Minggu, 10 Juni 2012

Ngintip Harga Sambil Jalan (Shanghai 2)


Aeh… hari ini ngapain aja ya? Wah hari ini saya baru aja beli baju cheong-sam, baju khas dari CIna di Tiantong Road (itu nama stasiunnya) buat pacar saya dan anaknya. Setelah 2x survey, dan ditawarkan harga permulaan 225 dan 180 Yuan dari dua pedagang pada hari berbeda, dan berhasil mencapai titik tawar terendah 150 dan 130 Yuan maka deal lah sebuah cheong-sam dengan harga terakhir. Sebuah cheong-sam kecil ukuran 12 juga deal dengan harga 30 Yuan. Kalo dikali harga rupiah hari ini sebesar Rp 1500 per Yuan artinya dua baju tersebut saya dapat dengan harga Rp 195.000 dan Rp 45.000. Maaf, bukan cheong-sam 100% sutera, karena yang sutera sangat mahal – kira-kira Rp 600.000 per buahnya.

Simpang Yuyuan Road, dekat tempat nenek-nenek dansa-dansi kalau malam hari
Namanya juga dibiayaain jadi kudu hemat-hemat di Shanghai ini. Kalo engga bisa nombok dan setelah menjalani kenyataan hidup, jadi menyesal kalo duit dihambur-hamburin.

Shanghai, menurut saya dan menurut semua peserta (dari Bangladesh-yang kaya Mr Bean, Malaysia – ibu Makcik, Nepal dan India, etc) adalah kota well managed. Saya sibuk mencari perkampungan kumuh selama naik bis di kota ini. Tidak saya dapati sama sekali. Masyarakat hidup di apartemen-apartemen dengan penataan yang baik. Yang kurang baik dan etis rasanya cuma jemuran yang nongkrong dekat jendela. Yah mau gimana lagi kali yah- gada space buat jemur seh.

Jalan kemana-mana bisa pake subway. Sepeda lalu lalang – dari yang jadul sampai yang pakai baterai, dan disediakan jalur khusus untuk pesepeda. Gedung-gedung tinggi menjulang, dan serasa jalan-jalan di kawasan Sudirman, hanya saja tidak berujung jalannya sebab semua jalan di Shanghai adalah Sudirman.

Susah payah saya mencari pasar tradisional sebab heran tidak bisa menemukan kekumuhan, dan heran juga kok orang sebanyak  sini tidak kelihatan penyuplai makanannya ya? Yang saya dapatkan saat kebetulan saja berjalan di antara pertokaan adalah sebuah pasar mungil yang terselip di antara kerumunan toko lain, tertib dan ramai dimana sayuran, belut, kerang sampai ayam hidup yang siap dipotong dengan pemotongan yang bersih serta tembus pandang. Tidak berbau juga – entah bagaimana diaturnya.

Well, semoga ayam-ayam tersebut masuk Surga (Surga untuk ayam).

Oh ya saya juga mau ngadu… di Nanjiang Road, jalan pertokoan paling ramai di Shanghai saya dalam 2 hari jalan sudah didekati 2x3 perempuan cantik yang katanya mau be friend…

"Cheap... 100," kata salah seorang perempuan tersebut. Ga tau deh maksudnya teh 100 Yuan apa 100 Dolar. Atau 100 buat minum di Starbucks atau apa. Saya kaga ngerti n ga berusaha cari tau juga seh.

Wadoh… ini sih be friend for benefit- begitu terang saya kepada teman saya Banda si Bangladesh yang kaya Mr. Bean. Kalau melihat perempuan cantik senang sih senang tapi apa mau hidup kacau beliau setelahnya? Begitu kata saya kepada si Banda (sekaligus kepada diri sendiri).

Heran juga setelah saya perhatikan, perempuan di Shanghai ini banyak yang cantik. Kalau dihitung persentasenya lebih besar daripada kalau kita ambil sampel seperti di Manila, Jakarta, Medan, Bandung, Saigon dll. Apa karena disebabkan karena dandan atau karena memang cantik ya? Cuma tetep aja saya percaya yang kedua itu sebab dari anak kuliah sampe yang kerja dan agak emak-emak tetap enak dipandang. Maybe tuhan memang rada jail, mengkotakkan perempuan Cina yang cantik di Shanghai ini dan memasang bunyi beep-beep kalo mereka keluar batas.

