Selasa, 20 Maret 2018

Indian Street Wedding Festival in Ranchi, Jharkand



Klik link di atas buat liat simpanannya di Youtube

Aaahhh... jadi bener ya kalo orang India mang suka dansa-dansi. Lucky me.... pas lagi jalan-jalan di Ranchi, Jharkhand November 2017 lalu saya bisa ngeliat arak-arakan kawinan ala Indihe...

Sepanjang jalan Ranchi, di pusat kotanya kira2 saya nemu 3-5 arak2an model ginian. Ada yang gegap gempita, ada yg lebih selow...

Drama Bis Phuket - KL

Mo sharing dikit ah ttg cerita beberapa taun lalu... tentang ngobrol ma agen bis yang akhirnya membuat kita terdampar di terminal bis. Ceritanya waktu itu mau jalan darat Phuket - Hatyai - KL. Naek bis malam ceritanya dengan harapan besok pagi bisa dah main di KL (jadwal dah disusun seefektif mungkin supaya waktu libur kita ga sia2).
Ini bis tertuduh utamanya
Nah singkatnya, di terminal bis Phuket kita udah datang bolak-balik ke beberapa konter, dan pengen milih bis yang nyampenya pagi di KL supaya waktu libur ga terbuang sia2. Nyari ibu2 bapak2 yang jualan tiket n bisa bahasa Inggris (agak susah) n dah nanya berkali2, akhirnya dapatlah rute bis Phuket-Hatyai-Bangkok yang tidak terputus (berangkat sore, sampe Hatyai pagi, lalu cao lagi ke KL, sampe sekitar jam 10).

Buat mastiin kalo bis yang kita tumpangi benar2 tepat maka kita konfirmasi berulang-ulang. Oh ya kami pergi bertiga: saya, Sita n Nana. Dijawab ma agen bis dua orang, kalo bisnya bener ga lama nunggu di Terminal Hatyai. Bisnya satu aja ga usah ganti n langsung ke KL.

Bubur ikan asin buat yang diet
Akhirnya kita berangkat sore itu setelah ngabisin siangnya main2. Bisnya lumayan enak, dan lumayan keisi penuh. Malam-malam kita melewati jembatan yang menghubungkan Phuket dengan daratan Thailand, bangun untuk makan bubur plus ikan asin (hemat amat ini makan malamnya, dan dah pasti buat Sita yang konsumsi energinya besar kelaparan) dan akhirnya sampe Hatyai sekitar jam 2 pagi.

Penumpang lain segera mbrudul, sekitar 15 menit an, dah agak kosong terminal itu tinggal sekitar 10 orang yang segera terkantuk-kantuk dan ngambil posisi mau lanjut bobo.

Oooh... berarti banyak penumpang cuman sampe Hatyai kali ya. Tapi lah kenapa bisnya lalu dah gelap ya n matiin mesin?

Suasana di terminal bis Hatyai sebelum kosong

Nyari kondektur, atau penjaga loket, kita tunjukkan tiket kita dan sial banget, dijawab kalo bisnya cuma sampe situ n lanjut besok hari, sama BIS LAEN. Lah ini mah sama aja dong boong ya, buat apa saya nyari tiket n sampe berbuih2 nanya ma agen di Terminal Phuket? Mo ngambek n berdebat percuma: lah wong kaga bisa bahasa Inggris?

Tempat tidur minimalis
Singkat kata, malam pe pagi itu kami habisnya dengan tidur di Terminal. Saya lupa kedua teman saya itu gimana cara tidurnya, tapi saya tidur ngegelung di bangku dari marmer (kaya yang sering kita liat ada di kuburan Cina) n kedinginan abis di bagian punggung (kesemutan) walau udah pake jaket tahan angin berbusa tipis. Di temaram lampu yang kayanya demi penghematan energi ya, saya liat kedua teman saya ada yang masih dalam posisi duduk sambil nunduk2, atau ngedongak. Setelahnya ga tau deh posisinya gimana lagi.

Pertanyaannya: kan di tiketnya jelas Phuket-Hatyai-KL direct ya, SO?

Setelah menghabiskan malam pe pagi yang bikin tulang ngilu, akhirnya pas langit mulai ada sinar (n terminal mulai rame lagi), mood petualangan kami menyala kembali (sambil bersyukur tadi malam barang gada yang ilang). Kita nyari2 makan pagi. Lumayan ada tukang teh tarik yang bisa bahasa Melayu (Hatyai ini bagian yang udah agak deket ma perbatasan Malaysia jadi bahasa Melayu umum dipakai). Kita curhat ke tukang teh tarik... yah lumayanlah daripada engga ada yag dicurhatin sama sekali.
Jam 9 di Terminal Hatyai, udah banyak sarapan buka
Sambil duduk di jojodok, tukang teh tarik ngangguk-ngangguk. Dia no comment, senyum senang teh tariknya laku pagi2. 
Jam 10, baru ada itu bis yang datang nganter ke KL (grrrrrr!)

Peta Hatyai in case kamu punya waktu buat jelajahin kotanya
Perjalanan Hatyai - KL yang bikin bosen ini (banyakan liat kebun kelapa sawit selama perjalanan Hatyai - KL) kami kurang rekomendasikan sih kecuali kamu mampir di kota Penang, Kuching atau lainnya. Boseeennnnn banget liat sawit, komoditas penggundul hutan!

