Sabtu, 21 Juni 2014

Tips Booking Hostel pas Bacpackeran di Luar Negeri


Ini saran saya buat kamoe-kamoe yang senang jalan-jalan murah ala backpacker, untuk membooking hostel dan kawan2nya:
  • Untuk masa liburan, Sabtu Minggu pesanlah jauh-jauh. Bukan masalah engga ada hostel lain (penginapan itu pasti ada kalau rajin nyari dan jalan, tapi sudikah kamu jalan-jalan bawa tas berat apalagi kalau dapet penerbangan malem kalau ternyata hostel kamu sudah penuh? Seringkali untuk hostel dengan review baik, mereka penuh terisi saat liburan (misal kalau Song Kran Festival di Bangkok bulan April, atau Tet di Vietnam, atau Lebaran di Malaysia).
  • Punya cadangan penginapan (minimal tahu alamat penginapan sekitar yang dekat dengan penginapan utama). Sebab pernah kejadian, di penginapan kami menemui wisatawan yang sudah booking namun kamar yang mereka pesan masih ditempati orang lain (pemilik hostel ya pasti setuju-setuju aja toh kalau wisatawan sebelumnya bermaksud memperpanjang sewa kamar? Dan tidak semua penginapan punya cadangan kamar lho). Walhasil jam 11 malam wisatawan Malaysia tersebut (5 orang) yang sudah naik ke lantai 3 bawa carrier berat turun lagi ke lobi sambil marah-marah sebab kamarnya masih ada yang mengisi. Hostel-hostel murah biasanya dikelola dengan manajemen sederhana sehingga seringkali lupa dengan catatan kedatangan wisatawan.
  • Minta no HP si pengurus hostel, minimal 2 orang. Pernah kami pulang jam 12 malam sehabis jalan-jalan di Chiang Mai dan kartu magnetic kami (untuk membuka pintu) menemui masalah. Terpaksa kami menunggu di depan pintu hampir 30 menit. No telepon yang diberikan tidak dapat dihubungi, mem-bel hostel tidak ada yang jawab, untung kami mendapatkan nomor satunya lagi dari kertas yang tertempel di pintu bawah (dioper-oper juga karena si penanggung jawab rumahnya agak jauh dari hostel kami tapi lumayanlah ditanggapi dengan baik kekesalan kami).
  • Beli nomor HP lokal kalau tinggal lebih dari beberapa hari. Kembali lagi ke point nomor 3... bayangkan biaya yang dihabiskan pulsa internasional kalau kita sampai menelepon lokal di luar negeri. Stressss.
  • Cari hostel yang dekat dengan jalur transportasi masal. Lebih baik mahal sedikt dan mudah mengakses transportasi dibanding murah tapi jauh, sehingga menghabiskan biaya transportasi nantinya atau energi (cape) jalan kaki. Sori ya bro n sis, kalau waktu kita terbatas dan misal jam 11 malam kita masih harus jalan kaki 20 menit (sementara siang-malamnya juga sudah kita habiskan berjalan kaki) kayanya gempor juga lho... (pengalaman pribadi neh di Bangkok, yang lokasinya tertulis 10 menit walk from Lumphini Station  padahal diitung2 hampir 20 menit deh berjalan dan nembus gang sini situ). Tips ini tidak berlaku untuk yang perjalanannya memang mencari lokasi yang tenang dan damai.
  • Cari hostel dengan review yang baik dan dengan jumlah review yang juga banyak (kalau sedikit, curiga kalau memang diisi oleh temannya si pemilik hostel). Review adalah hasil subyektif para penginap, dan boleh menjadi acuan terpercaya.
  • Boleh juga cek dapat fasilitas apa: wifi? Makan pagi? Sewa sepeda gratis? Safety box?
  • Pada hostel terutama dengan tipe dormitory awasi barang bawaan. Jangan pernah meninggalkan barang berharga. Bule sekamar juga bisa klepto bro. Kalau bukan tipe dormitory (misal single room), tukang bersih-bersih juga bisa klepto bro sis (kasus di Pham Ngu Lao street, Saigon duit saya pernah ilang sebab istri yang baru pernah bacpackeran ninggalin duit di wastafel kamar mandi – walhasil ilang saat dibersihkan). Mau urus duit ilang bisa berabe kalo diluar negeri walau cuma ilang seratus ribuan sebab kendala bahasa bro, masa mau maki-maki pake bahasa kita sedang dia juga ga ngerti kan?
  • Di hostel, baik-baik dengan sesama bacpacker. Kami sering menemui bahwa rasa kesetiakawanan para backpacker sangat besar. Kami berbagi cerita, berbagi barang bawaan kecil-kecil (misal kopi, teh sachet, pernak-pernik kecil dan sebagai pertukaran kami juga mendapatkan hal yang sama dari mereka, selain cerita tentunya).
  • Ga yakin hostel atau punya planning lain, bookinglah untuk 1 malam saja (kedatangan). Gunakan hari kedua untuk mencek keadaan sekitar syukur-syukur dapet hostel yang lebih enak. Jangan membooking keseluruhan liburan di 1 hostel yang sama sebab kalau hostelnya tidak enak agak sulit membatalkan pemesanan (ada penalti biasanya, kecuali si pemilik memaklumi – tapi keadaan kita lebih lemah biasanya).
  • Saya suka bawa benda-benda remeh tapi penting ini di hostel: 1 universal charger sambungin dengan 1 kaki tiga supaya bisa charge 3 alat sekaligus, tali rafia sepanjang 5 meter (beli aja 1000 di warung bro) buat jemur, kantong plastik yang rada tebel (1 atau 2) buat nyuci, pemanas air teko plastik (beli 15 ribu bro di Giant) buat nyeduh kopi, klip kertas (buat jepit baju). Buku Lonely Planet kecuali ngerasa penting banget ga usahlah dibawa sebab berat. Print aja dari internet, kecilin hurufnya – sekalian buat dicoret-coret belakangnya kalau kosong.
Wokeh segitu dulu tipsnya. Selain hostel bisa juga teman-teman menginap gratisan apabila menjadi anggota misal www.couchsurfing.com (saya sampai sekarang belum pernah inap walau sudah beberapa kali teman dari luar negeri menginap di rumah saya – beberapa kali saya coba cuma belum beruntung sebab yang punya rumah ingkar janji (membatalkan janji, sibuk bekerja misalnya). Biasanya saya suka memakai fasilitas seperti www.booking.com  (gada booking fee, kita bayar saat tiba di hostel, tapi apabila dibatalkan terlalu dekat ke hari H maka kartu kredit kita akan kena charge). Selain itu ada juga www.agoda.com atau www.hostelworld.com (dua-duanya juga saya pernah coba). Seringkali harga yang ditawarkan situs ini lebih murah dibanding booking langsung hostel. So, it’s worth a try.

