara tanpa membedakan ras saya (varian genetik saya). Jadi saat saya kasih uang 20 ribu, si Abang memberikan saya uang: pertama selembar 10 ribu (biasa saja), lalu kedua 5 ribu (fair, mungkinkah harganya 5 ribu semangkuk?), lalu mencari-cari seribuan (wah, harganya 4 ribu : murah) dan akhirnya mengasongkan 2 ribu ke saya (terkejut, terharu, senang, bahagia karena harga bubur 3 ribu!).
Artinya si Abang memberikan pulangan 17 ribu kepada saya. 20 ribu - 17 ribu equal to 3 ribu.
Bagi saya, seperti saya ceritakan di atas sebelumnya, ini memberikan saya dua hal: 1). Masih ada tukang bubur murah yang jujur yang memperlakukan saya sama seperti kepada anak SD. 2). Menegur saya untuk lebih menghargai dan memanage uang (3 ribu bisa dapat bubur untuk sarapan pagi) karena saya di lain waktu kadang menghabiskan uang lumayan banyak, yang kadang karena angkanya besar, maka pulangan 5 ribuan pun tidak terasa besar. Malah kadang seperti orang kaya saja dibiarkan di meja makan (bukan sebagai tips) untuk paling akhir diambil saat beranjak pulang. Saya diingatkan, uang tidak berbanding lurus dan signifikan dengan kepuasan.
Kenapa saya merasa ditegur entah juga mengapa. Mungkin sama tidak tahunya seperti mengapa tiba-tiba saya pergi mencari jajanan walau perut dan pikiran tidak sinkron menentukan pemenangnya.
Namun, bagaimanapun tukang bubur yang budiman itu berhasil menyentuh saya. Mungkin tidak signifikan, tapi akan tetap berarti.
Mungkin saja esok siang saya tanpa angin tanpa babibu pergi makan ke Pizza Hut (padahal saya termasuk orang berpenghasilan minim). Tapi mungkin juga ada saat dimana saya melihat lagi tukang bubur lain di jalan dan diingatkan untuk me-rem pengeluaran yang kurang perlu, menabung sisanya yang seribu dua ribu (kalau anak SD bisa kenapa kita tidak bisa) dan lebih banyak memakai sisanya yang lain untuk menolong yang kekurangan. Semoga...
Si tukang bubur, yang mangkal di dekat SD Sempur jualan pagi-pagi. Sebelumnya saya tidak menengok walau jalan setiap hari lewat situ. Cuma hari ini tanpa tanda saya agak-agak lapar (sebenarnya perut tidak lapar tapi pikiran minta makan dan walaupun antara perut dan pikiran tidak sinkron, heran juga pemenangnya adalah si otak karena ternyata kaki menurut ke intuisi pikiran - mungkin saya memang punya indra ke enam ya).
Setelah makan bubur, yang rasanya biasa-biasa aja sih, saya membayar dengan uang Rp 20.000,00 tanpa berkata apa-apa. Sebab sudah pengalaman, adakalanya pada saat saya bertanya "Berapa, Bang?" dijawab oleh si penjual dengan mata (pupil) menengok ke atas - tanda otak kanan bekerja - mikir lalu nyebut angka semaunya dia..."8000!" sebab si Abang percaya kalo kita adalah orang baru, orang selewatan yang patut ditakol secara harga untuk uang makan anak istrinya.
Itu alasan saya tidak bertanya "Berapa, Bang" kepadanya. Lagipula memang kasihan juga saya, sebagai warga keturunan Tionghoa (Cina) saya mendapatkan bahwa secara persentase saya akan mendapatkan bahwa secara jumlah, 10% orang akan menetapkan harga lebih tinggi dibanding yang lainnya. Apalagi kalau saya naik ojek di daerah-daerah tertentu, saya akan mendapatkan persentase jumlah orang yang menaikkan harga itu bertambah sampai 80%.