Di perjalanan ini juga bis kami ditabrak ma mobil kecil yang mirip kaleng di jalan tol di perjalanan selepas Kuching sehingga harus tunggu 2 jam untuk ganti bis lain lagi. Drama lagi euy. Nyampe baru maghrib.
Cukup sekali aja deh jalan darat Phuket Hatyai - KL. Tapi kalo dibayarin sih mau lagi :)



Rabu, 07 Februari 2018

Catatan Harian Komat Kamit Wonorejo



29 Jan 2018 22.30

Wonorejo, kalo denger namanya yang terbayang-bayang di kepala kita pasti sebuah kota, entah di mana di Jawa.

Untuk Wonorejo yang saya ingin ceritakan, lokasinya di Sumatera, dan sehubung dihuni oleh orang-orang yang rindu Jawa, maka dinamakanlah lokasi ini Wonorejo.

Pemandangan sore dari dekat Hotel Pesona tempat biasa nginep
Wonorejo, adalah sebuah korong (setingkat dusun) di Solok Selatan Sumatera Barat. Para pekerja di kebun teh Belanda dulu dibawa dari Jawa, dan setelah bertahun-tahun terisolasi maka mereka kemudian membuat sebuah pemukiman Jawa di daerah Minang ini. Tak jauh dari Wonorejo, ada lagi sebuah pemukiman Jawa yang jauh lebih luas dipanggil Bangunrejo.

Air Terjun Kupitan
Di Wonorejo inilah saya selama satu setengah tahun bolak-balik Bogor – Padang Aro (lokasi kantor konsorsium berada). Pagi biasanya saya berangkat jam 3 pagi, naik bis Damri, naik pesawat tiba di Padang dan disambung naik travel beberapa jam dan sampai Padang Aro sekitar jam 4 sore. Lalu biasanya ngantuk tapi ga bisa tidur. Syukur kalau tidak langsung memfasilitasi pertemuan masyarakat malam harinya (beberapa kali seperti itu, dan biasanya KO seminggu kemudian).

Balik lagi ke Wonorejo yang beberapa minggu lagi saya akan tinggalkan selamanya (sebab ini adalah daerah pendampingan di luar lokasi utama, yang hanya mungkin didatangi kalau didukung oleh proyek besar), saya merasa ini adalah daerah pendampingan yang paling berkesan yang saya datangi selama ini.  Lah padahal dibanding daerah pendampingan saya yang lebih lama, Wonorejo ini didatengin paling 2 bulan sekali dan hanya 3-7 hari saja.

Kenapa saya tertarik mendampingi Wonorejo ini mungkin karena ini adalah daerah yang menurut saya ramah, dan menyenangkan sekali melihat ibu2 yang hanya saya bekali dengan ilmu sedikit tapi lalu bisa dengan sukses mengembangkan Kelompok Bermain untuk anak-anak. Pemuda-pemudi yang bekerja di perkebunan teh, namun masih punya waktu ngobrol tentang ekowisata sampai malam. Biasanya saya setiap ke sini kerja habis-habisan sebab dengan waktu saya yang cuma 3-7 hari saja dan 2 hari di antaranya saya jalani di dalam mobil travel, betapa saya harus selalu putar otak agar pekerjaan saya efisien dan efektif 110%.

Mbah Mul yang pemalu dan masih jomblo :)
Setiap kali pergi ke sini, saya tidak bisa potret-potret bagus di antara dedaunan teh. Tidak pernah bisa saya berhenti lalu menghirup udara segar. Hampir selalu tidak ada waktu karena selalu terburu-buru: makan, menuju korong, mempersiapkan materi, berdiskusi internal, pindah dari satu kelompok ke kelompok lainnya.

Hanya di minggu terakhr ini saya begitu merasa kehilangan, dan sulit rasanya menyadari kalau dalam beberapa minggu saja saya mungkin tidak akan menginjakkan kaki lagi di sini, atau jika menginjakkan kaki pun rasanya pasti akan berbeda ya. Tidak seperti saat saya mendampingi.

Saya mengambil motor, lalu berhenti di pinggir kebun teh kali ini mengambil beberapa foto. Belum memuaskan tapi ini adalah pertama kalinya saya berhenti. Dulu sekali pernah, sewaktu pertama ke sini tapi tetap tidak sebebas jika kita berjalan-jalan. Ini adalah beda antara bekerja dan berjalan-jalan. 

Di dalam definisi wisata pada kuliah ekowisata yang saya ikuti di semester 3 ini dijelaskan kalau wisata adalah perjalanan non-kerja. Mungkin si penulis tahu bahwa saat kita bekerja, pikiran telah tertuju ke satu obyektif, mengingkari keberadaan obyek-obyek lain yang indah namun tidak dianggap penting oleh pikiran kita.

Di perjalanan sewaktu kegiatan REPLING
Pada bulan Januari 2017, saya pergi ke Wonorejo dengan tangan terbebat kain karena baru saja beberapa hari patah cuil di siku kanan (yang sampai sekarang setelah sembuh tidak pernah kembali normal). Saya pergi ke air terjun Baskom dengan berpegangan pada akar atau dengan tongkat, bersama para pemuda/i. Kadang nyeri menyengat, membuat lemas badan. Untung tidak terjatuh ke sungai dan membuat gara-gara tambahan.

Anak-anak, pemuda/i di Wonorejo di sini juga menyenangkan sekali. Mungkin karena saya datang sekali-kali ya, jadi mereka juga tidak sebal bosan melihat saya. Daya tangkap mereka cepat, dan beberapa orang cara berpikirnya cukup moderat. Mereka peduli pendidikan nampaknya, dicirikan dengan banyaknya anak-anak yang sekolah sampai SMA, bahkan kuliah.