Senin, 10 Maret 2014

Homoseksualitas Adalah


Temen saya di acara internasional di Bogor, seorang anak muda dari Myanmar mengaku bahwa dirinya adalah seorang gay (artinya menyukai yang lainnya yang berjenis kelamin sama, laki-laki). Kalau dibilang ia seperti perempuan secara fisik sebenarnya tidak terlihat. Hanya saja ia suka benda-benda bernuansa kewanitaan seperti sepatu high heels (sebab ia mencari-cari benda itu di Bogor Trade Mall, sebuah pusat belanja di kota saya tinggal). Favoritnya adalah Lady Gaga dan di malam perpisahan ia bernyanyi dan berdansa seperti Lady Gaga the Monster begitu kata dia, Alex.

Nah biasanya di negara yang kesejahteraannya rendah (seperti Myanmar) orang-orang yang berorientasi homoseksual agak jarang terdengar, tapi teman saya ini lain - dia vokal banget, berani menunjukkan kalau dia gay, bahkan cerita tentang pacarnya yang sama-sama laki-laki – kangen katanya ingin kalau ia dijemput di bandara nanti kalau ia pulang. Ternyata kemudian saya tahu kalau dia adalah putra seorang usahawan yang sangat kaya di kotanya. Selain itu ia juga bersekolah di sekolah internasional, jadi saya rasa pergaulannya di sana cukup liberal dan bebas. Saya rasa artinya ia mendapatkan dukungan yang baik pula untuk akses arus informasi termasuk untuk mendukung ke-gay an nya (bisa searching di internet minimal dengan free).

Indonesia juga agak anti dengan homoseksualitas - berbeda dengan di Thailand atau Belanda yang agak beda memperlakukan kaum homoseksual maupun transgender (kalau kata yang ini berarti kalau misalnya laki-laki kemudian berganti kelamin menjadi perempuan, dan sebaliknya).

Oh ya lupa, homoseksulitas itu ada yang gay (laki suka laki) dan lesbian (cewe suka cewe) juga. Bisa terjadi karena genetik dan juga dipengaruhi oleh lingkungan.

Terus kenapa ya orang pada umumnya pada ga suka sama kaum gay atau lesbian? Ini dengan asumsi pembicaraan kita bukan di negara-negara yang memiliki pandangan khusus yang cukup positif pada kaum ini.