Terakhir buat malam ini, saya ingin menceritakan kalau pandangan saya tentang Cina yang tadinya agak meremehkan suda h cukup membaik. Ngeliat saudara seleluhur saya di Cina ini jadi merasa agak geli… semua orang keheranan kalau saya bilang – I can’t speak Chinnese. Ngajak ngobrol mulu membabi buta walau saya dah senyum dan diam. Kurang percaya kayanya kalau saya tidak bisa bicara Cina.

“Bu, Ibu kudu tau kalo dulu si Suharto rajanya rezim Orde Baru menghapuskan kebudayaan Cina di Indonesia. Ngomong, nulis, nama asli, semuanya kudu diapus atau diubah… Jadi saya sekarang kaga bisa ngomong Cina…” Begitu saya ingin ucapkan dengan telepati kepada mereka, sayang saya bicara bahasa Inggris saja terbata-bata, mempersulit keadaan.

Lagian masa seh harus nerangin gitu pake bahasa Inggris ke saudaraku ini? Boro-boro dua kalimat, lah ini kita jawab I’m not Chinnese aja kaga ngerti-ngerti. Bisa-bisa lima menit ngomongin 2 kalimat ini…

Ah sudahlah… namanya nasib, terima aja toh kalau saya lagi di Shanghai ini?

Makanan vegetarian, kaga sanggup dah kalo tiap hari mah...
Dan sehubung takut duit habis abis beli pernak-pernik buat orang kantor en si pacar en de el el, en ga bisa bantuin biaya si Mami yang mau ke Bali tanggal 26 Juni maka saya relain malam ini makan mie instan gelas seharga 6,50 Yuan (yang rada mahal) dan beli sosis ayam 2 biji (each 1 Yuan) – total keluar 8,50 Yuan atau sekitar Rp 13.000. Soalnya saya kemarin-kemarin ga bisa menghindar juga makan mie, udon, dll seharga Rp 45.000 an sekali makan. Lumayanlah bisa hemat sekitar Rp 30.000an dengan beli mie instan.  ,

Mang mahal disini kaga ada warteg 7000 an dan sayang karena gada kompor, mie instan sarimie saya ga bisa dimasak di hotel

Kalau perlu mulai besok kalo duit makin payah kita sepakatin aja yah buat ambil makan pagi lebihan, masukin tissue buat persediaan makan malam.

Dari Sebuah Konferensi (Shanghai 1)


Namanya juga Negeri Cina… jadi yang jual rokok di jalan orang Cina, yang jadi satpam orang Cina, yang jadi mahasiswa orang Cina, petugas tiket (yang ga bisa ngomong Inggris) juga orang Cina.

Yah namanya juga lagi beruntung… gak ada angin gak ada badai tiba-tiba saja saya ditelpon oleh Ibu Nila dari HSF (Hans Seidel Foundation) mitra lembaga saya bernaung untuk mengisi formulir untuk pelatihan kepemimpinan lingkungan di Shanghai. Ditanggung ceunah ongkos trainingnya yang mahal dan akomodasinya.  How lucky I am karena kalau tidak ada bantuan jangan harap saya bisa mengikuti training di luar negeri. Untuk makan disini saja bingung biayanya dari mana... hiks.

Di sisi lain keberuntungan, di sisi lain adalah ketidakberuntungan. Keberadaan saya membawa ketidakberuntungan bagi mahasiswa-mahasiswa yang melamar pelatihan. Bu Nila lebih percaya untuk membiayai mitra potensial daripada kepada mahasiswa yang belum tentu berkarya nantinya. Mau senang atau tidak senang di dunia memang pemecahan masalah yang paling umum ya Win-Lost solution. Tak peduli kata Dale Carnegia, Tung Dasem, James Gwee… hukum rimba memang hukum kehidupan. Sisanya adalah yang dikarang-karang oleh pemotivator agar kita jadi lebih positif. Lah ujung-ujungnya yang positif itu lalu menyingkirkan yang lemah juga toh?