Mereka saya sebut masuk kategori golongan progresif. Mungkin karena ini adalah komunitas pendatang ya, yang berniat menetap dan harus berjuang hidup tanpa bantuan dari tempat asalnya. Mungkin karena ada perasaan perlunya bersatu mempertahankan adat dan budaya asal, mungkin karena etos bekerja.

Dah malam,  teman saya Kang Azis dan Mbah Wiro sedang berdiskusi masalah turbin PLTMH yang katanya banyak perubahan dari rencana awal, yang jadi kasus aneh baru buat saya. PLTMH adalah main projectnya konsorsium kami. Kalau saya, urusannya adalah kelompok pemuda/i, ekowisata, kelompok perempuan. Mereka lagi bicara mengenai wan-pretasi proyek. Saya banyak belajar dari orang-orang ini. Mereka bagian dari anggota konsorsium, yang tugasnya berbeda-beda. Kadang kalau lagi pas, saya bisa bertemu dengan sebagian dari mereka. Engga tau kalo ditempatkan seruang dalam waktu yang lama akur atau engga ya, sebab selama ini jika bekerja, kami hanya berdekatan dalam waktu yang tidak lama.

Anak muda fasilitasi program REPLING
Proyek yang saya kerjakan di Wonorejo ini adalah proyek MCAI yang sudah dikenal akan keasal-asalannya  - merubah format laporan keuangan setiap bulan, hanya mencairkan dana bila persayaratannya yang super ruwet terpenuhi, sampai apapun yang dibangun perlu ada feasibility study (kebayang nga kalo mo buat kandang sapi juga diriset kelayakannya dari sisi sosial-lingkungan?). Saya melihat proyek MCAI ini adalah penjajahan buat para LSM di Indonesia. Persis, bahwa pelaksana harus benar-benar menurut sama si penjajah, kalau ga mau dananya ga diturunin. Nego masalah prinsip, cara kerja jaman old nya LSM, kebiasaan di masyarakat rada ga ngaruh ma funding ndableg ini, cuma dia ngasih gaji tinggi yang bisa di saving ma teman-teman LSM supaya lembaganya bisa idup lebih lama.

Tapi ada keuntungan lainnya juga kerja sama MCAI ini. Doi kayanya ga peduli masalah gede duit. Jadi saya bisa terbang ke Padang ini dengan mengorder Garuda 1 hari sebelumnya (kebayang nga kalo pake duit sendiri apa kelakuan ini kamu lakukan?). Doi juga buat saya bisa terima uang per diem gede (disumbang ke kantor, saya dapat per diem standard kantor), dan ketemu ma masyarakat yang tinggalnya jauh dari kantor kaya di Wonorejo ini.

Bang Warik, yg hobi terlarang miara burung
Di Wonorejo yang udaranya sejuk ini, ada Mbah Lasem yang sudah tua dan pernah mijit saya waktu saya masuk angin (dan patah lengan). Hadoh, si Mbah megang bagian bawah siku saya n langsung ngerenyed begitu kepegang. Mbah Lasem ini salah satu pendiri Korong (bukan Ngorong) Wonorejo dan bekerja dari sejak mudanya di perkebunan. Saya taksir umur Mbah Lasem antara 80 dan 90 tahun dan dikenal oleh masyarakat di Korong sebagai pemijat. Di masa mudanya tenaga Mbah Lasem untuk pijat sangat kuat. Kalau sekarang, low power consumption ibarat lampu led – lembut dan mantap.

Untuk kelompok pemuda/i, di sini ada Ketuanya Yasiman yang saya jelaskan di atas – pemuda harapan bangsa (Korong). Doi katanya dari remaja sudah ikut kumpul dengan orang-orang tua kalau pertemuan, dan menjadi bijak secara lebih cepat di usianya.  Ia dihormati kaum muda dan juga oleh orang tua yang mungkin beda umur 20-30 tahun di atasnya. Keren Yasiman ini. Sudah dipastikan akan jadi Kepala Jorong (Desa) beberapa tahun ke depan.

Belajar belajar dan belajar
Untuk geng cewek, ada anak-anak SMA yang menjuluki diri mereka cewek ganteng: mungkin karena suka naik motor trail, punya ortu mereka yang kerja di perkebunan teh. Suka panjat dinding, dan mereka menyenangkan sekali. Saya pernah main kartu Alkisah dengan mereka, dan menyenangkan soalnya kayanya jarang yang bawa mainan aneh2 ke sini ya?

Lainnya, dengan bapak-bapak selain tokoh PLTMH Pak Eliono yang ramah, Pak Kirman yang tokoh masyarakat banget, Pak Pomo yang doyan ngebibit, Lek Sago tokoh pemuda yang ga muda, Pak Tri (naik pangkat dari Kepala Korong, ke Kepala Jorong), lainnya saya ga begitu hapal. Maklum agak lebih jarang fasilitasin bapak2 ini.

Ada juga CV Prowater pimpinan Pak John yang kecil orangnya gede rumahnya. Pak Sentanu yang ahli hidrologi en lulusan ITB tahun jadul (kebayang harga kalo konsultansi ke dia). Lalu ada Bang Warik dulu, CO kami yang ndableg selalu bangun siang kena insomnia akut yang kerjaannya beli barang Deuter tapi suka ngutang lama/ga bayar.

Pusing belajar melulu
Saya berusaha menulis nama-nama mereka agar tidak hilang saat pikiran saya sudah melayang-layang ke lain tempat. Yang jelas saya sekarang ini walau nanti sore akan ke Wonorejo, sudah rindu Wonorejo dan kebayang kalau dah ga kesini lagi.

Ok baiklah. Saya nikmati saja semuanya.