Kalau teori saya, ini berasal dari jaman purba, boleh ya saya cerita?
Dulu (dan masih juga seh sekarang) ada pembagian pekerjaan adalah berdasarkan jenis kelamin - berikut teori fisik yang melekat padanya. Maaf ya yang ga suka teori, gw kasih teori neh berdasarkan juga buku Man from Mars and Women from Venus. Gw kasih dikit deh.

Pada intinya, ada perbedaan kekuatan dan fungsi tubuh di dua jenis kelamin ini. Kalau cowo karena jaman dulu kerjaannya adalah berburu maka fisik berkembang kuat untuk pekerjaan berat.

Otot-ototnya berevolusi / beradaptasi berkembang lebih kuat, bagian dari otaknya yang berhubung dengan indera penglihatan mampu mengkalkulasi jarak, lebar, tinggi (3D) agar mampu menusuk buruannya dengan tepat. Kalau perempuan, bagian otaknya yang berhubungan dengan indera penglihatan - karena fungsinya yang berkembang untuk menjaga sekitar (sebab ia stay di gua) maka ia memiliki lebar penglihatan yang lebih luas. Ia bisa mengawasi sekitar jauh lebih baik daripada laki-laki, hanya ia agak "gagal" dalam mengkalkulasi 3D.

Mangkanya kalau nyetir perempuan lebih banyak nabraknya sebab persepsi kedalamannya agak kurang. Mangkanya kalau cowok ngelirik perempuan matanya keliatan banget ngelirik, sedang perempuan tidak.

Secara fisik, laki-laki didesain menjadi pemburu yang baik. Sedangkan perempuan didesain untuk fungsi perawatan. Untuk yang ini saya yakin, sama seperti saya meyakini teori evolusi dan kalau kaum ultra feminis mencoba membantah teori ini silahkan saja. Secara ilmu pengetahuan saya meyakini bahwa ini terjadi.

Balik lagi, pembagian tugas tersebut saklek dan dikala laki-laki atau perempuan tidak bisa melaksanakan tugasnya tersebut ia akan dikucilkan (kalau jaman dulu biasanya dicuekin, ga dikasih makan, ga boleh masuk shelter bahkan bisa dibunuh) sebab jaman itu memang keras. Semua angota kumpulan harus (HARUS) bisa melakukan tugas primernya dengan baik. No time lah buat ngerjain hal-hal sekunder.

Nah lalau gitu apeslah buat yang berorientasi homoseksual sebab misal ditemukan cowok yang keperempuanan (lemah) atau perempuan yang ga bisa masak dan mengawasi anak-anak, agresif maka dikeluarkanlah ia dari kelompoknya. Pada waktu itu masyarakat tidak mampu menyediakan jenis pekerjaan yang cocok bagi kaum yang berbeda karena memang belum dibutuhkan pada struktur masyarakat yang sederhana. Kerjaan masyarakat sederhana ini cuman beginila kira-kira: cowok keluar gua nyari makan, cewek tunggu gua sambil rawat anak dan jaga-jaga supaya gak ada harimau gigi pedang yang menyantap anak-anak mereka.

Bukan hanya kaum dengan orientasi seksual berbeda yang akan dikucilkan agar hilang dari komunitas tapi termasuk diantaranya adalah kaum cacat (difabel), kaum yang sakit, kaum tua (kecuali maybe yang pernah berjasa karena dianggap pengetahuannya berharga buat dideger kalo lagi kongkow deket api unggun). Mengapa? Sekali lagi pada masa itu, kaum tersebut tidak dirasakan punya manfaat selain menjadi beban kelompok.

Pembagian tugas yang lebih rumit terjadi pada masyarakat yang sudah lebih maju dan kompleks. Misalnya kalo diilustrasiin jadi begini neh: si masyarakat gua kaum prianya jago banget berburu dan produksi berkelimpahan terus, kaum wanitanya bereproduksi terus, mengumpulkan jamu-jamuan, tidak ada masalah dengan lingkungan maka lalu punya waktu untuk santai.

Di situ lalu timbulah pekerjaan-pekerjaan sekunder, misalnya lalu si wanita dominan yang biasanya punya waktu lebih (ya iyalah masa si ratu disuruh nyuci baju terus dalam keadaan baik-baik saja?) lalu mencari pesuruh yang dipakai buat menyisir rambutnya (agar si cowok dominan, si pemimpin saat datang dari berburu atau memimpin kelompoknya mengusir musuh tertarik lalu mengajak reproduksi). Kalo cowok dominan, misalnya mereka juga perlu dihibur maka lalu munculah misalnya peran bagi manusia bertubuh kerdil (cacat sebenarnya, bisa secara genetik) untuk berperan sebagai badut.