Balik lagi ke Cina, saya sekarang ini lagi di Universitas Tong Ji. Mendengarkan ceramah Prof. Guangto Wang yang saya lihat di layar tancap statusnya: former Minister of Construction of China. Nah berarti saya lagi berhadapan dengan salah satu bekas penguasa Tirai Bambu neh. Lumayan buat cerita nanti tapi rasanya ga berdampak apa-apa ma hidup saya terutama dilihat dari sisi – dari sini mau kemana seh?

Balik lagi aja ah ngomongin Cina, lebih enak. Di sini udaranya cukup sejuk, sekitar 21-27 derajat Celsius. Kalau mau dirasakan kaya kita jalan-jalan di Cisarua, Puncak – walau lebih dingin lagi sedikit kalo di Cisarua sebab kalau sudah sore malam suhu turun lagi karena ada di gunung. Di Shanghai lebih stabil.

Mahasiswa lalu lalang naik sepeda dekat Universitas Tong Ji yang indah ini. Bener-bener tertata, ga kaya Fakultas Perikanan IPB yang banyak tai burungnya, kaki lima kumuh yang jualan di kantin, tembok-tembok kusam, dan got-got yang mampet sebab tukang soto buang sampah plastik di dalamnya.

Kalau mau dibayangkan bolehlah dibayangkan ada rumput hijau dimana perempuan dan laki-laki berpelukan, naungan pohon sepanjang jalan, gedung-gedung dengan tanaman rambat, lapangan luas tempat mahasiswa berolahraga, disertai matahati dan udara yang sejuk.

Jadi agak jatuh cinta neh ma Shanghai (minimal daerah sekitar Universitas Tong Ji). Tadinya Cina tidak pernah masuk daerah tujuan saya. Saya mau sekolah di Canada atau New Zealand only, karena baca di booklet informasi kalau negara tersebut ramah, indah, banyak biri-birinya, pegunungan membiru di kejauhan dan udara yang dingin.  Pengen nikmatin kopi sambil duduk di serambi rumah yang dari kayu sambil melihat kebun dan gunung di kejauhan.

Tapi sejak tinggal di Shanghai ini, jadi agak berubah paradigma saya. Cina ga seburuk yang saya bayangkan. Jadi pengen kuliah juga disini.

Salam dari tempat duduk di konferensi International Student Conference on Environment and Sustainability, Shangai June 5-8. Ms. Elizabeth Mrema si Deputy Director and Coordinator, Operations and Programme Delivery Branch, Division of Environmental Policy Implementation (DEPI), UNEP jadi saksi di depan sana buat omongan saya ini.

Senin, 21 Mei 2012

Nasi Campur 5 Watt

Sedihnya... or menyesalnya saya.

Tadi pagi saya beli sarapan nasi campur di warteg dekat "Gerimis" Univeritas Pakuan, isi kentang, mie dan telur bulat cabe plus sambal sedikit. Kalau saya sempat memakannya, pasti akan memuaskan rasa lapar saya karena nasi campur tersebut enak sekali. Bayangkan, makan nasi pagi-pagi dengan mie yang rasanya manis, kentang kecil-kecil yang sedikit pedas dan telur bulat cabe yang pedas gurih, plus sambal si teteh yang pedas agak asam-asam pasti membuat mata 5 watt saya nyala kembali pijaran semangatnya.

Sang nasi campur sepertinya jatuh saat saya menggantungkannya di motor skuter. Gantungannya memang kecil, dan mungkin karena tergoncang saat di jalan jadi terjatuh.

Sepele memang. Tapi rasanya kehilangan nasi campur ini memang memberikan saya perasaan lapar, sedih dan bokek, karena juga uang saya bulan ini tinggal 100 ribu saja secara de-facto de jure (padahal ini baru tanggal 22 Mei). Kalau kemarin saya memakai 100 ribu lainnya untuk pergi ke Kedubes Cina untuk urus visa. Sedangkan uang tabungan saya sudah di convert jadi simpanan yang tetap, dan saya tidak ingin mempergunakan atau menggadaikan simpanan saya (buat tabungan masa depan soalnya).