30 Jan 2018 21.43

Nongkrong di COK (semacam rumah tempat kumpul) sambil tidur2an di tiker, di samping Kang Azis yang lagi ngorok. Sambil dengerin lagunya Exists – Mencari Alasan. Bapak-bapak petani kopinya pada ga datang satu pun. You know what... penyebabnya adalah karena listriknya baru dinyalain ma PLTMH setelah sekitar 3-4 bulanan gelap gulita di kampung. So maybe saking hepi nya, bapak-bapak ini langsung kelupaan kalo kita akan ada pertemuan malem ini.

Geng Ibu2 yang suka heboh
Saya pasrah aja. Lah kalo saya maksain datengin pintu satu2 apa ga pada pundung itu bapak (dan ibunya) yang sedang bergembira ma anak mereka, bisa nonton TV lagi? Lagian saya mo fasiitasin para petani kopi ini tentu saja perlu juga cari cara lain... perlu bisa silat menyerang dan berkelit, ga melakukan pemaksaan yang hasilnya cepat tapi hambar.

31 Jan 2018  18.00

Mo kumpul koperasi, eh tiba2 dibatalkan dan dipindah ke Jumat malam. Kalo kali ini karena masyarakat Wonorejo mau mengadakan sholat gerhana (si bulan lagi gede banget, kata Mbah Wiro gerhana bulan kaya begini terjadi 150 tahun sekali). Apalah saya yang usianya ga selama si Gerhana Bulan Great White ini... so harus dipahami dengan tulus. Silat jurus mundur dulu. Mungkin ga sih btw kalo si bulan super ini membuat beberapa orang jadi Werewolf (like in the movie?).

Kumpul sama Ibu2 Petani buat memperkaya jenis tanaman yang ditanam
Ok, kita manfaatkan waktu dengan buat TOR kegiatan yang kemarin sebelum pergi belom sempet diperbaiki.

Jumat, 05 Januari 2018

Kamera Mirrorless yang Cocok untuk Travelling


Hmmm.... begitu pengen nulis topik ini langsung deh saya teringat dengan artikel-artikel yang saya baca saat hunting kamera mirroless. Jika sampai beberapa tahun lalu, saya selalu menggunakan kamera pocket untuk hunting foto selama travelling, kalau sekarang saya mulai menggunakan mirrorless. Kamera pocket sudah mulai saya tinggalkan karena kamera HP sudah mencukupi secara kualitas bahkan di keadaan low light yang sering saya temui dapat diadu (Xiao Mi misalnya terkenal sbg HP dengan kamera sangat baik di kondisi low light, dan dengan ketajaman dan kejernihan gambar) . Sayang masalah fokus dan zoom, kamera HP belum bisa sepenuhnya menggantikan kamera pocket.

Di jajaran middle dan high budget, tentu saja fitur kamera pocket (terutama sudah yang bersensor CMOS) masih menang dibanding kamera HP, namun untuk yang harga 3 jutaan ke bawah, rasanya teknologi pocket  segera terlewati oleh HP.

Untuk SLR, no way. Berat dan ga praktis dibawa travelling kecuali memang tujuannya adalah motret doang. Bikin sakit leher dan kalo kebentur pas nunduk : wew ilang garansi dah!

Di mirrorless, Canon bukan pemain utamanya
Balik lagi ke penggunaan mirrorless saat travelling, saya mau sharing ya pengalaman saya memilih kamera mirrorless, semoga membantu teman2 yang sedang searching kamera mirrorless. Kamera mirrorless yang saya bahas di bawah ini kebanyak entry-middle level, peralihan antara yang biasa pakai pocket, HP menuju yang lebih canggih.

Mirrorless sih saya bilang GA BISA gantiin kepraktisan pocket yang bisa nyelos ke kantung (praktis banget yah). Kalo ujan tinggal samber kantong kresek, masuk tas. Ngomong mirroless ya udah ngomongin kepuasan memotret: bokeh, zoom, kualitas gambar dll. Bawa mirroless saat travelling kita dah bukan ngomongin kesederhanaan dan kecepatan pakai yang disediakan oleh pocket.  
Nah berdasarkan pengalaman saya selama travelling, pegang kamera mirrorless dan segala printilannya saya rangkum untuk jadi masukan sederhana buat kamu ya. Semoga bisa membantu kamu memilih dan menggunakan kamera mirrorless saat travelling:

KETAHANAN BATERAI (URGENT)

Well, asumsinya kamera kamu secara kualitas mengambil gambar sudah OK ya. Pengalaman saya memilih ketahanan batere adalah jangan sampe nih, ceklak ceklik dari pagi pe sore, lalu sore ke malam dah abis tu batere. Ngeselin nga kalo ada pemandangan malam yang bagus tapi batere kamu habis. Nah untuk kasus ini kamu harus berhati-hati jika memilih mirrorless, sebab hampir semua jenis mirrorless BOROS batere. Nikon 1 j5 contohnya (250 ceklik, CIPA standard). Nah yang ini mah dipake sebentar juga abis batere dia. Ga cocok buat travelling. Cepet banget tuh batere ilang garis setrip2nya di layar. GRRRR...

Batere alternatif utk Sony Mirrorless, sekitar 400rb
Kamera mirrorless lain seperti sony a5000 better, kata google bisa tahan 420x (CIPA standard) ceklik baru abis batere. Lumayan bagus walau ga sophisticated kalo dibanding DSLR2 baru. Sony a5100 400 ceklik. Sony a6000 yang terbaru 360 ceklik (via LCD), 310 (via viewfinder). Model Samsung NX 300 dan NX 3000 lebih payah sekitar 320-370an. Fuji TX10 350an.