Saya hanya ingin mengatakan bahwa pada masyarakat yang lebih kompleks strukturnya maka peran-peran bagi kaum minoritas ini akan semakin terbuka. Semakin kompleks strukturnya maka semakin terbuka peran-perannya.

Kalau ga percaya, coba deh pikirin mana ada misal wedding singer, pembuatan website,  jasa pembuatan skiripsi, jasa perawatan akuarium air laut di masa perang kemerdekaan RI. Saya cuma bermaksud mengatakan kalau jasa-jasa tersebut ada di jaman sekarang, tahun 2000an yang secara struktur masyarakatnya cukup kompleks (didukung ma perkembangan teknologi) yang mebutuhkan tenaga ahli secara khusus.

Mau lebih aneh lagi? Pernah ga memikirikan kalau misalnya ada lagi jasa misalnya untuk mengusulkan pemberian nama buat bayi yang baru lahir? Atau misalnya jasa mengambilkan barang yang ketinggalan di rumah untuk diantar ke kantor?

Nah pada saat tersebutlah maka peran kaum minoritas termasuk lesbian dan gay bisa diterima sebab disitulah fungsi-fungsi mereka di masyarakat bisa diterima. Mereka misalnya bisa berperan sebagai hair stylist, koki, memasukkan data di komputer, membuat website, atau bahkan diperbolehkan bekerja lebih formal seperti bekerja sebagai tentara, di perusahaan atau lain-lain.
Sebab di masyarakat yang maju, semua bisa berperan di bidangnya masing-masing.

Menurut saya, munculnya homoseksualitas (yang benernya udah ada dari dulu) adalah bagian dari perkembangan struktur masyarakat dari yang sederhana menuju yang lebih kompleks, thats all... bagian dari ilmu biologi, ekologi manusia dan dicampur ma sosiologi.

Rabu, 26 Februari 2014

Sedihnya Dapet Bihun Sedikit

Well, guyz... kadang kekesalan kita, kesedihan kita bisa terpicu oleh hal-hal kecil saja terutama di saat kita memang sedang galau.

Seperti saat saya sore ini. Saat itu saya sedang berjalan sendirian sehabis hujan lebat. Dari pinggir Sungai Ciliwung tercium bau luapan sungai, seperti bau sampah basah bercampur bau tanah.

Capai dan lelah karena seharian di depan laptop, serta sebelumnya bepergian dengan angkot ke Cipaku saya memaksakan diri keluar kantor, mencari tukang bakso yang biasanya mangkal dekat SD.

Yang pertama saya jumpai adalah tukang bakso baru, dengan gerobak lama. Hati saya agak kurang senang sebab saya tidak mudah akrab dengan orang baru. Saya perlu waktu untuk mengamati orang-orang baru sebelum memutuskan akan berakrab atau cukup biasa saja dengan mereka. Satu lagi adalah, saya percaya semakin lama orang bekerja - semakin profesional dia... dan dalam hal ini termasuk si tukang bakso.

Apa yang saya khawatirkan terjadi terjadilah.

Eeee. pas mangkoknya ditengok dapet bihunnya CUMAN sedikit ! Gimana saya ga kecewa, biasa dapet bihun minimal dalam kuantitas sedeng, ini paling tiga kali digarpu abis tumpukannya.

Dan sedihlah saya. kecewa dengan perubahan yang terjadi dan ketidakpastian di masa depan antara saya dan tukang bakso ini.

Yah saya doain aja semoga si abang bakso (new, fresh graduate, greeny) ini segera insyaf dan sadar kalau ngasih bihun terlalu dikit itu akan buat pelanggannya kabur.

TT Berdoa juga si abang lama jualan lagi atau minimal nasehatin si abang bakso baru supaya naker baksonya lebih baik.


Rabu, 04 Desember 2013

Merubah Agama Sesorang


Agamaku adalah Agamaku, Agamamu adalah Agamamu.

Kalimat ini sering saya dengar diucapkan oleh banyak jenis orang, dari tokoh agama besar, aktifis LSM, sampai teman sendiri. Kebanyakan dari mereka adalah aliran tengah, bukan aliran kiri yang memang sudah keras kena formalin (kalau aliran kiri jenis ini pepatahnya lebih sangar lagi: masuk neraka, kafir). Nah kalau yang aliran tengah ini sepertinya terlihat netral… silahkan saja urus agama masing-masing, jangan saling meribetkan. Mungkin saya tambahkan lagi… kami akan bantu yang lain, asalkan tidak yang menyangkut masalah agama. Kalau yang itu kami tidak ingin tahu.