Well, jadi inget walau lebay lebay dikit yaaa... kalo kita ga akan merasa kehilangan sesuatu bila milik kita masih ada. Kita baru akan merasa kehilangan apabila milik tersebut sudah tidak ada.

Nasi campur oh nasi campur dimanakah engkau berada?

Rabu, 09 Mei 2012

Anjing yang Rada Tidak Malang

Anjingnya namanya Coklat aka Browny, atau Brownies kalo diingat-ingat bahwa dia juga manis tingkah lakunya.

Nah anjing manis ini saya temukan di rumah dokter hewan Magda, di Cibalok Bogor. Benernya agak rancu bahwa saya menemukan dia, karena bisa jadi dia yang menemukan saya. Soalnya doi menjilat tangan saya di lokasi. Saya mengejawantahkannya sebagai tanda bahwa dia memilih saya. Tapi anyway maybe itu adalah jodoh ya, saya memilih dia dan dia memilih saya. Jadi kurang penting mana yang duluan, tapi yang terjadi adalah bahwa kami bertemu.

Bagi Browny, hidup di penampungan anjing-anjing terlantar sungguh menyebalkan. Buktinya adalah kalau beliau jarang sekali mengibas-ngibaskan ekornya, cenderung soliter dan cuek di lahan 3x3 yang mungkin dihuni sekitar 15 an ekor anjing. Mungkin di situ ada juga bos-bos dan geng anjing yang suka mengintimidasi anjing-anjing yang lemah seperti hukum alam di dunia ini. Jangankan hewan, wong tumbuhan aja bersaing saling mendapatkan nutrisi tanah dan sinar matahari. Pernah ga liat kalo rumput mati jikalau ada pohon besar yang tumbuh di atasnya? Nah saya pikir dunia anjing di tempat adopsian juga begitu.

Kenapa saya bilang Browny beruntung? Karena di tempat adopsian tidak semua anjing kemudian menemukan pemilik baru. Ada yang sudah tua dan badannya kendor sehingga pencari anjing kemudian melakukan skip saat melihat si anjing. Ada anjing yang galak karena trauma pernah dipukul pakai tongkat oleh si empunya sehingga menggila dan beringas saat melihat orang membawa tongkat. Ada anjing yang terlalu pendiam, ada yang terlalu pendek dan kurus.

Browny en Bindy
Browny untungnya sejalan dengan perasaan saya  dan tugas fungsionalnya. Sebagai anjing ramah, pendiam yang bisa menggonggong di rumah / kompleks perumahan, cukup besar (sekitar 1 tahun), anjing kampung (tidak makan banyak banget, ga gampang sakit) dan waktu saya temukan kurus, pendiam dengan muka sedih sehingga saya ingin untuk mengajaknya pulang - karena maybe persis juga keadaan dan karakter saya kalau saya jadi anjing dan disekap di ruang sempit. Jadi bisa jadi saya mengambil Browny karena dia mirip saya dalam keadaan tertentu juga.

Mau Balik ke Pencipta

Sakit itu tanda-tanda kita dah dekat ma yang mencipta...

Yah begitulah, ini yang saya rasakan dan saya renungi saat sakit. Sakit saya kali ini double or triple lah... sakit habis cabut gigi (plus kejang-kejang perut akibat syaraf gigi bekerjasama dengan syaraf lambung), sakit pilek yang ngocor kaya keran air, en badan yang masuk angin (yang terakhir ini saya tambahkan, walau secara klasifikasi masuk angin ma sakit pilek bisa disatukan).

Gigi yang dicabut membuat saya sadar saya sudah tua. Gigi ini tidak akan tumbuh lagi dan seumur hidup sampai saya mati saya harus hidup dengan 1 gigi ompong. Padahal saya baru umur 32 an sekarang (masih ngerasa agak muda). Gigi itu saya simpan, lengkap dengan patahan keropos gigi yang patah waktu dokter Lili Lusiana yang baik hati menggoyangnya dengan tang, pengungkit, dan mencabutnya selama - saya pikir sekitar 40 menitan.