Btw angka-angka ini nunjukin apa sih: perkiraan saya, karena saya memakai beberapa di antaranya (tidak semua jenis), angka 250 bilang kalau dia akan habis sebelum kamu puas motret (pagi- siang). Angka di atas 400 lumayan (pagi-sore/malam).

Samsung NX mini 650 ceklik, termasuk yang terbaik ketahanan batere untuk mirrorless. Sayang, ada pengorbanan berlebihan untuk kualitas sensor, jadi akan ada penurunan kualitas gambar. CORET. Hemat energi, tapi ngorbanin kualitas gambar (yaelah gimana sih ni mirrorless, ada yg lumayan bagus baterenya tapi under expectation gambarnya).

Btw kamu harus ingat ya CEGAH kalo tu kamera diliat-liat hasil picturenya ma temen2 kamu ya di tengah motret. Yang jelas hasil di lapang, kekuatan batere kamera akan di bawah hitungan CIPA itu lho ya kecuali kamu disiplin. Kelakuan mati ngidupin kamera juga ga membantu benernya sebab dia akan ambil power lebih banyak saat dihidupkan. Tips buat menjaga batere mirrorles tetep awet adalah sbb (tips ini berlaku juga buat kamera jenis lain):

  • Kalau kamu pindahin dia ke safe/eco/green mode supaya pas nganggur dia hanya mengkonsumsi power secara minimal (ga semua kamera ada fitur ini)
  • Usir temen2 kamu yang pengen liat2 hasil kamera. Kegiatan kepo ini boros baterai. Bilang aja liatnya nanti ya pas udah selesai acara dan ada sumber listrik, atau pas sudah dipindah ke laptop.
  • Mode video juga menyedot energi n bikin kamera panas. Kalau sensornya panas, kamera bisa auto shut down juga lho apalagi kalo lingkungan sekitar kita juga panas (sensor ada batas toleransinya sendiri thd panas). Perkiraan dengan hasil jepret 400x, setara dengan 1 jam pakai video terus menerus.
  • Matikan blitz, wi-fi, AF continous shooting, dan fitur macem2 yang menyedot energi.
  • Beli batere cadangan, dan charger dual untuk isi dua batere sekaligus (pret, ide ini menghabiskan uang lumayanlah karena betere biasanya bisa agak mahal). Bawa power bank untuk isi power kamera darurat, kalau bisa diisi pas kamera dalam keadaan mati karena bisa berakibat over heat dan menyebabkan auto shut down kalo dilakukan pas kamera nyala.
  • Tips sederhana: isi batere sampai full sebelum pergi memotret. Banyak juga lho kejadian gagal motret karena batere diisi ga penuh.
Nikon 1 J5 yang punya fasilitas OK tapi boros batere

Memotret dengan mirrorless si boros batere pernah saya alami (semua mirrorless saya panggil si boros batere deh karena hampir semua memang begitu). Berakhir tragis karena di saat siang hari, si kamera sudah nyerah. Padahal acara terus berlansung sampai malam, sedangkan sumber power gak ada (daerah terisolasi, gada sumber power sembarangan – dan power bank sudah sibuk pindah kemana-mana karena pada mo charge HP yang juga mau mati). Kesalahannya adalah karena saat kamera saya pindahkan ke orang lain, mereka sibuk dulu ngoprek – pengen liat hasil sebelumnya. Seperti saya sudah sebutkan di atas kegiatan ini menghabiskan energi si kamera.

BESAR DAN BERAT

Ini pendapat saya ya. Mirrorless ini berat body plus lensa kira2 minimal ½ kg. Jadi kalau nangkel di leher kelamaan kerasa juga, apalagi kalau lensa ga pake yg standard. Kedua karena saya travelling dengan kaki, keluar masuk public transport maka kamera ada kemungkinan terbentur. Semakin berat dan besar akan semakin tinggi tingkat resiko kerusakan bila terbentur. Untuk besar dan berat silahkan cek mbah google di pilihan kamu. Body mirrorles lebih kecil daripada DSLR yang engga banget kalau dipake buat travelling Amelia (riang, lincah nian) Di bawah ini adalah contoh berat kamera mirrorless menurut versus.com, kayanya sih body only ya itungannya. Asumsi saya, makin berat bendanya juga makin besar.

Samsung nx3000 230 gr, nx300 284 gr
Nikon 1 j5 231 gr, Nikon 1 v1 294 gr
Olympus PEN E-PL5 279 gr, sony a5000 269 gr, sony a6000 285 gr
Canon EOS M10 301 gr, Canon EOS M3 366 gr

Kalau saya bilang sih berat 50-100 gr itu masih bisa ditoleransi ya. Beda dengan DSLR yang bikin leher dan punggung sakit. Namun kamu yang sangat lincah, pertimbangan beda berat antar mirrorless ini silahkan ditimbang. Semakin berat semakin celaka kalau ia jatuh/terbentur.