Masalah golong-golongan ini makin terlihat kerasnya kalau ke masalah yang paling sensitif... boleh ga sih kita pindah agama (walau kalau menurut UUD 1945 pasal 29 itu dijamin kebebasannya oleh negara)? Nah kalau yang garis kiri jelas-jelaslah kalau pindah agama ini dosa. Kalau garis tengah kayanya cenderung ngomong kalau itu agak dosa (netral ga sih yg ini?). Kalau garis kanan bilang itu kebebasan... malah mungkin mempertanyakan juga dosa itu apa sih?

Kalau di Indonesia seh yang paling santer tentang masalah converting agama seperti ini adalah agama Islam dan Kristen (Protestan dan Katolik). Kalau yang lain maybe karena jumlahnya sedikit maka terjadi secara sporadis saja (misalnya Hindu, Budha, Kepercayaan) – walau sebenarnya secara bukan hanya dua agama ini yang mengeluh saling converting satu sama lain. Antar semua agama juga sebenarnya saling mengeluh, misalnya umat Budha yang misalnya mengeluh umatnya banyak yang dikristenisasi, atau Kepercayaan (Kong Hu Cu misalnya) yang diconvert jadi Katolik.

Lalu apakah memang sebaiknya agama sesorang itu tetap saja seumur hidupnya? Jadi misal kalau orangtua beragama Islam, lalu sebaiknya anak sampai cucu-cucunya tetap beragama Islam? Atau kalau orangtua beragama Kristen Protestan lalu keturunannya tetap Kristen Protestan juga sampai sepuluh abad setelahnya?  

Kalau menurut saya terjadinya proses komunikasi antar dua belah pihak adalah wajar. Begitu pula upaya mempengaruhi pihak lain agar menerima kebenaran, menyetujui pandangan yang lainnya adalah wajar. Bukankah inti komunikasi adalah upaya agar pihak yang lain percaya mengenai informasi / pandangan kita? So upaya saling meng-convert agama sebenarnya adalah contoh upaya tujuan komunikasi, agar pihak lain menerima / percaya akan kebenaran dari pihak lain.
Lalu bagaimana dengan pertengkaran-pertengkaran yang terjadi akibat upaya convert mengconvert itu?

Perlu dipahami bahwa agama adalah suatu entitas. Suatu kelompok bergabung membentuk suatu kelompok agama dimana di dalamnya mereka percaya bahwa dengan bersatu mereka mampu melakukan suatu pekerjaan dengan lebih baik (misalnya, bertahan terhadap serangan kelompok lain). Pada saat suatu kelompok kehilangan anggota-anggotanya, dapat dibilang bahwa kekuatan mereka akan melemah. Hal ini berlaku sebenarnya untuk setiap kelompok.

Kalau dilihat pola ini adalah diturunkan dari intuisi makhluk hidup itu sendiri yang menyukai cara berkelompok selama makanan di sekitarnya tercukupi untuk kelompok sebab dengan bergabung mereka akan lebih aman (jadi inget kalau di laut ikan-ikan sejenis suka bergerombol dalam jumlah yang sangat besar, misal untuk membingungkan predatornya sehingga kemungkinan survivenya lebih tinggi untuk setiap individu di dalamnya).

Pada saat satu kelompok “tercemari”, misalnya saat anggota kelompoknya mendapatkan ide yang berbeda – akibat berkomunikasi dengan kelompok lain dengan paham yang berbeda, maka keberadaannya dapat mengancam kelompok besarnya, karena ide tersebut dapat menular. Maka seringkali kita mendapatkan suatu kelompok sangat “intoleran” terhadap ide atau gagasan baru. Ini merupakan suatu mekanisme pertahanan, terutama apabila kelompok tersebut merupakan kelompok konservatif, dimana di dalamnya tidak ada mekanisme cepat untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungannya.

Kembali lagi terhadap hal perubahan agama. Maka apabila misalnya suatu keluarga khawatir karena anaknya pacaran dengan pria / wanita agama lain, hal itu bisa jadi karena ketakutan keluarga (kelompok kecil) tersebut terhadap tekanan kelompok yang lebih besar (notabene kelompok agamanya). Bisa jadi keluarga (kelompok kecil) tersebut misal berpendapat bahwa hal tersebut dilarang oleh Tuhan, dilarang oleh agama, dan lain-lain. Namun menurut saya, yang lebih mudah dilihat adalah bahwa kelompok kecil tersebut khawatir akan pandangan dan tindakan dari kelompok besarnya terhadap kelompok kecil tersebut.