Sakit pilek idung ngocor en badan sakit karena masuk angin menandakan badan saya sakit en kurang olahraga. Sel-sel tubuh memberontak, coba bilang kepada saya - persehat kami atau saya akan membuatmu menderita.

Benernya saya juga pengen nanya: emang siapa sih yang pengen ngontrak di tubuh ini? Kalo boleh milih ya saya pilih bodi yang sehat, cakep, bernasib kaya, gembira selalu takdirnya. Kalo boleh milih lagi, saya akan bertanya kepada yang mencipta, ngapain juga masukin roh saya ke badan. Kenapa ga dibiarkan aja hidup hura-hura di Surga sana?

Yah... namanya juga usaha. Balik lagi, yang jelas kalo bodi dah sering sakit berarti ni kontrakan dah ngadu... perbaiki saya, sapu saya, beliin TV n kulkas baru, kalo engga elo di kick dari tubuh... disuruh balik ke sang pencipta.

Yah namanya juga nasib manusia. Siapa suruh jadi manusia?

Minggu, 15 April 2012

Tercerahkan sambil makan mie ayam

Di sudut sebuah gang di Jalan Asemka dekat Stasiun Kota Jakarta, di sebuah Kedai Mie terpasang sebuah pigura bertuliskan aksara Cina:

"Berbuat baik, rejeki belum datang tapi musibah sudah menjauh. Berbuat kejahatan, musibah belum datang tapi rejeki sudah menjauh."

Aduhhh aduuuhh merasuk sekali ungkapannya... :) buat orang-orang yang sering digolongkan "malang" dari sudut pandang pencari mamon sejati.

Soalnya saya juga nampaknya masuk dalam golongan ini.

Senin, 09 April 2012

Renungan di Kolam Pak Haji

Kemarin, di hari Sabtu Suci - sehari sebelum Paskah saya mancing di kolam ikan milik Pak Haji di Parung. Kenapa dipanggil Pak Haji, karena dulu pemiliknya adalah Pak Haji Sesuatu. Walau sudah berganti pemilik tapi tetap bagi kami pemancingan besar itu dinamakan Kolam Pancing Pak Haji.

Kolam pancingnya besar... tidak seperti kolam pembesaran ikan yang ukurannya kecil-kecil agar makanan saat disebar tidak jatuh kemana-mana. Tidak kecil seperti kolam pemancingan yang sistemnya beli ikan per kg lalu dilepas agar bisa dipancing bersama-sama (diperlombakan dengan sumber daya ikan terbatas, ada yang rugi ada yang untung). Ini adalah kolam pemancingan dimana kalau kita dapat ikan lalu ditimbang dan dibeli, jadi sebenarnya seperti membeli ikan di pasar, hanya perlu dipancing terlebih dahulu.

Dengan sistem seperti ini, maka kolam bisa dibuat besar, luas - indah. Ikan tidak perlu banyak diberi makan karena yang memberi makan adalah para pemancing. Ikan cukup diberi makan dengan porsi sedang-sedang saja. Mungkin setahun sekali dua kali akan dipanen.

Memancing ikan menyenangkan, mengasah naluri purba, namun menimbulkan kesedihan, terutama saat melepas kail dari mulut-mulut ikan yang ditangkap.

Menurut teori, ikan mempunyai daya penyembuhan yang cukup baik terutama di bagian mulut. Entah itu dusta atau benar. Yang jelas saya tetap sedih saat membuka kail dari mulut sang ikan.

Jadi berpikir dan merenung, dengan keterbatasan pikiran... bertanya lagi, mengapa manusia perlu membunuh? Bukankah sebaiknya ia diciptakan minimal sebaiknya tidak perlu makan? Sehingga manusia juga tidak perlu membunuh?

Mengapa ia diciptakan membutuhkan protein? Mengapa ia diciptakan membutuhkan lemak? Bahkan ia perlu serat yang diambil dari tetumbuhan (well, maybe someday saat manusia begitu maju maka membunuh tetumbuhan juga akan digolongkan dalam tingkat baru pembunuhan).

Mengapa manusia harus membunuh ? Bahkan Yesus pun sepertinya makan ikan, roti dan minum anggur kalau dilihat di kitab suci. Apakah ini kutukan permanen dari yang mendesain di sana?