Saran saya untuk antisipasi keamanan pada kamera mirrorless kita:

  • Lengkapi dengan beberapa aksesoris seperti anti gores LCD (PERLU), filter UV, hood lensa (boleh iya boleh engga)
  • Lengkapi dengan karet kamera (model kamera terbaru, pelindung karet ini lebih lengkap) agar tidak tergores dan meminimalkan efek benturan (boleh iya boleh engga)
  • Masuk tas untuk meminimalkan benturan (tapi ini akan menghambat kecepatan kamu motret)
  • Beli dan perlengkapi dengan lensa yang lebih ringan. Jangan bawa lensa banyak2. Mo travelling apa mo pameran lensa sih?
  • Masih nyambung ma besar dan berat ya, kan doi perlu lindungi doi dari air dan debu. Masalah kepraktisan, makin besar/panjang lensa, makin sulit dilindungi secara cepat saat hujan terutama. Bawa pelindung plastik waterproof buat kamera maybe bisa bantu, atau kantung plastik biasa juga cukup buat darurat.
PERSOALAN INTIMIDASI

Ini jadi versus sebagian ya, dengan saran2 aksesoris yang saya sebutkan di atas buat mengimbangi dampak besar dan berat kamera kamu. Makin aneh, makin besar bentuk kamera makin mengintimidasi saat  melakukan pemotretan terhadap manusia (aliran human interest). Warna kamera juga ngaruh: pilih saja warna hitam, dibanding merah, pink atau coklat  jika tidak ingin terlalu mengintimidasi

Bapak ini agak ngambek karena terintimidasi oleh kegiatan memfoto saya
Lensa panjang juga bikin orang sebel kalo kamu terlihat candid-in mereka. Hindari menggunakan karet pelindung warna-warni, lens hood, strap yang mencolok. Gunakan lensa zoom untuk candid obyek dari jauh. Matikan bunyi bip-bip kamera saat fokus dan pilihlah kamera yang berbunyi halus...
Seringkali orang jadi salah tingkah gara2 ada yang pegang kamera deket dia, tau akan difoto. Nah makin gede tuh kamera, menyebabkan si orang makin minder (atau makin binal).

Kalau saya sih akhirnya sering pakai kamera HP sambil bergerak cepat, atau sambil geser-geser jari di layar pura2 liat gambar :P. Ceklek tanpa suara.

HASIL GAMBAR 

Fujifilm X A2, yang menghasilkan warna natural
Ini bisa kamu baca di google ya. Sebagai pencari kamera yang baik kamu pasti sudah membandingkannya, termasuk pengaruhnya di harga. Di topik ini pasti kamu sudah menentukan keinginan kamu, hanya saran saya pastikan pilih kamera mirrorless dengan ISO maksimal cukup besar (di atas 3200), dan lama bukaan yang bisa diatur lama (in case mau potret kilasan mobil misalnya). Shutter speed juga perlu kalau bisa pertimbangkan ambil kamera dengan shutter speed cepat (misal 1/4000 detik atau lebih atau untuk menstop gerakan, sebab saat travelling memotret benda yang bergerak cepat seperti gerakan orang, sepeda itu perlu). Continous shooting kalo menurut saya antara perlu dan ga perlu sebab sebelumnya kita perlu mengubah setting dulu (artinya diniatin dulu hehe). OK deh... saya masukin perlu, tapi beda antara nembak 4x dengan 5x per detik ga signifikan. Kalo kamu niat, beli aja kamera yang bisa 20x nembak / detik (Nikon 1 j5 – but remember kalo baterai dia kurang jago, silahkan lengkapi dengan power bank).

Catatan: utk hal kualitas gambar ini, silahkan cek hasil gambar dari fujifilm, sony, samsung dll sebagai ilustrasi kalau beda sensor, lensa akan menyebabkan beda warna dihasilkan. Maksud saya, ini berlaku umum ya bukan sekedar penggemar travelling aja. Ketikkan misalnya sensor dan lensa Sony vs Fujifilm sebagai yang merajai dunia mirrorless supaya kamu memahami kualitas gambar yang dihasilkan.

Kedua ingat, besar Mega Pixel tidak selalu berarti kualitas selalu lebih bagus ya. Masih ada sensor dan lensa yang pengaruh lho. Btw saya bukan penggila MP besar2an, sebab cetak foto toh ga gede2 amat . Jangan termakan, untuk beli kamera hanya dari ukuran MP doang.

KECEPETAN REAKSI KAMERA DAN KAMU

Ini ngomongin kalo kamera yang dipilih sebaiknya segera standby begitu dinyalain siap nembak. Kemudian waktu loading dia cepet, auto fokus cepet (daripada ilang momen). Sebagai gambaran, kebanyakan keluaran baru mirrorless kecepatan nya sudah OK sih mnrt sy. Biasanya jadi rada lama kalau kita ganti lensa dengan yang bukan bawaannya, atau lensa merk lain yang dipasang di kamera mirrorless kita (kurang compatible).

Yi M1 Mirrorless yang repot dengan full control touchscreen
Sekarang ada adaptor lensa yang memungkinkan kita pasang lensa merk canon ke body kamera sony, atau lensa merk meike ke body kamera canon, dan seterusnya. Cek deh berapa lama biasanya dia akan bereaksi setelah dipasang (biasanya akan lebih lambat dibanding lensa dan body se-merk).
Oh ya makin gede kamera dan lensa, akan buat kita makin lambat bereaksi dari keadaan normal. 

Hindari juga ya kamera mirrorles full control via LCD macam model mirrorless Yi M1 yang belum sempurna (hampir semua aktifitas pake fungsi LCD, touchscreen – dan sangat mengganggu kalau kamu mau bergerak bertindak cepat). Mungkin saking sibuk geser-towel touch screen, burung yang kita amati udah netes telornya deh.