Lainnya adalah bahwa seringkali perpindahan agama dilihat bukan menguntungkan secara ke individuan (misal, pendapat alangkah bahagianya bahwa sesorang bisa menemukan tujuan hidupnya dengan lebih baik) , namun kemudian dihubungkan dengan sisi politis, bahwa dengan berpindah menunjukkan bahwa agama barunya lebih baik dibandingkan dengan agama lamanya.
 Sisi politis ini bila dilihat dengan baik juga dapat dihubungkan dengan penambahan jumlah kelompok, dimana penambahan kuantitas berarti penambahan kekuatan bagi kelompok baru.

Lalu mana penerapan “Kebebasana memilih agama sesuai keyakinan dan kepercayaannya” yang dijamin oleh UUD 1945 itu ya? Heran saya. Ini kayanya retorika aja deh.

Di Indonesia ini, gara2 pindah agama sesorang bisa diadilin oleh keluarganya. Untung-untung FPI ga datengin rumahnya sambil bawa bambo. Yah tapi masih untunglah ga kaya di Negara-negara timur tengah yang bisa mancung kepala untuk soal beginian.

Semestinya, ini menurut saya ya… agama itu dipilih sesorang sebab dengan memilih agama tersebut ia bisa lebih baik dan mudah menemukan tujuan hidupnya ya? Berkelakuan lebih baik, positif, dan lain-lain. Dan kalau kita dimita mengesampikan agama, tentu kita akan mendukung misalnya ada sesorang di keluarga kita yang bertujuan seperti itu. Tapi sehubung agama bukanlah milik pribadi maka jadi komplekslah masalahnya.

Kalau saya tetap berprinsip agama itu seperti baju saja… kepribadian saya tetap sama walau baju saya berbeda. Ganti baju kalau memang harus ya lakukan saja. Saya masih percaya pasal di UUD 1945 tentang kebebasan beragama (untung saya tidak hidup di komunitas agama fanatik. Kalau ya bisa habis saya).

Minggu, 01 Desember 2013

Pendampingan Masyarakat: Masyarakat Yang Mana?



Selama saya melakukan pendampingan masyarakat, sering kita menjumpai konflik yang terjadi di masyarakat. Contohnya, misalnya antara perusahaan swasta yang memiliki Hak Guna Usaha (HGU) dengan masyarakat. Bisa juga terjadi antara misalnya pemerintah (diwakili oleh Taman Nasional) dengan masyarakat.

Contoh pertama misalnya. Perusahaan  swasta ingin memanfaatkan lahan HGU untuk mendapatkan profit (misalnya dengan menanami lahan dengan tanaman seperti jati, jenjeng, atau sayuran). Nah ini legal dan sah, karena pemerintah memberikan hak HGU tadi kepada perusahaan. Yang biasanya agak bermasalah adalah apabila misalnya, lahan yang diberikan HGU nya kepada swasta ternyata adalah lahan yang diklaim milik masyarakat. Kalau kasus ini bisa terjadi misalnya kalau yang di HGU kan misalnya adalah hutan adat, dan lain-lain. Ini bisa terjadi karena misalnya pemerintah masih merasa kalau yang di peta Indonesia ini bisa diberi saja semaunya ke perusahaan yang bisa bayar pajak ke pemerintah. Padahal bisa jadi masyarakat. yang sudah ada sebelum pemerintah RI berdiri sudah merasa memiliki, memanfaatkan dan memanage hutan tersebut.

Sebagai catatan, tahun 2012 MK (Mahkamah Konstitusi) Indonesia sudah memisahkan Hutan Adat dari Hutan Negara. Artinya Pemerintah sekarang sudah tidak bisa seenaknya saja memberikan hak kelola Hutan Adat kepada Swasta. Itu punya masyarakat adat coy. Satu langkah yang baik menurut saya.

Lainnya, seperti di daerah pendampingan saya, desa Pasir Buncir dan Wates Jaya. Yang ini perusahaann yang punya HGU pintar sekali. Ada syarat kalau ditelantarkan, lahan HGU bisa tidak diperpanjang ijin pemanfaatannya. Kalau saya tidak salah kalau ditelantarkan 4 tahun masyarakat bisa mengajukan kepada pemerintah agar tidak memberikan perpanjangan HGU ini, dan bisa mengolahnya kemudian dengan asas kolektif (ngajuin bersama agar nanti hak kelola adalah memakai nama sama-sama). Ini kalau saya tidak salah ya sebab saya bukan ahli hukum pertanahan.

Di  desa ini perusahaan pandai. Mereka tidak mengolah lahan sendiri, namun menyewakannya kepada petani, agar diolah dan kemudian mereka akan mendapatkan kira-kira setengah dari hasil panen.  Jadi ga keluar modal.

Yang jadi masalah adalah nah kok elo ga ngelola sendiri, nyewain ke orang lain lalu elo claim kalo perusahaan elo sudah memanfaatkan HGU nya dengan baik? Atuh mending pemerintah langsung aja kasih HGU nya ke masyarakat?