Tapi buat si Abang bubur lain ceritanya. Saya mungkin dianggap warga Sempur atau si Abang memang sudah biasa bergaul dan menganggap saya saudara tanpa membedakan ras saya (varian genetik saya). Jadi saat saya kasih uang 20 ribu, si Abang memberikan saya uang: pertama selembar 10 ribu (biasa saja), lalu kedua 5 ribu (fair, mungkinkah harganya 5 ribu semangkuk?), lalu mencari-cari seribuan (wah, harganya 4 ribu : murah) dan akhirnya mengasongkan 2 ribu ke saya (terkejut, terharu, senang, bahagia karena harga bubur 3 ribu!).
Artinya si Abang memberikan pulangan 17 ribu kepada saya. 20 ribu - 17 ribu equal to 3 ribu.
Bagi saya, seperti saya ceritakan di atas sebelumnya, ini memberikan saya dua hal: 1). Masih ada tukang bubur murah yang jujur yang memperlakukan saya sama seperti kepada anak SD. 2). Menegur saya untuk lebih menghargai dan memanage uang (3 ribu bisa dapat bubur untuk sarapan pagi) karena saya di lain waktu kadang menghabiskan uang lumayan banyak, yang kadang karena angkanya besar, maka pulangan 5 ribuan pun tidak terasa besar. Malah kadang seperti orang kaya saja dibiarkan di meja makan (bukan sebagai tips) untuk paling akhir diambil saat beranjak pulang. Saya diingatkan, uang tidak berbanding lurus dan signifikan dengan kepuasan.
Kenapa saya merasa ditegur entah juga mengapa. Mungkin sama tidak tahunya seperti mengapa tiba-tiba saya pergi mencari jajanan walau perut dan pikiran tidak sinkron menentukan pemenangnya.
Namun, bagaimanapun tukang bubur yang budiman itu berhasil menyentuh saya. Mungkin tidak signifikan, tapi akan tetap berarti.
Mungkin saja esok siang saya tanpa angin tanpa babibu pergi makan ke Pizza Hut (padahal saya termasuk orang berpenghasilan minim). Tapi mungkin juga ada saat dimana saya melihat lagi tukang bubur lain di jalan dan diingatkan untuk me-rem pengeluaran yang kurang perlu, menabung sisanya yang seribu dua ribu (kalau anak SD bisa kenapa kita tidak bisa) dan lebih banyak memakai sisanya yang lain untuk menolong yang kekurangan. Semoga...
Kue Pancong Mantarena
Beberapa hari lalu, setelah nganter pacar naek kereta pagi di Stasiun Bogor, mampirlah saya ke Mantarena, sebuah gang deket Jembatan Merah Bogor. Sengaja pagi itu sekitar jam 6.30 an saya mampir dulu ke Gang Mantarena, tempat rumah saya - sampai saya menginjak SMP, buat menjumpai tukang kue pancong.
Apa sih kue pancong itu? Kalo kalian belum tahu, wajjaaarr banget. Ini kue yang sudah jelas akan punah. Mungkin ga sampe 1 generasi lagi yang bisa nikmatin kue pancong ini. Bentuknya kotak. Kalo dihitung secara luasan barangkali sekitar 5x5x12 cm an kali ya (anggaplah bener asumsi ini). Nah walau kalo dilihat secara content sebenernya sederhana, maybe cuma adonan martabak kue plus kelapa dikit, cuma supaya kalo dimakan krekes-krekes dikit tapi history nya yang bagi saya luar biasa.
Pertama jangan harap si mamang (benernya ibu seh, soalnya sudah digantikan sama anaknya perempuan) bisa dijumpai jam 8 pagi. Jangan harap kita bisa bangun agak siangan dan berharap si kue pancong masih ada. Engga fair emang tapi si tukang kue pancong cuma ada pagi-pagi buta pe jam 7 pagi aja. Kalau lebih maaf, siap2 pulang lagi aja deh. Mengherankan di jaman konsumerisme begini masih aja ada yang saklek ngikutin jejak leluhur, sementara McD buka cabang tiap bulan, plus ngebuka pe 24 jam.