Baiklah itu saja dari saya... lainnya bisa kamu cari lewat blog lain. Saran2 lain dari saya untuk penggunaan mirrorless selama travelling adalah:

  • Siapkan kamera HP/pocket sebagai subtitut kamera mirrorless, seperti saya sudah sarankan di atas, benda ini tidak terlalu menarik perhatian buat motret, bisa digunakan untuk dapet candid tanpa terlalu ganggu orang
  • Ketahanan baterai vital, gunakan power bank utk charge saat kamera istirahat
  • Ganti lensa saat travelling perlu hati2 karena saat ganti inilah kritis buat kamera karena debu, air bisa masuk
  • Ada beberapa tempat yang charge harga untuk memotret pake DSLR atau mirrorless (HALAH). Masukan ke dalam tas sewaktu di loket karcis, semoga bisa kamu gunain di dalam ya. Peraturan ini agak aneh ya menurut saya... yang motret pake pocket dan kamera HP boleh, tapi yang agak mumbul moncong kameranya ga boleh *HUH
  •   Kalo keadaan ga memungkinkan buat motret (misal hujan, angin berdebu) n kamera ga terlindung ga usah maksa motret deh, kecuali kamera kamu ada seal buat menghadapi kondisi ekstrim lingkungan
  • Jangan banyak nunduk2 dengan kamera terkalung di leher. Kalau lagi apes, kamera bisa aja terayun kena gerakan leher dan byeee garansi

OK happy travelling ya dengan mirrorless kamu... jangan lupa bersih2 segera setelah dari lapangan



Sumber Gambar:
Canon EOS M3: http://www.canon.co.id/personal/products/interchangeable-lens-camera/eos-m/eos-m3-kit3?languageCode=ID
Batere Sony: https://www.plazakamera.com/shop/att-battery-sony-np-fw50/
Nikon 1 J5: https://www.bhphotovideo.com/c/product/1135821-REG/nikon_27708_nikon_1_j5_w_10_30mm.html
Abang becak: koleksi pribadi, 2017
Fujifilm X A2: http://www.imaging-resource.com/PRODS/fuji-x-a2/fuji-x-a2A.HTM
Yi M1:  http://www.imaging-resource.com/news/2016/09/19/a-new-mirrorless-camera-on-the-way-yi-announces-20-megapixel-mft-mirrorless

Senin, 25 Desember 2017

India 2: Barang Murah dan Kemiskinan


Saat saya membeli barang dengan harga murah, saya selalu merasa senang, apalagi jika mendapatkan barang bagus, unik. Selain itu perasaan menang juga muncul, karena saat di - iyakan - artinya seperti memperoleh kontrol atas seseorang/sesuatu (let's talk about it next time).


Namun perasaan ini jadi dilema-lalala bagi saya sekarang terutama setelah sering menyaksikan kondisi para pembuatnya, atau masyarakat di sekitarnya.

Diawali misalnya saat jalan-jalan senang di Malioboro. Siapa yang tidak senang saat bisa menawar baju barong bali seharga 14 ribu rupiah, atau makan gudeg krecek telur nasi seharga 10 ribu rupiah? Di dalam hati saya berpikir merenung, keuntungan si pembuatnya pasti kecil ya (selama 5 detik), tapi lalu hepi selama 2-3 mingguan. Betapa kecilnya porsi berpikir tentang orang lain, dibandingkan kesenangan terhadap kemenangan diri sendiri ya?

Kebetulan saya punya kemampuan menawar, dan tahu tekniknya dengan tepat sehingga tak jarang saya jadi garda depan kegiatan tawar menawar kalau sedang membeli sesuatu. Tapi semakin lama saya merasa ada permasalahan antara kemampuan menawar saya dan hati nurani saya.

Perasaan ini semakin campur aduk saat saya ke India kemarin. Barang2 yang didapatkan saya di sana harganya lebih murah dibanding di Indonesia. Dimulai dari buku Rabindranath Tagore hard cover yang saya beli seharga 30 ribuan (kalau di Indonesia harganya sekitar 60 ribuan minimal), lalu kain (astaga, ada kain sepanjang 3 meter seharga 20ribu rupiah), baju kurti (60 ribuan, dan kayanya minimal harganya sejajar ma Tanabang), gelang warna-warni hiasan untuk oleh-oleh (50 ribuan utk 1 kotak isi 4 buah), buah delima  (12ribu sekilo), dan lain-lain.

Pemandangan biasa di jalan: seorang wanita tua, bersarung dan berjalan tanpa alas kaki
 
Dalam percakapan dengan Uda Aldi di RMI sesudah pulang, ia berkata... kalau harga barang murah itu artinya tenaga kerja juga dihargai sangat murah di sana. Saya jadi termenung, mengingat di sana saya melihat kemiskinan, kekumuhan, ketidaktertiban dengan mata kepala saya sendiri dan saya tahu bahwa itu adalah puncak gunung es dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Saat berjalan kaki (karena saya menyukai berjalan kaki di kota yang belum saya kenal), saya menjumpai simptom kemiskinan dimana-mana, dari wanita tua bersarung- penyapu di jalan berdebu tanpa alas kaki, mereka yang belum bangun tidur bergelung di jalan, pedagang kecil dengan lapak sederhananya yang semrawut, bau got yang tersumbat, sampah yang menumpuk di jalanan, orang yang menyikat gigi dan berkumur2 di jalan, dan sebagainya.

Di pagi hari, para pekerja kasar, mungkin gelandangan tidur tanpa alas di pinggir jalan
Ranchi di Jharkhand tempat saya berkunjung mungkin bukanlah kota termiskin di India. Saya mendengar di Colcata dan New Delhi, terutama di daerah slum keadaan jauh lebih buruk. Saya mulai bisa membayangkan bagaimana Mother Theresa pada tahun2 awalnya, turun dari pesawat lalu melihat-lihat sekeliling selama perjalan dan kemudian menetapkan hatinya untuk orang2 miskin. Yang saya lihat tidaklah seperseribu yang ia lihat dan jangan samakan saya dengan Mother Theresa ini. Jauuuhhhh. Dan ini saja sudah membuat saya deg-degan selama berjalan dan makin masuk dalam pikiran saya.