Di sini perusahaan jadi bertindak seperti calo sewa tanah, dan ini dilarang. Kalo gw jadi pemerintah seh ga bakal ijin HGU nya gw kasih ke perusahaan macam begini. Kaya lintah gw bilang sih.

Nah masalah lain juga, ini sering luput dari kita-kita yang katanya pro ngebela masyarakat dibanding perusahaan besar.

Yang dibela ini masyarakat yang mana seh? Sering misal... kalo HGU perusahaan lepas lalu diberikan ke masyarakat, ternyata yang dinamakan masyarakat itu adalah makelar tanah. Bisa juga jatuh ke petani kaya, entah dari desa mana; atau pengusaha tambang ilegal (Haji sesuatu yang kayanya ujubile dari hasil nambang ilegal). Ini semua masyarakat Bung. Jadi mana masyarakat yang elo maksud?

Yang kasus pengusaha tambang ilegal ini kasus nyata di daerah pendampingan kami di desa sekitar Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Doi itu udah siap-siap katanya kalau HGU perusahaan ga diteruskan, dah siap-siap caplok HGU nya buat nambang kaolin. Dah siap tuh buldozer ma truk-truk besarnya buat ngerokin tanah.

Lalu dimana seh masyarakat petani, miskin, penggarap, yang kudunya emang dapet hak kelola lahannya? Sori coy... jadi elo para pendamping pikirin bae-bae karena reformasi agraria bisa jadi gila hasilnya. Dari mulut buaya jatuh ke mulut harimau.

Saya sih cuman pengen bilang. Yang namanya masyarakat itu bukan suatu entitas tunggal. Isinya adalah ibu-ibu, tukang sayur, petani, mamang baso, anak perempuan, balita, manula, makelar tanah, preman pasar, Haji yang udah 3x naek Haji, Pak RT, mahasiswa yang lagi PKL yang lagi pacaran ma petugas di Puskesmas. Isinya orang baik dan orang jahat dan yang abu-abu. Silahkan pilih dulu.

Jadi bae-bae deh pendampingannya. Mohon dicek dulu siapa ada dimana. Itu namanya assesment. Kaga bisa assesment? Siap-siap deh kecewa lahir batin setelah pendampingan.

Wasalam.

Senin, 17 Juni 2013

Perbandingan Kesialan saat Backpackeran



Kesialan yang perbandingannya 1 berbanding 11.315 (itungan saya) bisa saja terjadi saat kita sedang travelling. Entah mengapa, tapi kok hal ini bisa terjadi ya?

Contohnya adalah saat saya naik bis di tahun 2010, mencoba merasakan perjalanan darat dari Phuket ke Kuala Lumpur (untuk perjalanan ini rasanya males ngulang lagi karena selain lama, juga bosan melihat kebun sawit disepanjang perjalanan). Nah yang terjadi adalah kira-kira selepas Kuching, tiba-tiba bis saya ditabrak dari arah samping oleh sebuah mobil kotak kecil.

Akibat kejadian itu mobil si penanbrak ringsek. Dari mobil ukuran kecil, ukurannya semakin kecil lagi sebab menciut ringsek (dasar mobil kaleng). Saya yang duduk di bagian belakang bersyukur sebab selamat baik-baik saja walau kaget. Begitu juga seluruh penumpang lain selamat, seperti layaknya si penabrak yang malang sebab ban mobilnya meletus tiba-tiba.

Mobil yang nabrak di perjalanan Phuket - KL
Nambah deh waktu perjalanan sebab jadi nunggu bis lain lewat buat numpang. Saya ingat, dari Phuket saya jalan 10 an pagi. Sampai KL kira-kira jam 6 sore hari berikutnya. Pantat dan badan sakit semua.

Heran saya. Saya sudah 31 tahun hidup waktu itu. Ini seumur-umur liat mobil nabrak dan mobil saya ditabrak. Kok malah kejadian di negeri orang yang kalau saya hitung paling waktu perjalanan totalnya ngabisin waktu cuma semingguan aja? Tabrakan ini perbandingannya adalah 1 hari sial berbanding total hari hidup saya yang sudah terlampaui 365 x 31 = 11.315 hari. Artinya 1 berbanding 11.315. Kenapa ga terjadi di Indonesia saja (Bogor) dibanding di negeri orang lain?

Kesialan dengan perbandingan lebih rendah, misal kira-kira 1: 500 orang atau perjalanan (kira-kira saja) tentu saja lebih mudah terjadi. Misalnya hilangnya / tertinggal paspor saat bepergian. Teman saya, Fahmi mengalaminya saat jalan-jalan di Chiang Mai.  Untung ketemu lagi ketinggalannya di restoran walau pasti sudah pasrah ga ketemu.