Yang lain, itu peralatan tabung kopi tembaga masih aja ada setia nangkel di pikulan si mamang. Sudah saya lihat sejak 28 tahun lalu (dengan asumsi bahwa saya ngeh keberadaan si tukang kue pancong sejak umur 3 tahun). Beuh... bener-bener jaga tradisi banget ya? Kayanya kopi-kopi bikinan si tukang kue pancong jadi enak sebab kopinya sudah nempel, jamuran di dalam tabung kali ya?
Cuma sedih juga, seumur-umur saya tinggal di Bogor, ga pernah liat tukang kue pancong lagi yang kaya begini. Kenapa ya tidak ada tukang kue pancong lagi dimana-mana? Padahal dibilang engga laku juga engga (lah iya, wong konsumennya saya lihat banyak, pada nongkrong pake bangku kecil di sekeliling pikulan), en kalo dilihat dari jam kerjanya kan paling-paling cuma 5 jam sehari? Dimana pemuda-pemuda harapan bangsa yang ototnya kuat, masa jualan kue pancong subuh-subuh aja pada ga mau?
Pokoknya si kue pancong saat ini berhasil mengobati kerinduan nyokap, bokap, ade saya en saya juga tentunya. Ga tau deh 10 taun lagi masih bisa ga makan kue pancong gini.
Masih heran juga, kenapa walaupun laku si mamang engga jualan pe agak siangan, atau kenapa yang lain gada yang niru jualan kue pancong.
Apa sih kue pancong itu? Kalo kalian belum tahu, wajjaaarr banget. Ini kue yang sudah jelas akan punah. Mungkin ga sampe 1 generasi lagi yang bisa nikmatin kue pancong ini. Bentuknya kotak. Kalo dihitung secara luasan barangkali sekitar 5x5x12 cm an kali ya (anggaplah bener asumsi ini). Nah walau kalo dilihat secara content sebenernya sederhana, maybe cuma adonan martabak kue plus kelapa dikit, cuma supaya kalo dimakan krekes-krekes dikit tapi history nya yang bagi saya luar biasa.
Pertama jangan harap si mamang (benernya ibu seh, soalnya sudah digantikan sama anaknya perempuan) bisa dijumpai jam 8 pagi. Jangan harap kita bisa bangun agak siangan dan berharap si kue pancong masih ada. Engga fair emang tapi si tukang kue pancong cuma ada pagi-pagi buta pe jam 7 pagi aja. Kalau lebih maaf, siap2 pulang lagi aja deh. Mengherankan di jaman konsumerisme begini masih aja ada yang saklek ngikutin jejak leluhur, sementara McD buka cabang tiap bulan, plus ngebuka pe 24 jam.
Yang lain, itu peralatan tabung kopi tembaga masih aja ada setia nangkel di pikulan si mamang. Sudah saya lihat sejak 28 tahun lalu (dengan asumsi bahwa saya ngeh keberadaan si tukang kue pancong sejak umur 3 tahun). Beuh... bener-bener jaga tradisi banget ya? Kayanya kopi-kopi bikinan si tukang kue pancong jadi enak sebab kopinya sudah nempel, jamuran di dalam tabung kali ya?
Cuma sedih juga, seumur-umur saya tinggal di Bogor, ga pernah liat tukang kue pancong lagi yang kaya begini. Kenapa ya tidak ada tukang kue pancong lagi dimana-mana? Padahal dibilang engga laku juga engga (lah iya, wong konsumennya saya lihat banyak, pada nongkrong pake bangku kecil di sekeliling pikulan), en kalo dilihat dari jam kerjanya kan paling-paling cuma 5 jam sehari? Dimana pemuda-pemuda harapan bangsa yang ototnya kuat, masa jualan kue pancong subuh-subuh aja pada ga mau?
Pokoknya si kue pancong saat ini berhasil mengobati kerinduan nyokap, bokap, ade saya en saya juga tentunya. Ga tau deh 10 taun lagi masih bisa ga makan kue pancong gini.
Masih heran juga, kenapa walaupun laku si mamang engga jualan pe agak siangan, atau kenapa yang lain gada yang niru jualan kue pancong.
Langganan:
Postingan (Atom)