Saat saya semakin jauh melangkah, setelah lebih dari 1,5 jam tiba2 tanpa sengaja tibalah kaki saya menghantarkan saya ke para pengrajin kayu. Ganies, teman seperjalanan saya awalnya tidak terlalu memperhatikan tumpukan kayu di pinggir jalan, sampai kami berjalan lebih dekat.

Oh bukan, yang saya lihat bukanlah ukiran2 indah, melainkan kayu2 lapis yang dijadikan peti mati sederhana, agak mirip dengan kayu bekas peti kayu buah2an. Sungguh sederhana bentuk peti mati tersebut. Wujudnya cukup untuk menampung satu orang dengan tangan yang dilipat di dada. Tebal kayunya tipis, sehingga agak parno juga ya kalo membayangkan saat diisi tubuh seseorang, lalu karena berat jatuhlah papannya karena pakunya tak kuat menahan berat yang mengisi. Gedebuk.


Peti mati seperti ini jelas dikhususkan untuk orang miskin.Seorang teman, setelah melihat foto peti mati tersebut menyatakan kalau harganya sekitar 5 juta kalau di Indonesia (tentu dengan standar yang lebih bagus). Saya tidak bertanya berapa harga peti ini, hanya membayangkan kalau dipotong tiga, lalu dimodif sedikit bisa jadi isinya adalah buah-buahan.

Sepanjang saya berjalan tanda2 ketidaksejahteraan, kemiskinan semakin muncul. Ya, dan tanda2 tersebar di sebuah kota yang sibuk. Bukan di tempat2 terpencil dan kumuh tapi di tengah2 kota kecil ini.

Di sebuah lokasi wisata, Jhona Falls, mata saya tertuju kepada dagangan2 sederhana yang dijual oleh anak2 kecil di pinggir jalan kecil. Tumpukan buah jambu batu diletakkan di depan mereka. Tidak banyak, mungkin jika habis terjual semua pun, untungnya hanya cukup untuk menambah makan pada hari itu saja. Seorang anak perempuan kecil berjualan buah jambu batu ditemani adiknya yang lebih kecil. Tubuh mereka kurus. Tak jauh dari sana sebuah toilet yang agak berbau pesing membuat beberapa wisatawan berdiri menunggu di dekatnya. Sebagian memilih menunggu dekat si anak. Kalau beruntung, mereka akan membeli buah jambu itu. Mungkin.



Anak penjual buah jambu batu di sekitar lokasi wisata
Satu yang saya sering pakai sebagai pembanding kesejahteraan suatu daerah/negara adalah harga lokal dari produk Kentucky Fried Chicken atau McD-nya. Semakin murah harganya, maka tingkat kesejahteraannya semakin rendah. Saya bandingkan dengan harganya di Indonesia secara kasar, lalu saya bandingkan juga dengan harga di Filipina (pernah juga ke situ dan membandingkan harga ayam gorengnya) dan saya mendapatkan harga ayam goreng KFC nya terpaut beberapa ribu rupiah dengan yang di Indonesia dan Filipina. Artinya di India lebih miskin secara tingkat kesejahteraan menurut saya.

Mengapapa KFC atau McD bisa dijadikan patokan? Karena menurut saya, model toko, teknologi, jenis masakannya sama dan dengan menggunakan bahan yang sama. Yang mungkin menjadi faktor pembeda adalah harga bahan dasar, upah tenaga kerja, transportasi dan beberapa faktor lain.
Tenaga kerja lagi. Jadi bisa kita simpulkan sedikit jika barang yang sama, dengan menghilangkan faktor2 lain (biaya transportasi, harga bahan dasar yang beda, lokasi penjualan yang berbeda, pajak, kemudahan2), dijual dengan harga yang berbeda maka dapat dipastikan bahwa di tempat dimana benda tersebut kita peroleh lebih murah, maka tenaga kerjanyalah yang dihargai murah.

Jadi saya sekarang semakin enggan menggunakan kemampuan saya untuk menawar. Sekedarnya saja.

Tapi masalah kemiskinan ini ga pecah telor kok karena satu orang ga mau menawar barang. Perlu lebih dari itu. Bila kita bukan pembuat kebijakan, saya rasa bisa kita mulai dari memperlakukan dan membayar orang lain (terutama yang miskin) dengan lebih adil.

Membuat kerajinan kayu dengan kampak
Buat saya, praktiknya adalah bersikap lebih perhitungan kepada orang yang sudah cukup berada, dan bersikap lebih murah hati kepada yang lebih miskin. Melawan hukum alam memang ya, sebab membayar, memberi, menjilat orang yang lebih kuat itu akan membuat posisi kita lebih aman, n kalo dipikir2 apa untungnya sih menolong orang yang lebih miskin, yang mungkin tidak berposisi dapat menolong kita seperti yang kaya? Ga tau saya jawabannya, maybe soal keberpihakan saja (atau alasan lain yang saya kurang sadar).

Saya cukupkan tulisan ini karena makin lama makin agak ngawur dan saya melihat persoalan ini ga ada habis2nya, ga ketemu jalan keluar dan nempel di kepala saya. Pusing.
Merry X Mas 2017. May happiness and blessfulness with you. Damai dan sejakhtera bagi semua makhluk di dunia. Om Shanti Shanti Shanti.