Tapi ini ada penjelasannya. Kalau menurut saya, semakin penting sebuah benda (seperti paspor, tiket pesawat) maka semakin hati-hati kita mengingat-ingatnya. Parahnya adalah sepertinya semakin besar juga usaha otak kita untuk membuang beban berat ini dengan cara melupakannya.

Buktinya yang lain adalah, walau kita sudah siapkan tiket pesawat di saku baju tetap saja kita bisa mengobrak-abrik koper untuk mendapatkannya.

Sial yang lain juga bisa berakibat rentetan sial berikutnya. Hukum tarik menarik bagaikan magnet kali ya? Buktinya sebelum bis saya ditabrak mobil saya sempat ditelantarkan di Hat Yai, kota perhentian sementara. Di drop di terminal bis jam 3 pagi, tidur-tiduran di bangku tunggu berbahan besi, atau yang berbentuk seperti bangku kuburan cina (dari semen atau granit) dan walhasil badan mererentek sebab dinginnya menembus jaket.

Saya rasa lalu ada tiga dari antara kami bertiga (berangkat 3an) lalu mengumpat-umpat dalam hati sehingga kemudian “memanggil” kekuatan negatif. Walhasil bis kami ditabrak mobil. 

Mari kalau begitu kalau kita sedang mau jalan-jalan, perbanyak berdoa sebelum dan saat berangkat hehehe. Mungkin itu obat mujarab untuk menjauhkan hal-hal kesialan selama perjalanan. Atau bisa juga dengan memberi persembahan kepada dewa-dewi setempat selama disana.


Jam Tangan yang Berharga



Mengapa saya jadi pakai jam tangan kalau sedang bepergian sekarang? Itu ada alasannya. Beginilah kira-kira.

Dulu saya menganggap bawa HP saja cukup saat jalan-jalan, karena ada jamnya toh? Nah pernah suatu saat saya sedang jalan-jalan di Ca Dai Temple di sekitar Saigon (Ho Chi Minh) anggapan saya terbukti salah.

Di dalam kuil Cao Dai
Jalan-jalan ke Cao Dai Temple (unik, sebab ada beberapa agama besar di situ yang dibungkus jadi satu kepercayaan baru) saya mengikuti tur seharga 7 USD (plus tur ke Cu Chi tunnel markas gerilyawan Viet Cong dulu – exclude tiket masuk). Mudah, murah juga (apalagi kalau setelah sampai Cu Chi tunnel tidak jadi masuk dan cuma nongkrong di dekat loket karcis).

Anyway, pemandu wisata yang bekas guru bahasa Inggris menerangkan tentang keunikan agama Cao Dai tersebut, termasuk berapa lama waktu berkunjungnya.

Setelah sampai dan lama berputar-putar, serta melihat upacara dan permainan musik di dalam kuil, saya cek waktu melalui HP saya. Eh ternyata HP itu tertinggal di hostel (terbawa kebiasaan meninggalkan barang tersebut di ransel pakaian sebab sering tidak diaktifkan kalau pergi keluar negeri, takut kena rooming).

Saya lalu berpanduan kepada jam tangan yang dipakai oleh turis bule sekitar. Sebentar-sebentar saya lihat dan karena upacara keagamaannya belum selesai dan masih banyak kelompok turis berkeliaran saya tenang-tenang saja.

Beberapa selang kemudian sekitar 15 menit dari akhir bertemu, dengan muka masam dan marah munculah teman saya. Ternyata saya sudah mau ditinggal bis tur dan ia menyusul saya balik di kuil dengan tergesa-gesa. Untunglah ia tak lama marah kepada saya karena memang orangnya baik kok.

Saya balik ke bis dan dipelototin si pemandu dan para turis lain yang kesal menunggu saya.

Jadi selanjutnya, dalam perjalanan saya selalu pakai jam tangan. Dari jam tangan karet anak-anak, digital, sampai yang termutakhir Swiss Watch – semua jadi kewajiban kalau sedang berjalan sebab saya tetap memilih mematikan HP saat berjalan (kecuali di tahun-tahun akhir setelah lebih sering membeli kartu SIM lokal untuk melakukan SMS ke rumah, dan dimana provider mobile phone lebih ramah karena meniadakan rooming).

Dan jangan lupa, jam tangan yang dipakai tetangga belum tentu benar penunjukkan waktunya. Mungkin saja dimajukan 15 menit supaya bisa bangun lebih pagi. Time is important in a scheduled tour.